Savira tidak ingat kapan ia tertidur di kursi itu.
Yang ia ingat, terakhir kali ia melihat termometer, angkanya tiga puluh tujuh koma delapan. Ia meletakkan alat itu di meja, bersandar sebentar, dan memejamkan mata hanya untuk mengistirahatkannya.
Ketika ia membuka mata lagi, cahaya pagi sudah menyelinap lewat celah gorden. Lehernya kaku. Selimut tipis yang biasa dipakai Arkan kini tersampir di bahunya sendiri.
Ia menegakkan tubuh dengan cepat.
Arkan duduk di sofa, punggung bersandar ke dinding, handuk kompres terlipat di pangkuannya. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya jernih. Ia sedang memperhatikan Savira, dan tidak repot-repot mengalihkan pandangan ketika ketahuan.
“Kamu menyelimuti saya,” kata Savira.
“Kamu tertidur dengan kepala miring. Saya tidak ingin kamu bangun dengan leher patah.”
“Seharusnya kamu tidak bangun.”
“Demamnya sudah turun.” Arkan mengangkat termometer dari meja dan menunjukkan layarnya. Tiga puluh tujuh koma dua. “Saya mengukurnya sendiri. Seperti yang kamu minta.”
Savira mengambil termometer itu dan membaca angkanya dua kali. Ia menghembuskan napas yang tidak ia sadari ditahannya sejak semalam. “Dokter bilang kamu tetap harus diperiksa kalau naik lagi.”
“Saya tahu.”
“Dan kamu tidak boleh ke kantor hari ini.”
Arkan mengangkat alis sedikit. “Itu saran dokter atau saranmu?”
“Keduanya.”
Untuk pertama kalinya sejak Savira mengenalnya, Arkan tersenyum. Bukan gerakan samar di sudut bibir yang biasa ia lihat. Senyum yang sesungguhnya, singkat, lelah, dan membuat wajahnya tampak berbeda sama sekali.
Senyum itu hilang secepat datangnya. Arkan menunduk, memutar handuk di pangkuannya.
“Savira,” katanya. “Semalam saya mengatakan terima kasih. Saya ingin mengatakannya lagi sekarang, ketika saya tidak sedang setengah sadar.”
“Kamu tidak perlu.”
“Saya perlu.” Ia mengangkat wajah. “Kamu bisa membangunkan seisi rumah. Kamu bisa memanggil dokter tanpa bertanya. Kamu tidak melakukannya. Kamu bertanya.”
Savira tidak tahu harus menjawab apa. Ia memandangi termometer di tangannya.
“Dan ada hal lain,” lanjut Arkan. Suaranya turun, lebih pelan. “Tentang rapat kemarin. Tentang usulanmu.”
Savira mengangkat wajah.
“Saya menolaknya bukan karena angkamu salah,” kata Arkan. “Angkamu benar. Saya menolaknya karena…”
Pintu kamar diketuk dua kali. Lalu dibuka sebelum ada yang menjawab.
“Mbak Savira, Mas Arkan, Bu Ratnawati minta saya bawakan sarapan ke…”
Sania berhenti di ambang pintu. Nampan di tangannya berisi dua mangkuk bubur, segelas teh hangat, dan segelas air jeruk. Matanya bergerak cepat ke seluruh kamar: ranjang yang tidak ditiduri, kursi yang ditarik ke samping sofa, Savira yang duduk di sana dengan selimut Arkan masih tersampir di bahunya, baskom air, handuk, termometer.
Lalu mata itu berhenti pada wajah Savira.
“Maaf,” kata Sania cepat. “Saya kira… Bu Ratnawati bilang Mas Arkan sakit, jadi…”
“Demam,” kata Savira. Ia menurunkan selimut dari bahunya dan melipatnya di pangkuan. “Semalam. Sudah turun sekarang.”
“Oh.” Sania melangkah masuk dengan hati-hati, meletakkan nampan di meja kecil. “Syukurlah, Mas.”
Savira menoleh ke arah sofa.
Arkan sudah berubah. Bahunya tegak lagi. Wajahnya datar. Senyum dan suara pelan yang barusan ada di ruangan itu lenyap seolah tidak pernah terjadi.
“Terima kasih, Sania,” katanya. Nadanya nada yang ia pakai di ruang rapat. “Tolong sampaikan ke Ibu bahwa saya tidak ke kantor hari ini. Saya akan bekerja dari ruang kerja bawah.”
“Baik, Mas.”
“Dan Savira sudah selesai di sini. Ia harus bersiap ke kantor.”
Kalimat itu seperti pintu yang ditutup di depan wajahnya. Savira berdiri. Selimut di pangkuannya jatuh ke kursi.
“Saya sudah selesai,” katanya, dan ia sendiri terkejut betapa dingin suaranya.
Sania menunduk, mundur ke arah pintu. Sebelum keluar, matanya bertemu mata Savira sekali lagi. Tidak ada tuduhan di sana. Hanya sesuatu yang mirip kekhawatiran, dan sesuatu yang mirip pengertian, dan itu jauh lebih buruk.
Pintu tertutup.
Savira berdiri di tengah kamar. Arkan tidak menatapnya. Ia mengambil mangkuk bubur dari nampan dan mulai makan perlahan, seolah tidak ada yang perlu dikatakan lagi.
“Kamu tadi mau mengatakan sesuatu,” kata Savira.
“Tidak penting.”
“Tentang usulan saya.”
“Usulan itu sudah ditolak dan dicatat. Kalau kamu ingin membahasnya, ajukan lewat Danendra.”
Savira menatapnya lama. Lima menit lalu pria itu bilang angkanya benar. Lima menit lalu ia tersenyum. Sekarang ia duduk di sofa dengan mangkuk bubur dan suara direktur utama, dan semuanya karena seorang asisten membuka pintu tanpa menunggu jawaban.
Ia mengerti. Itu yang paling menyakitkan. Ia mengerti persis kenapa.
Ipar adalah ipar. Batas itu ada untuk alasan yang baik.
Savira mengambil handuk dan pakaian ganti dari lemari, lalu masuk ke kamar mandi. Ia menyalakan air dan berdiri di bawahnya lebih lama dari yang diperlukan.
Ketika ia keluar dengan pakaian kerja lengkap, sofa sudah kosong. Mangkuk bubur Arkan habis setengah. Mangkuk yang satu lagi masih utuh, ditutup piring kecil supaya tidak dingin. Di sampingnya, di atas selembar kertas memo, tulisan tangan yang rapi dan miring:
Makan dulu sebelum berangkat.
Savira memandangi kertas itu lama.
Lalu ia duduk, membuka tutup mangkuk, dan makan bubur yang masih hangat itu sampai habis, sendirian, di kamar yang tiba-tiba terasa terlalu sunyi.
Ia tidak tahu harus marah atau tidak. Pria itu menutup pintu di depan wajahnya, lalu meninggalkan sarapan dengan tutup supaya tidak dingin.
Di koridor belakang, pintu ruang kerja kecil di lantai bawah terbuka sejengkal. Savira melihat Arkan di baliknya, duduk di depan meja dengan laptop menyala dan kemeja yang sudah diganti. Pria itu tidak mengangkat wajah ketika langkahnya lewat. Savira juga tidak berhenti.
Di beranda, Ibu Ratnawati sedang memberi petunjuk kepada sopir. Ia menoleh ketika Savira keluar.
“Sania bilang kamu menunggui Arkan semalam.”
“Ia demam tinggi, Bu. Saya menelepon dokter jaga untuk minta saran. Sekarang sudah turun.”
Ibu Ratnawati menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Lain kali bangunkan saya.”
“Arkan meminta tidak membangunkan siapa pun.”
“Arkan selalu meminta itu,” kata Ibu Ratnawati pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Lalu ia berbalik masuk tanpa menunggu jawaban.
Di dalam mobil, Savira membuka dompetnya. Ia melipat memo itu dan menyimpannya di sana, di antara kartu identitas dan foto lama yang sudah lama tidak ia lihat. Ia tidak tahu kenapa ia melakukannya.
Mungkin karena, untuk pertama kalinya, ia punya bukti bahwa sikap dingin itu hanya pintu, bukan dinding.