“Sepertinya kalian memang tidak peduli dengan kelangsungan hidup dari anak kalian, ya?!” suara menggelegar tiba-tiba memecah keheningan malam. Ros sampai bergidik setelah ia mendengar suara tersebut. Tubuh Azil pun kemudian perlahan mulai tampak. Posisinya persis di depan ranjang dimana kedua orang tua nya berada. Ros tak dapat menyaksikan wajah Azil jika seperti ini. Makanya Ros pun merengsak maju lebih dekat agar bisa melihat sendiri wujud dari belis merah tersebut. Ros menahan diri semampu mungkin agar tidak kelepasan ikut campur pada apa yang akan terjadi nanti.
Ibu dan Bapak Ros saling pandang sesaat dan tampak tetap tenang meski kini di hadapan mereka sudah ada sejenis belis yang merupakan ketua dari para belis di muka bumi. “Kami menolak tawaranmu karena yang kami pedulikan hanya a