Arkan tidak pulang untuk makan malam.
Ibu Ratnawati menanyakannya dua kali. Pak Gumilar menjawab bahwa Arkan masih di kantor, ada laporan yang harus selesai sebelum rapat direksi besok. Savira tidak menambahkan apa pun. Ia makan sedikit, membantu Sania membawa piring ke dapur, lalu kembali ke kamar belakang.
Kamar itu terasa terlalu luas tanpa Arkan. Sofa di sudut kosong. Meja kecil bersih dari laptop dan tumpukan map. Savira duduk di meja lipatnya dan mengerjakan laporan persediaan, tetapi pikirannya terus kembali ke ruang rapat lantai lima. Ke kata tidak yang diucapkan di depan delapan orang. Ke ambang pintu tempat Arkan berhenti dan tidak mengatakan apa-apa.
Ia menutup laptop pukul sebelas. Lampu utama dimatikan, lampu tidur dinyalakan. Ia berbaring dan mencoba tidur.
Ia masih terjaga ketika bunyi mesin mobil terdengar di garasi samping. Jam di ponselnya menunjukkan pukul satu lewat dua puluh.
Langkah kaki di koridor belakang terdengar lebih lambat dari biasanya. Berhenti. Lalu berjalan lagi. Pintu kamar dibuka pelan.
Arkan masuk tanpa menyalakan lampu. Ia menutup pintu di belakangnya dan bersandar di sana sejenak. Dalam cahaya lampu tidur, Savira melihat jasnya sudah dilepas dan tersampir di lengan. Dasinya longgar. Wajahnya pucat dengan cara yang tidak wajar, dan pelipisnya basah.
Savira duduk. “Arkan?”
“Tidur saja.”
Suaranya serak. Ia berjalan ke kursi di samping meja kecil dan meletakkan jas di sandarannya. Gerakannya terlalu hati-hati, seperti orang yang takut lantai di bawahnya bergeser. Ketika ia mencoba membuka kancing manset, jarinya meleset dua kali.
Savira turun dari ranjang. Ia berhenti satu langkah sebelum jarak yang biasa mereka jaga. “Kamu sakit.”
“Hanya lelah.”
“Orang lelah tidak berkeringat seperti itu di udara sedingin ini.”
Arkan tidak menjawab. Ia menyerah pada kancing manset, berjalan ke sofa, dan duduk dengan napas yang terdengar berat. Kepalanya bersandar ke dinding. Matanya terpejam.
“Saya panggil dokter,” kata Savira.
“Tidak perlu.”
“Arkan.”
“Saya bilang tidak perlu.” Ia membuka mata. Bahkan dalam keadaan begini, nadanya masih nada orang yang terbiasa diikuti. “Besok pagi sudah lebih baik. Jangan bangunkan siapa pun.”
Savira berdiri diam di tengah kamar. Ia bisa membangunkan Ibu Ratnawati. Ia bisa menelepon dokter tanpa bertanya. Pria di sofa itu jelas tidak dalam keadaan untuk melawan siapa pun. Tetapi ia juga ingat bagaimana rasanya ketika orang lain memutuskan apa yang baik untuknya tanpa bertanya, dan ia tidak ingin menjadi orang seperti itu, bahkan sekarang.
Namun ia juga tidak akan berbaring dan pura-pura tidak melihat.
Ia masuk ke kamar mandi, membuka laci kecil di bawah wastafel tempat Sania menyimpan kotak obat, dan menemukan termometer digital. Ia membawanya keluar dan meletakkannya di meja kecil di samping sofa, dalam jangkauan tangan Arkan.
“Saya tidak akan memaksa,” katanya. “Tapi ukur suhumu. Setelah tahu angkanya, kamu yang memutuskan.”
Arkan menatap termometer itu lama. Lalu menatap Savira.
Akhirnya ia mengambilnya.
Savira menunggu sambil menghitung detik. Ketika bunyi kecil terdengar, Arkan membaca layar dan menyerahkannya tanpa komentar.
Tiga puluh sembilan koma empat.
Savira merasakan perutnya mengencang. Ia mengambil ponsel dan membuka daftar nomor yang dikirim Sania pada hari kedua: nomor tukang listrik, nomor mandor, nomor dokter jaga yang biasa dipanggil keluarga.
“Saya tidak memanggil dokter ke sini,” katanya sebelum Arkan sempat menolak lagi. “Saya hanya menelepon untuk minta saran. Kalau dokter bilang kamu harus dibawa ke rumah sakit, kita bicarakan lagi. Kalau tidak, kita ikuti sarannya. Boleh?”
Arkan memejamkan mata. Beberapa detik berlalu.
“Boleh.”
Dokter jaga mengangkat pada dering keempat, suaranya mengantuk tetapi cepat jernih. Savira menjelaskan dengan urut: suhu, keringat, lemas, sejak kapan. Dokter menanyakan beberapa hal yang harus Savira teruskan kepada Arkan, dan Arkan menjawab dengan anggukan atau gelengan. Tidak sesak napas. Tidak ada nyeri dada. Masih bisa minum.
Dokter memberi saran: minum air sedikit demi sedikit, kompres dengan air biasa, obat penurun panas yang ada di kotak obat sesuai takaran di kemasan, dan ukur lagi suhu setiap satu jam. Lalu ia menyebut tanda-tanda yang berarti Arkan harus segera dibawa ke rumah sakit, tanpa menunggu pagi.
Savira mengulang semuanya sekali untuk memastikan ia tidak salah dengar, lalu menutup telepon.
Ia mengambil obat, segelas air, baskom kecil berisi air dari keran, dan handuk bersih. Ia meletakkan semuanya di meja kecil. Arkan meminum obatnya tanpa membantah.
Savira memeras handuk. Lalu ia berhenti, handuk basah di tangannya.
“Saya akan menaruh ini di dahimu,” katanya. “Boleh?”
Arkan membuka mata. Cahaya lampu tidur memantul samar di sana, dan untuk sesaat ia tampak lebih muda dari usianya, lebih lelah dari yang pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
“Boleh,” katanya pelan.
Savira mendekat. Ia meletakkan handuk itu di dahi Arkan, dan ketika ujung jarinya menyentuh kulit di bawah rambut yang basah, panasnya membuatnya terkejut.
Ia menarik tangan. Jari-jarinya gemetar.
Ia menatap tangannya sendiri, bingung. Ia sudah pernah merawat orang demam. Ia tahu apa yang harus dilakukan, urutannya, takarannya. Tangannya tidak pernah gemetar seperti ini.
Savira menyembunyikan tangan itu di pangkuan dan menarik kursi dari meja kecil. Ia duduk di samping sofa, bukan di tepinya.
Satu jam pertama, suhu Arkan bertahan. Savira mengganti kompres setiap kali handuk mulai hangat dan mencatat angka di ponselnya. Arkan setengah tertidur, setengah terjaga. Sekali ia bergumam sesuatu yang tidak jelas. Sekali ia meminta air, dan Savira memegangi gelasnya sementara pria itu minum.
Pada jam kedua, suhunya turun ke tiga puluh delapan koma enam.
Pada jam ketiga, tiga puluh delapan.
Savira menelepon dokter lagi sesuai pesan, menyebutkan angkanya. Dokter berkata itu kemajuan yang baik, tetapi Arkan tetap harus diperiksa langsung jika demamnya kembali naik besok.
Ketika Savira meletakkan ponsel, ia mendapati Arkan sedang menatapnya.
“Kamu tidak tidur,” kata pria itu. Suaranya masih serak, tetapi lebih jelas.
“Kamu juga tidak.”
“Saya sakit. Itu alasan.”
“Dan saya menunggu orang sakit. Itu juga alasan.”
Arkan diam. Matanya tidak beralih dari wajah Savira. Ada sesuatu yang bergerak di sana, sesuatu yang tidak pernah ia lihat di ruang rapat, di meja makan, atau di kamar ini sebelumnya.
“Terima kasih,” katanya.
Savira mengangguk. Ia mengambil handuk dari dahi pria itu, mencelupkannya ke baskom, memerasnya, dan meletakkannya kembali. Kali ini ia tidak bertanya lagi. Arkan tidak keberatan.
Di luar, langit mulai berubah dari hitam ke abu-abu gelap.
Dan sepanjang sisa malam itu, tangan Savira tidak berhenti gemetar.