Audrey mendengar pesan Felix dari Satria saat ia beristirahat di kamar. Diandra duduk di sisi ranjang, sementara Abian berdiri dekat jendela. Satria menyampaikan setiap kalimat tanpa menambah atau mengurangi.
“Devina mengaku menyiapkan gugatan itu,” katanya. “Felix bilang dia tidak pernah mengajukan hak asuh dan tidak akan menuntutnya.”
Audrey menatap selimut. “Dia mengaku tanda tangan itu palsu?”
“Iya. Dia juga bilang akan membantu memastikan dokumen itu tidak dipakai lagi.”
“Drey belum mau bertemu dengannya.”
“Aku sudah menyampaikan itu,” kata Satria. “Dia tidak akan masuk.”
Audrey menarik napas. “Drey ingin tahu apa lagi yang Devina akui.”
Satria menjelaskan dengan hati-hati bahwa Devina mengirim video yang diedit dan membuat surat cerai palsu agar Felix menjauh dari Audrey. Ia juga menahan ponsel Felix dan sengaja membuatnya baru mengetahui pernikahan Audrey setelah akad.
Audrey mengangkat wajah. “Kenapa dia melakukan semuanya?”
“Katanya dia takut Felix memilihmu,” jawab Satria. “Itu penjelasannya, bukan pembenaran.”
“Drey tidak pernah meminta Felix kembali.”
Abian menjawab, “Aku tahu. Kamu tidak bertanggung jawab atas keputusan Devina.”
“Drey tidak mau bayi ini jadi alasan orang bertengkar.”
“Kita tidak akan menjadikan dia alasan untuk memaksamu,” kata Diandra.
Audrey terdiam lama. “Drey mau mendengar Kak Felix langsung. Tapi hanya dari pintu.”
Satria memastikan sekali lagi, “Kamu yakin? Kalau berubah pikiran, kita bisa menunda.”
“Drey yakin. Bie tetap di sini.”
“Aku tetap di sini,” kata Abian. “Kamu yang menentukan jarak.”
***
Satria keluar dan menyampaikan batas Audrey kepada Felix. Felix tidak segera masuk. Ia berdiri di luar pintu dan menunggu sampai Satria memberi tanda bahwa Audrey siap.
“Aku akan berdiri di ambang pintu,” katanya. “Kalau dia ingin aku pergi, aku langsung pergi.”
“Jangan meminta dia memaafkanmu,” kata Satria.
“Aku tidak akan.”
Felix berdiri di pintu tanpa melangkah masuk. Abian tetap di sisi Audrey, tidak menyela dan tidak berbicara atas namanya.
“Drey,” kata Felix pelan. “Aku minta maaf karena pernah percaya pada video itu dan meragukanmu. Aku seharusnya bertanya langsung. Aku juga minta maaf karena baru sekarang tahu kamu melahirkan.”
Audrey menatapnya, tetapi tidak menjawab.
Felix melanjutkan, “Aku tidak pernah mengajukan gugatan itu. Aku tidak akan menuntut hak asuh untuk mengambil bayi darimu. Aku akan membantu membantah dokumen yang memakai namaku.”
“Kak Felix mau apa dari Drey?”
“Aku tidak meminta kamu kembali kepadaku. Aku tahu kamu berhak memilih hubunganmu sesudah status yang ada diselesaikan dengan benar.”
Audrey menggenggam tangan Abian. “Lalu?”
“Aku tidak akan memakai status yang belum selesai untuk memaksamu kembali atau mengatur pilihanmu.”
Abian tetap diam. Ia tidak menggenggam lebih erat atau menarik Audrey mendekat. Audrey sendiri yang memilih tetap memegang tangannya.
“Kak Felix tetap ayah biologis bayi Drey,” katanya.
“Iya. Kalau kamu mengizinkan, aku ingin menjalankan tanggung jawab sebagai ayah dan mengenalnya. Tapi aku tidak akan datang atau menggendongnya tanpa persetujuanmu dan arahan dokter.”
“Drey belum bisa menjawab sekarang.”
“Aku mengerti.”
“Drey tidak mau bayi ini dijadikan bahan rebutan.”
“Aku tidak akan memperebutkannya. Aku akan menghormati batas yang kamu tentukan.”
Audrey menunduk. “Drey belum memaafkan Kak Felix.”
“Kamu tidak harus memaafkanku hari ini.”
“Drey juga belum percaya semuanya.”
“Aku tahu. Aku akan menerima akibat dari keputusan yang pernah kubuat.”
Audrey menatapnya lagi. “Kak Felix boleh menunggu kabar dari Pa. Jangan datang sendiri ke kamar.”
“Baik.”
Felix tetap di ambang pintu. “Apa ada hal lain yang perlu kamu sampaikan?”
Audrey memandang Abian, lalu kembali kepadanya. “Drey ingin menyelesaikan perkawinan dengan Kak Felix melalui proses yang benar. Drey tidak mau kembali sebagai pasangan setelah semua yang terjadi.”
“Aku tidak akan meminta kamu memilih,” kata Abian.
Felix menunduk. “Aku juga tidak meminta itu. Aku tahu kamu memilih Abian.”
“Drey ingin bayi mengenal ayahnya, tapi Drey juga ingin merasa aman.”
“Keduanya bisa berjalan bersama,” kata Felix. “Kamu boleh menentukan kapan dan bagaimana aku bertemu dengannya.”
“Kalau Drey berubah pikiran?”
“Kamu bisa bilang. Aku tidak akan menganggap perubahan itu sebagai hukuman.”
Audrey menimbang jawabannya. “Drey belum memberi izin untuk menggendong.”
“Aku mengerti.”
“Drey hanya ingin Kak Felix tahu, bukan menolak selamanya.”
“Terima kasih sudah menjelaskan. Aku tidak akan menafsirkan lebih jauh.”
Felix mundur satu langkah. Ia tidak meminta berjabat tangan atau menyentuh Audrey. Sebelum pergi, ia menatap Abian.
“Aku akan menghormati pilihan dan ruang yang diminta Audrey.”
Abian menjawab, “Yang paling penting, hormati pilihan Audrey.”
“Aku akan.”
Felix meninggalkan ambang pintu dan kembali ke lorong. Audrey tetap diam beberapa lama. Ia mendengar langkah Felix menjauh, lalu menoleh kepada Abian.
“Bie tidak marah?”
“Tidak.”
“Drey mau Kak Felix tetap kenal bayinya suatu hari nanti. Tapi Drey takut.”
“Kita tidak perlu memutuskan waktunya hari ini. Aku akan menemanimu, dan kamu boleh mengubah keputusan kalau belum siap.”
Audrey mengangguk. “Drey ingin melihat bayi lagi.”
“Aku akan meminta dokter mengatur waktunya,” kata Diandra.
“Drey mau kembali dengan Abian saja.”
“Aku akan menemanimu,” kata Abian. “Kamu yang menentukan kapan kita berhenti.”
“Drey ingin Bie tahu Drey masih takut, tapi Drey juga lega Bie sudah pulang.”
“Aku mendengarmu.”
Audrey memandangnya. “Drey takut Bie mengira Drey harus selalu kuat karena Bie sudah kembali.”
“Kamu tidak harus kuat untuk membuatku nyaman. Kamu boleh sedih dan takut.”
Diandra membetulkan bantalnya. “Kita tidak perlu menyelesaikan semua hubungan hari ini. Sekarang kita jaga kamu dan bayi.”
“Drey tahu, Ma.”
Audrey menggenggam tangan Abian sedikit lebih erat atas kemauannya sendiri. Ia belum mengatakan cinta, belum memberikan maaf, dan belum berjanji tentang kunjungan Felix. Untuk hari itu, ia hanya memilih siapa yang tetap berada di sisinya.
Malam itu Audrey berbicara melalui telepon dengan pendamping untuk meminta penjelasan langkah perceraian serta tanggung jawab pengasuhan yang perlu dibicarakan sesudahnya. Melalui pendamping itu Felix menyatakan tidak akan menghalangi Audrey memberi keterangan atau menuntut kepatuhan dengan ancaman mengambil bayi. Ia memahami bahwa kesediaannya tidak langsung mengakhiri perkawinan; mereka tetap harus mengikuti pemeriksaan dan keputusan yang diperlukan.
Abian mendengarkan tanpa meminta janji. Ia tidak menawarkan akad baru hari itu. Audrey sedang pulih dan bayinya masih membutuhkan perawatan. Keinginan dekat dengan Abian tidak menghapus urusan status, sebagaimana perceraian kelak tidak menghapus tanggung jawab Felix terhadap anaknya.