Di tanah lapang berdiri sebuah bangunan beratapkan daun. Tiangnya tinggi, jarak lantai ke tanah sekitar seperempat panjang tombak. Cukup besar, di sana terdapat tikar pandan mengalasi lantainya. Bangunan yang dikenali dengan nama banjar inilah menjadi tempat tujuan Jambu Nada bersama Arya Kamandanu.
Jambu Nada memerhatikan orang-orang yang berkumpul di atas banjar. Di antaranya lelaki yang sudah uzur, yang kemudian ia ketahui buyut pedukuhan Kurawan setelah salah seorang di antara mereka memanggilnya dengan sebutan Ki Buyut. Kepalanya tidak lagi memberikan kesempatan pada rambut hitam untuk tumbuh, semuanya sudah berganti warna. Putih.
Ia mendapati buyut Kurawan itu mendengarkan penuturan lelaki setengah baya yang mengabarkan kedatangannya bersama romonya. Orang tua itu terlihat mengangguk- angguk, kemudian mendekat ke arah ia dan romonya berdiri. Sementara beberapa warga yang berada di banjar ikut berdiri dan mengikuti Ki Buyut menghampirinya.
Sebuah suara serak terdengar berdeham mengejutkan Jambu Nada. Orang itu bertelanjang d**a. Tampak sekali tatapannya itu tidak mencerminkan sikap persahabatan.
"Jangan-jangan mereka ini komplotan padepokan Sekar Kecubung. Pasti mereka yang menyebabkan Untari, Ratih, dan Praya tidak sadarkan diri!" kata orang itu dengan suara yang keras.
Tersunutlah kemarahan Jambu Nada. Bila perlu ia siap melayangkan pukulannya pada lelaki itu. Belum lagi terdengar suara-suara yang menjadi ramai, hampir dari mereka yang berada di banjar itu setuju dengan pernyataan orang yang bertelanjang d**a. Namun romonya bergerak lebih cepat, menggamit lengannya.
Ki Buyut kemudian mengambil alih pembicaraan. "Tenanglah semuanya, kita tidak bisa menghakimi mereka begitu saja, belum ada bukti yang jelas bahwa keduanya bagian dari Sekar Kecubung. Jika memang benar, apa kalian sanggup menghadapinya?"
Tidak ada yang berani bersuara lantang, beberapa dari mereka hanya saling berbisik dan menundukkan wajah dalam-dalam. Bahkan orang yang bertelanjang d**a ikut menunduk. Jambu Nada menebak bahwa lelaki sombong itu tadi baru menyadari ucapannya yang berlebihan. Bila hal ini terdengar oleh kompolotan laknat itu, maka habislah riwayatnya.
"Maafkan kami, Kisanak," ujar Ki Buyut, "keadaan yang tidak baik di pedukuhan ini membuat warga mempunyai firasat yang tidak baik pula pada orang-orang yang belum kami kenali."
"Aku mengerti Ki Buyut, memang sepantasnya kami terlebih dahulu melaporkan kedatangan kami pada Ki Buyut," jawab romonya dengan tetap mempertahan senyum ramahnya. Bagi Jambu Nada, romonya ini terlalu lunak pada orang lain.
Jambu Nada melihat perubahan pada wajah Ki Buyut. Entah itu bentuk usaha meyakinkan dirinya. Dengan saksama lelaki yang telah uzur itu memerhatikan wajah romonya. Tidak hanya Jambu Nada, warga yang berada di banjar seketika itu kaget saat mendapatkan lelaki tua itu menjatuhkan tubuhnya sembari menyembah.
"Maafkan kami Gusti, kami rupanya telah menjadi orang yang pelupa, mohon ampun Gusti," ucap Ki Buyut dengan kedua tangan bersedekap.
Kamandanu yang tadinya tersenyum juga kaget mendapat perlakukan dari Ki Buyut. Ia berusaha membangunkan Ki Buyut yang masih saja menunduk. Sementara itu warga masih dicekam keheranan, begitu pentingkah orang itu bagi Ki Buyut sehingga lelaki yang ditunjuk sebagai pemimpin pedukuhan itu tertunduk sembari menyembah.
Ki Buyut kemudian mengalihkan pandangannya pada warga yang termakan keheranan, "Berikanlah penghormatan pada Gusti Kamandanu!"
Orang-orang yang berada di banjar itu rata-rata masih muda, beberapa saja yang mungkin sebaya dengan Kamandanu, termasuk pemilik pondok pekarangan Mpu Hanggareksa. Mereka yang sudah berumur itulah saat mendengar ucapan Ki Buyut segera memberikan penghormatan dengan membungkukan tubuh, menunduk dalam. Sedangkan yang masih muda masih berada di wilayah keheranan.
Kamandanu terharu mendapat penghormatan ini. Ia tak mengira masih memiliki tempat di hati warga pedukuhan Kurawan.
"Beliau ini adalah Gusti Kamandanu, panglima Majapahit!" Masih dengan sikap hormat, Ki Buyut berusaha memberikan penjelasan pada warganya. "Beliau adalah putra dari mendiang Gusti Mpu Hanggareksa, bukankah kalian sering mendengar nama beliau dari orang tua kalian? Beliau adalah putra asli tanah ini yang membawa harum nama Kurawan. Beliau adalah putra Kurawan yng turun langsung membantu Gusti Prabu Senggramawijaya membangun Majapahit."
Sedikit banyak mereka yang muda-muda ini memang pernah mendengar cerita dari tetua . Bahwa dari tanah mereka ini terdapat nama yang harum dikalangan bumi Majapahit, bahkan hampir segenap penjuru Majapahit mengenal siapa itu Kamandanu.
Dengan segera mereka memberikan penghormatan, tidak ada yang berani bersuara. Hening menguasai sekitar banjar itu.
Jambu Nada yang berdiri di belakang Kamandanu tersenyum puas. Lidahnya sudah geram untuk mengatakan kepada orang-orang di banjar itu bahwa memang demikianlah harusnya mereka bersikap.
Namun tidak bagi Kamandanu. Cukup lama ia terpaku dibuai oleh keharuan. Tidak dapat ia membiarkan suasana seperti ini berlangsung lebih lama. Baginya, ia bukanlah siapa-siapa lagi, bahkan dirinya menganggap bahwa pribadinya bukanlah sifat kasatria, ia hanyalah pengecut yang bersembunyi di balik tubuh gunung Arjuna.
"Aku berterima kasih atas perlakuan Ki Buyut bersama warga," ucap Kamandanu mengambil alih keheningan, "ini sungguh berlebihan, aku tidak lebih seperti kalian. Hanya rakyat biasa, masa itu telah lewat dan aku akan sangat senang jika Ki Buyut memperlakukan aku seperti orang kebanyakan."
Jambu Nada menelan liur saat mendengar perkataan Arya Kamandanu. Ternyata lelaki yang menjadi romonya itu tidak memberikan kesempatan lebih lama untuk menikmati suasana yang menyenangkan ini. Selama hidupnya belum pernah ia merasakan dihormati sebegitu besarnya, yang ada malah orang-orang menatap dengan pandangan yang menjijikan. Selebihnya lari tunggang langgang, menganggap ia adalah anak siluman.
Arya Kamandanu menghela napas panjang, "Baiklah, jika kalian masih seperti ini lebih baik kami meninggalkan pedukuhan ini. Aku benar-benar tidak pantas mendapat penghormatan yang berlebihan seperti ini."
Saat mendengar ucapan Kamandanu, Ki Buyut segera berdiri. Ia tidak ingin lelaki yang dihormatinya itu meninggalkan pedukuhannya dengan rasa yang tidak nyaman.
"Baiklah Gusti, bagaimana kalau kita berbincang-bincang di Banjar."
"Aku lebih nyaman dipanggil Ki Kamandanu," Arya Kamandanu menyela.
Ki Buyut menarik napas, baginya hal ini memang sedikit janggal. Namun ini permintaan yang datangnya langsung dari Kamandanu. Lelaki tua itu tersenyum kemudian mempersilakan Kamandanu menaiki banjar.
Namun Kamandanu menolak, dengan tersenyum ia menatap Ki Buyut, "Aku sebenarnya ingin singgah di pekarangan Mpu Hanggareksa, sekadar memperkenalkan pada putraku bahwa tempat ini adalah tanah kelahiran romonya."
"Perkenalkan nama saya Ki Junkar," ujar lelaki yang tadinya membawanya ke banjar, "saya bersama keluarga selama ini diberikan izin oleh Ki Buyut untuk menempati perkarangan Gusti Mpu Hanggareksa."
"Benar Ki Kamadanu, setelah beberapa tahun perkarangan itu kosong, aku memutuskan Ki Junkar menempatinya," timpal Ki Buyut menerangkan.
"Marilah kita ke sana, Ki!" ajak Ki Junkar dengan ramah.
Selama perjalanan menuju pondok Ki Junkar, Jambu Nada melangkahkan kakinya dengan kesal. Kecewa dengan sikap Kamandanu, harusnya mendapatkan perlakuan yang istimewa. Lagian hal itu bukan dipinta, cukup menerimanya saja. Bukankah tak ada kerugian bila menerima rasa hormat mereka. Malah mendatangkan banyak keuntungan.
***
Di tempat kediaman Ki Junkar hubungan mereka semakin akrab, saling berbagi cerita. Kudapan ringan yang disediakan istri Ki Junkar pun sudah tersaji di atas tikar pandan.
"Apa Ki Kamandanu dan Angger Jambu Nada hendak kembali dan menetap di Kurawan? Bila demikan kami para warga akan menyiapkan pondok ini untuk Ki Kamandanu,'' kata Ki Junkar.
"Tidak Ki Junkar," sahut Kamandanu, "kami tidak memiliki keinginan menetap di sini, kalaupun kami menetap di sini, tentunya kami akan mencari lahan baru. Ini kan sudah menjadi hak Ki junkar dan kelurga Ki junkar."
"Tidak Ki Kamandanu, dulu Ki Buyut hanya menitipkan pada saya untuk tinggal dan merawat tempat ini, dan jika kelak anak-anak dari Gusti Mpu Hanggareksa kembali, maka saya berkewajiban untuk menyerahkannya," balas Ki Junkar.
Kembali tersenyum Kamandanu memandang orang yang seumuran dengannya itu, "Sudahlah Ki junkar, lebih baik untuk tidak memikirkannya. Aku sama sekali tidak berniat untuk kembali ke pondok ini, dan aku rasa Kakang Arya Dwipangga pun sudah merasa nyaman tinggal di Pasuruan. Sekarang apa pun yang ada disini sudah menjadi hak milik Ki Junkar dan keturunan Ki Junkar. Sudilah kiranya di lain waktu memberikan tumpangan bila kami kebetulan lewat."
"Terima kasih Ki, kami bersyukur atas kemurahan hati Ki Kamandanu. Tentu saja kami selalu siap menerima kapan pun Aki atau Ngger sudi untuk singgah dilain waktu.''
'"Nah Jambu Nada, di sinilah dulu Ayah dilahirkan bersama Uwakmu; Kakang Arya Dwipangga,'' Kamandanu berujar pada Jambu Nada.
Dari tampak luar Jambu Nada menganggukan kepalanya, padahal lelaki belia itu tersenyum kecut. Baginya obrolan ini sungguh membosankan. Bila memang tidak ada keperluan lagi sebaiknya segera pergi. Ia sudah rindu dengan eyang putrinya di Penampihan. Di sana ia dapat bersikap manja, berbuat sesuka hati tanpa mendapatkan teguran. Sedangkan perlakuan Kamandanu terhadapnya dirasakan terlalu banyak aturan.
***
Arya Kamandanu merebahkan tubuhnya di atas tikar yang terdapat pada bilik seadanya. Matanya menerawang menatap langit-langit bilik.
Sedangkan Jambu Nada duduk bersandar membelakangi. Ruangan ini memang jauh lebih besar dari biliknya di bukit Arjuna, namun baginya bilik ini terlihat tidak terawat. Banyak sarang laba-laba yang menumpang di berbagai sudut.
"Sepertinya kita akan tinggal di Kurawan untuk beberapa hari, Nada."
Jambu Nada segera berbalik, "Apa karena orang-orang di pinggir hutan itu?"
"Romo ingin tahu tujuan mereka sebenarnya, Romo yakin mereka kembali setelah teman-teman mereka mendapatkan masalah di sini?"
"Lalu kenapa kita harus melibatkan diri?" tanya Jambu Nada tidak senang.
"Kau tahu bukan kampung ini adalah tanah kelahiran Romo?" sahut Kamandanu, "mana mungkin Romo bisa tinggal diam sedangkan di sini ada masalah. Romo juga melihat ada sesuatu yang tak beres dengan beberapa pedukuhan yang kita lewati. Bisa jadi ada sangkut pautnya dengan masalah yang menimpa Kurawan ini."
Untuk kesekian kalinya Jambu Nada menarik napas. Sebab bila hal ini sudah menjadi keinginan romonya, maka sulit baginya untuk membantah. Ia kemudian berusaha membangunkan sebuah alasan agar dapat bertahan di Kurawan ini. Ya, bila benar orang-orang di pinggir hutan itu kembali maka ia mempunyai kesempatan untuk menghajarnya, bila perlu tantang secara duel. Jambu Nada berharap dapat menunjukan bahwa sekarang kanuragannya berkembang pesat, ia ingin mendapat pengakuan romonya. Seperti di luar sana orang-orang menganggap romonya sebagai pendekar pilih tanding.
Lagian ia tak senang dengan lelaki-lelaki yang bersikap kurang ajar pada perempuan. Menurutnya perempuan itu makhluk yang harus dijaga dan dilindungi. Meski ia sendiri tidak terlalu akrab dengan makhluk yang bernama perempuan. Namun seperti kasih sayang yang diberikan eyang putrinya dan juga murid-murid eyangnya yang rata-rata perempuan adalah contoh nyata bahwa perempuan memiliki jiwa penyayang. Dan tidak sepantasnya memperlakukan mereka dengan kasar. Lelaki tak tahu diri saja yang suka memaksakan kehendak pada perempuan. Lelaki bodoh dan sial.