“Ros, lu nggak punya ibu bapak, ya?! Kok tiap hari dianterin supir mulu. Kasian amat lu!” Salah satu kalimat yang pernah ditujukan untuknya saat masuk ke SMP masih segar dalam ingatan. Ros lupa siapa nama anak laki-laki yang mengatakan kalimat itu, tapi ekspresi dan derai tawa usai ia mengucapkannya tak dapat mungkin Ros lupakan.
Ros yang tahu bahwa itu hanya sekadar umpan untuk merisaknya, mencoba tuk mengabaikan tak mengindahkan. Hanya saja, kadang manusia bisa lebih syaitan dari makhluk astral itu sendiri. Jadi makin Ros diam, anak-anak ini tidak akan mau berhenti sampai akhirnya Ros bereaksi. Sedangkan Ros sudah bosan juga memberikan respon.
“Kenapa kalian ingin tahu?” tanya Ros yang saat itu sedang pura-pura menulis di atas bukunya dan mendongakan kepala dengan lambat. “Kalau meman