Wajah cantik yang mulai mengeriput itu tersenyum manis walau ada sedikit gurat kesedihan didalamnya. Kentara sekali wanita paruh baya itu berusaha menguatkan hati dan berusaha melapangkan d**a, apalagi ia tidak mau membuat wajah kecut suaminya semakin jelas terlihat oleh putri bungsunya itu. Ia yakin kasih sayang suaminya untuk putri bungsu mereka pasti lebih besar darinya, diam suaminya itu jelas menandakan kalau ia sangat khawatir pada anak kesayangannya itu.
"Mah, sini biar Syamsi yang bawa aja. Ummah jangan bawa yang berat-berat." Gadis berumur 18 tahun itu lantas akan membawa paper bag yang diangkat ibunya itu.
"Itu lihat, tangan kamu udah penuh gitu. Gak papa, ini ringan kok." Ibu Syamsi kembali tersenyum dan sekilas melihat ekspresi suaminya yang masih dingin, "Apartemen kamu ada di lantai berapa nak?"
Seolah teringat akan sesuatu, ibu Syamsi meralat ucapannya.
"Bah, apartemennya ada di lantai barapa?"
Apartemen yang akan Syamsi tinggali sekarang merupakan hadiah dari salah satu jama'ahnya Kyai Umar, yaitu ayah Syamsi. Hal itu pula yang akhirnya membuat ayah Syamsi menyetujui keputusan putrinya yang bisa dibilang 'tabu' itu. Pak Adam, salah satu jama'ahnya, memiliki seorang putri juga yang telah berkuliah di tahun kedua di Universitas yang sama dengan Syamsi. Maka dari itu, Kyai Umar sangat wanti-wanti pada Pak Adam agar putrinya bisa berteman sekaligus menjaga putri bungsunya itu selama mengenyam pendidikannya di ibu kota.
Pria paruh baya yang baru ditanya itu kemudian menghela nafas sambil mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku kemejanya. Dengan Ekspresi yang masih dingin, ia pun menyerahkan secarik kertas yang dipegangnya itu pada Agus, seorang santri senior yang telah menjadi tangan kanannya selama bertahun-tahun.
Laki-laki yang dari tadi berjalan di belakang mereka itu pun kemudian menerima secarik kertas itu dengan hormat dan membacakan alamat lengkap sebuah apartemen yang akan ditinggali oleh putri bungsu gurunya tersebut.
Dengan tangan yang penuh tas dan koper, Agus membungkuk dan menunjukkan jalan kepada keluarga gurunya itu. "Silahkan Pak Kyai, Bu, Ning, apartemen Ning Syamsi ada di lantai tujuh." Ucap pria 30-an itu sambil mempersilahkan keluarga gurunya untuk berjalan terlebih dahulu.
"Kamu duluan saja, Gus." Ucap Kyai Umar, nama ayah Syamsi sekaligus pengurus pondok pesantren di daerahnya itu.
Dengan senang hati Agus pun segera berjalan dan menunjukkan arah kepada keluarga gurunya itu. Setelah sampai di unit apartemen yang dimaksud, Agus menurunkan semua barang-barang yang dibawanya kemudian kembali ke mobil untuk membawa barang-barang yang tersisa. Selain itu, Agus juga harus menelpon santri-santri yang bertugas membawa perabotan untuk Ning Syamsi yang belum juga sampai.
Afifah, santriwati senior yang juga ikut untuk mengantarkan putri Kyai-nya segera membereskan barang-barang milik Ning Syamsi bersama Syamsi serta ibunya. Sedangkan kyai Umar, duduk di sofa ruang tamu bersama Pak Adam yang juga kebetulan sedang berada di apartemen putrinya dan segera datang ke apartemen milik Ning Syamsi setelah mengetahui bahwa keluarga Kyai Umar telah sampai.
Bersama Pak Adam, hadir juga putrinya yang Kyai Umar titipkan Syamsi kepadanya.
"Nak Pani, saya titip putri saya ya, Syamsi." Ucap kyai Umar dengan nada yang terlihat letih, meskipun semua itu tak sedikitpun mengurangi wibawanya.
Stephanie, putri sulung Pak Adam itu pun hanya mengangguk dengan canggung. Apalagi nafasnya masih tersendat-sendat akibat ayahnya yang tiba-tiba menyuruhnya untuk memakai baju Syar'i padahal ia baru pulang dari mall dan langsung menyeretnya untuk datang ke apartemen di sebelahnya ini.
Kyai Umar menghela nafas, "Saya sebenarnya kurang setuju dengan keinginan Syamsi untuk tinggal sendiri di sini, apalagi anak perempuan. Dia itu dari kecil gak pernah jauh dari Ummah-nya, tapi kok aneh banget mau kuliah sampai jauh begini." Pak Adam dan Stephanie hanya diam mendengar penuturan dari sang Kyai, Pak Adam juga mengerti dengan kekhawatiran yang Kyai Umar rasakan. "Tapi saya percayakan putri saya sama nak Pani ya?" Lanjut Kyai Umar.
Stephanie hanya mengangguk canggung, "Pak Adam itu insyaAllaah orang yang shaleh, insyaAllaah nak Pani diberi didikan yang baik oleh ayah nak Pani ya."
Mendengar itu, Stephanie meneguk kasar salivanya sambil tersenyum canggung. "Saya titip putri saya ya nak pani, jangan sampai dia kebawa pergaulan yang tidak baik." Ucap Kyai Umar dengan nada yang masih penuh dengan kekhawatiran.
Dan kyai Umar tidak tahu, apa yang terjadi pada putri bungsunya setelah menitipkannya pada putra Pak Adam itu.
***
"Lo gimana, sih? Lo kalo ngasih alamat yang bener!" pria dengan kaos dengan sebuah kemeja biru langit di luarnya itu nyaris saja membanting ponsel pintarnya jika tidak ingat ini di tempat umum. Kesalahan sedikit yang ditimbullkannya bisa saja menurunkan harga saham perusahaan ayahnya di pasaran. Memang terdengar konyol, tapi sebagai anak setidaknya ia tidak boleh memperburuk reputasi perusahaan ayahnya dengan membuat masalah.
Lawan bicaranya di seberang sana hanya bisa mengutarakan permintaan maafnya, dia lupa bahwa psikolog kepercayaannya telah berpindah tempat praktek. Untung saja dia merupakan teman baik dari pria tempramen yang sedang di teleponnya itu.
"Kirim aja nomor nya b*****t, biar gue ketemuan di tempat lain!" Finalnya sambil mematikan ponsel pintarnya.
Beberapa detik kemudian muncul notifikasi dari sahabatnya itu yang mengirimkan nomor psikolog kepercayaannya . Entah apa masalahnya itu, sampai berlangganan terapi ke psikolog.
"Halo, saya Aksa Rafardhan." Ucapnya begitu panggilannya tersambung, orang di seberang sana langsung menyambutnya dan mereka pun menentukan tempat janji untuk bertemu.
Akhirnya mereka bertemu di kafe yang ada di sebuah mall di pusat kota.
Sesi konseling pertamanya hanya memakan waktu sekitar satu jam, setelah selesai Aksa langsung berpisah dengan konselor-nya dan lagi Aksa memiliki janji dengan temannya.
Aksa berjalan keluar dari kafe kemudian berjalan menuju lift untuk turun ke basement untuk mengambil mobilnya yang terparkir di sana, Aksa rasa hari ini mall cukup lengang hingga ketika lift yang Aksa naiki terbuka, hanya ada satu orang di dalamnya.
Walaupun penampilannya cukup emm.. maybe 'nerd' dengan kerudung hitam polos dan kacamata dengan bingkai hitam pula, jangan lupakan masker karakter yang sangat norak, tapi kenapa dia yang malah langsung memalingkan penglihatannya dari Aksa. Aksa sedikit memutar bola matanya, seharusnya Aksa yang begitu mengingat penampilannya sangat udik, mencemari penglihatan saja.
Hatchih!
Sial, karena kehujanan kemarin, Aksa rasa sekarang dia terserang flu.
Aksa menaikkan sebelah alisnya, saat sebuah tissue dan sebuah masker karakter tersodor di depannya. "Ini," Ucap perempuan tadi di sebelahnya. Kemudian satu hal yang tidak akan membuat Aksa lupa pada orang itu..
Dengan sekonyong-konyong dia melangkah ke samping menjauhi Aksa, kira-kira satu meter jauhnya.