Jian tidak pernah menyangka jika Woobin akan datang dengan segala kemungkarannya. Jian pikir Woobin sudah melupakanmya dan tak lagi menghiraukan gadis itu. Setelah acara pernikaan usai, Jian masih sangat syok dan merana. Untung saja Hyunki membawa Jian untuk melipir selagi kedua orang tuanya berbincang dengan para tamu atau sekadar mencari kolega baru.
Malam itu ketika Jian dan Hyunki pulang ke rumah mereka, hadiah pernikahan dari kedua orang tua Hyunki, Ahn Jiseok dan Ahn Sura. Ah, benar, Sura sebenarnya bukan ibu kandung Hyunki. Ibu kandungnya adalah Ahn Nara, ia meninggal setelah melahirkan Yeonji karena penyakit yang di deritanya. Mulanya Sura bekerja sebagai pengasuh anak-anak Jiseok. Namun kau tahu jika cinta bisa datang dari mana saja, bukan? jadi setelah Yeonji beranjak menjadj gadis kecil yang cantik, Jiseok bertanya kepada semua anaknya tentang Mama baru. Hyunki ingat betul bagaimana sang ayah yang saat itu bertanya dengan malu-malu.
“Ibu kalian sudah lama pergi, sementara Ayah butuh seorang istri, menurut kalian bagaimana?” Jiseok bertanya saat itu.
Kalau tidak salah, dulu Yeonji masih berusia tujuh tahun dan ia berkata, “Jadikan Bibi Sura istri Ayah saja, Yeonji tak keberatan. Yeonji sayang Bibi Sura.”
Hyunki dan kakaknya, Jiwon, yang saat itu sudah agak lebih besar dari Yeonji dan memang Hyunki yang paling peka, jadi ia mengerti perasaan ayahnya dan menjawab, “Ya, selagi istri baru ayah adalah Bibi Sura, kami tidak masalah. Toh, dia baik dan sangat penyayang. Bibi Sura masih muda dan baru menikah satu kali lalu kehilangan anak dan suaminya. Barangkali jika kalian menikah, kalian bisa saling melengkapi dam bahagia.” Hyunki yang kala itu sok dingin cuma mengendikkan bahu dan melanjutkan, “Tak masalah, dia baik-baik saja. Namun jika ku lihat ke depannya dia atau ayah yang bermasalah dan mengganggu kebahagiian kami, maka ayah tahu harus apa?”
Jiseok yang saat itu paham dengan maksud Hyunki cuma tertawa dan mengusap kepala ketia anaknya. Jiwon tak bereaksi apapun, dia selalu mengatakan “Terserah Ayah saja baiknya bagaimana.” Terkadang memang membuat Hyunki kesal sebab kakak lelakinya itu seperti tidak memiliki pilihan dalam hidup. Makanya selagi ia menjabat sebagai direktur, ia menunjuk Yeonji yang sifatnya sebelas dua belas cerdas dan tegasnya dengan dia untuk menggantikannya sebagai direktur. Sementara Jiwon ia biarkan memilih apa yang ia inginkan, karena Hyunki tahu Jiwon tak memiliki ketertarikan di bidang musik. Berbeda dengan ia dan Yeonji.
Cerita ini juga sudah Hyunki ceritakan pada Jian pada saat kencan mereka yang kedua. Jian pikir, keluarga Ahn memiliki darah persaudaraan yang bagus. Jian pikir, keluarga mereka selalu baik-baik saja dan kompak, Jian juga menduga mungkin memang itu sebabnya ayahnya ingin menikahkan Jian dengan keluarga yang martabatnya bagus seperti keluarga Ahn.
Malam ini Jian merasa sangat lelah. Jadi ia terlelap lebih awal setelah membersihkan diri. Hyunki tidak berbicara apa pun. Setelah membersihkan diri, ia justru langsung ke ruang kerjanya untuk merapikan dokumen-dokumen baru. Malam itu berjalan biasa saja. Bahkan ketika pagi tiba dan Jian terbangun, Jian tidak mendapati Hyunki di kamarnya. Jian tak tahu lelaki itu tidur di mana dan mengapa ia tidak ada di sampingnya selagi Jian bangun. Mereka menikah memang tanpa cinta, namun rasanya agak aneh jika Hyunki tidur di luar sementara Jian pun tak mempermasalahkan jika Hyunki akan tidur di kamar ini, bahkan di ranjang yang sama.
Jian menyingkirkan selimutnya dan hendak bangkit. Ketika ia telah memakai sandal berbulunya, pintu terbuka dan Hyunki masuk dengan segelas s**u.
“Kamu ternyata sudah bangun, Ji.”
Jian mengangguk. Sejenak menelan saliva melihat helai rambut Hyunki yang basah dan jatuh di atas kepalanya. Melihat kaosnya sedikit basah dan leher berpeluh, sudah dipastikan jika Hyunki berolahraga atau berlari kecil di pagi hari.
“Kamu habis joging?”
Hyunki menutup pintu dan melangkah mendekat. Ia menyodorkan segelas s**u hangat untuk Jian. “Ya, ini kegiatan pagiku sebelum mandi dan bersiap untuk bekerja.”
Jian menerima segelas s**u tersebut dan menggenggamnya. “Terima kasih, tetapi, apa tadi? berangkat bekerja?”
Hyunki mengangguk. “Ya, bekerja. Aku harus mengatur banyak sekali jadwal karena aku akan lengser dari jabatanku.” Hyunki tersenyum kecil. “Yeonji akan menggantikanku dan dia bilang aku perlu mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakannya.”
“Merayakan pelengseran jabatanmu?” Jian tersenyum dan meminum sedikit susunya. Rasanya hangat. Ia tak menyangka jika paginya akan sehangat s**u buatan Ahn Hyunki. Mendadak Jian teringat pada Woobin. Dulu, bila Woobin diam-diam menyelinap ke dalam rumahnya untuk menginap, setiap pagi Jian membuatkan Woobin s**u hangat dan roti panggang. Biasanya Jian akan dihadiahi senyuman. Namun, tunggu, apakah Jian juga harus mencium Hyunki? Tidak. Jian kembali meminum s**u itu dengan cepat.
“Bukan, Jian. Tetapi merayakan kenaikan jabatan adikku. Juga … mungkin merayakan karena aku telah resmi menikah. Jadi, kalau kamu mau, aku akan mengajakmu ke pesta itu."
Uhuk! Uhuk!
Jian tersedak s**u. Hyunki segera mendekat dan duduk di samping Jian, ia mengusap punggung si gadis seraya berkata, “Jian, pelan-pelan. Tak masalah jika kamu tidak akan ikut. Aku bisa datang—”
“Aku akan datang bersamamu,” ujar Jian. Ia menetralkan degup jantungnya. “Kamu bilang sekalian merayakan karena mantan direkturnya sudah menikah, karena kamu menikah denganku, bukankah aaneh kalau aku tidak datang sebagai istrimu?”
Benar. Tak masalah. Lagi pula ini normal. Ini pernikahan yang seharusnya Jian jalani dengan normal. Jian tidak seharusnya melulu menolak dan menghindar dari Hyunki hanya karena dia belum mencintai Hyunki. Jian harus bersikap rasional.
“Tapi, apa kamu benar-benar akan pergi bekerja hari ini?”
“Memangnya ada apa?”
“Bukankah kemarin hari yang melelahkan? kamu tidak lelah?”
“Lelah. Tetapi aku sudah tidur dan pagi ini aku memiliki energi yang cukup.”
“Aku tidak melihat kamu tidur.”
“Karena kamu sudah tidur lebih dulu.” Hyunki tersenyum. “Aku tidur di sini, tepat di sampingmu.”
Jian tersentak. Namun ia perlahan tersenyum dan memakluminya. Ia merasa agak sedikit lega karena Hyunki tidak terjada di ruang kerjanya. “Namun tetap saja. Bukankah seharusnya kamu mengambil cuti beberapa hari? Kalau kamu langsung bekerja, bukankah malah terlihat seperti kamu tidak menghargai pernikahan ini?”
“Jian.” Kilat mata Hyunki perlahan terkesiap. Sejujurnya Hyunki tak menyangka jika Jian akan berbicara demikian. Hyunki pikir ia perlu bekerja untuk menghindari Jian, barangkali Jian masih perlu waktu untuk berada di dekatnya. Namun melihat Jian tak begitu keberatan, maka Hyunki menarik kedua sudut bibirnya dengan mata berbinar. “Terima kasih. Kalau begitu, karena kamu bilang aku perlu istirahat, maka aku akan menurutimu dan beristirahat di rumah. Namun aku tetap harus berbicara padamu mengenai kita selanjutnya.”
Jian mengangguk. “Ya, kita memang perlu membicarakan itu.” Jian bangkit. “Aku akan cuci muka dan menyikat gigi, kamu bisa menungguku sebentar di sini sampa aku seledai. Kamu bisa mandi setelahku dan aku akan memasak untuk sarapan selagi kamu mandi. Lalu aku akan mandi setelah selesai memasak. Kamu bisa makan lebih dulu kalau sudah merasa lapas atau mau menungguku, terserah kamu.”
Hyunki mengangguk-angguk. Ia menyetujui rencana Jian pagi ini. Padahal kamar mandi di rumah ini bukan hanya satu dan Hyunki bisa mandi di kamar mandi yang terletak di kamar tamu atau di lantau bawah, tetapi Jian malah meminta Hyunki menunggunya di sini. Hyunki mendadak tersenyum dan berkata. “Baiklah, aku akan menunggumu mandi dan kita sarapan bersama.”