Kemarin Jian berdoa agar nyawanya tak sampai pada hari di mana Ahn Hyunki mengucapkan ikrarnya. Meski kertas undangan telah disebar dan gaun pengantin telah dipesan. Jian pikir itu lebih baik daripada ia harus menikah dengan pria lain selain Woobin. Rasanya masih sakit, atau bahkan akan terus sesakit ini sampai sepuluh atau dua puluh tahun lagi.
Sejak hari itu, dia tak lagi mengirim pesan untuk Jian. Dia benar-benar memeluknya untuk yang terakhir kali. Air mata Jian tak kunjung mengering sejak hari itu. Bahkan sudah seminggu berlalu, Jian masih mengkhawatirkannya, ia masih menginginkan Woobin untuknya. Lalu, apa hari itu juga akhir dari cintanya?
Siapa yang harus Jian salahkan? keputusan Ayah? kehadiran Hyunki? atau justru pesona Woobin—dua tahun lalu—yang membuat Jian jatuh terlalu dalam. Mungkin sudah takdirnya begini. Harus meninggalkan Woobin, lelaki yang membuat harinya begitu hebat karena tumpah ruahnya cinta.
Semalam Jian memuaskan diri dengan menangis di kamar Kim Vian. Alhasil Vian tidak tidur semalam karena harus menenangkan adik tersayangnya. Usianya dua puluh tujuh tahun, sama seperti Woobin. Jian dan dia memang terpaut usia dua tahun, namun Jian lebih senang memanggilnya hanya dengan namanya saja.
Pun pagi ini, saat seharusnya Jian pergi untuk mencoba gaun pengantinnya, Vian harus maju ke depan dan berkata pada kedua orang tuanya bahwa Jian tak bisa bila hari ini, sebab Vian akan mengajaknya untuk mengurus suatu hal yang sangat penting. Yang tak bisa Vian katakan pada Ibu dan Ayahnya.
Jadi kini Vian datang ke kamar adiknya. Ia segera menutup pintu itu. Dia memang selalu tampan, dengan stelan jas dan tuxedo hitam. Bahkan jika dipikir seratus kali lagi, lebih baik Jian menikah dengan kakaknya sendiri. Oh ya, Vian berpenampilan seperti ini agar kedua orang tuanya percaya kalau ia benar-benar ada urusan penting yang melibatkan Jian. Untung saja, Vian sempat menelepon Ahn Hyunki dan meminta persetujuannya untuk membawa Jian pergi untuk menghadiri pernikahan mantan kekasihnya.
"Tak masalah, Vi. Lagian tadinya aku ingin membatalkan hari ini karena ada sesuatu yang mendesak, yang tak bisa ditinggalkan," kata Hyunki pada telepon tadi pagi. Vian tahu, bahwa Hyunki juga berbohong, bahwa lelaki itu pasti sudah menunggu Jian bahkan sejak semalaman tidak tidur memikirkan Jian, tetapi calon istrinya malah mendadak berat sebelah dan mulai merasakan cintanya semakin besat untuk Woobin.
"Semalam Ibu mendengarmu menangis." Vian duduk di sampingnya, di tepi ranjang. Jian hanya mengangguk samar, tak peduli lagi soal itu.
"Biarkan saja, aku tidak peduli," kata Jian murung. Wanita itu memandang ponselnya sembari membuka galeri kenangannya dengan Woobin.
Vian jadi merasa bersalah karena membohongi banyak pihak demi kedamaian hati Jian. "Kamu tidak malu?"
Jian menggeleng. "Biarkan Ibu tahu. Biarkan Ibu tahu rasanya menjadi aku. Menikah dengan orang lain dan meninggalkan orang yang aku cinta."
Ia tertawa pelan seraya menepuk puncak kepala Jian. "Ibu sudah tahu lebih dulu rasanya. Bahkan saat sebelum Ayah mengatakan padamu bahwa kamu akan menikah dengan Kak Hyunki. Ibu mengkhawatirkan perasaanmu yang mungkin saat ini sedang hancur." Vian menjeda. Dia menarik Jian ke dalam pelukannya. Mengelus punggung adiknya dengan penuh sayang. "Namun Ibu tidak bisa membantah keputusan Ayah. Kamu tahu kenapa, Ji? Karena Ibu menghargai Ayah sebagai kepala keluarga kita. Ibu tidak mau menjadi durhaka karena melawan suaminya."
Well, Jian paham betul bagaimana Ibu sangat menurut pada Ayah. Ibu adalah istri sekaligus orangtua yang sangat baik. Jian sangat tahu soal itu. Hanya saja, Jian masih terkejut. Ibaratkan Woobin sedang membawanya terbang, lalu Hyunki menariknya jatuh. Rasanya seperti itu, mengejutkan. Membuat jantung Jian tak berhenti berdebar. Bahkan setiap tarikan napas, rasanya memilukan.
"Aku mencintai Woobin. Hanya dia. Aku hanya ingin menjadi istrinya, bukan orang lain," ujar Jian samar, masih tidak terima dengan kenyataan ini. Padahal ia sudah mau menerima Hyunki. Tetapi saat ia bertemu dengan Woobin, semuanya mendadak hancur berantakan.
Jian merasakan anggukan dagunya di atas kepalanya. "Jangan khawatir, kamu akan tetap mendapatkan cinta. Coba pikirkan, untuk apa Kak Hyunki meninggalkan cita-citanya demi menikahimu jika tidak karena cinta?"
Jian melepaskan pelukannya. Menatap Vian dengan mata yang memerah. "Itu dia, apa kamu tidak curiga? Dia baru melihatku dan langsung memutuskan untuk menikah denganku. Ini aneh!" Ia mencoba mengelak. Menyampaikan apa yang selama ini ia rasakan. “Aneh, benar? Maksudku, aku bertanya kapan dia mulai mencintaiku.”
"Justru itu cinta yang sebenar-benarnya. Untuk apa menjalin hubungan bertahun-tahun jika tidak ada niat untuk menikahimu?"
Jian menatapnya tajam. "Woobin mencintaiku, dia akan menikahiku kalau saja Ayah setuju!" Meski begitu hati Jian juga yakin atas apa yang dikatakan Vian.
"Kalau begitu, dia harus mengambil keputusan juga. Tentu saja, keputusan yang ada konsekuensinya. Ayah sudah memberikan jalan agar Woobin menikahimu. Lalu, apa Woobin menggunakan jalan itu? Tidak, 'kan?"
Jian termangu. Kalah telak dengan segala argumen Vian.
"Woobin sudah terlambat. Jalan itu sudah diambil oleh Kak Hyunki. Aku tidak bisa menyalahkan dia juga. Kamu juga sepertinya sudah dibutakan oleh pesonanya. Aku tahu. Tetaapi Kim Jian, Adikku tersayang, dari hal ini kamu bisa mempelajari cinta yang sesungguhnya." Vian meraih bahunya, menariknya kembali ke dalam rengkuhannya. "Cinta yang sesungguhnya butuh pengorbanan. Bukan hanya soal usia cinta yang lama."
Terlalu lama bergelut dengan perasaan sendiri. Perlahan, ucapan Vian membuatnya berpikir panjang. Meski tidak semudah itu, Jian tetap saja mencintai Woobin. Namun, perkataan terakhir Vian membuatnya sadar kembali, membuatnya agak tenang. Ia kembali mempersiapkan diri untuk pernikahan beberapa hari lagi.
"Calon suamimu tampan, dia genius, baik pula. Coba bayangkan jika Ayah menjodohkanmu dengan om-om yang sudah lansia. Kepalanya botak, perutnya buncit, wajahnya tidak tampan sama sekali." Lantas Jian segera memukul d**a Vian. Oh, itu mengerikan sekali! Jelas konsep begitu juga pernah terpikirkan oleh Jian saat ayahnya mengabarkan Jian akan dijodohkan oleh seorang presdir dari agensi. Yang Jian tahu, presdir dari beberapa agensi sama sekali tak ada yang muda.
Well, karena saat itu mungkin Jian melihat artikel kuno tentang kepemilikin Blue Entertainment. Jian baru tahu kalau Hyunki mewarisi milik ayahnya.
"Jangan mengira Tuhan tidak adil. Tuhan lebih tahu seseorang yang lebih baik untukmu."
Pembicaraan kali ini ditutup dengan Vian yang mengecup kening Jian. Ia tidak boleh menangis, ia tak boleh menangis atau Vian akan memarahinya karena make up gadis itu akan luntur dan Vian tak jadi membawa Jian untuk bersenang-senang. Jian harus mengubur kesedihannya, ia harus kuat menghadapi ini.