Aku seperti berada di ruang hampa. Kosong, gelap, dan gersang. Rasanya tak pernah ada air harapan yang akan masuk dalam ruangku.
Pada faktanya. Aku lebih memilih jurang yang kelam untuk aku masuki, dibanding pelita terang yang lebih menjanjikan.
Aku lebih memilih cinta yang tak wajar. Tanpa adanya kebahagiaan di dalamnya.
Aku sesak. Bersamanya memang seakan mencekik leherku dan membunuhku secara perlahan. Namun, dia juga yang menciptakan nafasku hingga bisa berhembus.
Dia oksigenku ....
-000-
Alex masih diam dengan kebekuan disampingku setelah beberapa menit membisu. Hembusan nafas kasar selalu menyertainya.
Sekarang aku mencoba memejamkan mata erat-erat, berharap agar kepalaku mendingin dan bisa mengatasi amarah Alex yang masih melingkupinya. Aku takut, jika sedikit saja aku melempari bantahan. Dia akan membentakku bahkan lebih. Dia Alex yang sedang dikelilingi iblis. Yang bisa saja siap mencabikku tanpa henti. Kemarahan tak akan surut begitu saja dan menghilangkan iblis dengan waktu sebentar dalam benaknya.
Aku lebih memilih mengigit kuat bibir bawahku. Kemudian aku meringis pelan merasakan sakit bekas luka yang ditimbulkan Alex pada bibirku.
Dan tiba-tiba Alex menatapku dengan sorot yang tak tergumpal lagi dengan kemarahan. Sorot kekesalan itu meredup sedikit luluh. Namun, masih ada secercah ketajaman menghiasi matanya.
"Kita menikah SEKARANG!" katanya membuat mataku melotot lebar. Aku sedikit menganga saat matanya memandang tak main-main.
"Apa maksudmu!" Aku mengeluarkan kekesalan yang baru keluar dari tadi. Kata-katanya benar-benar tak masuk akal. Aku yakin, dia hanya sedang dirasuki oleh kecemburuan yang tak berujung. Dan perkataannya itu tak terselip persiapan yang matang di dalamnya.
"Apa kau tuli? Kubilang, kita akan menikah sekarang," tegasnya semakin membuatku tak percaya.
"Apa alasanmu membuat penghakiman seperti itu Alex," bentakku tak terelakkan. Sisi gelapku menguar saat Alex menampakan wajah tak pedulinya. Seolah ungkapan dari bibirnya itu hanya berujar 'Aku ingin membeli permen'. Oh, menikah tak segampang itu. Aku tahu. Aku mencintainya. Aku tak ingin munafik bahwa aku benar-benar menginginkan Alex sepenuhnya hanya milikku. Tapi, itu kelak. Setelah aku benar-benar bisa memecahkan bongkahan es yang mengelilingi dunianya. Setelah aku tahu siapa dirinya. Setelah dia terbuka dan menceritakan apa adanya dia. Aku hanya ingin menerimanya saat dia benar-benar sudah mempercayaiku untuk menceritakan segala rinci tentangnya. Aku hanya tak ingin terhalang oleh puzzle-puzzle ceritanya yang menyulitkanku untuk mengenalnya. Selama ini kebersamaan kami hanya sebatas pengakuan dan interaksi-interaksi kecil yang tak juga membuatku menjadi seseorang yang mengerti dirinya.
"Apa aku salah meminta kekasihku sendiri untuk menikah denganku?"
"Kau salah! Dan kau egois!" Tekanku hilang kesabaran. "Kau pikir menikah hanya sebuah project kerja yang kau kerjakan, lalu saat kau menangkan proyek itu kau akan bersenang-senang, lalu mengejar proyek yang baru. Kau pikir pernikahan sekecil itu?" Tanpa kusadari aku berteriak dihadapan wajahnya yang tercengang. Dia menatapku semakin tajam. Kemudian dia meraih kedua bahuku, membuatku tegak menghadapnya.
"Belum pernah ada yang berani meneriakiku, Clara." Perkataannya setajam sorot matanya. "Kau tahu. Aku adalah orang yang selalu mendapatkan apa yang kumau."
Aku tersenyum sinis, lebih tepatnya kearah mengejek dirinya secara terang-terangan yang terus ingin selalu menang. Dia pria paling angkuh dan egois.
Dan detik berikutnya. Dapat aku rasakan sambaran panas menghantam pipiku. Membuat aku terhempas pada sandaran kursi mobil. Aku mengerang kesakitan, saat Alex menampar kuat pipiku. Aku terisak dihadapannya. Memegang pipiku yang nyeri akibat tamparan tangan lebarnya. Demi apapun, untuk pertama kalinya priaku menamparku. Dia sekarang menamparku amat keras. Dan membuatku semakin tak berharga dimatanya.
Aku menatapnya dengan sorot tak percaya. Dan jemariku terus menutup pipiku, melindunginya agar tak terkena tamparan Alex lagi.
Sekarang Alex terlihat tercengang setelah menamparku. Sorot mata tajam penuh kebenciannya meredup, kian luluh menatapku penuh penyesalan. Aku semakin memundurkan posisiku agar menjauh darinya.
"Clara,..." Aku menghempaskan tangannya yang ingin menyentuh pipiku.
"Clara, maafkan aku sayang." Aku menggeleng kuat, mengisyaratkan bahwa sekarang aku tak ingin mendengar apapun yang dia katakan.
"Berhenti Alex. Berhenti!" Jeritku saat Alex hendak merengkuh tubuhku. Aku tak ingin dia sakiti lagi. Jika begini. Aku tak mau berhadapan dengannya. Aku tak mau mendengarkan apapun yang dia katakan sekarang. Kemarahan dan tamparan Alex membuat pikiranku buntu untuk melawannya kembali. Yang jelas aku tak ingin berada di dekatnya sekarang.
Aku ingin diam tanpanya. Menyendiri, terpojok dalam ruang yang hanya ada diriku di dalamnya. Tanpanya. Karena ada dirinya, mungkin saja membuat diriku terusik dan akan goyah dengan keputusan yang akan aku ambil.
Aku membalikkan badan dan ingin membuka pintu mobil ini. Namun tanganku sakit saat berkali-kali aku mendorong kuat untuk membukanya. Pintu ini terkunci!
"Berhenti Clara. Kita harus bicara."
"Aku butuh sendiri. Biar aku keluar dari sini," ujarku tajam. Tamparan Alex membuat sisi lainku tumbuh. Dimana aku juga bisa menjadi tak terkendalikan karena sakit hati.
Aku terhuyung ke depan saat Alex menarik tubuhku pada pelukannya. Memeluk kuat seolah tak ingin melepaskannya. Aku meronta kuat, dan memukul dadanya marah. Untuk saat ini pelukan Alex tidaklah sehangat seperti biasanya. Ini terasa asing dan aku sangat tak nyaman.
Aku tak boleh luluh sekarang. Walau bagaimanapun aku masih memiliki hati yang bisa remuk redam karena sikap otoriternya.
"Bagaimana bisa aku menikahi orang yang sudah menamparku?" Aku terisak dan tak ingin lagi memukul-mukul tubuh Alex. Dia seperti patung dan hanya akan membuatku kelelahan karena tak akan mendapatkan apa yang aku mau. Aku benar-benar berhenti, tapi juga tak membalas pelukannya. Bagaimana aku bisa menerimanya setelah apa yang dia lakukan?
Pelukannya perlahan mengendur, hingga dia benar-benar melepasku dan memegang erat kedua pundakku.
"Baik." Suaranya pelan. Dan aku masih tak ingin menatap matanya. "Aku akan melepasmu, jika itu yang kau inginkan. Tapi ingat. Kau masih terikat denganku," lanjutnya. Dia kemudian memencet remote mobil yang berada di atas dashboard mobil.
Berakhirnya kata-kata yang dia ucapkan. Secepat mungkin aku berpaling, dan membuka pintu mobil itu dengan hati yang berkecamuk hebat. Jiwa lemahku menyuarakan agar aku tetap disini, bersamanya. Namun, sebelah jiwaku memberontak, untuk meninggalkan pria seperti Alex agar tak terluka lagi.
Yang jelas, aku lebih memilih pergi untuk saat ini. Dan aku lebih tak mempedulikan sorot lirih yang jarang aku terima darinya. Tujuanku hanya ingin menjauh darinya. Mungkin aku bisa pulang ke rumah orang tuaku di Bogor. Tapi, dengan keadaanku yang berantakan dan perasaan yang sangat kentara sekali menampakkan kegalauan. Aku yakin, jiwa detektif ibuku akan muncul melihatku datang tanpa Alex. Lebih baik aku diam, dan berlari memasuki gedung apartemen itu. Tatapan orang disekelilingku yang beragam tak aku pedulikan. Mereka hanya ingin tahu, tanpa peduli.
-000-
Pagi seperti memaksaku untuk kembali terbangun. Kepalaku rasanya mau pecah. Aku rasa, baru saja benar-benar tertidur. Mengingat betapa menggila tangisku semalam. Bahkan aku baru bisa terpejam lewat tengah malam. Bisa aku rasakan denyutan nyeri disekitar mataku. Mungkin nanti bisa aku tutupi dengan polesan make up, agar tak kentara.
Setelah sepenuhnya sadar. Aku bangkit dari tempat tidurku. Merenggangkan sedikit ototku dan dapat aku rasakan saat pada kedua tanganku aku rentangkan, terdapat rasa ngilu disana. Aku lupa, jika aku tidur dengan posisi tengkurap, dan menumpukan kepalaku dikedua tangan. Banyak sekali aku mengeluh hari ini.
Dengan goyah, aku berjalan memasuki kamar mandi. Aku harus bisa menutupi penampilanku hari ini, agar tak terlihat menyedihkan. Aku bukan gadis yang akan menampakkan dengan jelas kesedihanku. Pada faktanya, aku benar-benar tertutup pada siapapun. Bahkan pada ibuku sendiri. Aku hanya tidak ingin sikap detektif ibuku yang luar biasa tak terkendali, akan merajalela dan membuntutiku dengan pertanyaan-pertanyaan beruntunnya.
Tinggal sendiri di apartemen mewah ini mungkin tak buruk. Tapi, apa harus aku katakan, jika aku sungguh tak berhak mendapatkan keistimewaan ini terus menerus setelah kejadian semalam. Dimana aku mengatakan bahwa aku ingin menjauh darinya.
Tapi ingat. Kau masih terikat denganku.
Dan aku selalu ingin menyumpal kedua telingaku agar tak mendengar pengujaran yang terus berulang itu.
Aku memang masih terikat dengannya. Pada hubungan pribadi, maupun sebagai hubungan pekerjaan. Ya, aku memang menandatangani kerja sama paruh waktu. Mengingat kurun waktu lima bulan. Aku akan keluar dan menuntaskan perjanjian itu. Alex benar-benar merencanakan segalanya dengan matang. Bagaimanapun dia ingin selalu aku terikat padanya. Dia ingin selalu menyiksaku dengan sikap otoriternya.
Baiklah, tak masalah menjadi karyawan di perusahaan pria itu. Mengingat statusku yang hanya sebagai divisi keuangan kecil disana. Tidak akan masalah, mungkin sekarang Alex sedang bersenang-senang bersama para bonekanya untuk melampiaskan sakit hatinya. Dan dengan sekejap dia akan langsung melupakanku.
Ya, pada kenyataannya. Hanya aku yang tak pernah bisa menghapus perasaan ini...
-000-
Aku menatap berbinar saat Mbak Asmi yang terus berceloteh sebal tentang Pak Gustaf yang terus saja menolak tawaran makan malamnya. Aku bahkan tetkikik geli saat dia mengerucutkan bibirnya sebal. Aku hanya merasa tak wajar dengan penampilannya yang terlihat matang, dia bahkan baru pertama kali jatuh cinta. Dan itu pada atasannya sendiri.
"Sudahlah mbak. Mungkin Pak Gustaf punya janji sama klien malam inu. Jadi dia menolak ajakan Mbak Asri," timpal Rina yang juga memasang wajah geli disampingku.
Mbak Asri malah semakin mencebikkan bibirnya lucu. Dan otomatis membuatku terpingkal-pingkal. Dan berhasil menyemburkan es jerukku tepat dihadapan wajah Ardi yang langsung menatapku bengis. Oho!
Aku menatapnya bersalah dan langsung mengambil beberapa lembar tisu diatas meja kantin. Lalu membersihkan wajah basah kuyupnya yang masih menatapku kesal.
"Kau tidak tahu jika aku sedang menggunakan perawatan wajah?" Kesalnya tak terelakkan setelah aku benar-benar sudah mengeringkan wajah kesalnya itu. Lalu?
Mbak Asri mendesis geram. Mungkin dia merasa terganggu karena sesi curhatnya terpotong. "Persetan dengan perawatan wajahmu. Kau tahu aku bahkan sudah memesan secara eksklusif paket makan malam di restoran mahal!" Geramnya.
"Hey mbak. Sudahlah, terima saja jika memang Pak Gustaf tidak tertarik denganmu. Jangan memdramatisir seolah dia juga suka padamu," kesal Ardi tak mau kalah. Dia mungkin saja tersinggung karena Mbak Asri sempat melecehkan perawatan wajahnya. Menjijikan memang!
"Kau bilang apa, hah?!" Mbak Asri sudah ingin menyiram Ardi dengan minuman dihadapannya. Jika saja, Rina yang kalem itu tidak menahan geraknya. Terkadang orang patah hati bisa lebih buas dari singa betina yang kelaparan. Dan Mbak Asri bukti nyatanya.
Aku bukannya merasa horor melihat keributan yang mereka buat. Aku malah semakin tertawa. Dan Rina malah memandang serba salah.
"Mbaj begini." Aku berdehem untuk meneteralkan getaran suaraku saat tertawa tadi. "Bagaimana jika paket itu kau jual pada rekan kerjamu yang berniat untuk kencan dengan kekasihnya. Mungkin hal itu tidak akan merugikanmu," saranku.
Dia tampak berpikir. Namun sekejap, ekspresinya kembali murung. "Tapi aku sudah membayangkan Pak Gustaf yang seksi itu makan malam denganku," jelasnya. Di menelungkupkan kepalajya diatas meja. Cibiran Ardi yang tak berhenti, tak dia hiraukan lagi.
Aku bingung. Kemarin Alex. Sekarang Pak Gustaf. Sebenarnya wanita tua tapi labil ini suka dengan siapa?
"Tidak apa-apa jika Pak Gustaf tidak bisa. Mungkin aku tidak akan sangat kecewa jika ditukar dengan Pak Alex." Kedua matanya berbinar.
Dan aku semakin melotot lebar mendengar pengujaran semangatnya.
"Kau pikir mereka barang yang bisa kau tukarkan seenaknya," tukas Ardi. Dia masih dendam rupanya.
"Hey, aku sedang tidak bicara denganmu banci!" Kesalnya. Mbak Asri memajukan telunjuknya seakan ingin mencolok mata penuh intimidasi Ardi.
"Seenaknya. Kau tua bangka yang tidak tau diri!" balas Ardi tak mau kalah.
Dan aku hanya berharap. Semoga penjaga kantin kantor ini sama sekali tak berniat mengusir kami.
Pengalamanku setelah mengenal mereka dalam kurun waktu beberapa minggu. Pertengkaran seperti ini tak akan selesai begitu saja.
Ya, setidaknya mereka bisa mengalihkan rasa sakit hatiku. Selama ini, dan aku berharap akan lekas sembuh.
-000-
Aku terlonjak kaget saat tanganku ditarik tiba-tiba oleh seseorang yang langsung membawaku menghadapnya. Aku menatapnya bingung. Rahang tegasnya membiru, dan tampak ada bekas tonjokkan mengelilingi wajahnya.
"Kau kenapa?" Tanyaku saat dia tak juga bersuara dan kian dalam menatapku.
Dia menghembuskan nafas berat. Mustahil ada pertengkaran di dalam kantor sebesar ini tapi tak ada satupun isu yang berhembus.
"Kupikir, untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, akan ada hal yang harus dikorbankan." Suara beratnya terdengar serak, seperti lelah sekedar untuk berkata. Dan aku masih mengernyit bingung tak mengerti.
Perlahan jemarinya mengusap lembut pipiku. "Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu, Clara."
"Maksudmu apa Raffi?"
Bersambung...