“Choi Woobin!” Jey mendesahkan napasnya keras. Woobin tak pernah mengecewakan Jey sebelumnya. Meski CEO agensinya tersebut lebih tua empat tahun darinya, Woobin tetap merasa bahwa orang itu seperti ayahnya yang tegas dan perfeksionis. Terlebih, sejujurnya Woobin bukan siapa-siapa jika bukan karena Jey.
Mereka berada di ruangan Jey, hanya berdua, sementara manajer Jey sedang menelepon seseorang.
“Ku katakan kau beruntung karena saat ini bukan ayah yang berada di hadapanmu. Kau bisa membayangkan apa yang akan terjadi, bukan? satu minggu lagi kau akan comeback. Kenapa kau tidak bisa menjaga dirimu lebih hati-hati lagi? Kau sadar bahwa skandal ini akan mempengaruhi penjualan albummu serta viewrs di beberapa platform.” Jey menatap Woobin yang tengah menunduk.
“Skandal kencan bukan kejahatan,” ujar Woobin mencoba membela dirinya.
“Memang.” Jey tertawa. “Memang bukan. Namun kau berada di bar dalam keadaan mabuk berat bersama Heera. Kau tidak membaca komentar penggemarmu? banyak asumsi yang melenceng yang sialnya itu adalah logis.”
Woobin terdiam. Semua ini memang kesalahannya.
“Bagaimana dengan Heera? Kau tahu jika biasanya seorang gadis lah yang lebih banyak dihujat.”
“Aku minta maaf,” ujar Woobin dengan tatapan kosong.
“Tidak, bukan itu. Buka permintaan maaf seperti itu yang aku inginkan. Hei,” Melihat Woobin yang agak kacau, Jey justru kembali tertawa. “Kau bahkan masih kalut dengan masalahmu padahal kau tahu saat ini bukan waktu yang tepat untuk meratapi cinta.”
“Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya.”
"Ya, memang tidak pernah. Lantas seberat apa problematika cintamu? siapa gadis yang mampu memporak-porandakan hatimu?"
Woobin tersentak. Hatinyaa berkata, "Kim Jian." namun bibirnya kelu dan ia merasa bahwa mengatakannya pada Jey bukan hal yang bagus. Terlebih Woobin mengerti kalau Jey adalah sahabat suami Jian, Ahn Hyunki.
“Kau punya solusi, Woobin?”
Woobin menggeleng sebagai jawaban. “Tidak, PD-nim. Aku hanya ingin meminta tolong untuk membantah skandal tersebut, bahwa kami tidak berkencan.”
“Tapi kau membawa Heera, Woobin."
“Kami hanya berteman."
"Kami semua mengerti bahwa kau memang berteman dengan Heera. Kau menganggap Heera adalah temanmu, hanya sebatas itu, bukan? namun sepertinya tidak dengan Heera."
Woobin mengangkat wajahnya, menatap Jey. "Kau tidak bisa memberi harapan kepada gadis itu. Aku tahu bahwa ini memang risiko mencintai, namun jika kau menyadari ada yang mencintaimu tetapi tak ka beri dia penjelasan apa pun, kau jahat, Woobin."
Sementara itu, Woobin tengah memikirkan sesuatu. Sesuatu yang sangat menantang dan tak pernah ia pikirkan sebelumnya. "PD-nim, bolehkah aku berpendapat?”
“Silakan.”
"Kau bisa menutupi skandal ini dengan berita lain.”
Jey terdiam beberapa saat sebelum ia menyahut. "Apa yang kau pikirkan? berita apa yang kau maksud? mengenai artis lain?"
“Tidak, berita tentangku juga." Woobin menatap Jey dengan serius. "Aku akan pindah agensi.”
Jey membelalakkan matanya. ”Kau gila?"
"Jika kau sempat berpikir skandal ini akan berdampak buruk bagi agensi, maka kau bisa melepasku."
"Aku tidak bisa melepasmu sepenuhnya. Kenapa kau berpikir ingin pindah agensi? Kontrakmu masih dua tahun dan kau harus membayar penalti yang sangat besar, bukankah itu malah akan merugikanmu dan aku?"
“Kau dan CEO Blue Entertainment bersahabat, kan? Apa dia tidak bisa membantumu? Aku pikir jika agensi itu mau menaungiku sementara, mereka tidak akan rugi, bukan? Kau jadi punya berita pengalihan skandal. Lagi pula pasti kau berpikir untuk tak mendekatkan aku denga Heera, bukan?"
Jey tampak berpikir sejenak sebelum pada akhirnya ia mendesah lagi dan menatap Woobin dengan sarat kuriositas. "Kau bisa keluar sekarang, Woobin. Aku akan menghubungi manajermu lagi."
x x x x x
"Kau sudah resmi menggantikan posisi Ahn Hyunki, Yeonji?”
Setelah berbicara dengan Woobin, satu jam kemudian setelah menimang keputusan, ia mendatangi Ahn Hyunki yang tampaknya sedang sangat sibuk. "Kau terlihat jadi semakin sibuk, ya."
"Oh, tidak." Yeonji tersenyum, ia duduk di sofa di hadapan Jey. Mendadak Yeonji jadi teringat tentang kenangan mereka sewaktu masih sekolah. Yeonji dulu selalu meminta agar Hyunki membawa Jey lagi untuk datang ke rumahnya. "Aku tidak sesibuk yang kau lihat. Apa kau sudah makan?"
"Belum."
"Kalau begitu aku akan memesan makanan dan kau bisa membicarakan apa yang ingin kau sampaikan sebelum makanan tiba."
Jey mengangguk selagi Yeonji tengah sibuk memesan makanan. Jey dengar dari orang-orang di perusahaannyaa jika Yeonji bukan manusia, maksud mereka, Yeonji jarang sekali tersenyum, bahkan mereka tidak pernah melihat Yeonji berekspresi sebagaimana biasanya manusia. Yeonji seperti robot yang bekerja keras. Namun Jey mengerti jika Yeonji tidak demikian. Dia memang terlalu fokus pada pekerjaannya. Namun Yeonji yang di hadapannya ini bukan lah Yeonji yang dibicarakan orang-orang. Yeonji yang di hadapan Jey adalah gadis normal yang mampu menatapnya dengan hangat dan penuh hormat.
"Kau tahu mengenai salah satu skandal artisku?"
"Choi Woobin?" Yeonji ingat. Teramat ingat dan mengerti siapa orang itu.
"Ya. Skandal kencan—"
"Bukan skandal yang buruk," Yeonji menyela. "Ada yang bisa aku bantu?"
Jey terdiam sejenak sebelum pada akhirnya mengatakan, "Bisakah dia menjadi artismu?"
Yeonji mengernyit. "Maksudmu?"
"Tidak sepenuhnya, dia masih tetap menjadi artisku sampai kontraknya selesai. Namun aku perlu berita pengalihan skandal untuknya. Ah, bagaimana mengatakannya, ya? Jika dia adalah sebuah perusahaan, katakanlah kau membeli sahamnya sebanyak lima puluh persen."
Yeonji mengangguk-angguk mengerti. Salah satu sudut bibirnya terangkat naik. "Tentu saja aku akan membantumu. Lagi pula aku mengakui kemampuan Woobin. Aku rasa aku tidak akan rugi untuk mengasuhnya sementara, katakan lah begitu. Tetapi di sini aku perlu pendapat Kak Hyunki."
"Ya, tentu saja. Kita perlu pendapatnya." Senyum Jey mulai terangkat dan tepat ketika itu pula pesanan makanan mereka telah datang.
"Kalau kau tidak keberatan, aku ingin membahas ini lagi hari ini. Aku akan menghubungi Kak Hyunki," ujar Yeonji sembari membuka tutup makanannya.
"Tetapi bukankah terlalu cepat? Hyunki baru saja menikah dan dia perlu istirahat."
"Tak masalah, aku yakin Kim Jian tidak keberatan untuk melepas Hyunki sementara. Lagian cuma beberapa jam, kok." Yeonji tersenyum lagi. Mendadak, ia jadi sangat penasaran apakah Jey tidak tahu yang sebenarnya?
Sementara itu, Jey juga penasaran dengan Yeonji. Kenapa gadis ini langsung setuju dan tak menanyakan hal lain? Alasan mengapa skandal itu terjadi, misalnya.