Leo berdiri diam sendirian di tengah gang yang mulai diselimuti bayang-bayang senja. Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan ujung rambut panjangnya dan membawa debu-debu halus yang beterbangan di udara. Matanya menatap ke arah ujung gang tempat Lia menghilang dengan langkah terburu-buru, meninggalkannya dalam keheningan yang terasa berat dan getir. Di dalam hatinya, Leo sama sekali tidak merasa marah atau kecewa karena tidak diucapkan terima kasih. Ia justru mengerti betul apa yang ada di benak gadis itu. Bayangan wajah Lia yang pucat pasi, mata yang membelalak ketakutan, dan cara gadis itu mundur perlahan seolah Leo adalah makhluk buas yang siap menerkamnya kapan saja, semuanya tertanam jelas di ingatannya.
Leo menghela napas panjang, lalu mengembuskannya pelan lewat mulut. Ia menunduk menatap kedua tangannya sendiri—tangan yang tadi ia gunakan untuk melumpuhkan ketiga pemuda itu dalam sekejap mata. Tangan yang terlihat kasar, keras, dan penuh kekuatan ini memang sering kali menimbulkan kesan mengerikan bagi orang yang tidak paham situasinya. Ditambah lagi dengan penampilan luarnya yang memang sengaja ia bentuk sesuai keinginannya sendiri, bebas dari aturan dan penilaian orang lain, wajar sekali jika Lia menganggapnya jauh lebih berbahaya daripada pengganggu-pengganggu itu.
"Penampilan memang sering kali menipu," gumam Leo pelan pada dirinya sendiri, sambil membalikkan badan kembali menuju jalan utama. "Tapi suatu saat nanti, kamu pasti akan tahu siapa aku sebenarnya."
Langkah kakinya kembali bergerak menyusuri jalanan yang semakin sepi. Ia kembali mengeluarkan secarik kertas berisi petunjuk arah dari saku jaketnya, mencoba memfokuskan pikirannya kembali untuk mencari rumah kakeknya, melupakan sejenak kejadian tadi sore yang membuatnya sedikit gusar. Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya, menyisakan cahaya jingga kemerahan yang indah namun cepat memudar di ufuk barat. Suasana kota mulai berubah, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, dan suara hiruk-pikuk kendaraan mulai berkurang digantikan suara jangkrik yang mulai bersahutan dari balik pagar-pagar rumah warga.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit lagi, melewati deretan rumah besar dan halaman yang luas, pandangan Leo akhirnya tertuju pada sebuah bangunan rumah kuno yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Rumah itu dibangun dari campuran kayu dan bata merah yang sudah mulai menua dimakan waktu, memberikan kesan teduh, tenang, dan sangat asri. Di halaman depannya yang luas, tepat seperti keterangan di kertasnya, tumbuh sebatang pohon mangga besar yang sangat rimbun, daun-daunnya menghijau segar dan rantingnya yang panjang menjulur hampir sampai ke pinggir jalan. Itu tandanya. Itulah rumah kakeknya.
Leo mempercepat langkahnya menuju gerbang kayu besar yang dicat warna hijau kusam itu. Belum sempat ia menekan tombol bel atau mengetuk pintu pagar, pintu itu sudah terbuka perlahan dari dalam. Seorang lelaki tua dengan rambut dan kumis yang sudah memutih seluruhnya muncul di sana, berdiri tegak meski usianya sudah lanjut. Wajahnya berkerut penuh pengalaman hidup, namun matanya bersinar cerah dan hangat saat melihat sosok cucunya berdiri di sana. Itu adalah Kakek Hardi, satu-satunya kerabat dekat yang Leo miliki di kota ini.
"Nah, akhirnya sampai juga kamu, Le," sapa Kakek Hardi dengan suara parau namun penuh kehangatan. Ia melangkah keluar dan langsung memeluk tubuh cucunya yang jauh lebih tinggi besar darinya itu dengan erat. "Kakek sudah menunggu dari tadi. Agak khawatir juga lho, takut kamu tersesat atau ada halangan di jalan."
Leo membalas pelukan itu dengan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. Di depan kakeknya, Leo selalu merasa menjadi anak kecil yang lembut dan polos, terlepas dari seberapa garang atau dingin penampilan luarnya. "Maaf ya, Kek. Agak lama sedikit di jalan karena aku sempat salah belok. Tapi untunglah akhirnya ketemu juga rumahnya. Rumah Kakek besar dan indah sekali, tenang banget suasananya."
Mereka pun masuk ke dalam pekarangan rumah. Udara di dalam sana terasa jauh lebih sejuk, beraroma tanah basah dan wangi bunga-bungaan yang ditanam rapi di sisi kanan dan kiri jalan setapak menuju beranda. Di ruang tengah, suasana hangat langsung menyapa. Ruangan itu berpenampilan sederhana namun tertata rapi, berisi perabotan kayu jati tua yang kokoh dan beberapa lukisan pemandangan alam yang tergantung di dinding. Seorang wanita paruh baya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sana segera menghidangkan teh hangat dan kue pisang yang masih panas ke atas meja kayu besar di tengah ruangan.
Leo duduk bersandar sejenak, melepaskan rasa lelah setelah perjalanan panjang dan kejadian yang cukup melelahkan secara batin tadi sore. Saat ia melepaskan jaket kulit hitamnya dan meletakkannya di kursi sebelah, kilauan tindik di telinga kirinya terlihat jelas tertimpa cahaya lampu kuning ruang tamu. Kakek Hardi menatap sejenak ke arah telinga cucunya itu, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum kecil, tidak sedikit pun terlihat kaget, marah, atau memprotes penampilan cucunya yang nyentrik itu.
"Masih saja dengan gaya kamu yang begitu ya," ujar Kakek sambil tertawa pelan, menyeruput teh hangatnya. "Di kampung saja kamu sudah paling beda, di sini pun pasti bakal jadi pusat perhatian. Tidak takut ditegur guru atau dikira anak nakal nanti?"
Leo mengangkat bahu santai, wajahnya kembali berubah datar dan tenang. "Biarkan saja orang berpendapat apa, Kek. Selama aku tidak berbuat salah dan tidak mengganggu orang lain, penampilan urusan belakang saja. Lagipula, tindik ini bagian dari aku, sama seperti sifatku yang pendiam dan suka menyendiri. Aku tidak mau berubah cuma supaya disukai orang banyak."
Kakek Hardi hanya mengangguk paham. Ia sangat mengenal watak cucunya. Leo memang anak yang keras kepala, punya prinsip sendiri yang sulit digoyahkan, tapi ia juga anak yang baik, jujur, dan sangat bisa diandalkan jika orang lain sedang dalam kesusahan. "Ya sudah, Kakek tidak akan melarang atau menyuruhmu mengubah apa pun. Tapi ingat satu hal saja: di sini aturannya agak berbeda. Sekolah yang akan kamu masuki besok cukup ketat peraturannya, meski mereka cukup toleran pada murid pindahan. Jadilah dirimu sendiri, tapi tetap jaga sikap dan nama baik keluarga kita. Paham?"
"Siap, Kek. Aku mengerti," jawab Leo singkat dan tegas.
Malam itu berlalu dengan cepat. Leo menghabiskan waktunya untuk menata barang-barang bawaannya di kamar tidur yang terletak di bagian belakang rumah, kamar yang luas, bersih, dan memiliki jendela besar yang menghadap langsung ke kebun belakang yang penuh tanaman obat dan bunga. Ia membersihkan diri, membiarkan rasa lelah menyelimuti tubuhnya, namun pikirannya masih terus melayang kembali ke sosok gadis bernama Lia itu. Entah kenapa, wajah itu sulit sekali ia hilangkan dari ingatannya, seolah ada benang tak kasat mata yang mengikat pikirannya padanya. Ia berharap besok pagi hari pertamanya di sekolah baru akan berjalan lebih tenang, tanpa kesalahpahaman atau kejadian tak terduga seperti sore tadi.
Keesokan harinya, matahari bersinar cerah dan hangat, menyelinap masuk lewat celah jendela kamar Leo, membangunkannya dari tidur nyenyak. Leo bangun lebih awal dari biasanya. Ia membersihkan diri, berpakaian rapi mengenakan seragam putih abu-abu lengkap dengan dasi dan topi sekolah yang sudah disiapkan kakeknya kemarin sore. Meski demikian, cara ia memakainya tetap memiliki ciri khas tersendiri. Kemejanya dimasukkan rapi ke dalam celana, namun lengan bajunya sengaja digulung sebatas siku agar terasa lebih lega dan bebas bergerak. Rambut hitamnya yang agak panjang disisir ke belakang dengan rapi, menampakkan garis rahang yang tegas dan wajah yang sangat tampan namun berkarakter keras.
Dan hal yang paling mencolok tentu saja tetap sama: tindik-tindik logam berkilauan di telinga kirinya. Empat cincin kecil melingkar di daun telinga, dan satu lagi anting gantung kecil di bagian atas. Di sekolah yang mayoritas siswanya berpakaian rapi, sopan, dan seragam dari ujung rambut hingga ujung kaki, penampilan Leo sudah pasti akan menjadi sorotan utama, bahkan mungkin langsung dicap sebagai pembuat onar atau anak bermasalah. Tapi Leo sama sekali tidak peduli. Baginya, penampilan adalah hak pribadinya, selama ia tidak melanggar aturan utama sekolah atau menyakiti orang lain. Ia berjalan keluar rumah dengan tas punggung yang disampirkan santai hanya di satu bahu, langkah kakinya panjang, tegap, dan penuh percaya diri seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa membuatnya gugup atau malu.
Perjalanan menuju SMA Merah Putih tidak memakan waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Saat ia melangkah melewati gerbang sekolah yang besar, tinggi, dan megah itu, semua mata yang ada di sana—mulai dari siswa yang baru datang, petugas keamanan, hingga guru piket—seketika tertuju kepadanya serentak. Bisik-bisik terdengar samar-samar di telinganya, menebak-nebak siapa pemuda tinggi besar dengan penampilan unik itu.
"Itu siapa ya? Murid baru pindahan?"
"Lihat deh telinganya... banyak banget tindiknya. Wah, pasti anak nakal nih, berandalan pasti."
"Iya, tatapannya dingin banget, seram. Tapi... eh kok kalau dilihat-lihat ganteng banget ya? Wajahnya tegas dan maskulin banget."
Leo hanya mengabaikan semua pandangan dan bisikan itu. Ia berjalan lurus menuju ruang guru untuk melapor, lalu mendapatkan arahan bahwa ia ditempatkan di kelas XI-B. Saat ia berjalan menyusuri koridor sekolah yang panjang dan luas menuju kelasnya, semakin banyak siswa yang menoleh, berhenti berjalan, atau menyikut temannya sambil menunjuk ke arahnya dengan heboh. Namun Leo tetap berjalan santai, wajahnya datar tanpa ekspresi sedikit pun, seolah ia sedang berjalan sendirian di tengah hutan belantara, bukan di tengah keramaian sekolah.
Sesampainya di depan pintu kelas XI-B, pelajaran belum dimulai sepenuhnya. Suasana di dalam kelas cukup riuh, penuh suara tawa dan obrolan seru antar teman sekelas. Saat sosok tinggi besar Leo muncul di ambang pintu, bersandar santai di kusen kayu pintu itu, suasana kelas seketika berubah hening seketika, seolah mati listrik. Puluhan pasang mata tertuju padanya serentak, penuh rasa penasaran, kaget, dan berbagai macam perasaan lain.
Leo berdiri di sana, memindai satu per satu wajah di dalam kelas itu dengan tatapan yang dingin, tajam, dan lepas. Kilauan tindik di telinganya sangat jelas terlihat dari sudut manapun ia berdiri. Beberapa siswa laki-laki langsung memasang wajah waspada dan sedikit cemberut, mengira Leo adalah anak pindahan yang kasar, suka berkelahi, dan ingin berkuasa. Sementara para siswi... reaksi mereka sedikit berbeda dan jauh lebih meriah. Ada yang menutup mulut menahan teriakan heboh, ada yang saling berbisik sambil menunjuk-nunjuk, dan ada pula yang menatapnya dengan mata berbinar-binar kagum.
"Permisi, murid pindahan," ucap Leo singkat dan datar, suaranya rendah namun terdengar jelas memenuhi ruangan kelas yang kini hening itu.
Guru wali kelas yang baru saja masuk menyuruhnya maju ke depan untuk memperkenalkan diri. Leo berjalan dengan langkah tenang dan tegap menuju meja guru, lalu berbalik menghadap teman-teman sekelasnya. Ia berdiri tegak, satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana, sementara tangan lainnya menggantung bebas di samping tubuhnya. Penampilan seragam yang ia pakai berpadu dengan ciri khasnya yang 'liar' itu justru memancarkan pesona tersendiri yang sulit dijelaskan. Ia terlihat beda, ia terlihat misterius, dan ia terlihat sangat berkarisma.
"Kenalkan, nama saya Leo. Pindahan dari sekolah di pinggiran desa," ucapnya singkat, padat, dan jelas. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada basa-basi berlebihan, tidak ada kalimat 'mohon bantuannya' atau 'semoga kita akrab'. Leo hanya menyebutkan namanya, lalu diam menatap lurus ke depan.
Namun, meski perkenalannya sangat singkat, dingin, dan kaku, reaksi dari para siswi di kelas itu sangat besar dan menguntungkan baginya. Di sudut kanan kelas, sekelompok gadis yang duduk berdekatan langsung berbisik heboh, suaranya cukup terdengar jelas oleh Leo yang berdiri di depan.
"Wah... Leo... namanya keren banget ya!"
"Lihat deh, dia itu kalau diam kayak gitu kok terlihat sangat ganteng dan jantan ya? Wajahnya tegas banget."
"Iya, lihat tindik di telinganya itu lho. Awalnya aku pikir bakal seram atau norak, tapi pas dilihat-lihat... wah, cocok banget sama dia. Ganteng parah!"
"Tatapannya lho... dingin tapi bikin deg-degan, ya ampun!"
Leo mendengar semuanya dengan jelas. Ia sama sekali tidak tersanjung, juga tidak merasa malu. Ia hanya melirik ke sana ke mari, menatap sekilas wajah-wajah yang sedang membicarakannya itu dengan tatapan kosong. Baginya, pujian atau cacian orang lain sama saja, tidak ada bedanya. Ia sedang memindai satu per satu wajah di dalam kelas itu, mencari sesuatu, atau lebih tepatnya... mencari seseorang.
Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan, dari baris bangku paling depan hingga ke belakang, dari sisi kiri ke kanan. Hingga akhirnya, pandangannya terhenti di satu titik, di bangku keempat dari depan di sisi dekat jendela.
Jantung Leo seakan berhenti berdetak sejenak.
Di sana, duduk seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang dikuncir rapi, mengenakan seragam yang sangat bersih, disetrika licin, dan tertib sekali. Gadis itu sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam, memainkan ujung bukunya dengan gelisah, seolah merasakan ada sesuatu yang sangat tidak beres dan menakutkan. Wajah sampingnya... sangat ia kenal. Itu adalah wajah yang sempat menghantuinya sepanjang malam tadi. Itu adalah gadis yang kemarin sore ia tolong di dalam gang sempit, gadis yang lari ketakutan darinya. Itu adalah Lia.
Jadi, gadis yang kemarin menganggapnya penjahat ternyata ada di kelas yang sama dengannya. Takdir rasanya benar-benar memiliki cara yang lucu, tak terduga, dan seolah sengaja mengikat mereka berdua.
Lia perlahan mengangkat wajahnya sedikit saja, merasa ada tatapan tajam yang menancap kuat ke arahnya. Saat matanya bertemu dengan mata Leo yang sedang menatapnya lekat-lekat dari depan kelas itu, wajah Lia seketika berubah pucat pasi seolah melihat hantu. Matanya membelalak lebar, bibirnya sedikit terbuka karena kaget luar biasa, dan tubuhnya sedikit mundur menempel ke sandaran kursi karena refleks ketakutan. Ia mengenali wajah itu, ia mengenali tindik-tindik di telinga itu, dan ia mengenali sorot mata dingin itu.
Pemuda yang berkelahi kemarin sore. Pemuda yang mengerikan itu. Dia ada di sini. Dia teman sekelasnya.
Di mata Lia, dunia rasanya berputar seketika. Ia tidak pernah menyangka sama sekali bahwa sosok yang ia anggap berbahaya, kasar, dan jahat itu ternyata adalah teman satu sekolah, bahkan satu kelas dengannya. Rasa takut yang sama persis seperti kemarin sore kembali merayap dingin di sekujur tulang belakangnya. Ia buru-buru menundukkan kepalanya kembali sangat dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik buku pelajaran yang ia buka terbalik, berharap pemuda itu tidak menyadari keberadaannya, atau setidaknya sudah lupa pada wajah gadis yang lari darinya kemarin.
Namun, harapan Lia ternyata sia-sia belaka.
Setelah menyelesaikan perkenalan singkatnya, dan setelah guru menunjukkan kursi kosong yang ada di bagian paling belakang dekat dinding, Leo tidak langsung berjalan ke arah itu. Ia berjalan santai, melewati deretan bangku siswa di tengah, namun langkah kakinya berbelok ke arah kiri, tepat menuju tempat Lia duduk dengan tubuh kaku dan gemetar itu.
Semua mata di kelas mengikuti gerak-gerik Leo dengan penuh rasa penasaran. Para gadis yang tadi memujinya makin heboh melihat Leo berjalan dengan gaya santai dan dingin itu. Lia semakin menunduk dalam, napasnya tertahan, berusaha menyembunyikan diri seolah bisa menghilang begitu saja.
Langkah kaki Leo berhenti tepat di samping bangku Lia. Bayangan tubuhnya yang tinggi besar langsung menutupi cahaya matahari yang masuk dari jendela, membuat Lia merasa seperti dikepung lagi, persis seperti kejadian di gang kemarin sore. Leo berdiri diam di sana selama beberapa detik yang terasa sangat lama dan menegangkan, menatap punggung gadis itu yang terlihat tegang dan kaku sekali.
"Halo," ucap Leo pelan, suaranya rendah dan berat, hanya cukup terdengar oleh Lia seorang.
Bahu Lia bergetar hebat mendengar suara itu. Ia memberanikan diri mengangkat wajah sedikit saja, menoleh ke samping dengan hati-hati dan mata terpejam setengah. Di sana, Leo berdiri menatapnya. Tidak ada senyum ramah di bibir pemuda itu, tapi juga tidak ada tatapan jahat atau marah seperti yang ia bayangkan. Leo hanya menatapnya lekat, seolah ingin mengatakan: Aku tahu kamu, aku ingat kamu, dan kita akan sering bertemu mulai sekarang.
Lia tidak berani menjawab apa-apa. Ia hanya menelan ludah dengan susah payah, matanya berkaca-kaca karena gugup dan takut yang meluap-luap.
Leo tidak berniat mengganggunya lebih lama saat itu juga. Ia hanya menatapnya sekali lagi, lalu berjalan melewati bangku Lia, terus berjalan lurus menuju bangku kosong di baris paling belakang, tepat di sudut ruangan dekat dinding. Ia duduk di sana, menyandarkan punggungnya ke tembok, menyilangkan tangan di d**a, dan kembali menatap ke depan kelas dengan tatapan kosong. Namun, dari tempat duduknya yang kini berada tepat di belakang dan sedikit menyamping dari Lia, Leo bisa melihat punggung gadis itu dengan sangat jelas, bisa melihat setiap gerak-gerik kecilnya.
Di dalam hati Leo, ada rasa penasaran yang semakin tumbuh subur. Ternyata namamu Lia, dan kita satu kelas, batinnya tersenyum miring. Kamu masih takut padaku ya? Tenang saja... lama-kelamaan kamu akan tahu siapa aku sebenarnya, bukan seperti apa yang kamu lihat kemarin sore.
Sementara itu, Lia yang duduk di depan sana hanya bisa menahan napas sepanjang pelajaran berlangsung. Ia merasa ada sepasang mata yang terus mengawasinya dari belakang, membuatnya tidak tenang sedikit pun. Hari pertamanya di sekolah yang seharusnya biasa saja dan membosankan, tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang menegangkan, penuh teka-teki, dan penuh rasa waspada yang bercampur rasa penasaran. Semua itu, semata-mata karena kehadiran murid pindahan bernama Leo itu.
Di sudut belakang kelas, Leo tersenyum tipis, senyum kecil yang tak dilihat siapa pun, lalu memejamkan mata sejenak menikmati suasana baru ini. Permainan baru, lingkungan baru, dan gadis yang salah paham padanya. Ternyata hidup di kota ini akan jauh lebih menarik dan berwarna daripada yang ia bayangkan sebelumnya.