“Silakan dimakan, Hyun. Mungkin rasanya tidak seenak buatan ibumu atau seenak masakan Yeonji. Tetapi masakanku juga tidak terlalu buruk untuk dinikmati,” ujar Jian ketika ia baru saja selesai mandi. Rambut Jian masih basah. Mulanya ia berniat mengeringkan rambutnya dahulu sebelum turun ke meja makan, namun melihat tampaknya Hyunki menunggu Jian untuk sarapan bersama, Jian mengurungkan niatnya dan pergi ke meja makan.
Namun yang Jian dapati adalah tatapan tak henti dari Hyunki. Barangkali Jian tak tahu jika Hyunki berkali-kali menelan liurnya sendiri dan mendadak merasa kenyang melihat Jian dengan wajah segar dan berseri. Di matanya saat ini, Jian terlihat seksi.
“Hyunki?” Jian memanggil.
Hyunki buru-buru mengalihkan pandang dan mulai menyatap sarapannya. “Tenang saja, Ji. Aku akan memakan apa pun yang kamu masak. Soal rasa, aku akan terbiasa dengan masakanmu. Aku sudah mencicipinya tadi. Masakanku tidak kalah enak seperti restaurant bintang lima yang pernah aku makan, kok.”
Jian mendengus geli. Ia duduk di hadapan Hyunki dan mereka mulai menyantap makanannya dengan tenang. Meski bagi Jian, rasanya cukup gugup dan canggung makan di hadapan Hyunki. Karena rasa gugupnya, Jian tidak berharap ia akan salah tingkah dan malah membuat Hyunki tertawa.
“Jian, kamu tahu? biasanya orang-orang normal akan pergi berbulan madu, ah tidak, bukan, bukan bulan madu, tetapi bagi kita katakan saja sebagai liburan, Kamu tidak ingin?”
Hyunki sudah selesai memakan sarapannya. Begitu pun Jian. “Kamu bilang sedang sangat sibuk karena pergantian direktur, bukankah sebaiknya kita berlibur jika pekerjaan sudah bisa ditinggalkan? aku juga sedang membuat konsep busana baru untuk beberapa artis yang akan comeback bulan depan.”
Hyunki mengangguk. “Terserah kamu saja, Jian. Aku cuma menawarkan dan tawaran ini tidak akan kadaluwarsa. Jika kamu sudah senggang, kamu bisa memberitahuku. Aku bisa menyesuaikan jadwalmu. Lalu soal buku tabungan, kode keamanan dan nomor rekening, aku akan memberitahumu setelah acara kenaikan pangkat Yeonji selesai.”
Ah, benar, Jian baru menyadari. Vian pernah bilang jika Jian tidak perlu terkejut dengan jumlah tabungan yang dimiliki Ahn Hyunki, sebab Vian mengaku jika tabungan milik suaminya itu bisa jadi sepuluh kali lipat lebih besar dari pada milik Vian, atau bahkan milik ayahnya. Vian bilang, Hyunki pandai dalam mengoperasikan uang. Lalu Vian juga pernah bilang kalau nama Ahn Hyunki masuk di deretan sepuluh besar orang terkaya dalam bisnis di Korea Selatan, itu sebabnya jika Hyunki meninggalkan Blue Entertainment pun, Hyunki masih bisa membangun bisnis yang lebih luar biasa lagi. Yang Jian dengar, brand SWANOSKY yang sering Vian pakai pendirinya adalah Ahn Jiseok, yang ternyata Hyunki sebagai penasihat bisnis dan otak dari segala kemajuan brand tersebut. Karena Blue Ent di lepaskan kepada Yeonji, brand itu kini sepenuhnya berada di tangan Hyunki. Jian tidak tahu harus bernapas berapa kali untuk mendengar fakta itu.
“Kalau begitu aku juga akan memberikan semua—”
“Tidak.” Hyunki memotong. “Tidak perlu. Bukan karena aku tidak butuh atau bermaksud buruk. Sejak awal aku telah mempercayaimu, aku akan memberikan segala yang aku punya, namun aku mengerti kamu tidak sepertiku dalam hal ini, aku mengerti kamu masih ragu denganku dan butuh waktu untuk lebih dekat denganku. Aku kira seorang wanita tak mudah memberi kepercayaan kepada orang lain, jadi aku tidak ingin kamu terbebani. Setidaknya untuk saat ini, kamu boleh tak memberikan itu dan menyimpan uangmu sendiri.”
“Kenapa begitu? Bukankah hal ini memang seharusnya terjadi di antara suami dan istri?”
“Aku mengerti, Jian. Namun tidak dalam keterpaksaan. Bagi hubungan yang dibangun tanpa rasa cinta, salah satunya harus lebih dulu maju. Jadi aku ingin membuktikan padamu kalau aku telah mempercayaimu, tentang kamu, lihat nanti bagaimana. Dan, aku tidak akan bertanya untuk apa saja uangmu dikeluarkan, dan aku tidak akan keberatan kamu memakai uangku seberapa banyaknya.”
Jian bungkam. Ia masih menatap Hyunki lekat dan penuh tanya. Bagaimana bisa? bagaimana mungkin ada seseorang yang memberikan segalanya tanpa mau diberi juga? Jian menghela napas, ia tahu dengab maksud Hyunki. Jadi Jian terpaksa mengangguk dan mengiyakan.
Sementara dalam keheningan tersebut, ponsel Hyunki berdering. “Aku akan mengangkatnya, setelah itu aku akan membantumu untuk membereskan semua ini.”
Setelah Jian mengiyakan, Hyunki bangkit dan pergi ke kamarnya untuk menjawab panggilan Yeonji.
“Ada apa, Yeon?”
“Maaf mengganggu waktumu, Bos. Jika kamu tidak keberatan, bisakah kamu datang ke kantor Blue Entertainment? Aku dan Jey ingin membicarakan sesuatu.”
“Soal apa?”
“Jey ingin Blue Ent mengambil alih Woobin.”
Hyunki tersentak. “Woobin? kenapa? bukankah dia sedang berada di puncaknya, kenapa Jey ingin memberikan berlian kepada orang lain?”
“Kita tidak menerima berlian, kita hanya membantu Jey. Aku sudah bilang pada Ayah dan dia ingin aku mendiskusikannya padamu. Well, tak masalah, kan? sebagai tanggung jawab terakhirmu.”
“Ya, terserah saja. Pada akhirnya aku juga akan menuruti pendapatmu.”
“Tidak, tidak, aku tahu kita memiliki pilihan yang berbeda kali ini.”
“Jadi kamu menyetujuinya?” Yeonji tertawa. Sementara Hyunki berdecak kesal. “Kamu mengetahui sesuatu, Yeon?”
“Aku tidak ingin berbicara di telepon panjang lebar, datang saja dan kita bicarakan di sana. Ah, iya, sebentar, sebelum kamu menutup teleponku secara tak sopan, aku perlu memberitahumu kalau sebenarnya Woobin sedang terkena skandal dengan Heera. Kamu tahu? skandal kencan yang baru pertama kali ini terjadi di agensi Moon Ent, itu sebabnya Jey sangat frustrasi. Aku tahu ini terdengar berlebihan, tetapi kamu pasti tahu tak ada akibat besar dikarenakan skandal kecil, bukan?”
Hyunki mengerti. “Skandal kecil terjadi karena menutupi skandal yang lebih besar?”
“Kamu tahu, Yeon? ketika mobil melintasi jalanan berlubang di kala hujan, tak seharusnya kamu berada di dekat lubang tersebut. Ada apa dengan dirimu dan Jey?”
“Kamu akan marah jika aku bilang bahwa kami berkencan.”
“Aku mendadak menyesal menyuruhmu menggantikanku.”
“Tidak, tidak, tenang saja. Kamu tahu, aku dan kamu ini serupa. Jadi apa yang aku lakukan, kamu pasti tahu.”
Hyunki mendesah, Yeonji memang selalu begini. Adiknya itu selalu saja bersikap seolah sedang mendorong Hyunki ke tepi jurang lalu menariknya kembali. “Berdoa saja tidak ada masalah ketika direktur Blue Ent diganti. Kamu akan dihujat habis-habisan, mengerti?”
Terdengar tawa renyah dari seberang telepon. “Ya Tuhan, Hyunki, aku ini memiliki jiwa perang dan mentalku sekuat baja!”
“Ku tutup, aku harus membantu Jian membersihkan meja makan.”
“Hei! kenapa tidak memperkerjakan asisten rumah tangga saja?”
“Jangan ikut campir, Yeonji!”
Hyunki pun menutup sambungan teleponnya dan kembali ke meja makan. Ia berniat membantu Jian, namun yang ia lihat justru Jian sudah membereskan semuanya dan si gadis sedang mencuci tangannya di wastafel.
Hyunki mendekatinya. “Maaf, Ji. Ternyata aku terlalu lama berada di telepon, ya?”
“Tak masalah, kok. Lagi pula tidak banyak. Aku sudah biasa melakukan ini saat masih hidup dengan kedua orang tuaku, Kak Vian justru sengaja menambah-nambah cucian kotor." Jian mengelap tangannya dan terseyum pada Hyunki.
Hyunki menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal. “Itu … tadi Yeonji. Aku akan pergi sebentar untuk membahas sesuatu dengannya di kantor Jey. Kamu tidak masalah berada di rumah sendiri? Atau perlu aku telelon Vian untuk menemanimu?”
“Aku bukan anak kecil, Hyun. Aku tak masalah di rumah sendiri. Lagi pula, kamu tidak perlu memberitahuku sedetail itu tentang siapa yang meneleponmu dan apa saja yang akan kamu lakukan.”
Kali ini Hyunki merasaka suatu pemberontakan. Bahwa Jian memang tak perlu diberi tahu sedetail itu. Itu tak penting dan gadis itu tak akan peduli, bukan? Biar kukatakan sekali lagi jika Hyunki adalah lelaki paling peka, jadi sejak awal Hyunki telah menduga sikap gadis ini. Jian bersikap baik karena tak ingin mempermalukan keluarganya yang telah menikahkan Jian dengan lelaki yang keluarganya teramat baik. Jadi Jian berusaha mengimbangi Ahn Hyunki.
Hyunki mengangguk dan segera kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Hyunki mengenakan celana jeans dengan kemeja biru bergaris yang ia masukkan ke dalam jeans. Hyunki tidak butuh jas. Meski kedudukannya sebagagai CEO di Blue Ent, dia jarang berpakaian formal kecuali ada acara yang penting. Jadi ketika ia turun dan menemukan istrinya sedang berjalan ke atas, Hyunki berhenti sejenak guna menahan Jian.
Hyunki menatap Jian dengan serius, penuh arti. “Woobin teman dekatmu, ya? sebagai teman dekat, biasanya kamu selalu diberi tahu tentang hal-hal penting atau bahkan tidak penting sekali pun. Jian, apa Woobin sudah memberitahumu kalau dia akan pindah agensi?”
Jian sejenak tersentak, bahkan ia yakin suaranya tak terdengar ketika bertanya, “Ke agensi mana?” Kendati ia sepenuhnya telah menduga ada yang tidak beres di sini.
“Ke Blue Entertainment.” Hyunki tertawa. “Aku dengar dia terlibat skandal kencan dengan Heera, kamu sudah tahu?” Menyadari keterkejutan Jian dan cara gadis itu menatap, Hyunki jadi suka memprovokasi. “Aneh, ya? Padahal cuma skandal kencan tetapi kenapa harus pindah agensi?”
Ketika Hyunki kembali melanjutkan jalannya dan masuk ke dalam mobil. Jian mengejarnya dan Hyunki terpaksa membuka kaca mobilnya. “Kamu tidak akan menyetujui itu, kan?” Jian tersenyum masam. “Eum, maksudku, bukankah nantinya agensimu akan terkena dampaknya jika ikut campur tangan dalam skandal itu?”
“Menurutmu bagaimana? aku akan mencoba mendengarkan pendapatmu.” Hyunki menyandarkan sikunya pada kaca pintu mobil.
Jian berusaha tersenyum dan bersikap normal saat menyahut. “Tentu saja tidak perlu menerimanya. Maksudku, meskipun kamu dan Jey berteman dekat, bukan berarti kamu harus ikut membuang kotorannya, kan?”
“Kotoran? kenapa kamu memetaforakan Woobin begitu?” Hyunki lantas tertawa. “Ya, kamu benar, tidak seharusnya aku ikut campur tangan.” Lantas ketika ia melihat senyum kelegaan di wajah Jian, Hyunki kembali melanjutkan. “Sebagai teman, aku tidak mau ikut campur terlalu jauh. Tetapi sebagai seseorang yang dicintai, jangankan membuang kotoran, Jian, ikut mengiris jari ketika jari kekasihnya terluka saja pasti akan dilakukan, kan?”
“Apa maksudmu?”
“Jian, aku bukan direktur utama lagi, aku tak bisa membantu Jey sebagai teman. Namun Yeonji pasti akan membantu Jey sebagai seseorang yang saling menyayangi.”