SATRIA SANG PETUALANG
Bab 3: Rahasia Liontin Matahari
Cahaya keemasan dari liontin itu menyinari seluruh desa.
Semua orang terdiam.
Api yang membakar beberapa rumah seolah kehilangan cahayanya dibandingkan sinar yang memancar dari benda kuno tersebut.
Satria sendiri terkejut.
Ia merasakan kehangatan mengalir dari telapak tangannya menuju seluruh tubuh.
Bukan rasa panas yang menyakitkan, melainkan energi yang membuat setiap ototnya terasa lebih ringan dan kuat.
Ketiga Pasukan Baja Hitam yang semula menyerang tanpa rasa takut kini berhenti.
Mereka saling memandang.
Seolah-olah mereka mengenali sesuatu yang sangat berbahaya.
Pemimpin kelompok bertopeng mengeratkan rahangnya.
"Itu benar-benar Liontin Matahari..."
Suaranya terdengar lebih pelan dibanding sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, rasa percaya dirinya goyah.
Satria melangkah maju.
"Kalau kalian tahu benda ini, berarti kalian juga tahu alasan sebenarnya datang ke desa ini."
Pemimpin itu tidak menjawab.
Namun sorot matanya sudah cukup menjadi jawaban.
Mereka memang bukan sekadar perampok.
Mereka sedang mencari sesuatu.
Dan sesuatu itu berhubungan dengan Lembah Arkatama.
Salah satu Pasukan Baja Hitam tiba-tiba menggeram lalu kembali menyerang.
Kapaknya berayun ke arah Satria.
Wusss!
Satria secara refleks mengangkat liontin itu.
Cahaya keemasan membentuk lapisan tipis di depannya.
Duaaar!
Kapak raksasa menghantam cahaya tersebut.
Namun yang mengejutkan semua orang, serangan itu tertahan.
Gelombang energi menyebar ke segala arah.
Pasukan Baja Hitam terpental beberapa meter.
Penduduk desa bersorak.
Sementara pemimpin kelompok bertopeng terlihat semakin cemas.
"Tarik pasukan!" teriaknya.
"Apa?"
"Kita mundur sekarang!"
Mereka tidak membantah.
Dalam hitungan detik, seluruh pasukan mulai bergerak menuju hutan.
Pemimpin mereka sempat menoleh ke arah Satria.
"Kita akan bertemu lagi."
"Lain kali, kau tidak akan seberuntung ini."
Tak lama kemudian mereka menghilang dalam kegelapan malam.
Desa akhirnya kembali tenang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Karena semua orang kini memandang Satria dengan tatapan berbeda.
Kakek berjubah berjalan mendekatinya.
Kerutan di wajahnya terlihat semakin jelas di bawah cahaya bulan.
"Akhirnya waktunya tiba."
"Waktu untuk apa?" tanya Satria.
Kakek itu menunjuk liontin di tangan pemuda tersebut.
"Itu bukan sekadar peninggalan kuno."
"Itu adalah kunci."
"Kunci menuju Arkatama."
---
Beberapa jam kemudian.
Di dalam rumah kayu sederhana milik kepala desa, Satria mendengarkan penjelasan yang selama ini hanya dianggap legenda.
Menurut kakek itu, ratusan tahun lalu Kerajaan Arkatama pernah menjadi negeri yang sangat maju.
Mereka memiliki pengetahuan, teknologi, dan kekuatan yang jauh melampaui zamannya.
Namun suatu hari terjadi bencana besar.
Kerajaan itu menghilang.
Bukan hancur.
Bukan ditaklukkan.
Melainkan lenyap tanpa jejak.
Yang tersisa hanya cerita dan beberapa artefak kuno.
Salah satunya adalah Liontin Matahari.
"Konon terdapat tiga artefak utama," jelas sang kakek.
"Liontin Matahari."
"Pedang Fajar."
"Dan Peta Langit."
"Jika ketiganya bersatu, jalan menuju Arkatama akan terbuka."
Satria terdiam.
Ia mulai memahami mengapa kelompok bertopeng begitu menginginkan liontin tersebut.
"Siapa mereka sebenarnya?" tanyanya.
Wajah kakek itu mendadak serius.
"Mereka adalah anggota Organisasi Bayangan."
Ruangan langsung terasa lebih dingin.
"Selama puluhan tahun mereka memburu peninggalan Arkatama."
"Dan mereka tidak pernah ragu membunuh siapa pun yang menghalangi."
Satria mengepalkan tangannya.
"Kalau begitu aku harus menemukan Arkatama lebih dulu."
Kakek itu tersenyum tipis.
"Aku tahu kau akan mengatakan itu."
Lalu ia mengeluarkan sebuah gulungan tua dari dalam peti kayu.
Peta.
Namun hanya sebagian.
Sudut-sudutnya sudah robek dimakan usia.
"Ini petunjuk pertama."
"Peta menuju Pegunungan Naga Hitam."
"Di sana terdapat Kuil Batu Langit."
"Tempat yang dipercaya menyimpan jejak Pedang Fajar."
Jantung Satria berdegup lebih cepat.
Petualangan yang selama ini hanya ada dalam mimpinya kini berada tepat di depan mata.
---
Keesokan paginya.
Kabut tipis masih menyelimuti desa ketika Satria bersiap berangkat.
Motor kesayangannya sudah siap.
Perbekalan telah disimpan.
Peta tersimpan aman di dalam jaketnya.
Penduduk desa berkumpul untuk mengantarnya.
Mereka berterima kasih karena telah menyelamatkan desa dari serangan malam sebelumnya.
Kakek berjubah berdiri paling depan.
"Ingat satu hal."
Satria menoleh.
"Semakin dekat kau menuju Arkatama, semakin banyak musuh yang akan datang."
"Karena rahasia yang tersembunyi di sana lebih berharga daripada emas."
Satria mengangguk.
Ia mengenakan sarung tangan kulitnya.
Lalu menyalakan mesin motor.
Brrraaaam!
Suara mesin menggema di antara pegunungan.
Dengan semangat membara, ia mulai meninggalkan desa.
Namun jauh di balik hutan...
Di puncak sebuah tebing batu.
Seorang wanita berambut perak mengenakan mantel hitam sedang mengawasinya melalui teropong.
Di sampingnya berdiri seekor elang besar.
Wanita itu tersenyum tipis.
"Jadi kau pemilik Liontin Matahari."
"Menarik."
Lalu ia melompat turun dari tebing dengan lincah.
Menghilang ke dalam kabut.
Tanpa diketahui Satria, seorang pemburu artefak paling berbahaya di negeri itu kini mulai mengikuti jejaknya...
jangan ketinggalan bab seru berikutnya..!!