Hera mengerti jika kisah percintaan Woobin akan berakhir seperti ini. Bukan hanya kisahnya dengan Kim Jian saja, namun dengan yang sebelumnya pun, kisah percintaan Woobin selalu kandas dan bertahan paling lamanya tiga sampai enam bulan, namun hanya dengan Kim Jian saja Choi Woobin bertahan sampai dua tahun. Woobin sendiri mengaku kalau Jian ini berbeda. Gadis biasanya selalu meminta dimanjakan, selalu meminta diberi tanpa memberi. Bagi Woobin, hubungannya dengan Jian mampu bertahan selama itu karena keduanya memberi perhatian yang sama, menerima cinta yang serupa, mereka menjalin kisah yang setara. Dengan Jian, Woobin rela menerobos batasannya untuk menemui gadis itu. Dengan Jian, Woobin seperti bersama seorang malaikatnya yang telah pergi.
Hera sendiri mengerti, bagaimana Woobin terlihat sangat tulus dalam memberi cinta untuk Jian. Galeri ponselnya juga penuh denga foto Jian. Bila Woobin merindukannya secara tiba-tiba, Woobin selalu melihat videonya yang sedang melakukan photo shoot untuk brand fashion-nya. Terkadang ada salah satu scene yang membuat Woobin gemas dan ingin menjaga gadisnya lebih ketika Jian tersandung kabel kamera atau tak sengaja merobohkan balok-balok yang sudah tersusun untuk kebutuhan pemotretan. Jian memang perfeksionis, namun terkadang ia menjadi model untuk fashion-nya sendiri karena merasa bahwa outfit tersebut akan sangat cocok dan pas jika Jian sendiri yang mengenakan untuk iklannya. Semua orang barangkali setuju, sebab memang Jian memiliki aura bintang dan pesona yang memancar. Keluarga mereka, Jian da Vian adalah seperti seorang bintang yang tersembunyi. Vian juga pernah diculik untuk ikut audisi, namun siapa yang mampu membantah ketegasan Kim Sejin?
Heera pernah melihat Jian secara langsung saat fitting baju di tanggal yang sama dengan Woobin. Gadis itu, bagaimana ia bisa mengatakannya? ia terlalu baik hati. Pernah suatu kali seorang magang dimarahi di hadapn para staf lain oleh staf senior hanya karena ia tidak peka ketika artisnya merasa kehausan dan staf magang itu malah mengerjakan pekerjaan lain karena disuruh ole manajet artis tersebut. Jian mengatakan, “Suatu kelompok tak akan bisa bertahan jika hanya mengandalkan satu orang. Jika staf magang sedang tak di sana, apa kalian tidak bisa membantunya? juga, untuk artisnya sendiri, apa semua hal yang kau inginkan harus dilayani? maksudku, kau lihat sendiri botol air minum tak jauh darimu dan kau juga sedang break, sesulit apa sampai tanganmu tak mencapai botol air itu?” Tidak ada yang berani melawannya.
Lalu Hera juga pernah mendengar jika Jian sering memutus kontrak dengan beberapa artis karena artis tersebut terlalu sombong, manja, serta pemalas. Hera pernah menjumpai yang seperti ini, itu terjadi di agensinya sendiri, saat Hera datang ke salah satu pemotretan grup perempuan, karena salah satunya adalah teman Hera. Salah satu membernya bernama Caca, ia ketahuan Jian bersikap rude kepada salah satu make up stylist hanya karena eye liner yang dikenakannya tak terlalu kentara, Caca sampai menepis tangan Noona stylist dan mendorong tubuhnya hingga terjatuh. Caca ingin terlihat menonjol di antara yang lain dan terkesan seksi. Sementara make up yang Caca inginkan berkebalikan dengan tema pemotretan. Heera datang dan berkata, “Baiklah, Noona, kau bisa turuti kemauan Caca.” Caca yang saat itu terlihat senang dan bangga karena merasa menang semakin terlihat angkuh. Namun ketika saat pemotretan, Jian mencoret nama Caca dan memberikannya kepada manajer grup tersebut. “Aku tadinya ingin membatalkan kontrak keseluruhan, namun kupikir tak adil karena sikap Caca yang begitu lalu member lain ikut terkena dampanya, meski ku rasa itu sudah konsekuensi mereka sebagai grup. Mereka harus terlihat kompak, tetapi keputusan ada padamu dan mereka, jika kalian ingin menunjukkan kekompakan, kau bisa membatalkan semuanya, namun jika ingin bekerja sama denganku, aku tak ingin Caca ada di majalah untuk fashionku. Aku tidak mendukung perlakuan tidak sopan yang terjadi selama proses pemotretan.” Manajer tersebut akhirnya membiarkan membet lain melanjutkannya tanpa Caca, sebab bagaimana pun, jika kontrak dibatalkan, manajer dan pihak agensi tidak yakin perjalanan mereka akan baik-baik saja. Melihat kasus yang lain, setelah dipustus kontrak, artis tersebut biasanya tak dapat tawaran iklan yang lebih baik atau malah dapat merugikan agensi.
Jian memang tak seharusnya turun ke lapangan. Gadis itu seharusnya duduk di kantor dan menunggu hasil. Namun Jian selalu melihat latar belakang artis yang akan bekerja sama dengannya. Tak peduli jika artis itu setenar apa, tetap saja setiap manusia memiliki sisi kelamnya. Jian tahu, tak semua artis bersifat sama di depan kamera dan di belakang kamera. Jian melakukan ini juga demi perusahaannya, demi meminimalisir kejadian yang tak diiinginkan yang seharusnya tak terjadi. Jika Jian tak memastikan artis tersebut dan suatu saat ketika kontrak masih berjalan lalu artis itu terkena skandal buruk, pastilah perusahaannya akan terkena dampaknya. Namun untuk skandal kencan yang normal, Jian tak peduli. Seperti halnya Jimin, lelaki itu sempat dikabarkan kencan dan Jian tak peduli. Sebab kencan bukan suatu kejahatan, selama perlakuka keduanya baik dan tak menimbulkan asumsi buruk.
Kembali pada realita terkini. Jadi bukan hanya Heera yang merasa jika Jian adalah seorang malaikat yang sesungguhnya. Terlepas Jian melakukan hal itu karena keamaan perusahaan di masa depan, Jian adalah gadis yang membenci ketidak adilan. Itu sebabnya Woobin jatuh cinta pada pandangan pertama. Heera pikir gadis seperti Jian tak tertarik dengan lelaki seperti Woobin yang pernah terlibat skandal berkencan. Namun Heera salah. Jian memiliki sudut pandang lain mengapa Woobin membutuhkan seorang kekasih. Jian memiliki alasan lain mengapa hatinya terpatri pada Woobin.
Heera tak mengerti mengapa Woobin selalu menatap Jian dengan berbeda, seolah Kim Jian adalah alasannya bertahan hidup. Seolah Jian adalah kekuatannya untuk memulihkan segala kelemahannya. Begitu sebaliknya Jian, Jian selalu membalas tatapan Woobin dengan hangat, seperti seorang gadis yang menemukan kekasihnya yang telah lama hilang.
Heera bahkan masih tak mengerti sebesar apa perasaan yang Woobin miliki untuk Jian. Lelaki itu, kini, berada di balik bilik di tempat bar yang sesungguhnya agak rawan untuk didatangi. Terlebih malam ini Woobin mengajak Heera dan lelaki itu sedang mabuk hingga kehilangan kontrol dirinya. Woobin meracau tak jelas. Tertawa seolah hidupnya hanya lelucon yang pantas ditertawakan. Heera harus membawa Woobin pulang sebelum ada yang menyadari kedatangan mereka ke tempat ini. Sesungguhnya Heera sudah diperingati manajernya untuk tetap berada di jalur aman. Saat ini, rasanya meski mereka mengenakan kostum dan topeng badut pun, fans Woobin akan mengenali Woobin bahkan hanya mendengar langkah kakinya saja. Ini gila tetapi memang nyata.
Jadi ketika Woobin berdiri dan menghampiri Heera guna menarik tangan gadis itu dan merangkulnya. “Ayo pulang, aku mendengar suara shutter kamera.”