SATRIA SANG PETUALANG
Bab 2: Serangan Pasukan Topeng Hitam
Angin malam bertiup kencang di antara rumah-rumah desa yang mulai dilalap api.
Satria berdiri tegak di tengah jalan, berhadapan dengan puluhan pria bertopeng hitam.
Pemimpin mereka, pria bertubuh besar dengan bekas luka di wajah, melangkah maju sambil memutar pedang pendek di tangannya.
"Aku akan memberimu kesempatan terakhir untuk menyingkir," katanya dingin.
Satria menggeleng.
"Aku juga memberimu kesempatan terakhir untuk pergi."
Mendengar itu, para penyerang tertawa mengejek.
Namun tawa mereka tak berlangsung lama.
Pemimpin bertopeng mengangkat tangannya.
"Serang dia!"
Lima orang langsung berlari menyerbu.
Satria bergerak cepat.
Ia menghindari tebasan pertama, lalu memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan ke arah d**a lawan.
Brakk!
Pria itu terpental hingga menghantam pagar kayu.
Dua orang lainnya menyerang bersamaan dari kiri dan kanan.
Satria merunduk, menghindari serangan mereka, lalu menyapu kaki keduanya hingga jatuh tersungkur.
Penduduk yang bersembunyi mulai mengintip dari balik jendela.
Mereka tak menyangka ada seorang pemuda yang berani melawan kelompok perampok paling ditakuti di wilayah pegunungan.
Namun jumlah musuh terlalu banyak.
Belasan orang kembali mengepungnya.
Satria mengambil sebatang bambu yang tergeletak di tanah.
Dengan gerakan cepat, bambu itu berputar di tangannya seperti tongkat.
Tok!
Tok!
Brakk!
Satu demi satu penyerang jatuh.
Meski begitu, pemimpin mereka hanya tersenyum.
"Menarik."
Ia kemudian mengeluarkan sebuah peluit perak dan meniupnya.
Wiuuuut!
Suara nyaring menggema ke seluruh hutan.
Tak lama kemudian, suara derap kaki terdengar dari kejauhan.
Dum! Dum! Dum!
Tanah bergetar.
Satria menoleh ke arah hutan.
Matanya menyipit.
Dari balik pepohonan muncul tiga sosok raksasa.
Mereka mengenakan zirah hitam dan membawa kapak besar.
Penduduk desa langsung ketakutan.
"Itu Pasukan Baja Hitam!"
"Kita celaka!"
Satria belum pernah melihat mereka sebelumnya, tetapi ia bisa merasakan bahaya yang mereka bawa.
Salah satu raksasa mengayunkan kapaknya.
Craaak!
Pohon besar di dekatnya roboh hanya dengan satu tebasan.
Pemimpin bertopeng tertawa puas.
"Sekarang, tunjukkan keberanianmu, anak muda."
Ketiga raksasa itu menyerbu.
Satria segera melompat ke samping ketika kapak pertama menghantam tanah.
Duarrr!
Tanah retak.
Debu beterbangan.
Satria tahu ia tak bisa menghadapi mereka dengan kekuatan biasa.
Saat itulah kakek berjubah yang ditemuinya tadi muncul dari balik kerumunan.
"Satria!"
Pemuda itu menoleh.
Kakek tersebut melemparkan sebuah benda kecil yang dibungkus kain tua.
Tangkap!
Satria menangkapnya.
Ketika kain itu terbuka, tampak sebuah liontin kuno berbentuk matahari.
Liontin itu memancarkan cahaya samar.
"Apa ini?" tanya Satria.
Kakek itu tersenyum.
"Warisan penjaga Arkatama."
Belum sempat Satria bertanya lagi, salah satu raksasa sudah melompat ke arahnya.
Dalam sekejap, liontin di tangannya bersinar terang.
Cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya.
Semua orang terkejut.
Bahkan pemimpin Pasukan Topeng Hitam mundur beberapa langkah.
"Mustahil..."
Untuk pertama kalinya, ekspresi takut terlihat di wajahnya.
Karena ia mengenali simbol itu.
Simbol yang selama bertahun-tahun dicari oleh banyak pemburu harta.
Simbol yang menjadi kunci menuju rahasia terbesar Lembah Arkatama.
Dan kini, simbol itu berada di tangan Satria.
Malam itu, takdir petualangannya benar-benar dimulai.