"Kupikir, untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, akan ada hal yang harus dikorbankan, Clara."
Suara beratnya terdengar serak, seperti lelah untuk sekedar berkata. Dan aku masih mengernyit bingung penuh ketidakmengertian.
Perlahan jemarinya mengusap lembut pipiku. "Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu, Clara."
"Maksudmu apa Raffi?"
Hembusan nafas hangatnya menerpa permukaan wajahku. Dia seperti sosok asing yang sekarang sedang menguasai penuh raut wajahnya. Sorot persahabatan yang kemarin aku dapatkan, sekarang berubah, seakan meminta arti lebih.
Dia tidak menjawab. Namun kedua tangannya bersandar di dinding, memenjarakanku. Jantungku berdegup kencang. Aku tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Karena rasa naluriahku sudah terbiasa dengan sentuhan seseorang. Dan aku tidak ingin menyebutkan namanya.
"Aku ingin, kau lebih dekat denganku."
Dia sekarang merubah posisinya. Hanya berdiri dihadapanku. Namun sorot dalamnya menatapku, sama sekali tidak berpaling.
Aku masih menatapnya tidak mengerti. Dan tatapan menyelidik dariku itu langsung dia hindari dengan menatap ke depan memandang jauh.
"Mari kuantar pulang." Dia merengkuh jemariku, membawanya dengan lembut dan seakan tidak ingin aku menolaknya. Mengapa dia aneh sekali hari ini.
"Kuharap kau ingin bertanggung jawab dengan lukaku." Dia menunjuk muka lebam di wajahnya. Dan aku hanya menatapnya tidak kuasa.
"Aku? Luka itu karena aku? Memang kapan aku menonjokmu?" Tanyaku beruntun.
Dia hanya terkekeh geli. Lalu memiringkan wajahnya untuk menatapku dengan sorot jenaka. Dia seperti memiliki banyak macam sorot. Dan dia orang yang sangat mudah mengubah ekspresi wajah.
"Kau kan temanku," ujarnya. Namun bagiku dia seperti mencibir dengan mengerucutkan bibirnya.
"Bagaimana bisa lukamu banyak begini?"
Dia tidak menjawab. Dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ringan.
Kami berjalan hendak keluar dari gedung perusahaan ini dengan santai. Aku tidak berpikir macam-macam pada pria disampingku ini. Yang jelas, aku hanya temannya. Dan dia sedang membutuhkanku untuk mengobati lukanya. Diluar dari sikap tidak jelasnya yang dia perlihatkan beberapa saat lalu. Aku hanya ingin membantunya hanya bersifat kasihan terhadap teman yang sedang kesusahan, tidak lebih.
Ditengah perjalanan, aku memberikan saputangan berwarna biru dari tasku. Dan dia meraihnya dengan senang hati, lalu mengelap peluh yang ada di wajahnya. Tampaknya dia dihajar habis-habisan.
Raffi tampak masih terus tersenyum. Dan dia sama sekali enggan untuk melepas genggaman tangannya.
"Kau tidak ingin semua orang menceritakan yang tidak-tidak tentang kita kan?" Pertanyaanku memperingatinya. Jam pulang kantor sangatlah banyak karyawan yang berhilir mudik untuk pulang.
"Digosipi denganmu, sepertinya tidak masalah," jawabnya ringan. Dan aku meremas jemarinya dalam genggamanku agar dia mengerti. Namun, dia memang kebal, dan semakin melebarkan cengirannya.
Aku mendengus sebal. Dan lebih menikmati permainannya. Tampaknya berteman dengan orang seperti Raffi bisa menguras emosi.
Namun, saat kami ingin melewati pintu utama perusahaan, tanpa sadar aku langsung menghentikkan langkahku. Aku terpaku. Otakku seakan dipukul kuat hingga berdentum. Aku ingin sekarang juga lari dari kejaran mata tajam itu. Tapi, ada sebagian dari diriku agar menghambur dalam pelukannya.
Ini sudah seminggu. Atau sudah lebih kami tidak bertatap penuh rasa seperti ini.
Aku merindukannya...
Sosoknya yang berdiri tegak disana. Dengan sorot angkuh yang menghiasi wajah tegasnya. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana. Pose Alex yang sangat aku suka. Tapi, apa dalam keadaan seperti ini aku masih berpikiran t***l seperti itu?
Perlahan aku memejamkan erat mataku agar perasaan kacau yang sudah merusak otakku tidak akan terjadi; menghambur di pelukan pria itu. Yang benar saja!
Aku merasakan remasan lembut di jemariku. Dan saat itu aku baru sadar. Alarmku berteriak agar melepaskan genggaman Raffi sekarang. Sorot mata Alex seperti ingin membelah tautan jemari kami, begitu tajam. Dan aku langsung menarik tanganku hingga terlepas. Aku tidak menanggap lebih raut wajah Raffi yang kecewa.
Bodoh, kenapa aku masih memikirkan perasaan Alex, sekarang?
Setelahnya dapat aku rasakan wajah Alex mengejekku. Dia menampilkan wajah muak terhadapku.
Mungkin dalam keadaan normal, dia akan segera menarik paksa diriku, dan akan melampiaskan amarahnya hingga tumpah. Tapi, untuk saat ini. Dia hanya menyiksaku dengan sorot matanya yang menusuk.
Kemudian aku kembali dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita bak model yang langsung merangkul lengan Alex intim. Aku mendesis lirih. Tidak salah lagi, dia memang akan mudah melupakanku, bukan? Tapi, apa harus wanita itu adalah Fransiska? Wanita yang pernah menyakitinya.
Dan bodohnya lagi aku masih mempedulikan tentangnya.
Tatapanku tidak pernah putus darinya, begitupun dia. Tapi, saat wanita itu mengecup pipi Alex membuatku tidak kuasa ingin mual melihatnya. Demi apapun, aku ingin sekali menarik wanita tidak tahu diri itu dan merobek baju mahalnya. Biar dia sekalian malu!
"Kenapa berhenti? Ayo, wajahku sakit sekali." Raffi mengeluh. Dia menarikku dan tak mempedulikan keterdiamanku.
Kami berjalan. Langkah demi langkah semakin membuatku merasakan hawa panas Alex.
Dan tanpa sadar, aku sedikit meresapi gerakanku yang mendekat kearahnya seperti slow motion. Aku memalingkan wajah, hanya agar tidak menatapnya. Dan dapat aku rasakan punggung tangan Alex menyentuh punggung tanganku yang bebas. Membuatku tanpa sadar menggigil, entah karena apa. Mungkin aku hanya tidak terbiasa dengan sosoknya yang seakan memiliki jarak jauh denganku sekarang.
Aku merindukannya, sungguh! Tapi...
Kuatkan egomu, Clara! Batinku berteriak kencang. Sisi kiriku mengingatkan agar aku tetap menjaga harga diriku.
-000-
Saat kau tak ada
Wajah yang mulai kukenal juga hilang.
Saat kau tak ada
Kata-kata yang perlu kudengar untuk membuatku mampu melalui hari dan tetap baik-baik saja.
Tak pernah kumerasa seperti ini sebelumnya
Segala yang kulakukan mengingatkanku padamu.
~Avril Lavigne-When you're gone~
-000-
Dulu, salah satu teman semasa putih abu-abuku pernah berkata, 'Cinta itu sederhana. Sesederhana aku yang hanya mencintainya.' Dapat aku simpulkan pendeskripsian cinta baginya. Sederhana dalam artian, tak harus memiliki. Sederhana, yang hanya mencintai tanpa memaksa untuk saling memiliki. Sederhana, hanya mencintai satu hati tanpa menoleh pada banyak kepingan hati yang lain.
Lalu, apakah kesederhanaan cinta itu terdapat pada kisahku?
Faktanya aku bukanlah orang yang memiliki pemikiran yang sederhana. Egoku terlalu kuat untuk ingin memilikinya. Dia hanya untukku. Hanya milikku. Dan hanya harus mencintaiku! Aku hanya wanita yang hanya ingin dicintai oleh pria yang aku pertahankan selama ini. Tanpa sikap kebalku terhadapnya. Aku yakin hubungan kami tak akan pernah berjalan sejauh ini.
Sudah berjalan setahun lebih. Dan selama itu, aku belajar sikap keegoisan Alex yang selalu mempertahankan miliknya. Dan sekarang aku akan mempertahankan dia. Milikku!
Tapi, apakah bisa aku bertanding dengan wanita yang jauh sekali, dariku. Wanita yang sudah menetap lama di hati seorang Alex. Aku seperti tertindih oleh kenyataan, bahwa aku hanyalah sosok pengganti yang hanya sedikit, bahkan tak sama sekali mengisi relung dihatinya.
Miris!
Aku sudah kalah sebelum berperang. Aku hanya tidak ingin dia menolakku setelah kebersamaan kami yang terakhir menyisakan kepedihan hati satu sama lain. Karena penolakkan membuatku harus menata kembali serpihan yang telah jatuh, terhempas bersama angan yang hanya aku yang menjaganya.
Kau tahu kenapa orang tidak peka itu hadir? Karena mereka memiliki pasangan, yaitu orang-orang yang tak ingin kesedihannya terbaca. Orang-orang yang hanya ingin menampilkan raut bahagianya pada dunia.
Mereka hanya ingin terlihat bahagia. Tanpa ada yang mengusik perasaannya. Dan berkata, 'aku baik-baik saja. Sangat baik sekedar untuk menghadapi dunia yang memang kejam. Karena aku tahu Tuhan bersamaku, memelukku saat kedinginan. Dan selalu mendengarkanku saat aku punya masalah. Tuhan tempat yang aman untuk menjaga rahasia.'
Dan aku bagian dari mereka.
-000-
Aku berjalan malas menuju pintu utama apartemenku. Seseorang di luar sana seperti tidak punya kata sabar dalam dirinya, hingga memencet bel berkali-kali. Seharusnya orang yang kurang kerjaan mengunjungiku itu tahu diri ini sudah hampir tengah malam.
Dengan masih mengatur diriku yang baru saja terbangun dari tidur nyenyakku. Aku mengusap mataku yang tampak masih buram. Lalu mnguncir rambutku yang pasti sangat berantakan.
Tanpa melihat intercom, aku langsung membuka pintu dengan rasa kesal, berniat untuk mencaci maki orang yang sudah mengganggu waktu istirahatku.
"Siapa yang da..." kata-kataku tercekat di ujung tenggorokan. Aku seperti tercekik untuk melanjutkannya. Karena sosok dihadapanku lebih mengejutkan dan menggemparkan lagi.
Dia menatapku dengan dahi berkerut, seolah mempertanyakan raut tak senang yang aku tunjukkan. Hal yang tidak pernah aku lakukan jika menghadapi kedatangannya. Tapi sekarang waktunya telah berbeda. Hubungan kami sekarang tidak sama seperti dulu.
Hingga akhirnya detik-detik membisu itu terpecahkan oleh gerakannya yang maju, memasuki apartemenku dengan pandangan datar.
Tanpa sadar, aku mengepalkan kedua tanganku. Tidak ada raut bersalah dalam garis wajah angkuhnya. Aku tertawa mengejek dalam hati. Seharusnya aku tahu, betapa sikap Alex layaknya batu yang akan selalu keras.
Dia bergerak sesukanya. Meneliti keadaan apartemenku dengan sorot tajamnya. Oh, salah. Aku koreksi kembali. Ini apartemennya! Dan aku hanya menumpang disini. Cepat atau lambat aku yakin dia akan mengusirku jauh-jauh dari hidupnya. Dan memberikan fasilitas mewah yang selama ini aku nikmati ke tangan wanita yang telah menempatkan posisinya. Faktanya memang begitu. Fransiska bukan menggantikan posisiku. Aku hanya lalat yang sekedar menempel di kehidupan Alex. Yang pasti nantinya akan diusir menjauh.
Tidak usah membahas posisiku, karena itu sangat menyakitkan.
Saat Alex mendudukan dirinya di sofa dengan kedua tangan direntangkan di punggung sofa. Saat itulah aku berdehem pelan meneteralkan kegugupan yang menguasaiku.
Aku harus menunggu Alex dalam posisi nyaman, baru akan aku katakan semuanya.
Dan saatnya lah.
"Beri aku waktu hingga besok. Maka aku akan meninggalkan apartemenmu ini," ujarku penuh dengan keberanian.
Kedua bibirnya membentuk garis tipis, dia seperti menampakkan kemarahannya atas perkataanku. Oh, aku mengerti. Mungkin penawaranku terlalu berat. Alex mungkin ingin aku pergi sekarang juga. Mengingat dirinya telah susah payah mendatangiku. Dia pasti ingin aku langsung meninggalkan hal-hal yang berkaitan dengannya, agar Fransiska bisa dengan cepat menikmati apa yang menjadi hak wanita itu, tinggal di apartemen mewah ini salah satunya.
"Kenapa terburu-buru. Apa segitu besarnyakah rasa ingin bersama dengan pegawai rendahan seperti priamu itu?"
Alex mengintimidasiku. Bukan hanya ucapannya yang terdengar dingin. Bola mata hitam pekat Alex juga terlihat membeku dan tidak bersahabat.
Aku mengernyit bingung tidak mengerti. "Maksudmu apa?"
"Alraffi Khadafi," tembak Alex dan membuatku membelalak tidak percaya.
Darimana dia tahu aku dekat dengan Raffi? Oh, pertemuan kami tadi sore, sepulang kantor rupanya membuat dia menyimpulkan hal yang tidak ada kebenarannya.
Kami hanya sebatas teman. Tidak ada artian lebih. Aku lupa jika aku diawasi oleh pria seposesif Alex. Dia akan menyimpulkan apapun semaunya. Dan membuat akulah yang bersalah disini. Lalu dia? Bersama dengan wanita lain. Bahkan bermesraan di depan mataku.
Good job, Alexander Melvin!
Perlahan dengan tubuh tingginya, Alex mendekat kearahaku dengan tatapan yang tidak pernah lepas dariku. Hingga saat tubuh tingginya benar-benar berhadapan denganku. Indera penciumanku tergelitik, seperti mengungkapkan bahwa aku merindukan aroma Alex yang akan selalu menjadi kesukaanku.
"Jauhi dia, Clara. Jika kalian ingin aman!"
Aku tertawa sinis. "Kau bukan siapa-siapaku lagi, Tuan Alexander Melvin yang terhormat. Kita sudah berakhir semenjak tangan kasarmu itu menamparku."
Alex mengatupakan rahangnya rapat-rapat. Rahangnya tampak mengeras berusaha menahan amarahnya yang mungkin akan meletup-letup setelah ini.
"Jauhi dia. Atau jika tidak aku akan memberinya pelajaran lebih dari hari ini," ancam Alex membuat mataku semakin melotot.
"Jadi, kau..." perkataanku terhenti setelah mendengar desisan Alex. Tangan kekar pria itu mengusap kepalaku lembut, berbeda dengan sorot matanya.
"Siapa lagi yang akan membuat kelakuan seanarkis itu selain aku, Clara. Menghajar wajah pria itu tidak juga membuat dia jera agar berhenti mendekatimu," geram Alex.
"Kau gila!" Jeritku.
"Akan aku lakukan untuk melindungi milikku, sayang."
Dan aku memejamkan mata erat, menghalau air mata yang siap akan tumpah.
Bahwasannya aku dan dia saling egois. Dan keegoisan cinta itu membuat kami juga saling tersakiti. Aku akan melepaskannya.
"Kita sudah berakhir, mengertilah," kataku penuh dengan sikap waspada. "Aku akan melepaskanmu bersama dia," lanjutku.
Aku salah, Alex terlihat marah menatapku. Hal yang aku inginkan, dia tetap tenang dan mengakhiri hubungan kami. Namun sorot matanya memerah. Amarah tergumpal disana.
Di merengkuh jemariku erat, menyampaikan keengganannya mengakhiri hubungan kami.
"Tidak ada yang boleh mengakhiri hubungan ini. Hanya aku. Hanya aku yang bisa mengakhirinya dari mulutku."
Aku menggeleng tidak kuasa. "Kau pikir, hubungan ini hanya kau yang menjalaninya? Aku juga ikut. Aku juga merasa. Biar aku pergi agar tidak menjadi sampah di sekitarmu." Kataku bergetar. Aku hanya tidak ingin menangis lagi di depannya.
Alex menggelengkan kepalanya samar, setelah itu dia merengkuhku ke dalam pelukannya. Mengantarkanku kedalam rasa hangat, aman, namun juga merasa tersakiti secara bersamaan. Aku tidak pernah sekacau ini. Kami akan bertengkar, lalu aku akan mengkebalkan hati dan fisikku agar berkorban, agar hubungan ini tetap berlanjut. Tapi, aku hanya manusia yang memiliki titik jenuh. Dan sekaranglah rasa menyerahku akan sikapnya baru dimulai.
Dia mengelus puncak kepalaku, dan mengecupnya penuh dengan rasa yang tidak bisa kupahami.
"Kau akan tetap menjadi gadisku," bisiknya.
Aku sama sekali tidak membalasnya. Pelukannya pun hanya aku biarkan tanpa berniat ingin merespon.
"Dan menerima perlakuan kasarmu kembali?"
"Maaf." Dan untuk pertama kalinya ucapan tulus itu keluar dari bibir seorang Alexander Melvin. Membuatku membeku di tempat. Aku terdiam mencerna sejuta alasan, mengapa dia terlalu luluh sekarang?
"Seharusnya kau yang paling mengerti diriku. Maaf jika selama ini aku sangat egois, membuatmu merasa tertekan. Karena beginilah aku melindungi milikku. Aku hanya tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya."
Aku meliriknya dari ujung mataku, membaca raut wajahnya yang seakan menatap jauh ke angkasa.
Aku hanya diam. Memberi keleluasaan padanya untuk kembali berbicara. Dan dapat aku rasakan pelukannya semakin mengerat.
Bersambung...