Pukul 6 pagi, Aira Putri udah duduk di depan cermin dengan mata bengkak. Semalaman dia nggak tidur.
Di pangkuannya masih tergeletak map cokelat berisi Surat Perjanjian Pernikahan yang kemarin dilempar Raka Aditya ke dia. Tulisan tebal “6 Oktober 2026” berasa mengejek.
“Gila… gue beneran mau dinikahin sama satpam kemarin?” gumamnya.
Kebaya sewaan warna dusty pink udah tergantung di lemari. Riasan? Nggak ada. Make up artist? Nggak ada. Tamu? Paling cuma Bu Nadia sama beberapa orang dari kantor.
Ini bukan nikahan. Ini transaksi.
“Ai…” Suara lemah dari kasur sebelah bikin Aira langsung nengok.
Ibunya udah bangun. Wajahnya pucat, tapi senyumnya masih sama kayak dulu. “Kamu cantik nak. Kebayanya bagus.”
Aira buru-buru lap air matanya sebelum ketahuan. “Ibu udah sarapan?”
“Udah. Suster yang bawain bubur.” Ibu Aira ngulur tangan. “Nak, kamu yakin mau jalanin ini?”
Aira terdiam. Dia nggak bisa jawab. Kalau dia bilang nggak yakin, besok ibu bisa diusir dari RS. Kalau dia bilang yakin, berarti dia bohong sama hati sendiri.
“Aira cuma mau Ibu sehat, Bu,” jawab Aira pelan. Dia cium kening ibunya. “Doain Aira ya.”
Tepat jam 7.30, klakson mobil udah bunyi dari bawah. Satpam komplek teriak, “Bu Aira, jemputan udah datang!”
Aira turun dengan langkah berat. Kebaya pinknya kebesaran, rambutnya cuma di cepol asal. Dia nggak mau keliatan bahagia buat pernikahan yang dia benci.
Tapi pas pintu mobil Alphard hitam kebuka, napas Aira nyangkut.
Raka Aditya udah di dalam. Jas hitam, dasi abu, rambut rapi. Gantengnya keterlaluan. Tapi wajahnya datar. Nggak ada senyum. Nggak ada kehangatan.
“Selamat pagi,” katanya singkat.
Aira masuk tanpa jawab. Dia duduk di ujung kursi, sejauh mungkin dari Raka.
Sepanjang jalan, sunyi. Cuma suara AC yang berdengung. Aira ngelirik Raka beberapa kali. Laki-laki ini… kemarin masih dia bentak di parkiran. Hari ini jadi suaminya.
“Pak,” Aira pecah sunyi. “Bapak beneran mau nikahin saya karena ibu saya?”
Raka ngelirik sekilas. “Bukan karena ibu kamu.”
“Lalu karena apa? Karena saya hina bapak kemarin?”
Raka nggak jawab. Dia malah nengok ke jendela.
Aira makin kesel. “Pak, saya manusia, bukan boneka. Kalau Bapak mau main-main, cari orang lain!”
Mobil berhenti pas lampu merah. Raka akhirnya nengok ke Aira. Tatapannya tajam.
“Kalau saya minta baik-baik kemarin, kamu mau nikah sama saya, Aira?”
Aira terdiam.
“Jawab,” desak Raka.
“Enggak,” kata Aira jujur.
Raka mengangguk. “Nah. Makanya saya pakai cara lain.”
Jantung Aira berdegup kencang. “Cara lain maksudnya?”
Tapi Raka udah nengok lagi ke depan. Mobil jalan lagi. Misteri laki-laki ini makin tebal.
—
KUA Kecamatan Menteng nggak ramai. Cuma ada penghulu, saksi, Bu Nadia, dan dua orang tua Raka yang duduk di baris depan. Wajah mereka kaku. Kayak lagi menghadiri rapat, bukan nikahan anak.
Aira duduk di kursi pengantin dengan tangan gemetar. Kebaya pinknya berasa nyekik.
Penghulu mulai baca ijab kabul.
“Raka Aditya Pratama, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Aira Putri Maharani, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sebentuk kalung emas, dibayar tunai. Bagaimana?”
Raka jawab tanpa ragu. “Saya terima nikahnya Aira Putri Maharani dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
Suaranya tegas. Mantap. Nggak ada getar.
Giliran Aira. Tenggorokannya kering.
Penghulu ngulang, “Aira Putri Maharani, bagaimana?”
Aira lirik ke arah ibu Raka. Kursi di sebelahnya kosong. Tapi ada pigura foto wanita cantik bersanggul, pakai kebaya putih. Almarhumah.
Entah kenapa, lihat foto itu bikin d**a Aira sesak. Raka pasti kangen banget sama ibunya.
“Sa… Sah,” kata Aira akhirnya. Suaranya pecah.
Sah.
Sejak detik itu, Aira Putri resmi jadi istri Raka Aditya Pratama.
Tapi kenapa rasanya… kosong?
—
Setelah tanda tangan buku nikah, Raka ngajak Aira salim ke orang tuanya.
“Selamat ya, Nak,” kata ayah Raka datar. Nggak ada pelukan. Nggak ada senyum.
Ibu Raka cuma angguk. “Jaga anak saya baik-baik, ya.”
Aira angguk kaku. Hatinya miris. Nikahan tanpa pelukan keluarga… rasanya kayak beli barang di minimarket.
Di luar KUA, Raka tiba-tiba nahan tangan Aira.
“Mas kawinnya,” katanya sambil nyerahin kotak beludru merah.
Aira buka. Di dalam ada kalung emas dengan liontin bunga melati. Simple, tapi elegan. Dan ada surat kecil.
Aira buka surat itu.
“Kalung ini peninggalan ibu saya. Dia bilang, kasih ke perempuan yang bisa bikin kamu tersenyum. Saya harap kamu bisa.” – Raka
Aira mendongak. Raka udah jalan duluan ke mobil.
Jantung Aira aneh. Berdebar. Tapi juga bingung.
Laki-laki ini… kenapa?
—
Apartemen Raka ada di lantai 45, gedung paling tinggi di Jakarta Selatan. Lift pribadi langsung buka ke ruang tamu.
Aira kira apartemen ini bakal dingin, kosong, kayak hati Raka. Tapi pas pintu kebuka, dia kaget.
Di meja makan udah ada bubur ayam, gorengan, dan teh manis. Favorit Aira.
Di kursi roda, duduk ibunya. Wajahnya lebih cerah dari kemarin.
“Bu?!” Aira langsung lari memeluk ibunya. “Ibu kok di sini?”
“Pak Raka yang jemput pagi-pagi, Nak. Katanya biar kamu nggak khawatir,” jawab ibunya sambil mengelus punggung Aira.
Aira nengok ke Raka yang masih berdiri di pintu.
“Pak… ini semua…”
“Dokter pribadi juga udah saya sewa,” potong Raka. “Ibu kamu pindah ke kamar VIP RS Aditya. Alat cuci darah terbaru. Gratis.”
Aira terdiam. Matanya panas.
“Kenapa Pak? Kenapa Bapak lakuin ini semua?”
Raka jalan mendekat. Berhenti tepat di depan Aira.
“Karena saya suka kamu, Aira.”
Dunia Aira berhenti.
“Apa?” bisiknya.
“Saya suka kamu dari tiga bulan lalu,” lanjut Raka. Suaranya pelan, tapi jelas. “Kamu sering bawa bekal lebih, terus bagi-bagi ke satpam di parkiran. Kamu pikir saya nggak lihat? Saya yang nyuruh HRD mutasi kamu ke lantai 23. Biar saya bisa lihat kamu tiap hari.”
Aira membelalak. “Jadi… kemarin di parkiran…”
“Saya sengaja nahan palang,” aku Raka. “Saya mau lihat kamu marah. Saya mau kamu lihat saya sebagai manusia, bukan sebagai Dirut. Karena kalau saya datang pakai jas dan ngomong ‘Aira, mau nikah sama saya?’, kamu pasti tolak.”
Aira nggak bisa ngomong. Otaknya panas. Berarti… semua ini bukan paksaan? Bukan ancaman?
“Pak, kenapa nggak bilang aja dari awal?” bentak Aira. Air matanya jatuh. “Kenapa harus pakai cara kayak gini? Kenapa harus bikin saya takut?!”
“Karena saya takut,” jawab Raka jujur. “Saya takut kamu lihat saya cuma sebagai bos kaya. Saya takut kamu nikah sama saya karena kasihan sama ibu kamu. Saya mau kamu marah sama saya. Saya mau kamu lihat saya apa adanya.”
Aira terisak. Marah, bingung, tapi juga… lega.
“Pak, saya benci Bapak,” katanya sambil mukul pelan d**a Raka. “Benci banget.”
Raka tangkap tangan Aira. Genggam erat.
“Kalau kamu benci, tampar saya. Tapi jangan pergi, Aira.”
—
Malamnya, Aira nggak bisa tidur. Dia duduk di balkon lantai 45, selimut melilit tubuhnya. City light Jakarta berkilau di bawah.
Pintu balkon kebuka. Raka keluar bawa dua mug.
“Cokelat panas,” katanya sambil nyerahin satu mug ke Aira. “Biar nggak kedinginan.”
Aira terima. Hangatnya merambat ke tangan.
Mereka diam beberapa saat. Cuma suara angin yang kedengaran.
“Pak Raka,” buka Aira pelan. “Saya masih bingung.”
“Bingung apa?”
“Bingung kenapa Bapak mau sama saya. Saya cuma staff biasa. Saya judes. Saya miskin.”
Raka senyum tipis. Pertama kali Aira lihat dia senyum beneran.
“Karena kamu berani bentak saya di parkiran,” jawab Raka. “Karena kamu nggak takut sama status saya. Karena kamu sayang banget sama ibu kamu sampai rela dinikahin satpam. Perempuan kayak kamu… susah dicari, Aira.”
Aira menunduk. Pipinya panas.
“Kalau saya jahat lagi, saya pulang, ya Pak,” ancam Aira setengah bercanda.
“Kalau saya jahat, kamu tampar saya,” jawab Raka. “Tapi saya janji, Aira. Saya nggak akan lepasin kamu. Nggak akan.”
Aira nengok ke Raka. Laki-laki ini… ternyata nggak sedingin yang dia kira.
“Pak,” panggil Aira.
“Hm?”
“Besok… ajarin saya manggil Bapak tanpa ‘Pak’ dong.”
Raka terdiam sedetik. Lalu senyumnya melebar.
“Boleh. Mulai sekarang, panggil saya… Raka.”
Aira angguk. “Raka.”
Nama itu terasa aneh di lidah. Tapi juga… manis.
Malam itu, Aira tidur dengan senyum kecil. Bukan karena dia dipaksa.
Tapi karena untuk pertama kalinya, dia ngerasa… mungkin, nikah ini bukan neraka.
Mungkin, ini awal dari sesuatu yang indah.
Malam itu Aira nggak langsung tidur. Dia duduk di sofa ruang tamu, masih pakai kebaya pink yang belum sempat dilepas. Mug cokelat panas di tangannya udah dingin, tapi dia nggak peduli.
Pikirannya muter-muter. Omongan Raka tadi siang terus keulang di kepalanya.
“Saya suka kamu dari tiga bulan lalu.”
Gila. Satpam sok ngatur yang dia bentak-bentak ternyata udah naksir dia dari lama. Dan bukan cuma naksir, sampai rela ngatur mutasi, ngatur pernikahan, ngatur pengobatan ibunya.
“Dasar laki-laki keras kepala,” gumam Aira sambil nyengir kecil.
Dari arah tangga, langkah kaki pelan terdengar. Raka turun pakai kaos hitam dan celana santai. Nggak pakai jas, nggak pakai wibawa Dirut. Cuma Raka yang biasa aja.
“Kamu belum tidur?” tanya Raka sambil duduk di ujung sofa, jaga jarak sopan.
“Belum. Masih shock,” jawab Aira jujur.
Raka senyum tipis. “Shock kenapa?”
“Shock karena ternyata Bapak… eh, Raka… ternyata nggak segalak yang aku kira.”
Raka ketawa pelan. Suara ketawanya rendah, dan entah kenapa bikin Aira merinding. “Aku emang galak di kantor. Di rumah… aku cuma mau jadi suami kamu.”
Aira terdiam. Kata “suami” dari mulut Raka rasanya aneh. Tapi juga hangat.
“Raka,” panggil Aira pelan.
“Hm?”
“Kalau besok aku bangun dan ini ternyata mimpi, kamu harus nikahin aku beneran, ya.”
Raka nengok. Matanya ketemu mata Aira. Serius banget.
“Bukan mimpi, Aira. Dan aku nggak akan lepasin kamu. Janji.”
Aira ngangguk. Dia nggak tahu masa depan mereka bakal kayak apa. Tapi malam itu, buat pertama kalinya sejak kemarin, dia tidur tanpa air mata.
Karena di sebelahnya, ada Raka. Bukan satpam sok ngatur. Tapi laki-laki yang ternyata udah jatuh cinta duluan.
Dan Aira… mulai jatuh juga.