Gelap, tidak ada yang bisa kulihat dengan mata, hanya udara dingin mencekam yang bisa kurasakan. Bahkan tidak kudengar seekor pun suara binatang di sini. "Tu-tuan, apakah kamu bi-bisa mendengarku?" bisikku dengan suara bergetar,
Getaran ini tidak lagi sama. Ini seperti berada dalam lingkaran yang dipenuhi oleh hewan buas yang kelaparan. Yah, aku bisa merasakan suasana yang begitu mencekam.
"Tuhan, maafkan aku yang terus mengeluh. Jika boleh, aku ingin kembali ke rumah. Aku tidak ingin berada di tempat gelap gulita ini," doaku dalam hati."
Tiba-tiba, udara di sekelilingku berubah. Seperti ada sesuatu yang bergerak, berputar, mengelilingiku. Langkah-langkah berat terdengar samar, semakin lama semakin jelas. Aku membeku, jantungku berdetak begitu kencang hingga rasanya bisa terdengar oleh apa pun yang ada di balik kegelapan ini.
"A-apa itu...?" gumamku pelan, suaraku hampir tak terdengar.
Lalu, dari arah depan, sepasang cahaya kecil berwarna merah menyala muncul. Semakin dekat, semakin besar, seolah menatap langsung ke dalam mataku. Kakiku gemetar, ingin lari, tapi tubuhku kaku bagai dipaku di tempat.
"S-siapa itu?" tanyaku dengan napas tersengal.
Tak ada jawaban. Hanya hembusan napas berat, seperti deru binatang buas yang tengah menahan diri sebelum menerkam mangsanya.
Aku menutup mata, berharap ini hanya mimpi buruk. Namun ketika aku membukanya lagi, sosok hitam itu berdiri hanya sejengkal di hadapanku. "Apakah ini akhir dari hidupku yang menyedihkan?" batinku. Sepenuhnya aku siap kalau harus mati dimakan oleh binatang buas ini. 'Kalau aku mati, aku bisa bertemu dengan Ibu dan tidak akan sendirian lagi' batinku lagi.
Aku terhuyung ke belakang ketika sosok dengan mata merah itu membuka mulutnya, menampakkan deretan gigi tajam yang berkilat di antara kegelapan. Tubuhku seakan lumpuh, hanya bisa menunggu saat diterkam.
Namun, tepat ketika makhluk itu hendak menerkamku, sebuah hembusan angin dingin menyapu keras dari samping. BRUAK! Sesosok bayangan berkelebat cepat, memukul mundur mahkluk itu.
Aku melotot kaget. Itu… sosok misterius berpakaian serba hitam yang kulihat sebelumnya. Tubuhnya tinggi menjulang, wajahnya tak terlihat jelas, hanya tertutup bayangan. "T-tuan!" jeritku ketakutan.
“Aku sudah bilang jangan dekati dia,” ucapnya dengan suara berat, bergema di antara pepohonan.
Makhluk bermata merah itu meraung marah, tapi segera mundur, seolah ketakutan pada kehadiran sosok hitam tersebut. Sementara aku masih terpaku, tubuhku gemetar tak karuan.
Dia lalu menoleh ke arahku, matanya tersembunyi di balik bayangan gelap. “Dasar perempuan bodoh!" makinya dengan tatapan benci.
Aku ingin bicara, tapi bibirku terasa sangat berat. Hanya satu pertanyaan yang berhasil lolos, “S-sebenarnya Anda siapa?"
Yah, setelah itu aku tidak tahu bagaimana lagi karena tiba-tiba saja pandanganku menggelap, tubuhku ambruk, dan aku pingsan.
******
Ketika aku membuka mata, cahaya terang menyilaukan pandanganku. Aku terkejut karena bukan lagi kegelapan hutan yang kulihat, melainkan langit-langit kamarku. Bau kayu dan kain selimut yang familiar menyelimuti hidungku.
Aku terduduk dengan napas terengah. “I-ini… rumahku?” gumamku tak percaya. "Aku ada di rumah?" ucapku tidak percaya.
Di meja samping tempat tidur, ada secarik kain hitam kecil, seperti potongan jubah. Aku meraihnya dengan tangan gemetar. 'Tidak mungkin. Bukankah itu kain dari sosok misterius semalam?" tanyaku sambil mengedarkan pandangan ke seluruh arah.
Aku meremas kain itu erat, tubuhku masih diliputi rasa takut bercampur syukur. “Siapa pun kau, terima kasih sudah menyelamatkanku.”
Namun di dalam hatiku, aku tahu satu hal pasti—perjalanan ini belum benar-benar selesai. Sejak keadian semalam, aku semakin penasaran dengan siapa dia. Tapi seberapa keras pun aku berusaha untuk mencaritahu, aku tidak menemukan apapun.
"Ah rasanya sangat mengerikan ketika bertemu binatang buas semalam. Dilihat dari giginya yang mengkilat, itu bukanlah hewan biasa. Terus ditambah lagi dengan bau napasnya yang sangat busuk, sangat tidak mungkin kalau dia adalah serigala," kataku menggelengkan kepala.
"Terus kalau bukan serigala, itu apa?" teriakku frustasi sambil menenggelamkan wajah ke dalam bantal. Aku diam beberapa detik, hingga aku ingat dengan sebuah kotak kayu usang. Dengan terburu-buru, aku mencari kotak itu. Saat kutemukan, kotak kayu yang usang itu diselimuti oleh debu dan juga sarang laba-laba.
Kutarik kotaknya ke atas kasur dan meniup-niupnya hingga bersih. Setelahnya aku pun membuka. Berharap jikalau di dalam kotak itu berisi surat warisan dan juga perusahaan. Ah, barangkali Ibu sedang menyamar jadi manusia biasa, tapi sebenarnya Ibu adalah seorang CEO.
Namun yang kutemukan jauh dari ekspektasi, melainkan sebuah buku kecil lusuh bersampul kulit, lalu sebuah liontin dan juga satu mantel kulit.
" Mantel kulit? Tampaknya ini kulit asli, tapi… kulit apa?" tanyaku sambil memperhatikan setiap detail mantel itu. Ada aroma aneh yang seolah masih hidup, membuat bulu kudukku meremang. "Aroma ini?" mataku terbelalak seakan-akan pernah menciumnya.
Kali ini, pandanganku tertuju pada buku kecil di samping liontin. Perlahan kuraih buku itu dan membuka halaman pertama.
"Aloka, kau adalah cahaya di tengah kegelapan. Kau bukanlah bagian dari mereka, tapi kau sepenuhnya menjadi milikku."
Aku terdiam. Jari-jariku bergetar menyusuri tulisan itu. Tulisan tangan… tapi bukan milik Ibu. Aku hafal betul setiap goresan huruf Ibu. Tulisan ini lebih tegas, lebih… asing.
Tiba-tiba liontin di samping buku itu bergetar halus, seperti merespons ketika kalimat itu k****a. Cahaya samar berpendar dari dalamnya, membuat ruangan seolah berdenyut.
Aku mundur satu langkah, napas tercekat. "A-apa maksud semua ini…?"
Namun sebelum sempat menutup kembali buku itu, halaman berikutnya terbuka dengan sendirinya, dan muncul sebuah simbol aneh—terbakar samar, seakan ingin keluar dari kertas.
Kuberanikan diri untuk lebih dekat dengan buku itu. Kuperhatikan simbol aneh yang terus saja bergerak. "Simbol apa ini? Dan kenapa dia menari-menari seperti ingin keluar?" tanyaku tanyaku sambil merunduk semakin dekat.
Tepat saat itu suara gemuruh riuh guntur memenuhi seisi ruangan, diikuti oleh angin kencang yang datang tiba-tiba. Tirai jendela terhempas liar, bahkan kasurku ikut bergerak.
"Ada apa ini? Kenapa semuanya terjadi secara tiba-tiba?" jeritku sambil menutupi wajah dengan kedua tangan.
Buku itu terbuka lebar dengan sendirinya. Dari halaman yang menyala, cahaya menyembur dan membentuk pusaran di udara. Aku bisa melihat bayangan hitam samar-samar muncul dari dalam pusaran itu—sosok tinggi dengan mantel panjang.
Suara berat menggema, bercampur dengan deru angin, “Aloka… waktumu telah tiba.”
Aku terhuyung mundur, jantungku berdegup kencang tak terkendali. Liontin di samping kasur ikut berkilau, seakan merespons panggilan itu.
“Tidaak! Siapa pun kau, jangan mendekat!” pekikku, meski kakiku terpaku tak bisa bergerak.
Dan tepat ketika pusaran itu hampir menyentuhku, liontin meloncat sendiri dari meja, melayang ke dadaku dan menempel kuat, seolah menyatu dengan tubuhku.
"Apa ini? Kenapa tiba-tiba aku memakai liontin ini," ujarku dengan suara bergetar.
Liontin yang menempel di dadaku semakin berkilau. Pusaran cahaya itu tiba-tiba menyedot segalanya, tirai, kertas, bahkan udara dari paru-paruku. Aku mencoba berpegangan pada kasur, tapi tarikan itu terlalu kuat.
"Aaah..." jeritku.
“Tidak… jangan!” teriakku.
"Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang mencariku hingga masuk ke dalam hutan?" ujarnya sambil mendekatiku, suaranya terdengar berat sekaligus menusuk ke dalam d**a.
"B-benar, aku memang mengikutimu. Tetapi sekarang aku berjanji tidak akan mengikutimu lagi, Tuan. Jadi, tolong lepaskan aku," kataku terbata, tubuhku gemetar tanpa bisa kukendalikan.
Dia terdiam sejenak. Bayangan wajahnya masih tertutup gelap, tapi aku bisa merasakan tatapannya menembus diriku. Lalu, dengan suara pelan yang justru semakin membuatku merinding, ia berkata,
"Aloka… kau pikir aku memberimu pilihan?"
Sekejap pusaran cahaya di belakangnya bergetar, seakan merespons kata-katanya. Liontin di dadaku ikut bersinar semakin terang, menyakitkan kulitku. Aku meringis kesakitan.
"Tolong… hentikan ini!" pekikku.
Sosok itu menunduk sedikit, suaranya berubah lebih lembut namun tetap misterius, "Kau telah terikat sejak awal, sebelum kau dilahirkan. Semua ini bukan tentang pilihan, Aloka… tapi tentang takdir."
"Persetan dengan takdir! Aku bisa memilih takdirku sendiri," jeritku, mataku panas menahan air mata, suaraku pecah antara ketakutan dan perlawanan.
Sosok itu diam beberapa saat, lalu mengeluarkan suara tawa pendek yang membuat bulu kudukku berdiri.
"Itu yang membuatmu berbeda, Aloka… itulah alasan aku memilihmu."
Aku terperangah. “Memilihku? Untuk apa?”
Ia mengangkat tangannya perlahan. Mantel kulit yang ada di atas kasur bergerak sendiri, melayang mendekat ke arahku. Aku berusaha mundur, tapi kakiku seolah terpaku di lantai.
"Karena hanya dengan dirimu… dunia ini bisa diselamatkan… atau dihancurkan."