"Step aku gak mau ah, aku pulang duluan aja." Percayalah, ini bukan kali pertamanya. Syamsi rasa Abah-nya salah menitipakan ia pada gadis di depannya ini.
"Ih jangan gitu dong syam, ini gak akan lama kok. Lagian kali ini gue gak akan minum gue janji deh, lo ikut ya? Please! " Stephanie kembali menggenggam tangan syamsi yang tadi terlepas.
"Kamu tau kan Step itu bukan tempat aku, aku gak suka pergi ke tempat yang kayak gitu!" Rasanya Syamsi ingin menangis saja, tapi tertahan karena ingat, ia tak tahan dengan ejekan super menyebalkan Stephanie.
"Duh Syam ini yang terakhir deh ya? Gue jamin gak akan ada yang ganggu lo, lo bakalan aman diem di sana." ucap Stephanie meyakinkan Syamsi, "Apa lo tega biarin sahabat lo pulang malem sendirian? Please yaa!" bujuk Stephanie lagi dengan puppy eyes-nya.
"Lagian aku takut jadi pusat perhatian kalo pake baju kaya gini!" kata Syamsi sambil melihat baju yang dipakainya, dia menggunakan rok panjang warna hitam, memakai jaket hoodie warna navy, kerudung instan warna hitam dan sneakers berwarna putih. Sedangakan Stephanie, penampilannya jauh berbanding terbalik dengan Syamsi. Dia menggunakan jeans berwarna biru yang sangat pas di kakinya yang panjang, kemudian menggunakan atasan dengan bahu terbuka dan menggunakan heels yang tinggi.
"Nggak papa lah, lagian mereka juga gak bakalan merhatiin lo, mereka pasti lebih suka liat penampilan Darren daripada lo, ayo buruan!"
Sebelum Syamsi protes lagi Stephanie terlebih dahulu menarik tangan Syamsi masuk ke mobil miliknya.
"Step aku gak mau pergi ke club ah, pokoknya gak mau! " Rengek Syamsi pada Stephanie.
"Gak ada penolakan Syam, kalo ini bukan Darren mungkin gue bakal anterin lo dulu ke apartemen." kata Stephanie sambil menutup pintu mobil bagian penumpang, lalu pergi ke bagian kemudi.
Mereka pun melesat ke club yang disana akan dirayakan ulang tahun Darren yang merupakan pria most wanted yang ada di kampus mereka.
Setelah lima belas menit melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai di club tersebut.
"Aku tunggu di mobil aja Step." Ucap Syamsi sambil melihat Stephanie yang sedang membuka seatbelt-nya.
Refleks Stephanie menoleh ke arah Syamsi,"Segitunya ya lo, gimana kalo ada orang yang culik lo hah? Mau bilang apa gue sama bokap gue dan keluarga lo? Lagian di mobil itu pengap Syam, mau mati lo? "
"Ya udah aku diem di luar aja aku gak mau masuk pokoknya!" Syamsi tetap kukuh dengan prinsipnya.
"Ah bacot lo, ayo!" Stephanie langsung keluar dari mobilnya, kemudian membukakan pintu kemudi dan menarik tangan Syamsi.
"Gue bakalan cari tempat aman buat lo." Kata Stephanie yang terus menarik tangan Syamsi hingga sampai di dalam club.
Di depan pintu club, terdapat dua orang penjaga dengan tubuh super kekar. Stephanie lalu mengeluarkan sebuah kartu dalam tasnya, sebuah kartu undangan yang susah payah ia dapatkan dengan menyuap temannya. Darren memang tega, ia sengaja tidak memberikannya kartu undangan. Tapi, bukan Stephanie namanya jika ia tidak bisa mendapatkan kartu itu.
Salah satu penjaga dengan sebuah bekas luka di pelipisnya itu kemudian melihat kartu yang Stephanie berikan, setelah itu ia mengangguk untuk membiarkan Stephanie masuk. Namun, baru saja Stepanie akan melangkah, ia langsung ditahan oleh penjaga yang satunya.
"Kartu mbak yang ini mana?" Ucapnya dengan logat jawa yang agak kental.
Stephanie memutar bola matanya sambil melengos, "It's a VIP card!" Ucapnya dengan nada yang songong sambil mengacungkan kartu yang tadi telah ditandai oleh penjaga yang satunya. Kartu VIP miliknya memang bisa digunakan untuk dua orang, tidak seperti kartu undangan yang lainnya. Tidak salah ia mengorbankan barang berharganya untuk kartu yang satu ini, pikirnya.
Kedua penjaga itupun mempersilahkan Stephanie dan Syamsi untuk masuk, walapun dengan tatapan yang heran melihat pakaian Syamsi yang lebih sesuai dikenakan untuk pergi ke pengajian.
Ketika masuk club, Syamsi langsung bisa mendengar musik yang sangat keras yang bisa membuat kepalanya berdenyut-denyut. Kedua alisnya langsung menyatu ketika melihat keadaan club yang temaram. Jika saja tadi dia pulang lebih awal dan tidak menunggu Stephanie, pasti dia tidak akan berakhir di tempat seperti ini, seharusnya memang dia tidak usah bertemu Stephanie ketika pulang.
Stephanie menuntun Syamsi menuju counter kemudian memesan minuman untuknya.
"Lo mau minum apa Wine atau Champagne? "
"Gak lucu Step!" Jawab Syamsi dengan wajah kesalnya yang menurut Stephanie dia malah terlihat lucu.
"Oh jadi mau vodka nih? " Stephanie tambah gencar menggoda Syamsi.
"Aku air mineral aja!" Jawab Syamsi cepat, sebelum ia benar-benar kesal dan lari dari tempat maksiat ini.
"Kalo mau air mineral mah lo diem aja di rumah Syam, pake ke sini segala." Ucap seseorang yang tiba-tiba sudah ada di belakang mereka dan memesan minumannya.
Syamsi dan Stephanie otomatis berbalik ketika mendengar suara di belakang mereka.
Dia Anastaya, sahabat mereka juga. "Aku diseret sama Stephanie, tadinya juga aku mau pulang." Ucap Syamsi, dan Stephanie hanya melengos mendengar rengekan Syamsi itu.
"Eh Na kemana aja lo? Dari tadi gue cari-cari lo tau!" Stephanie berucap kesal pada Ana. "Kalo tadi lo gak ngilang, ni anak gak akan gue tumbalin."
"Ck, ngenes banget sih lo, sampe ngajak anak polos kayak dia." Ana tertawa mengejek," Lagian gue gak jomblo kayak lo sama si Syamsi Step, pergaulan gue gak sebatas sama lo berdua, gue masih punya pacar yang bisa diajak kemana-mana."
"Sombong amat lo, jangan salah gue masih PDKT ya." Stephanie berucap dengan nada congkak yang dibuat-buat.
"Elah nungguin si Darren lo? Dia udah punya pacar juga. Sadar Neng, jan kebanyakan halu, lu!"
"Gue tau," Jawab Stephanie tak acuh.
"Sudah kuduga lo mau jadi pelakor ya Step, parah lo! Suka boleh, b**o jangan ya. Inget, hidup lo udah berat, jangan nambah beban lagi." Ana menggelengkan kepalanya, bersikap seolah dia sudah jengah dengan sahabatnya itu.
"k*****t lu, pelakor pale lu! Ingatlah wahai saudari Ana, apa kata pepatah. 'Sebelum janur kuning melengkung, masih bisa ditikung!'"
"Serah lo deh ijah, semoga lo bisa segera sadar dan bertaubat dari dosa dengan penuh rencana dan kesadaran lo itu."
"Iya udah deh sana lo! Jangan curhat sama gue lagi kalo lo putus sama pacar lo kali ini ya! " Teriak Stephanie tanpa sadar ketika Ana melengos pergi begitu saja.
"Kali ini langgeng, liat aja!" Jawab Ana dengan sama berteriak. Syamsi yang dari tadi hanya jadi penonton, hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua temannya itu.
"Mas, saya mau Long Island." Ucap Stephanie kemudian pada seorang bartender dibalik counter. Syamsi tidak mengerti pada apa yang Stephanie pesan, kedua kata itu di telinga Syamsi terdengar seperti nama tempat.
"Baik mbak." Jawab bartender itu dengan ramah.
Segera setelah Stephanie memesan minuman itu, bartender tadi langsung bergegas mencampurkan beberapa minuman pada sebuah gelas yang cukup tinggi serta terdapat cukup banyak es di dalamnya. Minuman itu tampak seperti teh, jadi Syamsi pikir Stephanie tidak macam-macam kali ini.
Setelah minuman itu sampai, Syamsi baru teringat satu hal.
"Tunggu mas," Stephanie langsung melihat ke arah Syamsi saat mendengar interupsi tiba-tiba itu.
"Kenapa Syam, lo mau?" Tawar Stephanie dengan nada geli.
"Bukan," Ucap Syamsi, bartender yang tadi Syamsi panggil datang menghampiri Syamsi. "Iya mbak, ada apa?"
"Minuman ini," Syamsi mengarahkan bola matanya pada minuman Stephanie, dan Stephanie langsung mengumpat dalam hatinya. "Ini ngandung alkohol gak mas?"
Bartender itu melirik Stephanie sekilas, kemudian tersenyum canggung. "Nggak kok, Syam. Apaan sih, ini cuma es teh kali." Sela Stephanie dengan cepat.
"Aku gak nanya kamu." Syamsi mendelik pada sahabatnya itu. "Gimana mas?"
"Tentu saja mbak, Long Island mengandung alkohol dengan konsentrasi yang cukup tinggi yaitu sekitar 20%." Ucap bartender itu dengan jelasnya, sampai menyebutkan berapa persen kadar alkoholnya.
"Tapi ini dicampur teh mas?" Tanya Syamsi lagi yang membuat Stephanie semakin geram, 'bikin malu aja sih ni anak'.
Bartender itu tersenyum kembali, "Nggak mbak, walaupun kelihatan seperti teh, Long Island dibuat dari vodka, tequila, gin, rum, dan-"
"Mas minumannya gak jadi, ini dibayarin yang punya acara kan mas?" Ucap Stephanie yang menyela penjelasan bartender tersebut.
"I-iya mbak." Jawab bartender itu, agak bingung juga dengan drama persahabatan di depannya ini.
"Yaudah bye mas, lain kali aku gak ajak dia lagi!" Setelah mengucapkan itu, Stephanie langsung menyeret Syamsi.
***
"Lo diem aja di sini, gak terlalu berisik kan?" Sungut Stephanie dengan nada kesal.
Melihat kekesalan Stephanie, Syamsi jadi merasa tidak enak juga. "Jangan gitu dong mukanya, kamu kan janji gak akan minum." Syamsi mengerucutkan bibirnya karena Stephanie juga salah, karena mengingkari janjinya.
"Rese lo, sekali-kali gak papa kali! Lagian mana ada di club minumnya air putih doang, pergi aja sono ke warkop."
"Ya gak papa, mau di club kek, di warkop kek, memakan dan meminum minuman haram itu ya tetep gak boleh Stephanie."
"Dikit doang masa gak boleh."Kata Stephanie tetap ngotot.
"Ya, mau dikit mau banyak juga tetep bakal bikin sholat kamu di banned 40 hari Step." Ucap Syamsi dengan nada sedikit geram, "Lagian, kalo sampai ayah kamu tahu bisa berabe kamu Step."
"Ayah gak ada di sini. Dan lo gak punya bukti."
"Ada kamera dashboard kamu."
"Wah! Jadi jaksa aja lu sana! Ngapain susah-susah ngambil jurusan komputer." ucap Stephanie dengan nada sarkasnya.
"Abah gak ngizinin."
"Ck, dahlah. Gue ke tempat Darren dulu ya, keburu telat. Lo jangan macem-macem di sini." Ucap Stephanie akhirnya, kemudian lantas pergi.
“Kamu yang jangan macem-macem.” Balas Syamsi sambil merengut.
“Iya bawel, udah ya. Bye!”
Syamsi melihat sofa yang di sana tidak ada orang satupun, dan sofa itu jelas terlihat sangat nyaman karena memang ini adalah club elit dan pasti barang-barang yang ada di club ini pun tidak akan mungkin barang murah. Akhirnya Syamsi memutuskan untuk menunggu di sana sampai Stephanie selesai dengan urusannya di acara ulang tahun Darren ini.
Syamsi pun duduk di sofa tersebut, 'setidaknya di sini tidak terlalu berisik dan jauh dari keramaian' pikirnya. Dia merogoh saku hoodie-nya kemudian mengambil ponsel pintarnya dan membaca beberapa berita, itu dia lakukan untuk mengusir jenuhnya. Dia juga membuka beberapa sosmed miliknya, apapun asal ia tidak bosan.
Lama ia menunggu dan ini sudah sangat larut, lalu Syamsi melihat jam di pojok kiri atas smartphone-nya, 23.10. Ya Allah bagaimana ini?! Kemana Stephanie? Katanya tidak akan lama, tapi sampai sekarang dia belum kembali. Apa yang harus Syamsi lakukan? Apa dia harus menembus keramaian itu? Oh tidak-tidak, melihat mereka yang sedang menari sambil meminum alkohol saja itu membuat Syamsi pusing, bagaimana ini?
Oh benar! Syamsi harus meneleponnya, 'Stephanie ini benar-benar! ' rutuknya dalam hati. Tapi betapa kesalnya dia saat Stephanie tidak juga mengangkatnya. Syamsi mencoba sekali lagi dan hasilnya sama saja. Yaampun, akhirnya dengan mengumpulkan tekadnya, Syamsi pun mulai memberanikan diri untuk membelah lautan manusia-manusia yang sedang menari itu.
Dalam hati Syamsi terus merapalkan do'a dan terus berdzikir, Syamsi menggunakan kupluknya agar orang-orang tidak bisa terlalu jelas melihatnya. Dia pun mulai berjalan dan melewati beberapa orang yang sedang mabuk sambil menari atau menari sambil mabuk, entahlah!
Dia juga terus mencoba menelepon Stephanie, walaupun Stephanie tak kunjung mengangkatnya, yaampun Syamsi mulai mearasa sesak. Kenapa rasanya orang-orang tambah banyak? Tapi demi untuk bisa pulang dan bertemu Stephanie, Syamsi pun terus memaksakan dirinya untuk berjalan.
Awalnya jalan biasa, kemudian semakin cepat, semakin cepat Syamsi malah berlari! Sekarang ia tidak peduli, pokoknya dia hanya ingin keluar dari tempat ini, dia lebih baik menunggu di mobil atau dekat mobil saja dari pada di dalam sini, dia benar-benar tidak tahan!
Syamsi terus berlari, berusaha mencari pintu keluar tempat ini, tapi di mana? Ada lumayan banyak pintu di sini, aduh akhirnya dia pergi ke pintu di pojok kanan, mungkin itu pintu keluarnya pikir Syamsi, dia pun berlari dan tiba-tiba..
Brakkk!
Astagfirullah, apalagi ini?! Betapa terkejutnya Syamsi saat dia menabrak seseorang yang tengah membawa segelas minuman, dan gelas itu sekarang pecah dan menyebabkan baju si empunya basah.
Syamsi melihat orang itu dan betapa kagetnya dia, orang itu terlihat sangat...murka.
"Maaf," Syamsi buru-buru minta maaf pada lelaki di depannya. "Aku sungguh minta maaf, aku tidak sengaja." Ucap Syamsi dengan tergesa, perasaannya semakin campur aduk.
Syamsi pun langsung berjalan melewati laki-laki itu. Okay, dia seperti orang yang tidak bertanggung jawab, tapi ia benar-benar sudah pusing, dia ingin cepat-cepat pergi. Tapi saat Syamsi akan melangkahkan kakinya untuk pergi, tiba-tiba ada yang menarik kupluknya sehingga ia kembali mundur ke belakang.
"Mau kemana lo?" Ucap laki-laki yang menarik kupluk Syamsi itu. Syamsi tidak bisa melihat dengan jelas rupa orang yang menarik hoodie-nya disebabkan suasana remang tempat ini. Tapi satu hal yang Syamsi tahu, wajah orang itu sangat tidak bersahabat.
"Eh?" Syamsi mengernyit "Lepas!" kata Syamsi sambil menarik kupluknya. Berada sedekat itu dengan orang asing, apalagi laki-laki bukan hal yang biasa bagi Syamsi.
"Lo udah numpahin minuman gue dan buat baju gue basah, dan sekarang lo mau pergi gitu aja?" Tanya laki-laki itu dengan nada sarkasnya.
"Aku kan s-sudah minta maaf-"
"Lo kira maaf aja cukup? " Tanya laki-laki itu dengan nada dinginnya, membuat syamsi bergidik sendiri. Sekilas Syamsi lihat, laki-laki di hadapannya mengernyit, tapi sepersekian detik kemudian air mukanya berubah menjadi dingin kembali.
"T-terus aku harus apa? A-aku gak sengaja."
Laki-laki itu mengangkat satu alisnya, "Lo harus tanggung jawab!"
Syamsi semakin resah, tanggung jawab? Syamsi harus tanggung jawab gimana? Cuci bajunya di sini, sekarang juga gitu? Mana mungkin! Kepala Syamsi semakin berdenyut nyeri, Stephanie memang pernah beberapa kali mengajaknya ke tempat aneh seperti Night Club, tapi baru kali ini Syamsi masuk. Dan sekalinya masuk, Syamsi langsung terkena masalah.
"T-tanggung jawab gimana? Aku harus cuci baju kamu?" Belum sempat lelaki di hadapannya bicara, Syamsi berkata kembali. "Gak mungkin kan? Kamu kan harus pake baju. Jadi maaf ya, permisi." Ucap Syamsi, lantas bergegas pergi lagi.
"Kita belum selesai!" Ucap lelaki itu, sambil menarik pergelangan tangan Syamsi.
"Lepasin!" Ucap Syamsi dengan panik karena gerakan impulsif tersebut sambil berusaha melepaskan cekalan laki-laki didepannya ini.
"Mau kamu apasih?! Kan aku udah minta maaf! Lepasin gak, kalo nggak aku bakalan teriak!" Jerit Syamsi tanpa sadar.
"Teriak aja," laki-laki itu menyeringai, dan itu malah membuat nyali Syamsi menciut, tapi ia tetap berusaha berani.
"Tolong! Tolong!" Syamsi tidak main-main, ia benar-benar berteriak, tapi bukannya takut laki-laki didepannya malah terkekeh.
Benar! Keadaan di sini kan berisik mana mungkin ada yang mendengar, tapi tiba-tiba...
"Syamsi!"
Syamsi langsung menginjak kaki laki-laki di depannya yang membuat cekalannya otomatis terlepas.
"Stephanie!"
***