Satu yang aku tahu tentang cinta yang kumiliki. Aku hanyalah gadis yang ingin dicintai oleh pria yang mencintaiku. Hanya mencintaiku!
Aku egois? Memang, cinta yang ku punya benar-benar egois. Setiap mataku menatap Alex bersama gadis lain. Aku akan selalu menyakiti diriku, memukul kuat d**a kiriku, agar aku sadar diri, dan kembali kepada keteguhan hatiku yang aku pegang dulu; menolak perjodohan konyol ini.
Tapi, apa aku sanggup? Saat jelas-jelas pria sesempurna Alex bersikap seperti pria dari negeri dongeng, selalu di puja-puja karena kelembutannya dalam bersikap. Dan Alex selalu menunjukkan sisi pangerannya saat aku mulai goyah. Saat aku benar-benar ingin lari dan menjerit, bahwa aku lelah dengan sikap player-nya. Karena aku tahu, aku bukanlah gadis yang dia cintai. Aku hanya rasa tanggung jawabnya atas kedua keluarga yang ingin saling bersatu.
Tak ada jeritan untuknya. Tak ada sikap kasar yang aku tunjukkan kepadanya. Semua karena hati dan pikiranku tak sejalan. Benakku selalu berteriak agar aku lari. Berhenti mengejar bayang Alex yang selalu terpaku pada masa lalunya.
Aku bodoh!
Aku t***l!
Apa cinta mengenal kata bodoh? Apa cinta mengenal kata t***l?
Cinta itu buta! Dan tak ada yang bisa mengendalikannya. Seperti air mata yang kau tahan kuat-kuat agar tak keluar. Tapi, nyatanya hati yang akan semakin terluka. Dan itu lebih berkali lipat sakitnya.
Jadi, selama Alex masih bersamaku. Selama dia masih belum mengusirku dari kehidupannya. Aku akan tetap disini, disampingnya, berdiri tegak diatas kaki-kakiku.
Sesederhana itu...
Tapi, jika nanti. Saat aku mulai tak kuat. Aku akan pergi darinya. Menyelamatkan hati yang pastinya akan remuk redam karena sikap otoriternya.
Karena aku tahu, hati tak terbuat dari baja.
-000-
Saat lampu merah ditengah perjalanan. Keadaan sekitar lebih menarik minatku. Hingga saat aku benar-benar merasa penasaran pada satu titik fokusku. Aku semakin menyipitkan mataku untuk sekedar lebih melihat jelas seseorang di dalam mobil sport putih itu. Aku kenal, dia Alex. Tapi, mengapa ada seseorang di dalam sana. Seorang wanita yang mengusik ketenanganku. Aku tak berharap Alex berhenti dengan cara dia bermain pada wanita. Aku tahu itu butuh waktu. Semuanya butuh proses. Namun, saat aku dapat melihat dengan jelas. Bagaimana guratan kesedihan itu hadir diwajah Alex. Aku mengernyit bingung. Wanita disebelah Alex itu menangis. Dia seperti melontarkan kalimat-kalimat yang membuat Alex memejamkan kedua matanya erat.
Dan saat itu juga. Aku baru mengetahui satu hal. Bahwa wanita itu adalah Fransiska Evelyn.
Cepat-cepat aku memutuskan pandanganku. Aku tak ingin Alex melihatku dalam keadaan aku bersama dengan Raffi, karena itu lebih membahayakan. Aku terus menekan keinginanku untuk lebih tahu bahwa wanita itu benar-benar dari masa lalu Alex.
Deheman disampingku membuat aku menoleh, melihat Raffi yang tampak fokus pada kemudinya. Namun gerak bibirnya ingin mengatakan sesuatu.
"Mau makan malam bersama?" Tanyanya. Aku baru benar-benar sadar saat mobil ini sudah berjalan. Fokusku pada semuanya buyar hanya karena kehadiran Alex tadi.
Aku bingung, ingin menjawab tidak. Tapi, aku yakin pria diaampingku ini pasti akan kecewa. Meskipun aku tahu, Raffi tak akan benar-benar mengatakannya langsung. Makan malam bersama dengan orang yang sudah mengantarku pulang? Mungkin tidak buruk. Bukankah Raffi mengatakan bahwa dia ingin menjalin pertemanan baik denganku? Lalu apa salahnya?
"Sebagai awal pertemanan yang baik, tampaknya tidak buruk," jawabku. Raffi tampak sumringah mendengarnya. Dan akupun terkekeh geli.
-000-
Aku tersenyum, penuh rasa terima kasih pada pria dihadapanku. "Terima kasih sudah mau mengantarku."
Raffi mengangguk dan senyum tak pernah lari dari wajahnya. "Jangan sungkan dengan teman barumu ini," katanya. Setelahnya dia melihat-lihat sekilas gedung apartemenku seperti menilai.
"Ini apartemenmu?" Tanyanya. Aku tersenyum samar lebih tepatnya untuk mengalihkan jawaban jujurku. 'Apartemenku? Tentu saja tidak. Kau tahu? Ini pekerjaan Alex. Pria itu yang langsung memberikan keputusan sepihak aku harus pindah ke apartemen mewah ini. Dia hanya tidak ingin teman-teman priaku tahu tempat tinggalku. Sederhana, ini karena sikap posesif Alex yang kekanakan. Dan matilah aku jika Alex tahu, orang berjenis kelamin pria dihadapanku ini mengantarku!
"Oh, ini," gumamku samar. "Tentu saja bukan. Aku menumpang dengan teman dekatku," lanjutku. Aku benar-benar sama sekali tak ingin membahasnya. Dia tampak mengangguk mengerti setelahnya.
"Aku pulang dulu. Selamat malam Clara," katanya sebelum benar-benar menghilang. Aku hanya bisa menatap mobilnya yang telah menghilang itu dengan gelisah. Setelahnya aku menarik nafas dalam. Semoga Alex tak berniat untuk singgah kesini.
Aku memasuki gedung apartemen itu dengan menunduk dalam. Memikirkan rupa wanita tadi, dan raut murung Alex saat itu. Sangat berbeda dengan Alex yang aku kenal, Alex yang selalu menatapku dengan mata tajam, dan rahangnya yang selalu mengetat. Menegaskan kesan angkuh pada dirinya.
Aku benar-benar menunduk dalam. Dan tanpa sadar aku sudah menabrak tubuh tegap seorang pria. Memandang kedua kaki yang terbungkus dengan sepatu mengkilatnya itu dengan bingung. Harusnya orang dihadapanku ini tahu diri. Betapa beresikonya menabrak seseorang yang sedang galau.
Namun, saat aku benar-benar menajamkan penciumanku. Barulah jantungku seperti dihentakkan dengan kuat. Melemparkan segala imaginasiku yang tadi bersarang agar kembali pada kenyataan. Bahwa saat ini aku sedang berhadapan dengan singa jantan! Aku mendongakan kepalaku takut-takut.
Dan dia, Alex sedang menatapku dengan bengisnya. Dia seperti ingin memakanku tanpa berpikir untuk melepaskan tubuhku.
"Kau..." aku tergagap dalam segala pemikiranku tentang Alex yang tiba-tiba muncul.
Dia tampak tersenyum sinis dan mendesis. "Bermain dibelakangku?" Kata-katanya tak perlu dianggap sebagai pertanyaan. Karena Alex yang aku kenal selalu menghakimiku tanpa ingin mendengar sebuah penjelasan yang aku keluarkan.
Aku tergagap seperti orang bodoh. Hal yang selalu aku lakukan saat Alex ingin memarahiku. Aku ingin sekali membunuh sikap pengecutku sekarang!
Dia memasukan kedua tangannya dibalik saku celana bahannya. Postur tegapnya yang tampak menakutkan membuatku tanpa sadar mengigil, dan menggigit kuat bibir bawahku.
Tapi, tiba-tiba jemari Alex berada tepat dibibirku, menyentuhnya sekedar untuk menyingkirkan dari gigitanku sendiri. Dia melakukannya dengan lembut. Namun, jangan tanyakan matanya yang tak bersahabat itu. Seperti memancarkan badai yang akan membuat kita hancur, jika didekatnya.
"Jangan pernah menyalahkanku, jika aku benar-benar akan menjadi seorang penghancur karena kau!" Tanpa sadar aku mundur selangkah. Alam bawah sadarku bereaksi, bahwa aku harus pergi dari singa yang sudah mengaum kelaparan pada mangsanya. Bahwa aku harus lari sejauh mungkin. Tapi, aku hanya mundur. Pilihan terbodohku sebagai seorang yang rela menerima amukan sang pemangsa.
Alex menatapku, dibalik mata hitam pekatnya tersembunyi kemarahan yang meluap-luap. Rahangnya meggeras dan dapat aku rasakan jemarinya merampas lenganku kasar, amat kasar bahkan aku bisa merasakan goresan kukunya dilenganku. Dia menarikku, hingga aku benar-benar menempel pada dadanya. Memandang takut-takut pada sepasang mata yang berkobar api kemarahan itu.
"Aku hanya,..." dan setelahnya aku tak kuat mengeluarkan suaraku yang menggema dalam benakku. Aku takut Alex!
Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang panas menerpa wajahku. Membuatku tanpa sadar memejamkan mata untuk menelan kekedalaman kemarahan Alex. Tak ada suara yang ingin aku keluarkan untuk saat ini.
Udara dingin, aku merasakan udara malam ini menghakimiku. Bersekutu dengan Alex yang mengeluarkan kedinginan dalam sikap dan gerak tubuhnya. Dia benar-benar tak seperti Alex jika dilingkupi amarah dalam darahnya.
Dan setelahnya dapat aku lihat. Alex semakin memejamkan matanya semakin menggelap. Membuat tubuhku mengigil seketika. Aku tak berontak saat dia dengan kasar menarikku dengan langkah kasarnya. Langkahnya sangat memburu, membuatku seperti terseret karenanya. Dan aku cukup tahu diri agar tidak memberontak.
Dia membukakan pintu mobilnya, lalu mendorongku kasar kedalamnya. Membuatku tersungkur kuat akibat hempasan tangannya. Aku meringis dalam diam. Dan dengan malam aku berharap Alex sekarang tak sekelam-nya, menggelap dan kian pekat.
Kini Alex benar-benar memasuki mobilnya. Dengan wajahnya yang masih terbingkai dengan kebencian yang mendalam.
"Kau menantangku!" Suaranya menggema diseklilingku, berdengung hingga menghilang ditelan aura panas yang mencuat.
"Bukan, Alex. Aku hanya,..."
"Tidak akan pernah aku biarkan orang mengusik milikku." Dan Alex meraih rahangku dengan kedua lengan lebarnya, sangat erat, membuatku meringis. Dan Alex tak akan pernah mempedulikkan kesakitanku.
"Apa dia tadi menyentuhmu disini?" Dia sekarang mencengkram kuat pipiku. Seolah itu bisa menghapus jejak-jejak yang membuatnya salah paham.
"Alex hentikan!" Pintaku lirih. Dan kelirihanku tak akan pernah mencairkan kebekuan amarahnya.
"Apa dia menyentuhmu disini, Clara," suaranya sedingin es.
Tiba-tiba Alex mencium bibirku dengan kasar. Membuatku meronta dalam kurungan lengannya yang memeluk punggungku posesif. Sungguh sakit eratannya seakan ingin menusukku dalam. Detik-detik berikutnya dia semakin memperdalam ciumannya. Membuatku meringis dan terisak saat aku merasakan cairan asin kemerahan dibibirku. Alex masih dengan brutalnya. Dia bahkan sekarang mengecup tajam leherku. Aku terisak semakin kuat. Hingga kekuatanku benar-benar menyatu dan mendorong Alex, hingga pria itu mundur jauh dariku. Aku menatapnya dengan sorot terluka dan dipenuhi air mata yang masih mengenang disana.
Alex mengerang kuat. Dia menatapku sedingin es dengan dipenuhi kemarahan dibaliknya. Aku terus terisak menatapnya takut-takut. Dan saat Alex kembali ingin menyentuhku. Aku langsung beringsut, menjauh darinya.
"Clara..." Dia memanggilku. Namun suaranya membuatku mengigil akan ketakutaan.
Hal yang selalu aku sukai saat Alex memanggil namaku.
Clara...
Tapi, sekarang aura kebencian seolah menguasai diri Alex yang asing. Membuatku juga menutup telinga untuk mendengar suara itu.
"Aku takut Alex." Dan tanpa sadar aku memeluk tubuhku, meringkuk seperti janin. Aku hanya ingin melindungi diri dari amukkan Alex.
Tapi kemudian Alex hendak menyentuh pundakku. Membuatku semakin terisak dan Alex menghentikan geraknya di udara.
"Aku takut Alex," lirihku menatapnya dalam sejuta ketakutan yang menguar dalam jiwa rapuhku.
Dan kelemahanku hanyalah Alex.
Hanya Alex yang bisa menghempaskanku bersama perasaan yang tak sama. Perasaan bahwa hanya aku yang selalu memainkan peranku dengan hati. Hanya aku yang selalu tersakiti.
Hembusan angin berhembua kuat. Seakan membuatku merasakan betapa menusuknya keheningan diantara kami. Aku masih tak berniat melepaskan pelukanku dalam tubuhku dan semakin meringkuk dalam.
Aku paham jika dia marah. Aku paham dengan sikapnya yang mudah terusik. Tapi sekarang kemarahannya sudah keterlaluan. Dia tak pernah berusaha melukaiku secara fisik. Tapi sekarang dirinya benar-benar menyeramkan. Dengan sorot kekejaman yang masih membingkai wajahnya.
"Jangan pernah melawanku. Jika tak ingin membuatku bertindak seperti ini. Bahkan aku bisa melakukan apapun diluar perkiraanmu." Suaranya pelan. Namun tersirat ancaman yang membahayakan di dalamnya.
"Kapan aku pernah melawanmu?" Sekarang aku sudah bisa berani menatap mata tajam Alex. Meskipun masih dilingkupi ketakutan dan sarat akan waspada. Tapi, aku membutuhkan ketegasan di dalamnya. Aku tak pernah melawannya. Dan tak akan pernah. Aku selalu berdiri, setia disampingnya. Hanya disisinya!
Tapi, kecemburuan Alex yang berlebihan memberikan kabut hitam yang menutup kepercayaannya terhadapku. Aku salah dan dia benar! Aku berselingkuh dan dia bermain-main! Aku muak, sungguh. Tapi, aku bisa apa?
"Kau selalu bisa menembus ke celah yang akan membahayakanmu." Alex berujar dingin, masih dengan wajah yang memandang ke depan. Aku sekarang menatap rahang Alex yang mengetat, juga sorot mata marahnya yang tak hilang dari tadi. "Buat dirimu tersembunyi. Asingi dirimu agar mereka tak ada niat untuk sekedar berdekatan denganmu. Apakah itu sulit?" Kini dia menolehkan kepalanya. Menatapku dengan tatapan menuntut dan tak ingin dibantah. "Apa aku harus mengurungmu dari dunia luar?" Lanjutnya dan membuatku melotot tajam. Alex tak akan segila itu melakukannya.
Aku menggelengkan kepala kuat. Mengusir keadaan yang benar-benar hanya gertakan saja.
Namun suara sedingin esnya membuatku menatapnya tak percaya. Bertanding dengan mata yang siap memakanku jika aku sedikit saja melawannya. "Apapun akan aku lakukan agar bisa menyelamatkan milikku," tegasnya.
Dan selanjutnya dapat aku dengar pukulan kuat tangan Alex yang menonjok setir mobil. Hal yang dia lakukan saat tak bisa berbuat apapun. Dia akan membuat benda mati sekalipun merasakan kemarahannya.
Yang aku tahu. Sekarang panas Alex menguar ke sekitar. Melingkupi udara dengan aura panas yang mencekam.
Alex hanya tak bisa berujar jujur. Bahwa kemarahannya teruntuk masa lalu yang dijumpainya. Bahwa aku hanya sebuah bentuk pelampiasan, yang tak pernah dia sadari dan rasai.
Bersambung...