Mobil Vian berhenti di depan gedung yang sedang mengadakan acara. Ia memarkirkan mobil dan membawa Jian masuk. Setelah memberikan undangan pada salah satu penjaga di sana, Vian masuk ke dalam. Tetapi berhenti saat mendengar adiknya memekik karena seorang penjaga meminta undangan dan ia sempat mengira Jian ini orang asing.
Vian menghela napas dan kembali menghadap si penjaga karena telah mengambil atensi beberapa orang. "Hei, kau! Apa-apaan ini? Kenapa hendak mengusir gadis cantik?" Vian menarik lengan adiknya yang sudah mengerucutkan bibir. "Dia adikku yang paling cantik, kau tidak lihat? Kenapa menahannya begitu?"
"Maaf, Tuan. Tetapi yang datang harus membawa undagan." Halah, alasan saja.
Vian berdecak kesal. Ia menjulurkan tangan dan meminta kembali undangannya lantas memberikannya pada Jian. "Ayo, Ji. Berikan undanganmu pada si Om bandel ini," katanya.
Jian menurut dan Vian telah menyelesaikan masalahnya, maka lelaki itu menarik Jian ke dalam gedung. "Kamu, sih, pakai ada acara menangis segala. Lihat, kan? Dia mengira kamu ini gembel yang sedang menyamar."
Jian menjiwit lengan Vian. "Ya mana aku tahu kalau kamu mau membawaku ke sebuah acara formal." Lengan Jian ditarik oleh Vian agar lebih mendekat lagi. "Tetapi kamu bilang aku cantik. Memangnya secantik itu, ya, Vi? Sampai menangis sehari semalam saja masih terlihat berseri." Jian menyentuh wajahnua sendiri. "Aku sebenarnya sudah menduga kalau aku bukan anaknya si Sejin."
"Ya! Apa-apaan itu? Mau kuadukan pada Ayah, ya? Biar dihukum suruh menikahi koleganya yang sudah berumur dan memiliki cucu." Vian merangkul Jian saat si adik sudah ingin mengambil cake dan menggiring si gadis itu untuk menuju toilet. "Berdandanlah, Ji. Apapun caranya pokoknya kamu harus terlihat cantik."
"Loh, kamu bilang aku sudah cantik?!"
"Belum cantik sekali, wajah kamu seperti gembel tanpa polesan dan kelopak matamu agak bengkak," ujarnya jujur. Sementara Jian mendengus kesal.
"Lalu kenapa membawaku ke toilet? Kamu mau mengantarku pipis atau apa?" sewotnya.
Lantas mereka berhenti di koridr menuju toilet. "Loh, bukannya para gadis kalau merias diri begitu lebih suka di toilet, ya?" tanyanya polos.
Jian menepuk jidat Vian dan membawa abangnya putar balik. "Cari fitting room, tetapi kamu yang bilang ya kalau aku mau menumpang merias wajah di sana."
"Oke siap!" Vian segera menarik Jian dan membawa mereka untuk berjalan cepat. "Tetapi kalau masih ada Yojung bagaimana?"
"Bagus, dong. Kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan. Lagi pula, pasti salah satu di antara mereka mengenalku." Jian menghadap Vian dengan dengan senyum paling manis. "Kim Jian, desainer terbaik di Korea!"
Vian kali ini menurut, lelaki itu sudah agak tenang karena Jian. Asiknya begini, bila Jian sedang sedih, Vian ada untuk menemani dan menggoda. Pun sebaliknya, bila Vian merasa harus berbuat sesuatu, Jian di depannya siap membantu.
Mereka masuk ke dalam fitting room. Tak banyak orang di sana, tetapi salah satunya mendekat pada Jian dan memberi salam. Ia kira Jian adalah salah satu yang mendesain setelan untuk pengantin pria. Tetapi di sana Vian mulai maju dan berbicara.
"Maaf mengganggu, tetapi kalau boleh, adikku ingin merias diri di sini."
Salah satu dari mereka segera menunjukkan tempatnya dan mempersilakan. Selagi menunggu Jian berdandan, Vian memperhatikannya di samping gadis itu.
"Ji, tadi kamu bilang bahwa sebenarnya kamu sudah menduga kalau kamu bukan anak ayah, memangnya anak siapa kalau begitu?" tanya Vian serius. Lelaki itu bahkan kini duduk di meja guna memperhatikan Jian lebih lekat. "Kamu anak pungut, ya? Lantas apa kamu sudah menemukan siapa orang tuamu?"
Jian sungguh tidak ingin menggubris dan fokus saja untuk merias diri. Tetapi rasanya agak gregetan juga. "Entahlah, saking cantiknya aku, aku merasa seperti bukan manusia biasa."
"Lantas apa? Anak iblis?"
Mata Jian tajam menatap Vian seolah memendam perasaan ingin melahap lelaki itu. "Bicara kamu kasar, ih. Jian tidak suka, deh." Jian meletakkan kembali maskaranya dan hendak bangkit. "Ya sudah, aku mau pulang saja."
Vian terkekeh dan menjawil pipi Jian. "Ah, tidak asik, deh. Masa cuma begitu kamu merajuk." Lantas terpaksa Jian duduk kembali dan memoles sedikit perona pipi dan lipstik.
"Tetapi jangan bilang pada siapapun ya, Vi."
"Iya, memangnya kenapa?"
"Aku sebenarnya anak Dewi Aphrodite."
Vian mendadak menjauhkan diri dan menatap ke sekeliling. Tampak beberapa orang yang kepergork menguping dan diam-diam tertawa. "Kamu ditertawakan tahu, Ji."
"Iya, tahu. Saking lucunya aku, kan?"
Sudahlah, Vian menyerah. Lantas kini Jian telah bangkit dengan hasil yang cukup memuaskan. Vian mengacungkan kedua jempol dan mereka kembali ke aula acara.
Well, sebenarnya Vian akan menghadiri pernikahan mantan kekasihnya, Yojung. Mereka cukup lama menjalin hubungan, hanya saja Yojung dan Jian tidak pernah sejalan, seperti musuh bebuyutan. Entah karena apa, Jian sungguh tidak suka dengan kehadiran Yojung. Mereka juga putus karena alasan yang agak memuakkan. Hanya karena Vian dan Jian terlalu akrab, padahal mereka memang begitu sejak dahulu kala. "Kamu keterlaluan, Vi. Sebenarnya aku pacar atau siapamu, sih? Kenapa malah mengajak Jian dan memanjakannya untuk kencan hari jadi, kita?" ketus Yojung saat Vian dan Jian tiba di sebuah restoran yang telah Vian sewa.
"Ya… bagaimana, ya. Jian sedang sakit dan aku tidak bisa meninggalkannya sendiri di rumah. Tetapi kan aku mencoba adil, aku tetap mengiyakan ajakan kamu untuk merayakan hari jadi kita. Lagian tidak mungkin aku mengajak Nenek, kan?" Kendati sekiranya ucapan Vian sudah dapat menenangkan Yojung, Jian malah berulah meledek begini, "Apa sih, kuno sekali merayakan hari jadi segala. Lagi pula kalau nanti kalian putus memangnya mau memperingati hari jadi hubungan yang telah gugur?"
Sontak saja membuat Yojung naik darah, apa lagi gadis itu sedang datang bulan, yang mana jadi mirip seperti induk ayam yang itiknya kau culik. "Lihat, Vi? Adikmu ini sungguh keterlaluan! Kamu juga malah membiarkan dia jadi seenaknya mengganggu."
"Lagian Jian tidak melakukan apapun, kok. Dia cuma diam apa lagi kalau ada cake."
"Aku tidak suka dengan adikmu!" pekiknya.
"Aku juga tidak berharap disukai nenek lampir, tuh. Idih amit-amit sekali." Lagi-lagi Jian memanas-manasi Yojung. Sementara Vian tak bisa berkutik jika Jian sudah berkata demikian.
"KIM JIAN IBLIS!!" Yojung menggebrak meja dan bangkit.
Jian yang sedang sakit dan memiliki riwayar jantung yang lemah segera didekap oleh Vian saat adiknya tersentak. "Kamu yang keterlaluan, Yo!" Nada Vian meninggi.
"Apa?"
"Ya, apa?"
"Ya sudah, kita akhiri saja! Kita putus!"
Vian agaknya berat, tetapi Jian keburu menyerobot lagi dan membuat segalanya jadi berantakan. "Ya iyalah, masa aku dan Vian yang putus, mana bisa? Kalau begitu lanjutkan saja hari jadinya, anggap saja mengenang hubungan yang telah gugur."
"JIAN!" Yojung mengerang.
Jadi, karena Vian juga lelah mendengar pacar dan adiknya yang selalu bertengkar Vian mengiyakan segala keputusan Yojung untuk mengakhiri hubungannya di hari jadi yang kedua tahunnya itu.
x x x x
"Vi!"
Jian menyenggol lengan kakaknya yang sedang meminum segelas wine.
"Hm?"
Jian menunjuk Yojung dengan suaminya yang ternyata terlihat seperti om-om. "Aku dengar dia om itu sudah menikah tiga kali, empat kali dengan Yojung. Hebat, ya?"
Vian berdecak. "Hebat apanya? itu seperti lelaki yang memperrmainkan wanita."
"Anaknya sudah berapa kira-kira?"
"Aku dengar cuma satu, sudah berusia 10 tahun dan itu juga dari istri pertama."
Jian menatap Vian, karena penasaran, jadi dia bertanya lagi. "Dia orang kaya?"
Vian mengangguk. "Bos batu bara, katanya."
"Batu bata?"
"Batu bara, Jian! Kotoran telingamu sudah dibersihkan belum, sih?"
Jian mengangguk-angguk mengerti. Lantas Vian menarug minamannya dan menggandeng Jian untuk bersalaman dengan kedua mempelai. Jian tidak melihat kalau kakaknya merasa canggung atau bagaimana, biasanya ketika seseorang datang ke pernikahan mantan kekasihnya, matanya akan menatap penuh arti seolah mereka berdua tengah merepetisi kenangan-kenangan yang telah berlalu.
"Selamat ya, Yo, semoga kamu bahagia dengan suamimu." Vian menjabat lengan Yojung.
"Ya, terima kasih. Kamu tahu, aku memang sangat bahagia." Lalu Yojung menatap Jian. "Eh, Jian juga katanya akan menikah, ya?" Dia tertawa. "Duh, Vian pasti bahagia sekali karena tidak perlu repot-repot memelihara Jian."
Jian mendengus geli. Ternyata Yojung masih saja sirik. Namun Vian menggenggam erat tanga adiknya dan menunjukkannya pada Yojung. "Yaa, meski Jian akan menikah, aku tetap akan menjadi kakak yang selalu ada untuknya. Aku dengar, kehidupan pernikahan itu tak selalu mulus seperti masih berpacaran. Jadi jika Jian nanti mengalami masalah dan tak memiliki tempat untuk bercerita, aku berjanji akan berada di samping Jian dan mengatakan pada adikku kalau…" Vian menatap Jian. "Adikku sangat istimewa dan terlalu luar biasa untuk lelai manapun."
Jian tersentak. Ia tahu jika kakaknyaa memang seperti itu, namun bagaimana bisa Vian dengan mudah mengatakan hal tersebut di hadapan wanita yang dulu sangat Vian sayangi?
Menyadari ekspresi Yojung berubah, ia mencoba tersanjunh dan memaksaka senyum. "Ya, semoga demikian. Lalu kamu bagaimana, Vi? Sudah menemukan penggantiku?"
Jian mendorong Vian hingga berhadapan dengan suami Yojung dan Jian menyeringai untuk merespons perkataan Yojung. "Hai, Yojung, bagaimana bisa kamu mengatakan itu di hadapam suamimu? apa kamu pikir Vian terpuruk saat berpisah denganmu? Haha," Jian tertawa. "Setelah itu dia bahkan sibuk bertemu gadis-gadis lain yang bahagia karena perpisahan kalian." Jian berbicara seolah-olah ia sedang mengangumi betapa cocoknya ia dengan pacar baru Vian. "Tetapi aku senang jika Vian memilih Iren, well, pasangan yang tepat."
Lalu Jian menjabat tangan suami Yojung yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka. Dia jelas sudah tahu siapa Vian di sini. Sebab, ternyata Yojung dulu juga sudah dekat dengannya saat masih berpacaran dengann Vian. Yang Jian dengar juga dari Leea (Ya meski anak itu terlihat polos, dia tak pernah ketinggalan gosip panas dan nyaris semuanya tahu, apa lagi Leea juga menyukai Vian), alasan mengapa saat itu Yojung denga mudah memutuskan Vian, karena Vian tidak seloyal suaminya yang sekarang. Sementara Sejin sudah memberikan Vian wejangan untuk tak terlalu memberikan segalanya pada sang pacar, bisa saja mereka hanya memanfaatkan kekayaan keluarganya.
"Selamat, ya, Bro. Semoga tidak bangkrut—"
Sementara Vian langsung menarik lengan Jian ketika ia sudah selesai berbicara dengan mereka juga untuk menghentikan ucapan Jian. "Omong-omong, Yo. Di depan ada hadiah untukmu." Lalu Vian memberikan sebuah kunci mobil untuknya.
Jian menatap kakaknya tak habis pikir. Selagi mereka turun dari altar pernikahan dan mereka memutuskan untuk pulang, di perjalanan Jian mulai bericara. "Aku kira kamu akan menagih segala yang telah kamu berikan untuk Yojung. Tetapi kamu malah—" Jian menggeleng-geleng.
"Hanya penasaran saja dengan asumsi suaminya ketika aku secara suka rela memberikan mobil untuk hadiah pernikahannya."
"Tetapi itu berlebihan, sekalian saja kamu memberikan dia helikopter!"
"Aku malah tadi berniat datang menggunakan helikopter. Tetapi aku tidak suka diliput reporter."