PART 72
WE CAN’T TRUST anyone we meet, because not everyone will have our back. Including our friend. Kalimat itu terus menggema di dalam benak, meresonasi seperti sebuah panggilan yang tak mau berhenti. Aku keluar dari studio keren milik Daniel dengan perasaan yang campur aduk. Rasanya ada yang meraih ke dalam hati dan menekan segalanya dari semua arah. Aku merasa seperti ada jemari invisibel yang merenyuk buah hati, membuat aku tak bisa merasakan ritme detak yang normal. Rasanya seperti jantung mengalami fluktuasi ringan, yang membuat aku menekan bagian depan tubuh aku dengan kuat. Aku mencengkeram kaus aku dengan kuat, merasa seperti segalanya sesak. Including our friends.
Park Ian adalah laki – laki yang aku anggap sebagai seorang teman. Titel itu aku berikan padanya sebab dia orang