POV 1
Hal itu pun tiba. Saat Hyunki mengucapkan ikrarnya. Dia telah bersumpah dengan kalimat sakralnya untuk hidup bersamaku di depan para tamu, keluarga, juga pendeta. Detik ini, aku sah menjadi istrinya.
Dengan balutan jas hitam, Hyunki memang tampan, kuakui. Namun, ketampanannya tidak akan bisa mengalihkan perasaanku pada Woobin sedikit pun. Hyunki memiliki ekspresi wajah yang terlihat dingin, meski di sampingku dia mencoba tersenyum tipis menyambut para tamu yang datang menemui kami.
Aku jadi bertanya-tanya lagi. Apa dia benar menikahiku karena cinta? Sebab sedari tadi dia hanya berbicara seadanya. Dia memang tipikal orang yang jarang bersuara dan lebih mengutamakan suatu tindakan. Aku menghargainya sebagai lelaki yang berani untuk mengambil sebuah keputusan. Meski jujur aku juga takut karena sikap Hyunki yang agak dingin. Aku tidak mampu membayangkan pernikahan ini akan berjalan bagaimana, sebab karakter seperti itu sangat tidak cocok dengankuyang manja. Aku takut tidak mendapat perhatian seperti yang biasa Woobin berikan padaku.
Bagaimana jika pernikahan ini seperti di cerita fiksi kebanyakan? Pisah ranjang, selalu bertengkar, tanpa sentuhan, dan berakhir cerai.
Aku takut pernikahan ini tak hidup. Bagaimana lun, aku tetap mengharapkan hal-hal baik ke depannya. Tetapi bukankah itu bagus? Jika aku dan Hyunki cerai, barangkali aku bisa menikah lagi dengan Woobin di masa depan.
Namun, apa Woobin masih mau denganku?
Tepat ketika aku hendak menanyakan sesuatu, lalu dia segera membuka suara. "Aku memang belum banyak bicara. Bukan berarti aku ragu menikahimu." I berbalik menatapku. "Aku tahu percakapan kita hanya akan mengundang luka untukmu. Itu sebabnya, hari ini aku membiarkanmu kalut dalam perasaanmu. Kamu tipe orang yang tidak bisa menahan tangis jika sedang berbicara dan tak sengaja mengingat hal-hal yang membuatmu sedih, kan?"
Aku terperanjak. Benar sekali. Apa karakterku mudah ditebak? Kenapa lelaki ini bisa menyimpulkan seolah aku dan dia sudah mengenal sejak lama.
"Dan aku tidak bisa melihat seseorang menangis," ujarnya kemudian.
Jika boleh menilai, aku rasa Hyunki tidak seburuk apa yang aku pikirkan. Mungkin memang karakternya selalu tenang seperti ini.
"Omong-omong, kamu cantik. Sangat."
Aku tertegun. Mataku terbelalak menatapnya yang kini tersenyum padaku. Untuk kali pertama, aku melihat senyum yang tulus hadir di wajahnya.
Hyunki menarikku mendekat, menyuruhku untuk kembali menyambut para tamu. Pikiranku melayang entah ke mana. Aku dibuat bingung dengan perasaanku sendiri. Lantas, apa yang aku khawatirkan sekarang? Aku memang tidak mengharapkan Woobin datang. Tidak ingin sama sekali melihat dia di sini, menjadi tamu. Namun, keresahanku terjawab sudah. Ketika aku melihat Vian—yang sedang mengalungkan kamera—berbincang dengan sosok yang membuatku ingin mati berdiri.
Jantungku terpacu sangat cepat. Kakiku lemas. Aku mencoba untuk tetal kuat. Sumpah demi apapun, Woobin datang. Padahal, aku sudah bilang untuk jangan datang. Dia bahkan tidak mengabariku sejak hari itu. Aku pikir dia benar-benar pergi dan mulai membenciku. Tapi sekarang, aku melihat dia melangkah mendekat.
Sial! Rasanya aku ingin menangis. Woobin benar-benar menghancurkan perasaanku. Aku tidak bisa berhenti berharap andai ia yang bersanding denganku di pelaminan. Kenapa? kenapa aku terus membayangkan seolah hari ini aku akan menikah dengan Woobin?
Jelas di depan mata, dia menatapku dalam. Tampilannya sangat mempesona, dengan ciri khas poni rambutnya yang membentuk koma. Aku tahu dia sengaja membuatku mati untuk kedua kalinya karena pesona itu. Auranya sangat kuat menarik hatiku untuk semakin terikat.
"Sebagai lelaki yang menghargaimu, aku harus datang dan mengucapkan selamat untuk kehidupanmu selanjutnya. Selamat atas pernikahanmu, Kim Jian."
Aku kira dia akan menjabat tanganku. Tapi tidak. Keputusan yang bagus, Woobin! Aku masih membeku di tempat. Mengontrol perasaanku agar tak terlalu sakit nantinya. Hyunki tidak boleh tahu soal hubunganku, atau aku akan menyakiti dua lelaki sekaligus.
"Choi Woobin, benar? Ternyata kau berteman dengan artis juga, Jian." Hyunki menatapku, lalu mengulurkan tangannya, Woobin pun menerima jabatan itu. "Iya, Jian teman hidupku."
Dari sekain banyak kalimat, kenapa harus kalimat memilukan itu yang ia pilih? Aku tahu ini akan terjadi. Momen canggung untukku, Woobin dan Hyunki. Karena sangat tidak mungkin Woobin ke sini untuk hal yang sia-sia atau untuk mencari sebuah luka.
Atmosfer di ruangan ini mendadak sangat dingin. Aku pun tidak mampu mengucapkan satu kata saja. Karena jika aku bicara, aku akan menangis.
"Hey! Cepat ambil posisi, aku akan mengambil beberapa foto!"
Suara Vian yang berada di depan altar mengalihkan fokus kami. Ia menginterupsi dengan mengangkat kameranya yang sudah siap.
Maka, dengan segera Hyunki meraih tangan kananku untuk digenggam. Sedang Woobin beringsut ke samping kiriku. Juga beberapa teman Hyunki yang sudah memposisikan diri di samping kanan dan kiri.
Satu, dua, tiga, gambar telah diambil. Namun di flash keempat, aku merasakan sela-sela jariku terisi oleh tangan Woobin. Tangan hangatnya menggenggam erat dan membuat sengatan hebat. Jantungku berdebar hebat merespons dengan cepat. Perasaan campur aduk menjalar ke seluruh tubuhku.
"Aku tidak bisa membiarkanmu lepas begitu saja. Bahkan jika aku harus menanggung dosa. Aku akan tetep mencintaimu. Aku akan tetap berada di sisimu, Kim Jian." Tepat saat ia membisikkan kalimat itu, aku merasa bingung dan hilang koneksi dengan keadaan sekitar. Lantas, jemari kananku refleks meremat tangan Hyunki ketika air mataku berhasil lepas dengan bebas.
Woobin benar-benar membuatku kacau. Aku segera mengerti apa tujuan dia datang ke pernikahanku. Tentu saja, untuk mencuri kembali hatiku dan mengikatnya kuat di sana. Dia benar-benar tahu caranya membuatku susah lupa.
For the second time I fell on you.
x x x x x
POV 3
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Jian tersentak. Ah, itu Iren. Gadis itu dengan dres berwarna hitam mengunjungi Jian yang sedang beristirahat di sebuah ruang. Hyunki baru saja meninggalkannya setelah sesi foto bersama Woobin. Jian sebenarnya tidak terlalu lelah, namun kedatangan Woobin cukup membuat kakinya lemas dan Hyunki menyadari kala Jian meremat tangannya.
Iren duduk di samping Jian. Gadis itu membutuhkan suara Jian. Namun yang diberi pertanyaan tak mengerti harus merangkai kata seperti apa yang sekiranya dapat membuat dirinya aman.
"Kamu tidak perlu menyembunyikan perasaanmu padaku."
Jian menoleh. "Bahkan jika aku mengatakan bagaimana perasaanku yang rumit ini padamu, kamu tidak akan mengerti betapa sulitnya aku menyiapkan ratusan topeng yang harus aku kenakan. Ini melelahkan, kamu tahu?"
Iren mendengus. "Tidak mengerti perasaanmu? Ah, benar, kamu belum mendengar tentang kisahku yang hampir mirip denganmu."
Jian menatap Iren. Gadis ini sedang menatap lurus dengan mata yang berbeda.
"Aku membenci pernikahan, Jian." Butuh beberapa saat sebelum Iren melanjutkan, "Jauh sebelum mengenal kakakmu. Tetapi jika dalam kisahmu ini, aku bukan menjadi dirimu. Tetapi menjadi Woobin. Aku berpacaran dengan seseorang selama lima tahun dan anggap saja lusa adalah pernikahanku, namun seorang wanita yang tengah mengandung menemuiku di kafetaria gedung J&V, dia bilang bahwa anak yang sedang dikandungnya adalah anak calon suamiku."
Jian tersentak. Menatap dalam iris mata Iren yang sialnya, gadis itu tak merasa dikhianati. "Apa yang kamu lakukan saat itu?"
Ien tertawa lirih. "Tentu saja aku datang ke acara pernikahan mereka, mantanku saat itu berpikir aku tidak akan datang."
"Kamu datang?" Jian membelalakkan matanya.
"Ya, dengan gaun pernikahan yang akan aku kenakan di hari itu. Kamu membayangkan apa yang terjadi setelah itu?"
Jian menggeleng. Jelas terdengar sangat kacau.
"Aku bilang bahwa aku rela menjadi istri keduanya, aku tidak bisa membatalkan pernikahanku dengannya dan membuat keluargaku malu. Aku tidak menangis, aku tidak berekspresi saat itu, namun aku mati-matian menahan malu dan rasa sakit yang membuatku berharap jika ada seseorang yang mampu mengubah alur takdirku dengan segala rasa yang membingungkan itu … setidaknya untuk satu hari saja."
"Lalu apa yang terjadi setelah itu? Apa seseorang datang dan menyembunyikanmu dengan jaketnya? atau bersandiwara seolah-olah dia akan menikahimu?"
Satu tawa hambar yang terdengar perih baru saja diloloskan. "Bukankah itu hanya sebuah ilusi yang diinginkan seseorang? Kenyataannya tidak begitu, Jian. Tidak semua kenangan pahit akan diganti dengan hal yang manis. Jian, kita tidak hidup untuk menikmati omong kosong seperti itu."
"Lalu bagaimana? Maksudku, untuk apa kamu datang dan sengaja mempermalukan dirimu sendiri? Kamu bisa diam di rumah atau menikmati liburan untuk melupakan rasa sakit itu, bukan?" Jian menggigit bibir bawahnya dan meremat gaunnya sendiri. "Meski tidak akan mudah, setidaknya kamu tidak perlu repot-repot mengacaukan dirimu sendiri."
"Saat itu aku berpikir, kenapa hanya aku saja yang hancur? Setidaknya jika karma tidak datang secepat itu, aku perlu membuat dia merasakan sedikit rasa malu dan kacaunya diriku. Namun memang, itu bukan perbuatan yang seharusnya aku lakukan saat itu. Sebab, bukan hanya aku atau dia yang merasa dipermalukan, namun orang-orang yang tidak seharusnya terluka akan merasa sangat betapa tidak beruntungnyab ia."
Jian pikir, Iren membagi kisahnya agar ia bisa mengerti perasaan Woobin, namun Jian salah, Iren bercerita bukan untuk Woobin, namun untuk Jian sendiri. "Tak peduli jika hubunganmu dan Woobin belum selesai, setidaknya hargai orang-orang yang tidak seharusnya ikut terluka karena hubungan rumitmu, Jian. Aku mengerti jika kamu tak akan bisa melupakan Woobin dalam sekejap, namun Jian, setidaknya jangan biarkan Hyunki terluka."
Jian menelan saliva yang terasa getie mengaliri tenggorokannya. Butuh waktu beberapa saat untuk mengerti dan menetralkan segala rasa yang membingungkan. Jian mengangguk patuh sebelum pada akhirnua Vian datang untuk menjemput Iren.
Namun menyadari jika raut adiknya masih terlihat sendu, Vian menyeletuk, "Iren, aku sudah bilang padamu untuk mengenakan dres merah atau apapun selain hitam. Tetapi kamu memilih warna itu dan terlihat seperti akan mendatangi acara pemakaman."
Iren berdiri, menatap Vian dengan decakan yang bisa Jian dengar. "Memang kamu pernah melihat seseorang memakai dres seksi begini di acara pemakaman? Apa kamu pikir aku terlihat seperti gadis yang akan berpesta di atas kuburan, Vian?"
Jian mendadak menarik senyum dan sedikit tertawa karena tingkah kedua manusia itu. "Ayolah, jangan bertengkar karena hal kecil di hari pernikahanku."
Vian menggandeng tangan Iren dan membuat gadis itu menempel dengannya. "Aku sebenarnya mencari kamu ke mana-mana. Aku pikir kamu diculik, kamu tahu? teman sekolah Jian itu tampan-tampan, jadi aku tidak ingin kamu digoda mereka."
"Hei, temanku tidak seperti itu, ya! Lagi pula mereka tahu bagaimana protektifnya kamu." Jian mengerucutkan bibir.
Tak lama Hyunki datang dan meyudahi perdebatan mereka. Ia menatap Jian dan berjongkok di hadapan Jian. "Sudah merasa baikan? Kalau sudah, bisakah kita kembali ke gedung utama karena Jey ingin melihat betapa cantiknya dirimu?"