Indi dan ayahnya saat ini berada dijalan menuju sekolah, dia sangat menikmati rasanya diantar ayah, merasa damai dan terlindungi. kira-kira kapan yah dia diantar seperti ini ah ya kelas delapan SMP, jalanan juga tidak begitu macat.
motor mereka berhenti ketika lampu merah, membuat indi harus sabar menunggu. lalu dengan tiba-tiba datanglah sebuah mobil hitam dengan atap terbuka, mungkin orang penguna jalan lain tidak menatap pemilik mobil bagus itu. tapi bagi indi yang katro tentu saja dia menatap mobil yang keren berada disampingnya ini, ternyata bukan karena mobilnya saja yang menarik perhatian indi, dia bahkan melihat seorang cowok menggunakan seragam SMA.
mata indi melirik tag nama cowok itu, namanya mark. cowok itu menatap lurus kedepan mungkin dia tidak sadar bahwa indi yang berada tepat di samping mobilnya sedang memandangi dia. cowok bernama mark itu membetulkan dasinya dan menyisir rambutnya kebelakang hanya dengan satu tangannya saja. entah sadar atau tidak indi sudah memandangi cowok itu cukup lama bahkan sampai motor mereka mulai jalan.
mobil itu juga mengambil jalan yang sama, karena posisi motor indi didepan tanpa sengaja mark menatap cewek yang juga meliriknya. buru-buru indi membuang muka, gila saja kalau dia ketahuan sama cowok itu. sedangkan mark hanya menatap binggung dengan apa tadi, buru-buru mark tancap gas dan melewati motor didepannya.
jalan yang dia lewati tidak begitu ramai karena ini jalan arah sekolahnya. namun tak jauh di area samping dekat sebuah gerbang yang lebar banyak mobil terparkir rapih disana, ya itu adalah mobil milik beberapa siswa yang diantar, mark masuk kedalam gerbang lebar itu. disana dia langsung melanjutkan mobilnya menuju gedung berwarna merah, tempat parkiran khusus anak kelas dua belas. ya inilah Diamond High Art School kalian pasti tahu artinya bukan, yah tepat sekali mark memang bersekolah disini.
dia tersenyum melihat lantai satu masih ada tempat yang kosong, buru-buru mark memarkirkan mobilnya disana, lalu kemudian keluar dari mobil. namun matanya tidak sengaja melirik orang yang berjalan didepan dia, cowok kurus namun berbadan tegak nan tinggi, melihat mukanya saja sudah membuat mark langsung memasang wajah kesal.
cowok itu adalah lucas, cowok yang memiliki ekspesi sangat tenang. lucas berjalan melewati mark begitu saja.
" Hoaaa...pagi hari ku jadi menyebalkan, cuma karena melihat dia. " gumam mark sambil tersenyum miring.
" Ada apa lagi, kenapa nga masuk. " tanya abas yang menatap indi masih berdiri disampingnya.
indi masih terdiam, dia masih tidak percaya bisa sekolah disini dan juga ini adalah suasana yang sangat berbeda. dulu dia hanya melihat sekolah ini ketika masih sepi tapi ternyata di pagi hari seperti ini suasananya memang berbeda sekali.
abas mendengus kemudian menguncang bahu indi dengan kedua jarinya.
" Jangan diam saja, ayo cepat masuk. "
" Hoo ya, ha ayah aku masih nga percaya bisa masuk kesekolah ini." ucap indi masih menatap luar gedung sekolah luar biasa ini.
" Sudah sana masuk. "
indi tersenyum menatap abas yang memasang ekspresi biasa saja, kemudian dia mendekatinya dan memajukan telapak tangannya.
" Apa? perasaan ayah udah ngasih uang saku. "
" Salim ayah. " ucap indi dengan kesal.
abas mengganguk, dan indi pun menyalami ayahnya.
" Sekolah yang bener. " ucapnya dengan nada datar.
" Pasti. " ucap indi memberikan jembol sambil memamerkan gigi ratanya.
" Yaudah aku masuk dulu, bye bye. " ucap indi dan berlari masuk kedalam gerbang yang lebar itu.
abas menyunggingkan bibirnya melihat indi yang berlari memasuki gerbang sekolah, melihat itu membuatnya teringat bagaimana pertama kali mengantarkan anak itu bersekolah. tapi ada satu yang membuat perasaannya aneh, melihat beberapa mobil yang terparkir dipinggir jalan seperti ini membuat abas sedikit gelisah, dia merasa seperti ada yang aneh saja. abas membuang napas beratnya, hah mana mungkin kan karena itu, ya mana mungkin. semua ini karena keberuntungan dan bakat dari diri indi sendiri karena itu putrinya bisa sekolah disini. abas menyalakan motornya kembali berusaha membuang pikiran negatifnya, dan dia kembali pulang kerumah untuk bekerja.
jalan mana yang harus indi lewati, wah sekolah ini memang benar-benar besar dan luas, indi rasa siswa baru mungkin memerlukan peta untuk menggigat semua area sekolah ini. semua orang terlihat sangat sibuk, siapa yang harus dia tanyai yah.
" Waahh, beneran? haa itu pasti akan seru banget. "
" Iyaaa, kamu benar-benar keren. "
" Oh ya? kalau gitu kalian juga harus datang tepat waktu nanti, jangan sampai kalian ketinggalan pestanya nanti. "
" Oke, lagian itu cuma di singapura kan? kita bisa pakai privat jet nanti. "
indi mengerutkan alisnya, bukan maksud menguping hanya saja jarak indi tidak begitu jauh dari mereka. apa yang mereka bahas sampai sesenang itu, matanya melirik beberapa orang yang berjalan dengan cepat memasuki sekolah, apa indi harus bertanya pada siswi-siswi itu, ya dia harus bertanya.
" Ah permisi. " ucapnya, membuat mereka langsung menatap indi dengan binggung.
" Ya? " respon salah satunya.
" Maaf menggangu obrolan kalian, aku cuma mau tanya ruang kepala sekolah dimana yah? "
" Kamu murid baru? "
" Ah ya, aku murid baru. " ucapnya dengan nada tidak enak.
" Kamu jalan lurus saja, lalu pertigaan belok kanan jalan sedikit lagi ada lift kamu bisa naik ke lantai dua. "
" Ah jadi ruang kepala sekolah dilantai dua rupanya. "
" bukan, itu ruang kesiswaan, kepala sekolah terlalu sibuk untuk mengurusi siswa baru. " ucap salah satunya lagi, namun sepertinya dia tidak menyukai indi.
" Oh begitu, terima kasih infonya. " ucap indi berjalan menjauhi mereka.
salah satu siswi itu menatap tubuh indi dari belakang, dari atas sampai bawah tidak ada barang mahal yang tertempel ditubuhnya.
" Kenapa? "
" Ah nga, cuma tadi anak itu, kayanya dia murid beasiswa. "
" Dari sekali lihat saja, aku juga tahu. "
" Ya, murid beasiswa memang sudah bisa ditebak kan." ucap siswi itu dengan nada becanda.
indi pergi sesuai arahan siswi tadi, sebenarnya tadi banyak lift hanya saja indi memilih lift yang benar-benar lurus sesuai jalannya dan sekarang dia berada dilantai dua tepatnya didepan ruang kesiswaan.
TOK TOK TOK
" Masuk. " ucap seseorang didalam.
" Selamat pagi bu. " ucap indi memasuki ruangan.
guru yang sedang menatap laptopnya itu mendongakan kepala, menatap siapa yang datang keruangan ini.
" Selamat pagi juga, silakan duduk. " ucapnya, indi pun duduk sambil tersenyum ramah.
" Jadi ada keperluan apa? "
" Saya siswa baru disekolah ini, saya yang mendapatkan beasiswa dari lomba mural itu. "
" Owh jadi kamu pemenangnya? "
" Ah iya bu. "
" Kalau begitu saya cek dulu ya. "
indi menggangukan kepala, dia suka dengan suara ibu guru ini, terdengar ramah dan juga orangnya murah senyum.
" Ah ya, kamu berada dikelas sebelas seni lukis satu, kamu ternyata sepertinya sangat berbakat melukis ya. " ucap guru itu dengan nada senang.
" Ah ya. "
" kalau begitu ikuti saya, sebentar lagi kelas mu akan dimulai. "
indi mengikuti guru itu, dia merasa setiap langkah dilantai ini terdengar sangat keras, bahkan terasa sangat lambat mungkin ini karena dia terlalu gugup. bagaimana respon siswa kelasnya nanti akan kedatangan indi, apa dia akan mendapatkan teman baru, entahlah dia tidak tahu. ini adalah hal pertama kalinya indi pindah sekolah, dia tidak pernah merasa seangsing dengan suasana ini. dia bahkan barus menggaruk kukunya sendiri sangkin gugupnya.
TOK TOK TOk
guru itu mengetuk pintu yang sudah indi tebak adalah ruangan kelasnya. lalu beberapa dektik kemudian munculah seorang pria berbadan tinggi yang gagah.
" Permisi pak, saya hanya ingin mengantarkan siswa baru bernama indi farhat abas dia anak yang memenangkan beasiswa lomba mural. "
" Ah ya, selamat pagi indi, makasih bu jihyo sudah mengantarkan indi. "
" ah ya sama-sama pak, kalau begitu saya pergi. "
" Ayo indi ikut saya. "
indi mengganguk dan kakinya perlahan melangkah masuk.
[ AKU BARU MENYADARI BAHWA DISINILAH KEHIDUPAN MULAI SEMAKIN BERUBAH, KEHIDUPAN KU DI DIAMOND HIGH ART SCHOOL, SEKOLAH YANG NAMPAK INDAH NAMUN...]
" Perkenalkan nama ku indi farhat abas, pindahan dari SMA..."
tangan kanan dia topangkan ke dagu, matanya yang sipit namun tajam menatap siswi yang sedang memperkenal diri. mulutnya masih mengunyah sebuah permen karet itu membuat seorang hyunjin semakin terlihat menawan. apa lagi anak itu bilang dia penerima beasiswa karena lomba mural, itu cukup membuatnya tertarik. bagaimana bisa siswa dari sekolah swasta biasa bisa masuk ke kelas predikat satu di seni hanya karena lomba mural, hyunjin jadi ingin tahu seberapa bagus teknik menggambarnya.
" Jadi anak-anak ada yang mau ditanyakan ke indi. "
semua siswa hanya diam saja, mungkin mendengar indi adalah siswa jalur beasiswa sudah membuat mereka malas untuk berkenalan ataupun bertanya.
indi melihat wajah anak-anak kelas ini, memandangnya dengan datar. sejujurnya ini merasa sedikit tidak enak ditatap seperti itu, tapi ada satu hal yang membuatnya terkejut yaitu hanya satu cewek dikelas ini, itu berarti dengan datangnya dia hanya ada dua siswi dikelas ini.
" Baiklah, indi silahkan duduk dikursi mu. "
Yeji menatap indi si siswi baru itu, dia memandangi indi dari atas sampai bawah sebelum cewek itu benar-benar melewatinya. sejujurnya mendengar indi bisa masuk kelas unggulan seni lukis ini benar-benar membuat dia kaget tapi melihat penampilan indi rasanya yeji tidak perlu khawatir. karena mana mungkin anak biasa seperti indi bisa menyainginnnya tidak akan, tidakan pernah.
" Baiklah anak-anak kita akan membahas materi matematika...."
" Hai, aku yeji. " ucap yeji menghadap kebelakang dengan senyumnya tak lupa dia juga memajukan tangannya.
" Indi. " balas indi menjabat tangan yeji tak lupa dia juga tersenyum senang, karena ada yang mau berkenalan dengannya.
" Senang bisa berkenalan, indi kamu mau keliling sekolah nanti? "
indi mengedipkan matanya, apa itu berarti yeji menawarkan pertemanan dengannya?
" Ah sekolah ini begitu besar dan kamu juga siswa baru disini, jadi aku pikir aku bisa mengajak mu berkeliling, agar kamu tahu dimana ruangan yang akan sering kelas kita gunakan nanti. "
ah sepertinya dia memang sagat beruntung sudah bisa sekolah ditempat sebagus ini bahkan berkenalan dengan anak sebaik yeji. indi pun tersenyum dengan manis.
" Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya yeji. " ucap indi dengan sangat tulus.
mereka berdua saling menatap dengan senyuman, entah ini akan menjadi pertanda baik atau buruk untuk indi. tapi sepertinya menurut yeji sedikit bermain dengan indi mungkin akan sedikit menyenangkan juga.
"yeji, indi berhenti menggobrol dan fokus belajar. " ucap pak guru dengan nada memerintah.
yeji memberikan senyum lebarnya tak lupa dia juga memperlihatkan giginya kemudian berbalik, cewek itu mengambil tisu basah dan mengelap tangannya yang bekas bersalaman dengan indi tadi. berbeda dengan indi yang menciumi tangannya karena aroma yeji sangat harum sekali, woaahh bahkan wanginya nga kaya parfum biasa.
-O0O-
Suara isakan menahan sakit itu membuat suasana semakin mengerikan, sebuah tangan yang letik berusaha melepas tangan yang melekat di lehernya.
" Akh- lepasin aku. "
" Ak-aku janji t-tidak akan meghlaporkannya. "
" Bagaimana bisa aku mempercayai omonggan mu itu? " ucap suara berat itu mendekati telinga cewek yang merintih kesakitan.
" Akgh Percaya pada ku lee, aku janji. "
" Setelah melihat mu ingin masuk keruangan BK, kamu pikir aku masih bisa percaya!! dengarkan baik-baik tyuzu, walaupun kamu ini pacar ku, aku nga akan segan-segan melenyapkan orang yang mencampuri urusan ku. "
mata tyuzu tidak percaya mendengarkan ucapan lee, dia meneteskan air matanya bahkan rasa sakit dilehernya tidak ada apa-apanya di banding rasa sakit di hatinya sekarang. tyuzu tersenyum miring, kecewa dengan apa yang dikatakan lee, sudah dia duga hanya dialah yang memiliki cinta dihubungan mereka. apa kurangnya dia, kenapa sulit sekali membuat hati lee menyukainya.
" Kalau begitu lenyapkan saja aku!!. " teriak tyuzu.
" kamu ingin lihat aku mati bukan! lenyapkan!! lenyapkan aku!! lenyapkan aku lee!! " teriaknya memukul d**a cowok tinggi dihadapnnya.
" Tenang aja, aku memang akan melenyapkan kamu hari ini, disini. " ucapnya dengan penuh tekanan.
lee melepaskan tangannya, dan dia berjalan pergi menjauhi tyuzu. sedangkan tyuzu terdiam menatap cowok yang dicintainya itu, apa lee akan meninggalkannya bukankah dia tadi bilang akan melenyapkan dia disini, sekarang cowok itu mau pergi kemana.
langkah demi langkah lee mulai menjahui tyuzu, dia tersenyum sangat m
engerikan sekali. lee menghentikan langkahnya dan berbalik.
dalam jarak sedikit jauh mereka saling menatap, tatapan yang berbeda satu sama lain.
" Tyuzu!! aku tidak pernah minta kamu untuk mencintai ku!!." ucap lee dengan keras.
tyuzu meneteskan air mata mendengarnya, cewek mana yang nga akan sakit mendengar cowok yang dia cinta berteriak seperti itu.
lee mengepalkan tangannya dan membuang napas lelahnya itu, tak lupa matanya pun menyorot tyuzu dengan sangat tajam.
" jadi. simpan saja, cinta mu itu. aku nga peduli." ucap lee dengan senyum miringnya.
lee berlari dengan sangat cepat menuju tyuzu, cewek itu bahkan hanya diam saja melihat kekasihnya yang tersenyum miring entah apa yang lee lakukan.
" MATI KAU!!!!" teriak lee, menendang tubuh tyuzu dengan kaki pajangnya dengan sangat kuat.
tubuh tyuzu seketika terpental jauh, terjun dari atap gedung ini. lee menggambil napas dengan sangat cepat, sudah dia bilang akan mengakhirinya disini bukan, dia tidak pernah main-main dengan ucapannya.
BAKKKKK!!!!
tubuh tyuzu terjatuh dengan sangat keras, itu membuat kepalanya bocor dan bersimpah darah, matanya pun terbuka sudah pasti dia mati di tempat. namun ternyata karena keadaan tyuzu yang teragis dan jatuh tepat dihadapan indi, membuat anak itu hanya melototkan matanya tidak bisa berkata-kata.
dihari pertamanya bersekolah, dia justru melihat hal seperti ini. indi menatap gedung, diatas dia bisa melihat seseorang berdiri disana. seorang cowok berdiri dengan gagahnya, seakan tidak terjadi apa-apa dibawah. apa cowok itu yang mendorong siswi ini sampai jatuh.
cowok itu menempelkan jari telunjuknya di bibir, indi melotot apa maksudnya dia harus diam tapi! tatapannya benar-benar mengerikan.
" AAAAAAAAAAAAAAA!!!!. " teriak yeji menjatuhkan minuman yang baru saja dia beli, teriakkannya membuat beberapa orang yang ada didalam ruangan langsung keluar, dan seketika itu tubuh yeji ambruk.
"yejii!. " teriak indi berlari ke yeji.
beberapa siswa lainnya juga terkejut dan sangat tidak menyangka dengan apa yang mereka lihat. bagaimana bisa ada siswa yang mengakhiri hidupnya disekolah ini. tidak ada siswa yang benar-benar mendekati kejadian itu mereka hanya menatapnya saja kemudian datanglah beberapa guru dengan wajah yang tak kalah kagetnya.
" Apa yang terjadi?!!. "
" AAA! apa dia mati? "
" Owhh tidak! apa yang harus kita lakukan. "
" Bagimana bisa dia terjun dari atas sana?!!"
beberapa guru lagi juga menghampiri indi dan menolong mereka.
" kamu tidak apa-apa? " tanya salah satu guru.
" Ya tapi teman ku, dia pingsan. " khawatir indi.
" Baiklah kami akan membawanya ke UKS. "
indi menatap khawatir yeji yang mulai diangkat itu, apa yang terjadi? dia harus apa, apa ini akan jadi masalah untuknya, entahlah kepala indi terasa sangat pusing sekarang.
indi kembali menatap keatas gedung, cowok itu sudah nga ada. kemana dia, cowok itu harus bertanggung jawab!. buru-buru indi menyusul yeri.
" Woaaahh! gila ini berita gila!!. " teriak salah satu siswi dengan hebohnya tak lupa dia pun berdiri dari kursinya.
membuat semua warga kelas yang sedang memulai pelajaran langsung menatap dia dengan binggung.
" Kamu!, kenapa bermain ponsel saat pelajaran?! " tanya seorang guru dengan nada kesal.
" Iya, ada apa sih hebot amat?! " tanya siswi lainnya.
" Madam, itu nga penting, ada berita heboh di group sekolah, ada siswa yang jatuh dari atap gedung area kelas sebelas. " ucapnya dengan wajah sangat heboh.
lansung saja seluruh siswi heboh mereka semua langsung mengecek ponsel masing-masing, dan melihat berita yang dimaksud. berbagai kalimat mereka lontarkan membuat madam hwasa juga kepo dan mengecek ponselnya.
[ Wahh ini gila ]
[ Gimana bisa, dia terjuan ]
[ Apa itu karena ulah orang lain atau memang murni ingin bunuh diri? ]
[ Aku nga bisa bayangin gimana perasaan orang tuanya ]
[ Katanya dia dari kelas dua belas model, apa benar? ]
[ Apa ada saksi? ]
[ Kejadiannya saat masih pelajaran, mana mungkin ada yang lihat ]
[ Woahh kepalanya pecah guyss ]
[ Yang aku lihat ada yang menyaksikan gimana cewek itu jatuh guys ]
[ Itu berarti ada saksi ]
[ Wahh pasti akan dilakukan penyelidikan ]
[ Aku kasihan dengan saksinya, pasti dia juga sangat syok ]
[ Semoga saja itu murni bunuh diri, kalau sampai sengaja didorong bener-bener gila sih, pembunuhnya masih berkeliaran ]
[ Guyss ternyata dia tyuzu anak kelas dua belas model dua gila cecan loh itu ]
[ RIP untuk anak brand ....]
[ ITU TYUZU?!! ]
[ Wahh saingan irene berkurang ]
[ Apa ini ada hubungannya dengan persaingan anak-anak model? ]
[ Apa ada hubungannya dengan irene ]
[ Bukankah mereka itu akur guyss _-? ]
[ Sama seperti anak seni lain, sedekat apa pun sebuah hubungan, tetap saja dalam dunia sekolah akan tetap ada persaingan ]
irene menatap santai semua percakapan di gorup, sedangkan beberapa siswa juga ada yang menatapnya. madam hwasa juga buru-buru pergi dari kelas. mata irene menerawang kedepan, menarik napasnya dalam-dalam, tersenyum tidak percaya dengan pesan-pesan itu.
" Apa benar karena iren? " bisik salah satu siswa.
ini semakin tambah menyebalkan, bagaimana bisa mereka membicarakannya dengan nada masih keras, apa itu yang namanya berbisik!
" Nga tahu tapi melihat sikapnya sepertinya kemungkinan bisajadi iya. " balasnya sambil berbisik.
" YYAAA!! " teriak irene menatap semua anak dikelas.
" Jangan lu pikir gue ini tuna rungu!!! lu jangan seenaknya berasumsi. "
semua siswi terdiam, tidak berani membalas ucapan irene itu. mereka terlalu tidak ingin berurusan dengan seorang irene.
" Kalau sampai ada di anatara lu semua bahas gue di group, gue nga segan-segan bawa kalian ke rana hukum, ngerti!. " ancam irene, kemudian berdiri meninggalkan kelas yang sudah beraura gelap.
beberapa siswi itu langsung diam tidak berani berkutik, ancaman irene benar-benar memepengaruhi mereka.
" Ya ada betulnya, lagian saat kejadian irene tidak bersama tyuzu bukan. " ucap siswi lain mencairkan aura gelap ini.
" Ya bisa aja. "
" Oh ya bener. "
[ BERAWAL DARI KEMATIAN SISWI ANAK MODEL ]
TBC