Keesokan harinya, Devina kembali ke rumah sakit. Ia meminta bicara dengan Felix melalui pesan singkat. Felix tidak langsung menemuinya. Ia bertanya kepada Satria apakah Audrey sedang beristirahat dan memilih bertemu di lorong yang sama.
“Kamu ingin bicara?” tanya Felix.
“Iya. Tapi jangan bawa Abian dan Satria.”
“Mereka akan menunggu tidak jauh dari sini. Aku tidak akan menghadapi kamu dengan cara yang membuat siapa pun merasa terancam.”
“Aku tidak akan melakukan apa-apa.”
“Aku tidak bilang kamu akan melakukan sesuatu. Aku hanya ingin percakapan tetap tenang.”
Devina menghela napas. “Kamu masih menyimpan pesan dari nomor kedua itu?”
“Iya.”
“Kamu benar. Nomor itu pernah kupakai.”
Felix terdiam. Ia menunggu Devina meneruskan tanpa menyela.
“Aku yang mengirim video itu,” katanya. “Aku mengeditnya supaya terlihat seperti Audrey bersama orang lain.”
Felix memandangnya tanpa bergerak. “Kamu mengubah gambar atau potongan rekamannya?”
“Aku menyusun bagian-bagiannya agar tampak seperti satu kejadian.”
“Kamu tahu aku akan menganggapnya bukti.”
“Aku tahu kamu akan marah.”
“Kamu tahu aku sudah mengkhawatirkan Audrey. Kamu tetap mengirimnya.”
Devina memalingkan wajah. “Aku tidak berpikir sejauh itu.”
“Kamu membuatku menjauh darinya.”
“Aku ingin kamu menjauh dari Audrey dan kembali memilihku.”
“Dia memang memilih Abian. Itu haknya.”
“Aku tahu sekarang.”
Felix menarik napas. “Kamu tahu dia tidak pantas dipermalukan karena video palsu?”
“Iya.”
“Kamu pernah berniat memperbaiki kebohongan itu sebelum dia menikah?”
Devina diam. “Aku berniat, tapi selalu menundanya.”
“Setiap penundaan membuat dia menanggung akibatnya.”
“Aku tahu.”
Felix memejamkan mata sesaat. “Kenapa?”
“Aku cemburu. Aku takut kamu kembali memilih dia.”
“Video itu membuatku percaya sesuatu yang tidak benar.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu aku menjauh dari Audrey karena itu?”
“Iya.”
Felix menatapnya. “Kamu melihat aku terluka dan tetap membiarkan kebohongan itu berjalan.”
Devina mengangguk kecil. “Aku takut kalau mengaku, kamu akan pergi.”
“Jadi kamu memilih membuatku terus percaya?”
“Iya.”
Felix menurunkan pandangan ke ponsel. Ia tidak membentak. Namun suaranya terdengar lebih berat.
Ia teringat betapa cepat ia menerima video itu sebagai kebenaran, sementara pesan pertama sudah ada di tangannya. Ia pernah punya kesempatan untuk bertanya langsung kepada Audrey, tetapi rasa marah membuatnya memilih menjauh.
“Kamu bisa menghapus videonya dan tetap mengirim tangkapan layar,” katanya. “Kamu tahu aku akan melihatnya sebagai bukti.”
“Iya.”
“Dan setelah aku percaya, kamu tidak pernah mencoba meluruskan?”
“Tidak.”
Felix menarik napas panjang. Satria memperhatikan dari ujung lorong tanpa menyela. Abian menatap Devina, tetapi tidak mendekat.
“Aku tidak akan bilang semua ini terjadi hanya karena kamu,” kata Felix. “Aku juga bertanggung jawab karena tidak memeriksa kebenarannya.”
Devina tampak ingin menjawab, tetapi urung. Pengakuan itu tidak memberinya alasan untuk memindahkan kesalahan kepada Felix.
“Aku sudah meminta maaf kepada Audrey karena sempat meragukannya. Pengakuanmu tidak menghapus akibatnya.”
“Aku tidak berharap kamu memaafkanku.”
“Aku ingin tahu apakah surat cerai yang pernah muncul juga kamu buat.”
Devina menutup mata. “Iya.”
“Kamu memalsukan surat cerai?”
“Aku membuatnya tampak seperti dokumen yang benar. Aku ingin kamu percaya pernikahanmu dengan Audrey sudah selesai.”
Felix mengusap wajah. “Surat itu tidak pernah dapat menggantikan proses yang seharusnya kami tempuh.”
“Aku tahu setelah semuanya terjadi.”
“Kamu tahu sebelum itu bahwa mereka akan menikah?”
Devina tak segera menjawab. “Aku tahu mereka merencanakan akad. Aku juga tahu kamu baru akan mengetahuinya setelah akad.”
Felix terdiam. “Kamu sengaja menahanku sampai setelah akad?”
“Aku takut kamu pergi kepadanya.”
“Kamu menahan informasi tentang kepulanganku saat mereka merencanakan akad. Kemudian, sesudah aku pulang, kamu membuat surat cerai palsu itu.”
“Iya.”
“Kamu tidak bisa menyebut itu melindungi aku.”
“Aku tidak bilang itu benar.”
Satria dan Abian tetap berada beberapa langkah dari mereka. Felix meminta keduanya mendekat ketika melihat Devina mulai menangis. Ia tidak ingin percakapan berubah jadi pengakuan yang ia simpan sendirian.
“Aku ingin mereka mendengar juga,” katanya. “Audrey tidak seharusnya menanggung akibat dari kebohongan ini lagi.”
Devina mengusap pipinya. “Aku tahu.”
“Apakah kamu juga mengirim gugatan hak asuh itu?”
Devina memandang mereka satu per satu, tetapi belum menjawab. Ia menggeleng lalu berkata, “Aku belum siap membicarakan semuanya.”
“Kamu baru mengakui dua hal besar,” kata Satria. “Kami tidak akan memaksamu berbicara di sini. Tapi jangan menyangkal lagi kalau kamu tahu sesuatu.”
Devina menunduk. Felix tidak menuntut jawaban saat itu juga. Ia meminta Satria memastikan Audrey tidak menerima dokumen lain tanpa penjelasan. Setelah Devina pergi, ia tetap berdiri diam di lorong.
“Kamu tidak perlu menyelesaikan ini sendirian,” kata Abian.
“Aku tahu. Aku cuma berharap sejak awal aku memilih bertanya daripada percaya pada video.”
“Kamu tidak bisa mengubah masa lalu. Kamu bisa memilih cara bersikap sekarang.”
Felix mengangguk. Pengakuan tentang video dan surat cerai membuatnya memahami sebagian kerusakan, tetapi gugatan hak asuh masih belum terjawab. Ia berjanji kepada Satria tidak akan mendatangi Audrey sebelum mendapat izin.
***
Keesokan paginya, Devina kembali ke rumah sakit setelah mengirim pesan kepada Felix bahwa ia bersedia menjelaskan soal gugatan. Satria meminta pembicaraan dilakukan di lorong yang sama. Abian berdiri di dekat Felix. Mereka menjaga jarak dan tidak menghalangi jalan Devina.
“Aku tidak ingin bicara lama,” kata Devina.
“Kamu bilang mau menjelaskan gugatan,” jawab Felix.
“Iya.”
“Kamu yang mengirimnya melalui Mawar dan Saskia?”
Devina menunduk. “Iya.”
“Kamu memalsukan tanda tanganku?”
“Aku yang menyiapkan dokumen itu.”
Felix memandangnya lama. “Kamu meniru tanda tanganku?”
“Iya.”
“Kamu tahu itu akan membuat Audrey percaya aku sungguh-sungguh menggugatnya.”
“Iya.”
“Kamu menaruh namaku di berkas tanpa izinku.”
“Aku tahu.”
Satria menyela, “Kapan kamu membuatnya?”
“Setelah aku merasa Felix menjauh dan tidak lagi mempercayaiku.”
“Kamu tidak punya alasan untuk melibatkan Audrey dalam masalahmu dengan Felix,” kata Abian.
Devina mengangguk. “Aku tahu sekarang.”
“Kamu tahu saat membuat dokumen itu?” tanya Felix.
“Aku tahu aku ingin dia takut. Aku tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya.”
“Itu bukan tidak memikirkan,” kata Felix. “Kamu tahu ia sedang hamil.”
Devina menunduk. “Iya.”
“Kenapa?”
“Aku ingin Audrey percaya kamu akan mengambil bayinya. Aku pikir kalau dia menjauh darimu, kamu tidak akan kembali kepadanya.”
Felix menarik napas. “Kamu tahu dia sedang hamil dan rentan.”
“Aku tahu.”
“Kamu tetap membuatnya takut kehilangan bayi.”
“Iya.”
Satria menatap Devina. “Apakah Mawar dan Saskia tahu tanda tangan itu bukan milik Felix?”
“Aku bilang kepada mereka bahwa Felix sudah menyetujuinya.”
“Jadi mereka mengira dokumennya benar?”
“Iya. Mereka hanya mengantarkan.”
Felix menatapnya. “Kamu menempatkan mereka di tengah kebohonganmu.”
“Aku takut kalau aku mengirimnya sendiri, Audrey akan tahu aku terlibat.”
“Kamu sudah mengakui membuat gugatan. Jangan ubah jawabanmu lagi.”
“Aku tidak mengubahnya.”
Abian berbicara dengan suara rendah. “Audrey belum tahu. Dia berhak mendengar kebenaran dengan cara yang tidak membuatnya merasa diserang.”
Devina memandang pintu kamar Audrey. “Aku ingin minta maaf kepadanya.”
“Dia belum mengizinkanmu masuk,” kata Satria. “Kamu tidak boleh meminta maaf dengan memaksa bertemu.”
“Aku bisa menunggu.”
“Kalau dia tidak siap hari ini, kamu pulang,” kata Felix. “Jangan menunggunya di depan kamar.”
Devina mengangguk. “Aku mengerti.”
Felix menahan emosinya. “Kamu juga menahan ponselku dan tidak memberitahuku Audrey menghubungi?”
“Iya.”
“Dulu, sebelum akad itu, kamu sengaja menunda kabar kepulanganku?”
“Iya. Aku tidak mau kamu menghentikan pernikahan itu atau kembali memilih Audrey.”
“Yang seharusnya terjadi adalah pemeriksaan status kami, bukan akad tergesa berdasarkan kabar kehilangan. Kamu menyembunyikan informasi penting.”
“Aku tahu sekarang.”
“Kamu tahu saat itu juga. Kamu memilih membuatku tidak tahu.”
Devina mengusap tangannya sendiri. “Aku takut kehilanganmu. Aku terus mengira kalau aku bisa menjauhkanmu dari Audrey, kamu akan memilihku.”
“Kamu tidak kehilangan aku karena Audrey. Kamu merusak kepercayaanku dengan kebohonganmu.”
Devina menahan tangis. “Aku tahu.”
“Kamu juga tahu ada pemeriksaan status akad itu. Kamu tidak boleh membuat dokumen baru atas namaku untuk menakutinya.”
“Aku tahu aku tidak berhak memakai namamu.”
“Kalau begitu, jangan pernah memakai nama atau tanda tanganku untuk mengancamnya lagi.”
“Aku tidak akan.”
Felix meminta agar pengakuan tentang dokumen ditulis dan diserahkan melalui pendamping, disertai bahan yang masih ada. Ia juga bersedia menjelaskan penahanan ponsel serta pesan yang baru dibacanya. Audrey diberi kesempatan memilih pendamping sendiri untuk melaporkan dampak pemalsuan dan penyebaran video. Keluarga tidak menyebut pertemuan di lorong sebagai putusan pidana.
Devina menyatakan bersedia memberikan keterangannya kepada pihak yang menangani laporan. Ia mengakui pertolongannya kepada Felix di pantai memang nyata, tetapi klaim tentang sabotase kapal tidak ia dasarkan pada pemeriksaan yang pernah dilihatnya. Felix meminta informasi kecelakaan melalui pihak yang berwenang; ia tidak lagi memakai kabar dari Abian atau cerita Devina sebagai hasil penyelidikan teknis. Rasa terima kasih atas pertolongan itu tetap ada, tetapi tidak menjadi alasan menutupi pemalsuan yang telah diakui.