Abas tadi mendapatkan info bahwa sekolah ini dipulangkan dengan cepat, entah apa yang terjadi yang jelas dia hanya melihat putrinya itu berjalan keluar dengan tatapan aneh. sebenarnya apa yang terjadi, apa indi baik-baik saja.
indi berjalan dengan tatapan kosong, kejadian tadi itu benar-benar membuatnya syok. sekolah juga pulang lebih cepat, yang indi tahu anak yang jatuh dari gedung itu adalah anak model namanya tyuzu. apa ini akan menjadi masalah untuknya?
" Ada apa? " tanya abas dengan wajah binggung.
" Kenapa sekolah dipulangkan lebih cepat ? "
" Ayah. " panggil indi dengan suara rendah.
" Ada apa? "
Indi memeluk abas dengan erat, kejadian ini benar-benar baru pertama kali dialaminya, tentu saja itu membuat abas semakin binggung dan khawatir.
" Ayah..aku tadi lihat ada anak yang terjun dari gedung. "
jadi itu rupanya, bunuh diri? pasti indi sangat syok sekali. abas membalas pelukan indi dengan erat seakan menunjukan kekahwatirannya itu pada sang putri.
" Tidak apa, ayo pulang. " ucap abas melepas pelukan mereka. indi menerima helm yang diberikan ayah, bagaimana dia mengatakan bahwa dia mungkin akan menjadi saksi pada ayahnya.
ingatannya kembali saat digedung, bagaimana cara cowok itu menatap indi dengan memberikan sebuah kode yang baru indi sadari itu adalah sebuah ancaman. apa cowok itu psikopat, kenapa dia bahkan terlihat tenang saja, hah tapi yang jelas mulai sekarang indi harus waspada.
" Ada apa lagi? "
" Hah ah nga ada apa-apa ayo pulang. " ucap indi berusaha tenang.
sedangkan dikejahuan seorang cowok menatap indi dengan wajah kesal dan lelahnya.
" Haaa... dia memang suka buat orang jadi repot yah? " ucapnya dengan tatapan dingin, cowok itu merogoh sakunya dan mengambil benda berbentuk kotak.
jarinnya menekan sebuah nomer dan menempelkannya ditelinga.
" Halo..aku sudah mengurusnya. " ucap cowok itu dengan tenang.
" Tenang aja..aku yakin besok dia tidak akan bersaksi. "
matanya menatap datar mendengar suara balasan disana, ini benar-benar menyebalkan untuknya.
" Mana mungkin, aku yakin sekali walaupun dia akan bersaksi. anak itu nga akan mengatakan yang sebenarnya. "
panggilan itu pun berakhir, cowok itu berjalan mundur, yah tugasnya sudah selesai sekarang dan besok dia harus memantau cewek itu.
" Indi, indi. " gumamnya dengan nada mengerikan.
-O0O-
Jaemin
Hah dari mana aja! kenapa baru balas pesan ku hah?!
indi menatap muram layar ponselnya, ternyata jaemin mengirimi dia pesan sangat banyak. indi jadi merasa bersalah karena mematikan ponselnya hanya karena terkagum dengan sekolah baru, dia jadi melupakan na jaemin.
Ya aku sekolah lah!
Jaemin
Ya ya ya...jadi gitu mentang-mentang sudah bisa masuk sekolah idaman, jadi lupa dengan teman.
Terus gimana sekolahnya
indi mengigit bibirnya binggung harus mengatakan apa, dia sedikit ragu menceritakan apa yang terjadi hari ini pada jaemin.
Yaaah sekolahnya bagus
Jaemin
Kamu sedang ada masalah yah?
Kenapa cowok itu bisa tahu sekali? apa jaemin ini orang yang bisa baca perasaan dan pikiran orang dari kejahuan yah? indi tersenyum sembari mengetik di keyboardnya.
Woahh kayanya kamu bisa baca pikiran orang dari jauh yah?
Mana mungkin, ketikan mu itu terlalu pendek untuk anak yang sedang bahagia.
Jadi ada masalah apa?
Wahh jaemin benar-benar teman terbaiknya, bagaimana bisa tuhan sebaik ini memberikan teman sebaik dan sesombong jaemin. indi benar-benar bahagia bahkan dia pun mulai meneteskan air matanya, dia bersyukur sekali disaat dia benar-benar sedang ketakutan dan sedih jaemin selalu ada dan siap mendengarkan ataupun membantunya. indi pun mengetiknya sambil menangis.
Jaeminnnn aku, memang sedang sedih :'(
Tadi disekolah, ada anak yang terjun dari gedung.
Jaemin
BENERAN?!! terus gimana????
Anaknya meninggal, dan yang paling buat aku sedih adalah hanya aku yang menyaksikan gimana anak itu benar-benar jatuh dari gedung.
Jaemin
Kamu tenang dulu, jadi kamu akan jadi saksi nanti?
Anak itu bunuh diri atau dicelakai oleh orang lain?
Indi juga binggung apa dia harus bersaksi atau dia bersaksi tapi tidak mengatakan hal yang sejujurnya. apa lagi dengan surat yang barusan dia baca, entah dari siapa tapi isinya benar-benar membuat indi jadi binggung. indi menatap tulisan kertas yang ada ditangannya, apa yang harus dia katakan pada jaemin.
Dia mengakhiri hidupnya sendiri.
balas indi kemudian meletakan ponselnya, apa baru saja dia membohongi jaemin.
Jaemin maaf tapi, kayanya aku memang harus berbohong. batin indi dengan sedih.
-O0O-
Jadi disinilah sekarang indi berada, diruangan kecil dimana siswa akan ditanyai sebuah pertanyaan yang menyangkut permasalahan sekolah. tangannya bahkan meremas kain roknya sendiri, binggung harus menjawab apa.
" Nama siswi itu tyuzu, apa kamu mengenalnya? " tanya seorang pria yang indi yakin adalah guru bagian kesiswaan.
" Saya tidak mengenalnya, karena saya siswa baru disekolah ini. " jawab indi berusaha tenang, mata pria itu menatap intens wajah indi.
" Baiklah, lalu kenapa kamu ada disana saat itu? " tanya pria itu.
" Kelas sedang kosong, lalu teman baru ku yang bernama yeji mengajak ku berkeliling gedung ini. sebelum kejadian itu yeji mengatakan dia ingin membeli minuman jadi dia pergi ke kantin dan menyuruh ku menunggu disana. "
" Kenapa teman mu itu menyuruh kamu menunggu? dari pada mengajak kamu. "
indi mengigit bibrnya gugup, dia merasa tidak tenang ditatap seperti itu.
" kata yeji kantin tidak begitu jauh dan pasti sepi, sedangkan beberapa ruangan lain sudah akan dekat karena itu yeji menyuruhku tetap disana. "
pria itu mengerutkan alisnya, semakin penasaran.
" Beberapa ruangan lainnya? "
" Ya aku siswa baru, dan yeji hanya ingin memberi tahu ku ruangan dimana saja yang mungkin kelas kami sering pakai, karena itu kami berkeliling. "
pria itu mengerutkan alisnya, untuk kasus seperti ini begitu mudah diasumsikan bahwa hanya bunuh diri. namun bisa saja siswi itu dibunuh tapi saat kejadian hanya beberapa rekaman saja yang didapat karena cctv pun sedang rusak. kemudian pria itu memajukan badannya menatap indi dengan mata elangnya berharap semoga saja siswi yang sedang ditanyai ini berkata jujur.
" Lalu saat kejadian, apa kamu melihat ke atas gedung? " tanya pria itu dengan sangat serius.
mata indi mentap mata pria itu dengan berusaha serius juga, dengan seperti ini semoga saja orang ini percaya.
" iya. "
" Apa kamu melihat seseorang disana? "
Indi terdiam mendengarnnya, jadi sekarang apa yang harus dikatakannya. memikirkan ini dia jadi ingat dengan surat asing yang ada ditasnya. indi meneguk ludahnya.
Kamu melihatnya kan?
Urusi saja hidup mu, jangan coba ikut campur atau kamu memang ingin berakhir seperti dia.
oh ya besok mungkin kamu akan dipanggil untuk bersaksi, aku harap kamu tidak mengatakan yang sebenarnya.
karena, asal kamu tahu saja mau serendah apa suara mu ataupun tingkah mu itu, bahkan dinding sekolah ini akan mengawasi mu.
begitu juga aku, aku akan mengawasi kamu. entah dari jauh ataupun dekat.
jadi aku harap kamu masih menyayangi nyawaa diri mu sendiri.
dari aku yang sekarang masih melihat mu.
" Tidak ada. "
" Apa kamu yakin?! "
" Ya, saat aku lihat dia sudah jatuh dan aku melihat ke atas, memang tidak ada siapa-siapa. "
Jadi begitu, pria itu mengemasi sebuah kertas yang entah indi tidak tahu apa itu. pria itu terdiam, kalau bukan karena pembunuhan lalu karena apa lagi? apa memang karena masalah lainnya?.
" Baiklah, kamu boleh pergi. "
" Kalau begitu saya pergi dulu pak. "
" Iya. "
indi berdiri dan mulai pergi menjauh, dia mengapai knop pintu sambil membuang napas lega.
" Eh tunggu!. "
DEG
Ada apa lagi?
" Kalau ada hal mencurigakan apapun yang menyangkut kasus ini, segera lapor ke saya yah. "
indi membuang napasnya lega dan berbalik.
" Iya pak, pasti. " ucapnya dengan senyuman, pria itu menyuruh indi keluar dengan kode tangannya. indi pun keluar dengan langkah cepat.
" Hufff... kalau bukan dibunuh, lalu apa?. " gumam pria itu memberes kertas dimeja.
sedangkan dilain tempat, seorang cowok sedang duduk dengan tenangnya disebuah ruangan khusus jurusan seninya. bibir itu tertutup dengan lurus. setelah mendengarkan pembicaraan kedua orang itu melalui aerphonenya dia tidak tersenyum sama sekali walaupun ancamannya berhasil mempengaruhi siswi yang melihatnya.
ya memang benar, dia diam-diam telah memasang alat khusus disana. sehingga dia bisa menyadap suara pembicaraan mereka. ini hanyalah hal kecil yang dapat diselesaikan, sudah dia duga.
ponselnya bergetar, cowok itu melepas aerphonnya dan menempelkan ponselnya.
" Hey, aku sudah mengatasi semuanya kan?! kamu dengar apa yang mereka katakan kan? jadi mulai sekarang jangan bikin ulah yang enga penting lagi?! kamu tahu aku-"
cowok itu mengakhiri penggilan dan melempar ponselnya dimeja. tubuhnya dia senderkan ke kursi tak lupa tangannya pun dia angkat keatas menutupi matanya.
" Namanya indi yah? " gumam cowok itu dengan suara serak nan beratnya.
" Nama yang bagus. "
selama indi menuju kelasnya, tak sedikit orang yang menatap dia, bahkan mereka tak sungkan-sungkan membicarakan indi didepannya. apa salahnya juga dia menjadi saksi, yang membunuh tyuzu kan cowok itu bukan indi! ahh menjadi pusat perhatian karena kasus membuatnya menjadi jengkel saja, semua ini karena cowok itu! awas saja kalau indi melihatnya.
mungkin indi akan menyupahi dia dalam hati saja, mana mungkin lah indi menghampiri cowok itu. dia tuh pembunuh mana mungkin indi berani, apa lagi surat ancamannya ahh sepertnya cowok itu suka bermain kata.
hyunjin tersenyum melihat indi yang berjalan dengan wajah seperti sedang kesal. harus hyunjin akui hari pertama cewek itu memang buruk sekali disekolah ini. tapi dia juga sedikit kepo dengan kematian kakak kelasnya bernama tyuzu ya walaupun sebenarnya hyunjin bukan anak yang ingin ikut campur sih.
dengan langkah lebar hyunjin menghampiri indi.
" Woy. " panggilnya.
indi menghentikan langkahnya menatap kearah kiri, dimana ada cowok yang mungkin memanggilnya dengan tidak sopan seperti itu.
" Kamu bersaksi hari ini kan? " tanya hyunjin dengan wajah coolnya.
indi menatap sinis cowok ini, siapa dia datang-datang langsung tanya hal yang sensitif untuknya. tapi kenapa cowok ini tanya hal itu yah? apa jangan-jangan dia orang yang mengirim surat. haa..tidak mungkin cowok ini cowok yang diatap!
" Woy, aku tanya. " kesal hyunjin indi hanya menatapnya. ya memang hyunjin tampan, tapi dia kan sedang bertanya.
" Ah ya, hari ini aku bersaksi. "
" Terus, kamu mengatakan apa? "
indi diam, semakin binggung dan curiga. tuh kan pertanyaan dia itu seperti orang yang mengirim surat. atau jangan-jangan dia tangan kanan cowok itu? atau mungkin jangan-jangan dia malah cowok yang diatap? wahh kalau itu benar, berarti indi sedang menggobrol dengan pembunuhnya dong. ehh tapi ada yang aneh.
" Aku mengatakan tidak melihat pembunuhnya. "
" Jadi tyuzu dibunuh? " tanya hyunjin dengan nada sedikit terkejut.
haa..aneh lagi kenapa dia malah kelihatan kaget seperti itu? harusnya dia santai saja bukan kalau cowok ini pembunuh, sama seperti kelakuannya saat diatap menatapnya dengan tajam namun masih santai. atau jangan-jangan dia bukan?! ahh.. indi kamu benar-benar akan kena masalah sekarang.
Wajahnya cukup terkejut untuk seorang pembunuh, ahh kayanya aku salah nggomong.-batin indi dengan sedih.
" agh itu orang yang mengintrogasi ku mengatakan apa aku melihat pembunuhnya hanya untuk memancing ku. jadi aku mengatakan tidak melihat siapa-siapa diatas. jadi maksud aku, aku nga melihat ada tanda-tanda pembunuhan, jadi aku nga lihat pembunuhnya. " jelas indi panjang lebar.
hyunjin terdiam, indi bicara apa sih. hyunjin tidak maksud dengan penjelasannya.
" Maksud mu itu berarti murni bunuh diri. "
" Nah iya itu! tapi entah karena faktor masalah apa siswi itu berani bunuh diri. " bohong indi.
yahh bohong lagi. - batin indi.
" Yasudah, ayo kekelas. sebentar lagi pelajaran dimulai. " ajak hyunjin.
" Ha? jadi kamu sekelas sama aku? "
oh ya hyunjin lupa dia belum mengenalkan diri, eh tapi indi masa tidak mengenalnya? jelas-jelas kan dia cukup populer dikelas sebelas. ha menjengkelkan kalau seperti ini jatuhnya justru hyunjin yang malah mendekati indi. hyunjin memutar bola matanya dan menyondorkan tangan.
" Hyunjin, cowok yang sekelas sama kamu. "ucapnya dengan kesal.
" Indi far-" ucapnya terpotong.
" farhat abas.. yaaa..aku juga tahu, sekarang ayo ke kelas. " ucap hyunjin melangkah pergi.
mata indi melotot sangkin terkejut, badannya juga maju kedepan mengikuti langkah hyunjin dari belakang. cowok ini sadar tidak sih, tangan mereka masih saling menggengam. haa.... biarlah hyunjin juga lumayan, cocok untuk jadi pegangan dijalan nga malu-maluin.
sebentar lagi mereka akan dekat menuju kelas, tapi hyunjin mendengus karena segerombolan anak ada didepan pintu kelasnya. mereka itu adalah anak jurnalis sekolah yah tentu saja kalian tahu sendiri bukan tugas dari seorang jurnalis.
" Ehh tunggu-tunggu!. " ucap seorang cowok bermata sipit menghalangi jalan hyunjin dan indi.
" Kamu indi bukan? yang menjadi saksi atas kasus kematian anak model itu? " tanyanya lagi.
indi binggung dengan keadaan ini, mereka siapa kenapa membawa kemera? kenapa cowok yang tanya itu memegang mic? bahkan ada yang menyiapkan kertas dan pulpen.
" mereka wartawan sekolah. " ucap hyunjin sinis.
jadi indi akan diliput, wah apa tyuzu ini orang berpengaruh sampai indi harus diperlakukan seperti ini. kalau seperti ini indi malah merasa seperti menjadi tersangkanya.
" Boleh kami mewawancarai kamu sebentar. " tanyanya lagi.
" Sunoo, kita ada kelas. kenapa kamu malah membawa mic? " kesal hyunjin.
" Aku ini anggota jurnalis sekolah tahu, jadi aku sedang mengerjakan tugas ku. " jawab sunoo dengan sinis, namun sisi imutnya tak hilang.
" Jadi indi, kamu mau di wawancara kan? kan kan? mau yah hemm. " ucap sunoo dengan wajah polosnya.
indi binggung harus menjawab apa, tapi melihat anak yang dipanggil sunoo bagaikan melihat seekor kucing ahh imutnya. hyunjin memutar bola matanya malas.
" Sebentar saja. " ucap hyunjin.
" Aku tanya indi!. "
" Aku ketua kelasnya. " hyunjin pun menggegas. suno menatap hyunjin dengan sinis, lalu mendekati indi memajukan mic yang ada ditangannya. tak lupa dengan lainnya yang menyiapkan kamera dan tangan untuk mencatat.
" Baiklah, hari ini group sekolah sedang heboh akan kasus siswi yang terjun dari gedung. jadi apa betul bahwa anda yang menjadi saksinya? " tanya sunoo dengan nada formal.
indi berdehem, kenapa suara anak ini jadi berubah? itu membuat indi jadi gugup saja.
" Ya, aku datang menjadi saksi. "
" Hari ini anda juga diintrogasi atas kasus itu, apakah anda melihat siapa pembunuh siswi si anak model? "
semua orang terdiam, dengan apa yang dikatakan suno dengan nada ngegasnya. sedangkan indi hanya binggung bagaimana bisa cowok imut ini langsung berasumsi seperti itu, ya walaupun memang tyuzu benar dibunuh. tapi tetap saja mana bisa wartawan membuat pertanyaan seakan itu sudah fikss benar pembunuhan. indi yakin bahwa anak bernama sunoo ini hanya cocok menjadi wartawan sekolah dari pada wartawan yang sebenarnya.
" Aku tidak melihatnya, karena memang tidak ada orang lagi diatas gedung selain siswi yang terjun itu. " jawab indi berusaha tenang.
" Jadi maksud anda kasus ini murni bunuh diri? "
" Iya. "
Bohong lagi.-batin indi.
" Lalu apa ada-. "
hyunjin langsung menarik indi dan membawanya masuk kelas membuat suno menjadi kesal. hyunjin berbalik menuju pintu, menatap wajah jurnalis yang juga kesal.
" Ini kelas, dilarang wawancara dikelas apa lagi saat ada jam pelajaran. kalian pasti ingat kan karena itu kalian nga berani masuk pintu ini. " ejek hyunjin diakhiri seringakian lalu dia menutup pintu membuat wajah sunoo yang menjadi datar benar-benar tertutup karena pintu.
indi menatap gelisah pada yeji, bahkan ketika dia melewati bangku anak itu yeji tdak menegur sapa padanya. ah dia benar-benar kena masalah, masa baru satu hari berteman langsung menjadi musuh sih.
yeji menatap bolpoinnya, pikirannya masih saja menggingat kejadian itu. sampai sekarang pun dia masih syok dengan apa yang dia lihat. apa ini akan menjadi masalah untuknya, entahlah dia sangat gelisah hari ini. ohh ya indi kan habis di introgasi dia menjawab apa saja ya yeji jadi ingin tahu.
" indi. " ucap yeji membalikan badannya.
" ya? " jawabnya indi tersenyum.
" Hari ini kamu di introgasikan, kamu jawab apa? "
tidak indi sangka, ternyata yeji masih memperhatikannya. dia bahkan khawatir dan tahu kalau hari ini indi diintrogasi. yeji benar-benar anak yang perhatian.
" Pertanyaannya sangat banyak, tapi yang jelas aku mengatakan bahwa anak bernama tyuzu itu memang sendiri jatuh dari gedung.
" Jadi tidak ada pembunuhan? "
indi terdiam, dia harus menjawab apa. indi pun tersenyum dengan manis menutupi raut takutnnya itu, takut pembunuhnya ternyata mengawasinya sampai kelas.
" Agh hahaha mana ada, orang aku lihat diatas nga ada orang lagi, jadi itu murni bunuh diri. "
" Maaf aku tanya hal ini ya, aku cuma khawatir aja sama kamu. ada isu yang mengatakan tyuzu dibunuh dan kamu melihat pembunuhnya. jadi aku pikir itu mengerikan bukan jika memang tyuzu dibunuh dan kamu memang melihatnya, pasti mungkin pembunuhnya nga akan tinggal diam. " ucap yeji dengan khawatir.
" Aghh mana ada, dia murni bunuh diri. bukannya waktu itu kamu juga lihat tyuzu terjun kan? "
" Ya... tapi aku sangat syok dan pingsan. "
indi mengigit bibirnya, andai saja yeji tahu bahwa ke khawatirannya itu memang tepat. ah rasanya dia ingin berteriak ke yeji bahwa memang pembunuhnya itu nga diam saja. bahkan seharunya lebih baik saat kejadian itu indi sepert yeji saja langsung pingsan tidak perlu menatap ke atas.
pintu terbuka dan masuklah seorang ibu guru.
" Ya sudah mulai beberapa hari ini kita jangan kekantin atau mana pun ya, takutnya banyak orang yang menatap mu. aku khawatir sama isu itu. "
" ya makasih yeji, sudah khawatir sama aku. "
yeji tersenyum menatap indi.
" Iya tidak apa, bukankah teman harus saling membantu? " ucap yeji dan membalikan badannya keposisi semula, karena pelajaran sudah akan dimulai.
Ya teman memang harus saling membantu.-batin indi.
-O0O-
" Bagaimana bisa anak saya dituduh sebagai dalang atas kematian putri dia! saya tahu irene seperti apa!. "
" Tahu apa kamu!, anak ku sudah jelas pasti diperlakukan buruk oleh anak mu itu..hikss hikss..karena itu pasti tyuzu berani terjun karena tidak kuat dengan tekanan dari anak mu! "
" Maaf, tapi apa anda tahu bahwa putri anda yang bernama tyuzu itu memiliki hubungan baik dengan irene? mereka berteman dengan baik seperti remaja lainnya! pasti ada yang salah disini. "
" Sudahlah mengaku saja! "
" Mana bisa!, bawa bukti yang kuat sebelum menuduh, saya dan anda sama-sama orang tua dan dewasa, jadi jangan asal menuduh. "
irene menundukan kepala, tangannya dengan kuat mencengkram roknya sendiri. sudah dia duga orang tua tyuzu akan mendatangi sekolah dan menuduhnya seperti ini, tapi melihat mamanya yang duduk sambil berdebat seperti itu hanya untuk membelanya. iren hanya tersenyum miring didalam benaknya hanya berpikir, apa-apaan ini? apa yang dllakukan mamanya, irene tidak percaya orang tua yang sedang duduk disebelahnya adalah sang mama. mamanya yang hanya mendengar suara orang lain ketimbang suara irene sendiri.
CEKLEK
masuklah seorang pria, berjalan mendekat menuju orang yang mewawancarai indi tadi. membisikan sesuatu pada pria itu.
" Hasil introgasi keluar, dua orang menjawab hal yang sama dan dua orang lagi sama." bisik orang itu.
" Permisi, tapi ibunya tyuzu bolehkah kami juga mengintrogasi anda. " tanya pria itu.
" Apa-apaan, saya ini orang tuanya mana mungkin saya-"
" Maaf tapi hasil introgasi kami terhadap dua anak, mereka mengatakan yang menyangkung permasalahan orang tua tyuzu, bisa saja bukan remaja seperti tyuzu berani mengakhiri hidupnya karena keluarga. " ucap pria itu penuh tekanan.
" Jadi mohon kerja samanya. "
Irene menggangat kepalanya, siapa lagi anak itu, bukankah yang di introgasi hanya dia dan siswi baru itu? tapi baguslah dengan seperti ini irene tidak perlu terlihat dengan kasus tyuzu. ya memang mereka berteman namun tidak begitu dekat seperti yang orang lain pikir, tapi yang jelas irene tidak pernah memperlakukan tyuzu dengan buruk walaupun mereka masing-masing diam-diam bersaing.
" Sudah mati saja tetap merepotkan. " gumam lee diruang introgasi yang sepi.
ya lee memang habis di introgasi dia hanya perlu menjawab hal yang harus dijawab. cowok berwajah datar itu menyenderkan badannya, memikirkan bagaimana ekspresi orang tua tyuzu yang malah bisa jadi tersangka. untungnya lee lumayan tahu tentang keadaan keluarga tyuzu yang kacau, gadis itu walaupun lee tidak peduli masih saja selalu mencurahkan hatinya dan jadilah lee bisa memanfaatkan ini.
Jaemin
Sekarang kamu gimana sudah tenang?
Iya, aku sudah tenang.
Jaemin
Sudah jangan pikirkan kasus itu yang penting kan kamu sudah bersaksi dan mengatakan apa yang ada.
Fokus saja sama sekolah mu itu, dan jangan ikut campur masalah anak orang kaya, bisa merepotkan nanti.
indi mengerutkan alinya kesal dengan balasan jaemin ini, kan sudah indi bilang jaemin ini kadang anak yang sombong.
Jaemin, kamu cari mati yah? :)
Jaemin
Apa yang aku katakan itu benar, kalau kamu bermasalah dengan para anak orang kaya itu. bukan cuma dikeluarkan dari sekolah tapi kamu bisa saja diseret kerana hukum,lalu kamu akan dipenjara, dan kamu akan menghabiskan masa muda mu disana. bukan itu saja setelah keluar pun kamu mungkin akan sulit mendapatkan kerja karena mereka bisa saja sudah memasukan mu ke daftar orang jahat.
Bukan daftar orang jahat.
Jaemin
Ya..aku juga tahu.
jadi.FOKUS SAJA DENGAN SEKOLAH MU!
indi menarik sudut bibirnya, ah jaemin imut sekali kalau sedang kesal. jarangkan jaemin membalas sepanjang itu, dia pasti khawatir padanya. kalau seperti ini indi jadi rindu dengan jaemin si cowok elegan.
Jaemin, aku kangen sama kamu, ketemuan yuk.
Jaemin
Aku sibuk
Pulang sekolah?
Jaemin
Aku ada les
Sebentar saja kok :> aku yang teraktir hari ini.
Jaemin
Tidak. aku. sibuk.
Jaemin! kamu ini jual mahal banget sih _-
Jaemin
Cowok kaya aku ini memang mahal, jadi nga bisa dibeli dengan apapun. apa lagi cuma traktiran receh kaya kamu.
Jaemin! kamu sadar nga sih sikap kamu ini malah buat aku jadi tambah kangen!
Jaemin
Bodo, aku tahu aku ingin tampan
Itu mah kata bunda mu.
Jaemin
Kata bunda ku, aku ngangenin.
Indi menjauhkan ponselnya, tersenyum menatap balas jaemin yang aneh tapi menurutnya dia cukup lucu. ahh jaemin jadi banyak bicara yah semanjak indi meninggalkannya, apa harus seperti ini agar jaemin banyak bicara?
Jaemin, kamu kangen yah sama aku ;) makannya banyak omong.
Jaemin
Mengetik..
Sama aku juga kangen kamu kok :)
Jaemin
Jangan mengada, mana mungkin cowok tampan kaya aku rindu pada cewek kaya kamu.
Janganlah menghalu. itu tidak baik untuk jiwa mu.
Sadarlah wahai kentang.
Indi menutup mulutnya, untung saja dia ada diperpustakaan yang masih tidak begitu ramai.
" Bagaimana bisa dia semengemaskan ini? " ucap indi tersenyum menampakan gigi ratanya.
Jaemin.
kali ini aku serius, kangen sama kamu.
kalau tidak bisa ketemu kirimi aku foto mu sekarang!
Jaemin
Tidak bisa, sekarang aku sedang berkeringat habis olahraga. bisa-bisa kamu pingsan melihat ku yang sedang seksi ini.
Jaemin
Sudah jangan mengatakan kangen terus, nanti malam kita ketemu dicafe mahal, aku yang teraktir.
Nanti aku share lokasinya, bye.
Dijarak yang tidak begitu jauh dari indi, ada seorang mark yang sedang mengambil buku dirak. mark hanya menatap indi dengan binggung dan was-was takut anak yang sedang tersenyum itu memang tidak waras. dasar adik kelas yang masih dipenuhi awan pelangi, tunggu saja nanti ketika kelas dua belas apakah dia masih bisa tersenyum menatap ponselnya.
tapi melihat wajah adik kelas itu, sepertinya tidak asing. mark seperti pernah melihatnya, tapi dimana yah.
TBC