PART 101
“AKU RASA pahlawan kesiangan kamu sudah akan datang, Muse?” bisik Jung Michael, laki – laki yang seharusnya menjadi dosen aku, pembimbing aku, pengganti orang tua di kampus, dan orang yang seharusnya melindungi aku sebagai muridnya tepat di sebelah telinga aku. Aku menelan ludah saat napasnya menggelitik daun telinga.
Aku menahan rasa mual saat rasanya bingkai mulut pria itu menyentuh ujung telinga aku dekat. Aku menahan diri agar tidak menyumpah di depannya, tidak membuat pria ini semakin marah dan menjadi. Aku tidak tahu apa yang kapabel dia lakukan, dan aku tidak ingin mencari tahu. “Sepertinya pria yang hidupnya hanya selalu membuat hidup kamu susah itu akan datang. Apa kita harus menyambutnya?”
Aku bernapas dengan berat. “Jangan sakiti dia,” desis aku pelan. “Kalau kau be