"Sayang, bangun, Nak!" panggil seorang wanita cantik berambut putih. Tangannya yang mulus itu sedang membelai lembut pipiku.
"Hah! Si-siapa kamu?" tanyaku dengan suara yang serak.
"Ini Ibu, sayang."
"Ibu? Ibu siapa? Ibuku sudah mati dan aku tidak mengenalmu, Nyonya," tuturku yang seraya menjauh darinya. Kupandangi wajahnya yang simetris tanpa ada kerutan di bawah matanya. "Tidak mungkin kamu Ibuku. Ibuku tidak secantik Anda, Nyonya," ucapku lagi.
"Aloka, dengar. Ibu tidak bisa menjelaskan semuanya saat ini. Tapi kamu harus ingat untuk selalu hati-hati. Jangan sampai kamu terluka apalagi sampai berdarah," jelasnya dengan suara yang serius.
"Hah! Omong kosong apa ini! Aku tidak akan mendengarkan apapun yang kau bicarakan, Nyonya."
"Setetes darah yang mengalir dari tubuhmu, maka kau akan berada dalam bahaya," tuturnya yang kemudian menghilang.
"Hei, tunggu! Apa maksud semua ini?" jeritku yang terbangun dari tidur.
Keringat membasahi sekujur tubuh. Diikuti oleh lolongan suara serigala dari atas gunung. Bulu kudukku meremang. "Lolongan serigala? Kok bisa? Selama 20 tahun aku hidup dan besar di sini, ini pertamaku mendengarnya. Lalu apa maksud mimpiku tadi?"
Ada banyak pertanyaan berkecimpung di kepala seperti awan hitam yang menggumpal. Disambari oleh kilatan petir di atas langit. Tak lama setelahnya, hujan mengguyur daerah sekitar. Rumah yang terbuat dari kayu itu membuatku kedinginan. Rupanya, selimut tipis dan dekil tak cukup memberikan kehangatan.
"Hah! Setidaknya aku masih punya tempat untuk berteduh meskipun jauh dari kata layak," serayaku kembali tidur.
********
Desir air sungai yang deras membuatku terbangun dari mimpi buruk semalaman. Mimpi yang sama dalam beberapa hari ini. "Ada apa sebenarnya? Kenapa aku mendengar lolongan serigala setelah 20 tahun lamanya? Lantas siapa wanita yang mengaku Ibuku itu?" Dengan hati yang tidak tenang aku merapikan tempat tidur.
Dalam pikiran yang penuh aku harus berjalan masuk ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar maupun sayuran yang bisa aku jual ke kota. Meski tidak banyak tetapi aku bersyukur. Di kota ada seorang pembeli langganan almarhum Ibuku. "Aloka, kamu sudah makan, Nak?" tanyanya dengan senyum.
"Be-belum, Buk."
Setelah mengambil kayu bakar dan membawa sayuranku masuk ke dalam rumahnya, ia keluar lagi dengan sebungkus nasi di tangannya.
'Ini, ada nasi buat kamu. Jangan lupa dimakan, ya. Dan ini bayaran kayu bakar sama sayurannya. Kalau lapar, datang saja ke sini," katanya lembut.
"Ah, i-iya, Buk. Terima kasih," ujarku sembari menerima uang dan nasi itu. Setelah berpamitan, aku pun bergegas meninggalkan perkotaan, menuju pinggiran kota yang hening.
Aku mencintai keheningan, tapi membenci sepi. Aku muak pada keramaian, namun tak tahan sendirian.
'Tuhan, mengapa Engkau mengambil orang yang paling berharga dalam hidupku? Belum cukupkah penderitaan yang kutanggung selama dua puluh tahun ini?' bisikku sambil menatap langit cerah.
Langit cerah punya sejuta cerita indah, tapi tidak dengan kisah hidupku. Aku hidup seorang diri di antara keramaian kota yang tak mengenalku. Tak ada siapapun yang bisa mendengarkan jeritanku, kecuali burung-burung yang berterbangan di atas sana. Cukup lama kupandangi langit di bawah pepohonan rindang ini.
Ketika hari sudah mulai gelap, aku bergegas menuruni jalanan menuju rumah. Jalanan ini tak terlalu terjal, tapi cukup beresiko terjatuh apabila tidak hati-hati.
"Kenapa aku merasa ada yang mengikutiku?" ujarku yang berjalan dalam kewaspadaan.
Rasa takut mulai menyelimuti ketika aku melewati semak belukar yang rimbun. Kupatahkan sebatang dahan pohon untuk berjaga-jaga. "Aku harus cepat-cepat turun ke bawah. Kalau tidak aku mungkin bisa berpapasan dengan serigala," ujarku sambil berlari.
Tiga puluh menit berlalu. Aku sudah sampai di rumah dan segera menutup rapat semua pintu. Kemudian menyalakan api untuk menghangati tubuh yang menggigil. Dengan bahan pokok seadanya, aku pun memasak di atas tungku kyu yang sudah menyala terang sedari tadi. Tak lama kemudian, makanan pun sudah siap untuk dimakan.
"Apa yang harus kulakukan? Kenapa aku merasa sangat bosan ya," tuturku sambil menarik napas. Kupandangi langit dari luar jendela. Udara malam bercampur angin sepoi-sepoi membuat pori-poriku terbuka.
"Hufh! Enggak! Enggak! Itu semua cuman mimpi. Aku tidak boleh percaya dengan hal-hal tabuh seperti itu. Yah, aku akan pergi keluar untuk melihat lampu jalanan kota yang indah. Setelah itu aku pulang dan beristirahat." Aku beranjak dari kamar, mengambil jaket dan senter. Kukunci rapat pintu dan berjalan menuju tebing.
Jarak tebing ke rumahku sekitar lima kilometer. Dengan berjalan santai aku akan segera sampai di sana. Dari atas tebing, dapat aku lihat bagaimana indahnya kehidupan malam dinkota besar sana. Suara bising kendaraan, orang berlalu-lalang dan hal indah lainnya. Terakhir kali aku pergi ke pasar malam tiga tahun yang lalu bersama dengan Ibu.
"Bu, lagi apa di atas sana? Al rindu," senduku. Besok sudah genap sebulan aku sendirian di dunia ini. Lantas apakah aku akan terus hidup dalam kesendirian? Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di benakku. Mataku masih menatap ke bawah, sedangkan tanganku memegang dahan kayu untuk berjaga-jaga jikalau ada hewan buas yang datang.
"Apa aku turun saja ke kota, terus cari kerjaan di sana? Atau mungkin aku bisa minta tolong sama Ibu-ibu langganan kayu bakarku?"
Udara dingin semakin menusuk hingga ke tulang. Tiga jam lebih aku duduk sendirian di atas tebing, menatap kota yang masih berpendar meski sebagian lampu mulai padam. Namun, rasa penasaranku tak ikut meredup—justru kian menyala.
Di tengah perjalanan pulang, kakiku terpeleset pada akar pohon yang tajam. Aku meringis, menahan perih yang menyengat. Bersandar pada batang pohon, perlahan kucabut duri itu dari telapak kakiku. Air liurku kutelan bulat-bulat, berusaha menahan nyeri yang begitu menusuk. "Aduh, sakit," rintihku sambil meniup-niupnya.
"Kurobek bajuku, menekannya pada luka yang masih mengucurkan darah. Kain tipis itu cepat basah, menempel perih di kulitku. 'Pertanda apa ini?' batinku bergetar. Setelah merasa sedikit kuat, aku menyeret langkah, menahan nyeri di kaki.
Tiba-tiba—BRUK! Tubuhku terpental ke tanah, keras menghantam bebatuan. Seorang pria misterius berpakaian serba hitam berdiri kaku di depanku. Dadanya bidang, tubuhnya kekar, tapi wajahnya tenggelam dalam bayangan.
"Aduh…!" erangku, memegangi bahu kanan yang berdenyut. "Hei! Kalau jalan itu pakai mata dong!" sergahku kesal. Tapi dia hanya terdiam, tegak seperti patung.
"Kok diam? Bantuin aku berdiri!" titahku, mengulurkan tangan dengan harapan ia akan membantuku untuk berdiri. Sialnya, dia terus saja berdiri memetung dengan wajah yang ditekuk.
"Kamu bisu, ya?" tanyaku sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya.
"Halo? Aku bicara sama kamu, Tuan."
Tidak ada jawaban. Hanya desah napas berat keluar dari balik topeng bayangan wajahnya.
"Hufh! Sepertinya kamu memang tidak bisa bicara. Ya sudah," ucapku, memaksakan senyum. "Meskipun kamu tidak minta maaf sudah menabrakku, aku akan memaafkanmu."
Hening. Sunyi tanpa suara.
Sepasang mata tajam mengawasi dari kejauhan. Angin kencang membuat rambut panjangku berantakan, begitu pula jaket hitam yang dikenakannya berkibar. Apa… suasana mencekam ini? batinku bergidik ngeri.
"Oke, karena kamu tidak mau berbicara, aku tidak akan mempermasalahkannya. Lanjutkan saja perjalananmu, Tuan. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi," ujarku, berbalik meninggalkannya.
"Jika kamu ingin selamat, jangan memperdulikan hal apapun mengganggumu sampai ke rumah," katanya dingin.
"Maksudnya?"
"Pergi!" usirnya.
Aku melangkah cepat, berusaha menjauh. Tapi perasaan aneh menempel di punggungku, seakan ada tatapan yang terus mengawasi.
Semakin jauh aku berjalan, suara langkah kakiku justru terdengar berlipat, seperti ada orang lain yang mengikuti dari belakang.
'Tidak, ini cuma halusinasi,' yakinku sambil menggenggam erat dahan pohon di tanganku.
Namun tiba-tiba, angin berhembus kencang, membuat bulu kudukku berdiri.Tak tahan lagi, aku membalikkan badan, mengikuti sosok hitam itu masuk ke dalam hutan. Aku memanggil-manggilnya, suara serak penuh cemas.
"Tuan… tolong aku. Tolong aku!" jeritku.
Semakin jauh aku melangkah, pandanganku lenyap ditelan pekatnya malam. Bahkan bayanganku sendiri yang biasanya selalu dipantulkan cahaya bulan pun hilang begitu saja, seolah ditelan kegelapan malam.