"Apa yang kau lihat, Nona?"
"Itu… sosok perempuan bermata perak sedang menatap tajam ke arahku," ucapku dengan suara gemetar.
"Bermata perak?"
"Iya!" sahutku cepat sambil mengangguk. "Coba lihat keluar jendela itu." Tanganku menunjuk ke arah sebuah pohon yang menjulang tinggi. Batangnya dipenuhi lumut tebal yang tampak seolah bergerak hidup.
Anak kecil itu mengikuti arah telunjukku. "Oh… pohon itu," katanya pelan, lalu tersenyum tipis.
"Hei! Kenapa kamu tersenyum? Apa ada yang lucu?" protesku kesal.
Ia menoleh dengan tenang. "Nona, itu hanya efek halusinasi tingkat satu."
"Halusinasi tingkat satu?" ulangku tak percaya, mataku berkedip-kedip bingung.
"Betul," jawabnya sambil menyalakan tungku. Api pun menyala, tapi bukan merah seperti biasa, melainkan ungu kehitaman, menyebarkan aroma anyir yang menusuk hidung.
"Hah… dunia ini terlalu asing bagiku. Aku baru beberapa jam berada di sini, tapi rasanya tak tahu apa-apa… atau bahkan sama sekali tidak tahu," ujarku sambil menghela napas panjang. Bocah itu hanya tersenyum tipis.
"Oh iya, namamu siapa?" tanyaku tiba-tiba. Baru kusadari, hampir satu jam kami berbincang, tapi tak ada perkenalan sama sekali.
"Elvar, Nona."
"Elvar?" ulangku, lalu tersenyum kaku. "Nama yang aneh."
"Mungkin Nona baru mendengarnya," jawabnya tenang. "Namun percayalah, di tempat kami banyak yang memiliki nama Elvar."
"Oh, ya?" tanyaku ragu.
"Benar, Nona," ia menatapku dalam. "Itu pun… tergantung pada tingkatan yang dimiliki oleh nama itu sendiri."
"Tingkatan… lagi? Kenapa harus selalu ada tingkatan? Bikin ribet saja!" tukasku kesal.
"Itu sudah menjadi takdir kami, Nona Aloka," jawab Elvar dengan suara tenang namun dalam.
"Takdir?" seruku keras. Aku menatapnya dengan mata membara. "Kenapa lagi-lagi harus soal takdir? Kita bebas! Kita berhak menentukan takdir kita sendiri!"
Elvar tidak bergeming sedikit pun. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya, seakan teriakan marahku hanyalah bisikan angin yang tak berarti. Api ungu kehitaman di tungku itu berkilat sesaat, lalu meredup pelan. Aroma ikan bakar yang wangi memenuhi rongga hidungku.
"Takdir bukan sesuatu yang bisa kau hindari, Nona," ucapnya lirih, namun setiap katanya seperti menggema di dalam kepalaku.
"Semakin kau melawan, semakin cepat ia akan menyeretmu."
Aku terdiam. Ada sesuatu dalam suaranya—dingin, tapi juga menenangkan. Tubuhku merinding tanpa alasan.
"Seret aku ke mana?" bisikku hampir tak terdengar.
Elvar menatapku, matanya seakan berpendar samar. "Ke tempat yang bahkan mimpi buruk pun tak berani menyentuhnya."
Seketika mataku terbelalak. "Elvar… jangan menatapku dengan tatapan seperti itu. Kau membuatku takut," ujarku sambil menggeleng kecil.
Namun ia hanya terkekeh pelan, seolah menikmati kegelisahanku. Di tangan kanannya, ikan bakar sudah matang, aromanya tercium samar namun aneh—ada wangi amis bercampur dengan sesuatu yang asing.
Tanpa berkata apa-apa, Elvar bangkit dan berjalan ke sebuah ruangan gelap di sudut rumah. Dari sana ia kembali sambil membawa kendi kecil.
Aku memperhatikan dengan seksama saat ia menuangkan isinya ke dalam gelas. Mataku melebar—air itu bukanlah bening seperti yang kukenal, melainkan berwarna ungu kehitaman, sama persis dengan api yang ia nyalakan tadi. Cairan itu tampak kental, berkilau samar, dan mengeluarkan aroma anyir yang menusuk.
Aku menutup mulutku, berusaha menahan mual. “Apa… apa ini?” bisikku.
Elvar menatapku, matanya teduh namun menusuk.
“Wajar jika Nona melihat hal itu,” ujarnya tenang. “Malam ke-12 memang tidak pernah ramah pada pendatang.”
Aku menelan ludah, tubuhku tiba-tiba terasa dingin. Kata-kata Elvar bergema di kepalaku, “Malam ke-12 memang tidak pernah ramah pada pendatang.”
“Maksudmu… semua ini karena malam ke-12?” tanyaku lirih, hampir tak berani menatap wajahnya.
Elvar tidak langsung menjawab. Ia hanya memutar gelas berisi cairan ungu kehitaman itu perlahan, seakan menunggu sesuatu. Api di tungku mendesis, nyalanya berdenyut seperti jantung yang berdebar.
“Lihat baik-baik ke luar jendela, Nona Aloka,” bisiknya dengan suara yang menakutkan.
Dengan ragu-ragu aku menoleh. Di luar sana, pohon raksasa yang diliputi lumut tampak semakin hidup. Bayangan bergerak di antara cabangnya, dan sesaat… aku bersumpah melihat mata perak itu kembali menatapku.
Jantungku berdegup kencang. Nafasku tercekat. Dan untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa… aku bukan lagi berada di dunia yang kukenal. "Elvar, apakah kamu juga melihat apa yang kulihat barusan?" ujarku, namun mata masih tertuju pada mata perak itu.
"Tentu, Nona. Aku juga sedang berkomunikasi dengannya."
"Apa yang kalian komunikasikan? Apakah dia mau meminum darahku atau apa aku berbut ssalah selama berada di luar sana?" tanyaku dengan panik,
Jantungku berdegup kencang. Nafasku tercekat. Dan untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa… aku bukan lagi berada di dunia yang kukenal.
"Elvar… apakah kamu juga melihat apa yang kulihat barusan?" tanyaku terbata, mataku masih terpaku pada tatapan mata perak itu.
"Tentu, Nona," jawab Elvar tenang. "Aku juga sedang berkomunikasi dengannya."
Darahku seolah berhenti mengalir. "Ber… berkomunikasi? Apa yang kalian bicarakan? Jangan-jangan… dia ingin meminum darahku? Atau aku sudah melakukan kesalahan besar ketika berada di luar tadi?" tanyaku panik, kata-kataku nyaris berlari satu sama lain.
Elvar menatapku lama, lalu tersenyum samar. "Tidak sesederhana itu, Nona. Sosok itu tidak hanya haus darah… ia juga haus kebenaran."
“Kebenaran tentang apa?” tanyaku cepat, suaraku bergetar.
Elvar hanya tersenyum tipis, sorot matanya sulit kutebak. “Kamu akan segera tahu, Nona.”
Ia lalu mendorong piring kayu berisi ikan bakar ke arahku. Asap tipis masih mengepul dari dagingnya.
“Silakan dimakan ikannya sebelum dingin,” ucapnya pelan. “Karena kalau sudah dingin… ikan ini akan hidup lagi.”
Dengan sigap aku meraih ikan di atas meja dan menyantapnya tanpa sempat memikirkan risiko apa pun yang mungkin menantiku. Rasa lapar sudah terlalu menguasai tubuhku, membuat logika terdesak ke pojok pikiranku.
Setiap gigitan terasa aneh—gurih, tapi ada sisa aroma amis yang tak biasa. Namun aku tidak peduli. Perutku kosong, tenggorokanku kering.
Gelas berisi air ungu kehitaman itu kutatap sesaat. Degup jantungku melonjak, tapi kemudian aku menghela napas. Selama ini bukan darah… atau racun mematikan… aku akan meminumnya. Tanganku bergetar ketika mengangkat gelas itu.
Aku tidak ingat kapan aku tertidur. Saat mataku terbuka, cahaya samar menyusup lewat celah dinding kayu. Kabut tebal masih menggantung di luar, serta kabut tipis-tipis menandakan pagi di tempat ini tak pernah benar-benar cerah atau mungkin memang tidak pernah ada pagi hari?
Elvar sudah duduk di sudut ruangan, menatapku seolah ia tidak pernah berhenti berjaga semalaman. "Maaf aku ketiduran," ujarku bangkit dari tempat tidur. Sedangkan ia langsung berdiri dan memintaku untuk mengikutinya ke hutan menangkap rusa.
"Kita akan berburu rusa hari ini, Nona."
"Berburu rusa? Di mana?"
"Di pusat hutan," jawabnya enteng dan mengambil satu anak panah berwarna perak.
"Cuman pakai satu anak panah saja?" tanyaku tak percaya.
"Benar, Nona. Aku adalah yang paling hebat dalam hal memanah," ucapnya menyombongkan diri.
Elvar sudah duduk di sudut ruangan, menatapku seolah ia tidak pernah berhenti berjaga semalaman.
“Maaf… aku ketiduran,” ujarku sambil bangkit dari tempat tidur.
Ia langsung berdiri dan menoleh ke arahku. “Ikutlah bersamaku, Nona. Hari ini kita akan ke hutan… menangkap rusa.”
Aku terperanjat. “Berburu rusa? Di mana?”
“Di pusat hutan,” jawabnya enteng sambil meraih busur dan sebuah anak panah berwarna perak yang berkilau aneh di bawah cahaya redup.
Mataku membesar. “Cuma pakai satu anak panah saja?” tanyaku tak percaya.
Elvar menatapku dengan senyum menyombongkan diri. “Benar, Nona. Satu anak panah sudah cukup. Aku adalah yang paling hebat dalam hal memanah.”
Ketika kami berjalan meninggalkan rumahnya, mataku terus tertuju pada anak panah perak yang berkilau dan berbau amis itu. Hati kecilku berdesir, seakan benda itu bukan sekadar s*****a. Tiba-tiba aku teringat pada mata perak di pohon malam itu, tatapan dingin yang menusuk sampai ke dalam tulang.
Perlahan, tatapan itu menyatu dengan bayangan Elvar di sampingku.
Dalam hati aku bertanya, siapa kamu sebenarnya, Elvar? Kenapa setiap petunjuk selalu kembali padamu?