"Nona!" Panggilan Elvar membangunkanku dari lamunan.
Dengan gelagapan aku menjawabnya, "I-iya," balasku berusaha tenang.
"Kenapa kau terus memperhatikan anak panahku?"
"Ah, aku tertarik dengan anak panahmu yang berwarna perak ini. Sepertinya ini ringan dan runcing juga," elakku, mengalihkan perhatiannya.
Elvar mengambil busur serta anak panahnya, kemudian memberikannya padaku. "Nona kau tahu ada sesuatu yang ingin kau pastikan bukan? Jadi kau boleh memegangnya selama perjalanan kita," ujarnya menyerahkan panah.
"T-tidak begitu maksudnya, aku cuman mencium bau amis. Itu saja," ujarku merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Nona. Cepat atau lambat kau juga akan segera memilikinya sebagai senjatamu."
"s*****a untukku?"
"Iya, karena bakatmu adalah memanah," jelasnya yang berlari sedikit, lalu merunduk. Matanya fokus menatap ke dalam semak-semak yang sedang bergoyang-goyang.
"Bakatku, memanah?" ujarku yang masih tak percaya, ikut merunduk dibalik semak juga.
"Apa kau ingin membuktikannya?"
Aku menyipitkan mata tak percaya. Bahkan ketika tidak berada di dunia, aku bahkan tak pernah memegang alat panahan, lalu bagaimana mungkin aku bisa?
"Coba saja," ujar Elvar yang percaya jika aku bisa.
Pandangannya masih ke semak-semak yang terus bergoyang hingga seekor babi hutan berbobot besar keluar dengan garangnya. Aku menelan ludah, tanganku gemetaran, dan aku menatapnya seakan bertanya, "Benarkah aku harus memanah babi hutan besar itu?"
Elvar seeakan tahu apa yang kupikirkan dan berkata, "jangan ragu, Nona. Aku percaya dengan kekuatanmu. Anggap saja apa yang ada di depanmu saat ini adalah musuh yang ingin kau habisi," ujarnya yakin.
"Tapi aku tidak memiliki musuh," jawabku, suaraku hammpir tak terdengar di antara derap langkah babi hutan yang semakin mendekat.
Elvar tersenyum miring, "Tentu saja kau punya. Tapi kau belum tahu siapa orangnya." Dengan cepat Elvar mengambil alih busur dari tanganku dan dengan gerakan cepat seperti kilat anak panah perak itu melesat ke babi hutan. Wusss
Babi hutan berbobot 500 kilogram itu terkapar di atas tanah, suaranya menggelegar memenuhi hutan. Burung-burung beterbangan keluar dari sarangnya. "Waw, kau sangat hebat," ujarku, bertepuk tangan.
Elvar tersenyum tipis, kemudian berkata, "Jangan senang dahulu, Nona. Ini bukanlah duniamu, melainkan dunia kami yang semua hal mungkin bisa terjadi," ujarnya.
Tiba-tiba dari atas pohon seekor anak babi berwarna putih s**u dengan mata hijau meloncat ke atas tubuh babi besar. Dia menjilatnya, matanya menatap tajam kearahku. Dari hidungnya keluar uap udara berwarna merah darah. Seketika udara di sana berbau amis dan juga darah.
"Apa yang dilakukan oleh babi kecil itu?" tanyaku pada Elvar yang berdiri, kedua tangannya bersidekap di depan d**a.
"Metode pengobatan, Nona."
"Pengobatan? Jangan-jangan babi kecil ini adalah dokternya?"
"Bisa dibilang begitu. Dia memiliki kekuatan sebagai penyembuh untuk bangsanya, terutama babi besar yang sekarat itu. Kau lihat matanya berwarna hijau bukan, Nona?"
Aku mengangguk mantap, "Benar, dia memiliki mata berwarna hijau terang. Lalu tunggu... Hei apa yang sedang dia lakukan?" histerisku saat melihat Babi besar itu dilahap oleh mata babi kecil.
"Devouring," jawab Elvar.
"D-devouring? Apa itu?"
"Ritual memakan kawanan yang tak bisa disembuhkan untuk menambah kekuatannya. Dia tidak hanya menyerap jiwa atau energinya, melainkan juga memakan tubuhnya hingga habis tanpa tersisa apapun."
"Kanibal?"
"Lebih kejam dari itu." Elvar maju beberapa langkah di depanku.
Kumiringkan kepala, mengintip seperti seperti apa rupanya babi kecil tadi. Tak kuduga wajahnya berubah menjadi hitam kemerahan, gigi taringnya panjang seperti taring singa, namun tubuhnya masih mungil begitu juga dengan matanya yang tetap hijau.
"Kenapa badannya tetap kecil?" tanyaku penasaran.
"Nona, kau cerewet juga ya. Nanti akan kujelaskan, sekarang kau mundur dulu, menjauhlah dariku maupun hewan di depan kita."
"Apa itu berbahaya?"
"Tentu saja. Jika matamu dan dia bertemu, maka tubuhmu akan diambil alih."
"Apa aku akan jadi manusia babi?" ujarku tak percaya.
Elvar menatapku tajam, tak ada tanda-tanda bersahabat di wajahnya. "Tidak, kau akan jadi wadah yang bagus untuknya."
"Wadah?" ujarku masih tak percaya.
Elvar mengeluarkan satu anak panah, dia fokus untuk memanah mata hijau babi kecil itu. sedangkan aku bersembunyi di bawah pohon kecil, dadaku mulai sesak dengan aroma darah serta amis ini, perutku sepertinya diputar-putar dan ingin memuntahkan semuanya. Tetapi otakku masih memiliki ribuan pertanyaan.
Tali busur ditarik, suara lengkingannya menembus udara. Anak panah melesat kencang, namun tidak bisa mengenai target. Elvar tak menyerah, ia kembali menarik busurnya, tapi tidak ada anak panah di sana.
"Hei! Kau melupakan anak panahmu," teriakku.
Elvar tak menghiraukan teriakkanku, dia pun melepaskan panahannya. Dan, yaps, babi kecil itu meraung kesakitan.
Panah tanpa wujud itu berhasil melukai sudut babi kecil yang raungannya semakin kuat. Dari sudut itu mata menetes cairan berwarna hitam pekat, berbau dan kental. Cairan itu mengeluarkan asap tipis seperti reaksi kimia yang membuat udara di sekitar mendadak pengap.
Aku menutup hidung dengan cepat, dan berkata, "Elvar, sebenarnya babi ini binatang apa? Kenapa cairan yang keluar dari tubuhnya bisa membuat udara yang tenang jadi menggila seperti ini," protesku.
"Dia bukan sekadar binatang penyembuh biasa. Tetapi dia adalah pemimpin kaumnya," ujar Elvar yang kini berdiri tepat di depanku. Dia memberikan selembar daun hijau padaku, "Gunakan daun itu untuk menutupi hidungmu, Nona."
Cepat-cepat aku ambil daun itu dan menempelkannya di sekitar mulutku. Elvar melangkah ke depan, dia tak lagi menggunakan panah, melainkan dengan tangan kosong, namun penuh perhitungan. Tiba-tiba dari matanya keluar sedikit cahaya.
Aku tidak tahu cahaya apa itu. Mungkin saja... itu kekuatannya.
"Aku baru tahu kalau ada kaum babi," ujarku polos, mencoba mengamatai seluruh tubuh babi kecil. "Biasanya aku hanya tahu babi hutan saja," lanjutku.
Elvar tak menoleh, suaranya datar seraya berkata, "Mereka bukan sekadar babi, melainkan Demon Beast."
Langkah Elvar semakin cepat, tangannya bergerak ke sana ke mari mengikuti gerakan babi kecil yang semakin lincah dan gesit. Tubuhnya mahkluk itu tak lagi berwarna putih, perlahan warna hitam menyebar ke seluruh tubuhnya. Seolah kegelapan sedang memakan wujud aslinya. Dari wajahnya mulai tumbuh bulu-bulu kecil yang tajam.
Pertarungan mereka begitu cepat hingga mataku kesakitan mengikuti gerakannya. Kilatan mereka di udara bak petir yang sedang menyambar, terlalu cepat hingga mematikan.
Kedua tangan Elvar diangkat bersamaan, gerakannya seperti membelah tubuh mahkluk itu menjadi dua bagian. Babi itu meraung kesakitan untuk ke sekian kalinya lagi. Tetapi raungannya kini sangat hebat seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit yang teramat.
"Elvar, segera akhiri saja. Aku tidak ingin mendengarkan raungannya yang begitu menyedihkan," ujar merasa iba.
"Baik, Nona." Dengan gerakan seribu kecepatan, Elvar mencabik-cabik tubuhnya menjadi daging babi cincang. Anehnya, tubuh itu tidak mengeluarkan darah, melainkan kembali menjadi satu
"Elvar, awas!" teriakku memperingati Elvar yang berjalan ke arahku.
Namun sebelum ia sempat menoleh, babii kecil itu melesat dari samping tanpa suara. Gerakannya jauh lebih cepat dari yang tadi. "Ke mana dia pergi?" tanyaku pada Elvar yang siaga.
"Nona, sepertinya dia mengincarmu," kata Elvar dengan suara penuh kewaspadaan.
"Mengincarku? Tapi kenapa?"
"Wadah, dia ingin kau menjadi wadahnya."
"Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau menjadi wadah babi mengerikan itu," ucapku sendu, takut.
"Kau yakin tidak ingin menjadi wadahku manusia bodoh?!" ujarnya yang tiba-tiba berada di belakangku. Kuku tangannya yang panjang mencengkram pundakku dengan kasar.
"T-ttolong aku," ucapku gemetar pada Elvar.
Elvar terkejut, matanya membelalak melihat babi hutan itu. "Lepaskan dia!!" titahnya. "Jika tidak kau akan menyesal," tambahnya.
Bbai itu tertawa pelan, suaranya berat dan memenuhi seluruh area hutan yang membuat bulu kudukku berdiri. "Aku ingin tahu kenapa kau begitu melindungi manusia yang bodoh ini," ujarnya menatapku dengan tajam.
"Nona, jangan lihat matanya!" seru Elvar memperingatiku. Dengan cepat aku mengalihkan pandangan dan menutup mata rapat-rapat.
"Percuma kau menutup mata," suara itu diikuti oleh tawa yang menyeramkan, "Aku akan tetap mengambil tubuhmu, haha!!"