Chalista Ranindra datang pada hari Minggu, tepat pukul dua belas, dengan sebuket lili putih dan senyum yang sudah disiapkan sejak di dalam mobil.
Savira melihatnya dari jendela kamar belakang. Mobil merah marun berhenti di depan gerbang, sopir membukakan pintu, dan seorang perempuan bergaun krem dengan rambut tergerai rapi melangkah keluar. Ia memandang sekeliling halaman yang masih penuh tumpukan semen dan besi beton, lalu menutup hidung sebentar dengan ujung jari, seperti orang yang tidak terbiasa mencium bau debu.
Savira menutup gorden.
Sudah dua hari sejak demam Arkan turun. Pria itu bekerja dari ruang kerja bawah sehari, kembali ke kantor keesokan harinya, dan sejak pagi di ambang pintu itu, mereka kembali ke cara lama. Salam singkat. Jarak dua meter. Lampu dimatikan tanpa percakapan. Memo di dompet Savira tidak pernah disebut oleh siapa pun.
Pagi tadi, Sania mengetuk dan mengabarkan bahwa Bu Ratnawati meminta semua orang hadir untuk makan siang keluarga. Ada tamu.
Savira tidak perlu bertanya siapa.
Ruang makan sudah ditata lebih rapi dari biasanya. Taplak putih baru, piring porselen yang selama ini disimpan di lemari kaca, vas kristal di tengah meja yang kini berisi lili putih. Pak Gumilar duduk di ujung. Ardana Wicaksana di sisi kirinya, tablet diletakkan terbalik di samping piring. Ibu Ratnawati di sisi kanan, dan di sebelahnya, kursi yang biasa kosong kini ditempati Chalista.
Arkan duduk di seberang Chalista. Savira mengambil kursi di ujung lain, di samping Ardana.
“Jadi ini Savira,” kata Chalista ketika ia duduk. Suaranya ringan dan hangat, seperti suara orang yang sedang menyapa kenalan lama di pesta. “Akhirnya kita bertemu langsung. Saya ikut berduka. Sungguh.”
“Terima kasih,” jawab Savira. “Untuk bunganya juga. Saya dengar Ibu menerimanya.”
Senyum Chalista tidak bergeser sedikit pun. “Agak terlambat, saya tahu. Waktu itu saya sedang di luar negeri. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, kan?”
Makanan dihidangkan. Ayam bakar, sayur asem, sambal terasi, dan gurame goreng yang tampaknya dipesan khusus dari rumah makan langganan Ibu Ratnawati. Pembicaraan dimulai dari hal-hal aman: perjalanan Chalista, kabar keluarga Ranindra, renovasi yang tidak kunjung selesai.
Lalu Chalista menoleh ke seberang meja.
“Arkan,” katanya, dan cara ia mengucapkan nama itu terdengar seperti sudah ribuan kali. “Kamu kelihatan kurus. Masih suka lupa makan kalau sedang banyak pikiran?”
Arkan memotong ayamnya. “Saya baik-baik saja.”
“Kamu selalu bilang begitu.” Chalista tertawa kecil dan menoleh ke Ibu Ratnawati. “Dulu, Bu, waktu dia sedang menyiapkan tender besar itu, saya harus mengantar makan siang ke kantornya tiga hari berturut-turut. Kalau tidak, dia tidak akan makan sama sekali.”
Ibu Ratnawati tersenyum. Senyum pertama yang Savira lihat dari wanita itu sejak hari kedatangannya. “Saya ingat. Kamu selalu memperhatikan hal-hal seperti itu, Chalista.”
“Kebiasaan lama susah hilang.”
Pak Gumilar berdeham. Ardana mengangkat gelasnya dan minum tanpa ekspresi, tetapi matanya bergerak, dari Chalista ke Arkan, dari Arkan ke Savira, lalu kembali ke piringnya. Savira menangkap gerakan itu. Ardana selalu menghitung, bahkan di meja makan.
“Ngomong-ngomong,” lanjut Chalista, kini memandang Savira dengan mata yang ramah, “saya dengar kamu tinggal di kamar belakang. Satu-satunya kamar yang aman.”
Garpu Savira berhenti di udara. “Benar.”
“Bersama Arkan.”
Meja itu tidak sunyi, tetapi bunyi sendok dan garpu mendadak terasa lebih keras.
“Renovasinya tidak memberi pilihan lain,” kata Savira. “Lantai dua dinyatakan tidak aman. Arkan tidur di sofa.”
“Oh, tentu. Saya tidak bermaksud apa-apa.” Chalista meletakkan sendoknya dengan anggun. “Hanya saja, kamu tahu bagaimana orang di luar sana. Teman-teman ibu saya sudah mulai bertanya. Seorang janda muda, belum dua bulan ditinggal suami, tinggal serumah dengan pria lajang. Satu kamar pula.” Ia tersenyum lagi, kali ini kepada Ibu Ratnawati. “Saya hanya khawatir, Bu. Demi nama keluarga. Saya sudah menganggap keluarga ini seperti keluarga saya sendiri.”
Ibu Ratnawati tidak menjawab. Ia menunduk ke piringnya.
Savira merasakan sesuatu yang panas naik ke tenggorokannya. Ia meletakkan garpu dengan hati-hati, supaya tidak terdengar bunyi apa pun.
“Kalau teman-teman ibumu bertanya,” katanya pelan, “sampaikan bahwa saya tinggal di sini karena syarat surat wasiat dan karena kontrakan saya bocor. Dan bahwa keputusan menempatkan saya di kamar itu bukan keputusan saya.”
“Tentu saja bukan.” Chalista mengangguk penuh pengertian. “Saya yakin kamu tidak punya pilihan. Itu yang saya khawatirkan. Perempuan yang tidak punya pilihan sering kali berakhir mengambil pilihan yang salah.”
“Cukup.”
Suara itu datang dari seberang meja. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat semua orang berhenti bergerak.
Arkan meletakkan pisau dan garpunya sejajar di atas piring. Ia menatap Chalista tanpa ekspresi apa pun. “Kamu tamu di rumah ini. Bersikaplah seperti tamu.”
Untuk sepersekian detik, senyum Chalista retak. Hanya sepersekian detik. Lalu ia tertawa kecil, meraih gelas air jeruknya. “Kamu masih sama saja, Arkan. Selalu membela orang yang tidak perlu dibela.”
“Arkan,” kata Ibu Ratnawati, nadanya menegur. “Chalista hanya peduli.”
“Saya tahu apa yang Chalista pedulikan, Ibu.”
Pak Gumilar meletakkan sendoknya. “Kita makan,” katanya datar. “Pembicaraan ini selesai.”
Dan pembicaraan itu memang selesai, setidaknya di permukaan. Chalista kembali bercerita tentang perjalanannya. Ibu Ratnawati kembali menanggapi. Ardana kembali menghitung dengan matanya. Arkan kembali makan dalam diam.
Savira menghabiskan makanannya tanpa merasakan rasanya. Di bawah meja, jarinya meremas serbet sampai kusut.
Ketika piring-piring dibereskan dan Sania menghidangkan es buah, Chalista berdiri dan merapikan gaunnya.
“Bu, boleh saya lihat kebun belakang? Dulu saya suka duduk di bawah pohon rambutan itu.” Ia menoleh kepada Savira dengan mata berbinar. “Savira, temani saya, ya? Saya ingin mengenalmu lebih dekat. Kita perempuan sebaiknya saling menjaga.”
Semua mata berpaling kepada Savira.
Menolak di depan Ibu Ratnawati berarti terlihat kasar. Menerima berarti berjalan berdua dengan perempuan yang baru saja menyebutnya tidak punya pilihan.
Savira melipat serbetnya yang kusut dan berdiri.
“Tentu,” katanya.
Ia tidak melihat ke arah Arkan ketika berjalan keluar ruang makan. Namun ia tahu, tanpa perlu menoleh, bahwa pria itu sedang memperhatikannya sampai ia menghilang di ujung koridor.