Saat kubuka mata, yang kulihat pertama kali adalah pepohonan rindang yang lebat. Daunnya yang hijau menjulang hingga menyentuh langit, sementara akarnya yang kekar seakan menjadi saksi usia ribuan tahun lamanya. Udara di sekelilingku begitu bersih, segar, dan tidak menyesakkan d**a, berbeda jauh dari dunia yang kukenal.
Kuayunkan kaki mendekati dua pohon besar yang berdiri berdampingan seperti sebuah gerbang kuno. Perlahan, ketika jemariku menyentuh dedaunan yang menggantung rendah, cahaya samar merambat di sepanjang urat daunnya, berkilau lembut seperti bintang yang terjaga. Saat itu aku sadar, hutan ini bukan sekadar tempat asing, melainkan pintu menuju sesuatu yang lebih besar dari dugaanku.
Namun, tempat apakah itu? Tempat seperti apa yang akan sedang menungguku atau aku sendiri yang memutuskan untuk mendatangi tempat asing itu? "Di sini memang indah, sunyi, dan tenang. Tetapi aku merasa tidak nyaman," ujarku yang mengedarkan pandangan ke dalam gerbang kuno itu.
"Tapi apapun itu yang ada di depan sana, aku siap menghadapinya. Sama seperti yang dikatakan oleh Tuan misterius itu. Aku harus tahu alasannya kenapa takdirku tidak bisa dirubah dan apa yang bisa kuubah untuk dunia ini?"
Dengan tarikan napas panjang dan dalam, kulangkahkan kaki memasuki dunia baru di depan sana. Tak peduli apa yang sedang menungguku, tak peduli siapa atau mengapa. Yang pasti semua pertanyaanku akan mendapatkan jawabannya setelah aku bertemu lagi dengan sosok itu.
Langkahku terasa berat, tetapi hutan ini seakan membuka jalan setiap kali aku melangkah maju. Daun-daun bergerak lembut, ranting-ranting menyingkir, seolah ada sesuatu yang menuntunku. Suara gemericik air terdengar samar dari kejauhan, bercampur dengan bisikan angin yang entah mengucapkan kata-kata atau hanya ilusi pendengaranku.
Semakin jauh aku melangkah, cahaya keemasan muncul di antara pepohonan. Seperti ada sesuatu yang berkilau, menunggu untuk ditemukan. Aku mempercepat langkah, rasa penasaran mengalahkan ketakutan. Namun ketika aku tiba di tempat itu, langkahku terhenti.
Di hadapanku terbentang sebuah danau jernih berkilauan, permukaannya memantulkan langit asing dengan dua matahari yang tergantung redup di atas sana. Airnya berpendar lembut, dan di tengahnya berdiri sebuah batu besar dengan simbol bercahaya. Anehnya, simbol itu sama persis dengan yang terukir di mantel yang kini melekat di pundakku.
Dadaku bergemuruh. “Apa ini? Kenapa sama?” gumamku.
Begitu ujung jemariku menyentuh simbol itu, cahaya terang memancar, menelan seluruh tubuhku. Dadaku terasa sangat sesak dan sakit jauh lebih parah dari yang kemarin kurasakan."T-tolong," spontanku, meski aku tahu tidak ada siapa pun di sini selain diriku sendiri.
“Dasar simbol kurang ajar! Apa maumu, hah? Kenapa kau suka sekali menyiksaku? Aku ini anak yatim piatu, tahu!” ketusku, seakan simbol itu bisa mengerti.
Amarahku meledak. “Kalau kau tidak berhenti, suatu hari aku akan menghancurkanmu!” ancamku penuh emosi.
Ajaibnya, setelah kata-kata itu terucap, simbol terkutuk itu pun menghilang. Sesak di dadaku perlahan mereda, hingga tubuhku kembali terasa normal. Aku menggerutu, memaki, dan bersumpah akan menemukan siapa dalang di balik semua ini.
“Takut, kan? Makanya jangan macam-macam sama Aloka. Aku ini adalah cahaya yang bisa menerangi kegelapan, paham kamu!” teriakku, lalu melanjutkan perjalanan tanpa arah. Untungnya aku tidak mengacungkan jari tengah. Kalau iya, aku tidak tahu hal buruk apa yang kejadian selanjutnya.
Beberapa jam kemudian, aku menemukan sebuah mata air berwarna putih seperti s**u. “Jadi ini sumber suara gemercik yang kudengar tadi,” ucapku sambil menatapnya.
Aku berhenti sejenak di bawah pohon kecil yang tumbuh di tepi mata air itu. Pohon ini tampak berbeda dengan yang lainnya. “Kenapa kamu tidak sama dengan pohon lain?” ujarku, bertanya-tanya.
Perjalanan panjang membuat tubuhku lelah dan haus. Aku ingin meminum air putih s**u itu, tapi keraguan menghantui. Bagaimana kalau beracun? Bagaimana kalau penuh kuman dan bakteri? Bulu kudukku meremang membayangkannya.
Namun, kerongkonganku sudah terlalu kering. “Aku harus mengisi tenaga, setidaknya dengan meminum ini,” ucapku pasrah, menatap aliran mata air s**u di depanku.
Aku mengambil s**u itu dengan tanganku lalu meminumnya. Tak lama setelah itu, rasa kantuk menyerang dan akhirnya aku pun tertidur. Saat aku terbangun, hari sudah gelap dan dingin pun mulai mennyerang. Aku meringis menahan dingin yang teramat ini.
"Sst… kenapa dingin sekali di sini," gumamku pelan sambil menggosok kedua lengan. Nafasku sendiri tampak seperti asap tipis di udara, membuat rasa sepi semakin menekan.
Dalam keputusasaan, kulihat ada cahaya merah yang sedang menyala di ujung sana. "Barangkali itu adalah seseorang yang bisa membantuku dalam kondisi seperti ini," ujarku penuh harap.
Dalam keputusasaan, kulihat ada cahaya merah yang sedang menyala di ujung sana. "Barangkali itu adalah seseorang yang bisa membantuku dalam kondisi seperti ini," ujarku penuh harap.
Aku melangkah perlahan, semakin mendekat. Namun anehnya, cahaya itu tidak semakin jelas, justru seperti menjauh setiap kali aku berusaha mendekatinya. Nafasku mulai memburu, d**a terasa sesak.
“Hallo…! Apakah ada orang di sana?” teriakku dengan suara bergetar. Tak ada jawaban.
Hanya suara langkahku sendiri yang terdengar bergema, bercampur dengan desir angin dingin yang menusuk kulit. Semakin kuperhatikan, cahaya itu ternyata bukan berasal dari lampu atau obor, melainkan seperti sepasang mata yang menatapku tajam dari kegelapan.
Aku berhenti. Bulu kudukku berdiri. “Mata…? Tidak mungkin…” bisikku sambil mundur selangkah.
Tiba-tiba, terdengar suara seretan seperti sesuatu yang berat sedang digesekkan di tanah mendekat ke arahku. "Suara apa itu?" teriakku lagi.
"Maaf, aku bukan penjahat. Aku c-cuma mau menumpang bermalam saja," jelasku dengan suara yang makin bergetar.
Hening. Aku menunggu sesuatu yang mengerikan akan muncul di depanku. Tapi tiba-tiba, ketika pintu itu terbuka muncul seorang bocah kecil dengan wajahnya yang polos. Tangannya sibuk mengasah sebuah pisau panjang.
Jantungku hampir copot. Aku mundur selangkah, keringat dingin langsung mengalir di pelipis.
“Jangan-jangan… ini rumah keluarga kanibal?” pikirku panik. Kedua bola mataku serasa ingin melompat keluar melihat
bocah mendongak dan tersenyum lebar.
“Hehe, maaf, Nona. Aku sedang mengasah pisau ini,” ujarnya sambil memperlihatkan pisau yang sudah mengilap ke arahku.
Aku terdiam bak patung, tapi hatiku sedikit lega. Setidaknya, dia bukan sosok jahat seperti yang sempat kubayangkan. Tapi aku harus tetap waspada, jangan sampai tertipu daya.
“Adik kecil, apakah ini rumahmu?” tanyaku pelan.
Dia mengangguk. “Benar, ini rumahku. Apakah Nona merasa tidak nyaman?” tanyanya sambil tersenyum, sementara tangannya cekatan memotong ikan di atas batu besar.
“Ah, bukan begitu. Aku suka, hanya saja, apakah aku boleh menginap semalam di sini? Karena aku tidak punya tempat tinggal,” ujarku penuh harap.
Bocah itu menatapku sekilas, lalu kembali fokus pada ikan di tangannya. “Tentu saja boleh. Bahkan dengan senang hati aku akan mengizinkannya,” jawabnya cepat.
“Kalau begitu, orangtuamu di mana?” tanyaku lagi.
“Aku hidup sendirian, Nona.”
“Sudah berapa lama kamu sendirian di tempat ini?”
“Hm… mungkin sudah lebih dari tiga atau lima dekade,” jawabnya enteng.
Aku membelalakkan mata. “Hah? Lima dekade? Jadi, umurmu sebenarnya sudah berapa?”
Anak itu hanya tersenyum tipis, lalu balik bertanya, “Bagaimana dengan Nona? Sepertinya aku baru melihat Nona di sini.”
Aku mengangguk pelan. “Benar, aku baru di sini.”
“Bagaimana cara Nona datang ke sini?” tanyanya sambil terus melanjutkan pekerjaannya memotong ikan dengan tenang, seolah hal itu sama sekali tidak asing lagi baginya.
Aku menghela napas. “Hm, entahlah. Kejadiannya begitu cepat dan rasanya… sangat tidak masuk akal.”
Pikiranku berputar kembali pada awal semua ini. Mimpi aneh ketika aku bertemu dengan sosok yang mengaku sebagai ibuku. Lalu pria misterius dengan kata-katanya yang penuh teka-teki. Buku kecil yang muncul entah dari mana. Linotin. Dan mantel hitam itu. Semuanya seakan menyeretku ke tempat asing ini, tanpa memberiku kesempatan untuk memahami.
Benar, mantel itu.” Cepat-cepat aku memeriksa tubuhku, hendak memastikan apakah mantel itu masih menyelubungiku. Tetapi alangkah terkejutnya aku, ternyata yang kukenakan bukanlah mantel, melainkan pakaian seorang putri kerajaan, meski kini tampak lusuh dan berdebu.
Aku terdiam. Dalam sekejap, gaung suara-suara asing bergema di kepalaku—seperti bisikan orang-orang yang menyebut namaku, memanggilku dengan gelar yang tak pernah kudengar sebelumnya. Tanganku bergetar, menyentuh simbol aneh yang tersemat di d**a gaun itu. Dan saat aku menatap cermin retak di sudut ruangan, bayangan yang kembali menatapku bukan lagi diriku, melainkan sosok perempuan lain dengan mata tajam berwarna keperakan.