Pada pahatan terindah karya Tuhan, yaang matanya mengalahkan sinar rembulan malam, yang senyum ranumnya mampu mengusik kelam. Suatu saat nanti, dia akan kurindukan. Entah pada setiap lagu yang ia tembangkan dengan syahdu, atau pada sikap manja yang membuat diri ini terlena.
Lelaki itu, yang sedang bersenandung di hadapanku. Menatap netraku memuja, seolah hanya aku satu-satunya wanita di dunia, atau mungkin lebih tepat di hatinya. Choi Woobin, namanya. Tidak perlu Jian deskripsikan bagaimana visualnya. Jian rasa semua orang tahu, dia seseorang yang bertalenta. Penyanyi solo yang tengah naik daun dengan poni khas melengkung membentuk koma.
Kuceritakan sedikit pertemuan mereka dua tahun lalu. Kebetulan Jian bekerja sebagai desainer di sebuah perusahaan Fashion milik ayahnya. Kala itu agensi yang dinaungi Woobin meminta Jian untuk mendesain outfit yang akan ia kenakan untuk fashion show di Chicago, sekaligus outfit untuk comeback-nya. Lalu perusahaan Jian memilih dia untuk dijadikan model fashion edisi musim kemarau.
Kerja sama mereka berjalan sekitar satu bulan. Oh, tentu tidak mungkin tidak terjadi apa-apa pada Jian jika sudah berhubungan dengan lelaki bermarga Choi itu. Selama sebulan itu, bisa Jian katakan dia sedikit menghambat pekerjaan Jian. Dia selalu menggoda Jian dengan cara apa pun. Contoh saja, saat Jian mengukur diametar pinggangnya, dengan sengaja dia menarik pundak Jian mendekat, mengikis jarak di antara mereka, menatap dalam mata Jian, sedangkan hatiJian memberontak untuk tidak segera jatuh terlalu dalam.
Woobin pernah bilang, dia ingin mengencani seorang model setelah melihat kemolekan tubuhnya. Wajar, sih, lelaki mana yang tidak tergoda dengan tubuh molek seorang wanita. Namun, dia meralat perkataannya seperti ini, "Itu, kan, hanya sebuah keinginan, nyatanya yang aku butuhkan dirimu. Gadis dengan cinta luar biasa." Sudah menjadi ciri khasnya memang, dia romantis. Sialnya, Jian terjebak dalam pesona itu. Jian mengiyakan keinginan dia untuk menjadikannya sang kekasih. Tak bisa dipungkiri juga, Jian disiksa rindu saat jauh darinya.
Seringkali diam-diam dia kabur dan menyusup ke rumah Jian. Jian pikir itu hal yang berbahaya, mengingat profesinya sebagai seorang idol dengan fans hampir di seluruh belahan dunia. bukan Hal tabu jika paparazi mengincarnya. Well, ini akan menjadi berita besar dan bayarannya mungkin akan sangat besar jika Woobin lengah membiarkan paparazi mengetahui hubungan mereka. Tetapi, dia menembus batasannya sendiri. Tidak peduli sebanyak apa kamera yang mengintai gerak geriknya, dia selalu punya cara untuk menemuiku bila sedang terlilit rindu. Dia selalu merengkuh Jian di kala lelah. Dia bilang, Jian obat dari segala lelahnya. Dia bilang, dia membutuhkan Jian. Dia bilang, Jian tempatnya pulang. Dan Jian hanya bisa bilang, bahwa ia sudah tenggelam pada lautan cintanya. ia terjebak dalam hatinya. Bukan hal mudah menjalin hubungan secara rahasia selama dua tahun lebih. Jian pikir semua akan baik-baik saja andai ayah merestui hubungan mereka.
Harum oriental spicy floral menyeruak ke dalam indra penciuman Jian. Lagu yang berjudul 'Promise' miliknya baru saja selesai ia senandungkan. Kini, ia duduk di samping Jian. Tidak ada siapa pun di ruangan ini, beberapa pelayan baru saja keluar setelah Choi Woobin menginterupsi mereka. Sedikit tambahan juga, ia selalu mengeluarkan biaya yang besar untuk menyewa satu tempat agar kami bisa berkencan tanpa peduli dilihat orang.
"Sepertinya tadi suaraku tidak stabil, maafkan aku." Dia duduk di samping Jian, tangannya segera terulur membelai pipinya. Padahal, 'kan, seharusnya Jian yang memanjakan dia saat ini.
Satu hal yang Jian kurang suka darinya, ketika dia sudah membicarakan bahwa apa yang dia lakukan tidak selalu memuaskan. Ini benar, bahwa sudah mutlak tidak ada manusia yang sempurna, dan seharusnya dia mengerti. Itu wajar. Tetapi dia malah menjadi frustrasi sendiri dan terkadang mempengaruhi suasana hati.
"Kau bernyanyi dengan sangat baik, Woobin." Kuraih tangannya yang terasa hangat di pipi Jian.
"Tadi itu karena salahmu, Ji," katanya menyalahkan Jian. Jian mengernyit, dia bilang apa? Bahkan sejak tadi Jian hanya diam tanpa melakukan apa pun. Apa memandangi ketampanannya juga sebuah kesalahan?
"Jahat sekali, padahal aku tidak melakukan apa pun." Jian mengerucutkan bibir, menatapnya manja. Begini jika sudah bersama dia, Jian lupa dengan segala hal yang sempat mengganggu hatinya.
"Salah karena kamu terlalu cantik, Kim Jian. Aku jadi takut ada yang menyaingiku nanti. Semoga saja, tidak," ucapnya dengan nada yang sengaja di buat rendah. Sengaja mau membuat Jiaj mati dalam pesonanya, mungkin.
Beberapa detik waktu mereka hanya diisi dengan keheningan. Tidak seperti biasanya, mereka kalut dalam pemikiran masing-masing. Jian tidak bisa membaca pikirannya. Ia sibuk menyiapkan diri untuk mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya. Jian menggigit bibir bawah, menjentikkan kedua kuku ibu jarinya.
"Ada apa, Jian? Apa aku melakukan suatu kesalahan?" Baiklah, Woobin peka terhadapnya, Jian semakin takut melihatnya yang menatapnya serius.
"Jika ada yang salah denganku, katakan. Jangan diam saja. Oh ya, kemarin kamu bilang sedang mempersiapkan sesuatu untuk acara besar. Apa sudah selesai? Mungkinkah hari ini aku mengganggumu?"
Jian menggeleng cepat. Bagaimana pun, Jian tidak siap untuk hari ini. Jian takut hatinya teriris perih melihatnya terluka. Harinya akan tiba, jika tidak sekarang, mungkin Jian tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengannya. Woobin akhir-akhir ini jadi super sibuk dan sulit ditemui.
"Aku mau menikah."
Woobin terkesiap, ia mengambil tangannya untuk digenggam. "Ayo kita menikah, jika itu yang kamu inginkan. Kamu tahu tidak? Saat pertama kali melihatmu. Aku tidak ingin memacarimu, melainkan ingin menikahimu langsung." Woobin menatap Jian dalam. "Tetapi kamu tahu, Jian. Ayahmu tidak setuju. Katakan aku harus bagaimana? Membawamu lari? Kamu juga tidak setuju."
Ini menyebalkan. Bahkan Jian tidak memiliki alasan untuk berpisah dengan Woobin. Hal buruk apa yang harus Jian ungkit untuk menjadikannya alasan? Tidak ada. Woobin sudah kelewat baik. Dia tidak pernah menyakiti Jian.
"Kim Jian." Dia meremat tangan Jian, Menatapnya dengan pandangan teduh, seperti memohon akan sesuatu. "Jangan diam saja."
Matanya terasa panas sekali. Jianbmelepas tangan darinya. Mengeluarkan secarik undangan dari dalam tas. Memberikannya pada Woobin. Melihat ekspresinya yang kebingungan, Jian segera menundukkan pandang. Hatinya akan segera hancur.
"Ini apa? Lelucon?" suaranya rendah, namun ia tertawa samar.
Woobin menarik dagu Jiansupaya menatapnya. "Kita sedang membicarakan soal bagaimana caranya agar aku bisa menikahimu. Kenapa kamu malah membuatku terkejut dengan undangan ini? Kamu sedang membercandaiku, 'kan, Jian? Kamu tidak serius, kan?"
"Ayah bukannya tidak menyukaimu. Dia hanya tidak suka dengan profesimu. Woobin, kamu tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu demi aku, 'kan?"
Sungguh, Jian tidak sengaja mengatakan itu. Jian jadi takut dia tersinggung. Menjadi seorang penyanyi adalah cita-citanya sejak kecil. Jia tahu itu.
"Kamu tahu apa yang tidak bisa dipisahkan dari hidupku? bernyanyi, dan kamu."
Woobin mulai melepas genggaman tangannya. "Lalu apa profesi calon suamimu itu?" Ia bertanya dengan vokal serak.
"Produser musik sekaligus CEO Blue Entertainment, awalnya. Sejak pergantian jabatan di agensinya, sekarang dia memutuskan menjadi kepala direktur, mewarisi beberapa saham dari perusahaan ayahnya."
"Oh, jadi dia lebih kaya dariku?" Woobin tersenyum tipis. Jujur ini membuat Jian sedikit tersinggung, apa dia sedang mengira bahwa keluargaku golongan matrealistis?
Jian menarik napas, menatapnya dengan kecewa. "Dia meninggalkan cita-citanya demi menikahiku, Woobin."
Kali ini ia tertawa simpul. "Itu karena jabatannya sebagai CEO tergantikan," celanya, lalu membuang muka.
"Jangan seenaknya menilai seseorang dari sudut pandangmu saja. Kamu tidak tahu yang sebenarnya."
Jian mengerti bahwa Woobin sedang berusaha menunjukkan diri bahwa hanya dia yang terbaik untuknya. Namun caranya salah. Jian tidak suka saat dia berprasangka buruk kepada orang lain. Rasa sedihnya berbah jadi kesal. Sedari tadi Jian menahan agar bendungan matanya masih kuat menyimpan air mata.
"Lalu bagaimana dia dari sudut pandangmu?"
"Bahkan jika posisinya sebagai CEO tergantikan, dia masih bisa menjadi produser di agensi itu. Dia masih bisa bersama cita-citanya andai dia tidak menyetujui permintaan Ayah. Sayangnya, dia menyetujui permintaan Ayah untuk meninggalkan profesinya yang berhubungan dengan musik, jika ingin menikah denganku."
Jian tahu perkataan ini akan menyayat hatinya. Namun, memang benar itu adanya. Woobin menatapnya dengan tatapan berbeda kali ini. Dia seperti pasrah.
"Jadi, kamu menyimpulkan bahwa cintanya padamu lebih besar daripada rasa yang aku punya?"
Jiaan mengangguk samar, Kak Vian sudah banyak sekali menceramahinya.
"Jadi kamu sudah lama mengenalnya? Apaitu berarti kamu sudah menjalani pendekatan dengan dia di belakangku?" Woobin seperti sedang mengimintidasi.
Beludak air mata perlahan jatuh. "Tentu saja, Woobin. Kami memutuskan berkencan tiga kali untuk mengetahui keputusanku. Ditambah beberapa kali pertemuan keluarga." Meski ada yang aneh saat itu.
Woobin mengangguk. Bahkan dia tidak menghapus air matanya seperti yang biasa dia lakukan. Dia hanya menatapnya menyaksikan air mataku yang jatuh dengan bebas.
"Ini sangat menyakitiku." Woobin mengambil napas sejenak sebelum Jian lihat matanya mulai berkaca. "Rasanya tidak perlu dijelaskan lagi sebesar apa aku mencintaimu. Maaf jika aku tidak bisa membuktikan cintaku dengan menikahimu. Aku menyayangimu, itu sebabnya aku menghargai keputusanmu untuk memilih menikah dengan orang lain."
Detik itu juga tangisnya pecah. Jian sudah tak kuasa menatap matanya. Maka Jian menutup wajahnya sembari terus menunduk. Woobin hanya akan menghancurkan perasaannya. Lalu, Jian merasakan bahunya ditarik. Kepalanya disandarkan pada dadanya. Jian merasakan tangannya mengusap punggungku.
"Biar ini menjadi yang terakhir aku memelukmu," katanya lirih.
"Aku mencintaimu, Kim Jian. Sangat mencintaimu. Aku ingin kamu tahu hal ini " Jian mendengar suaranya serak. Apa dia juga menangis?
Ini sama sekali tidak menenangkan. Woobin malah membuat Jian semakin hancur dan sakit. Ia segera menjauhkan diri darinya. "Aku mohon jangan datang saat hari itu tiba. Aku tidak ingin menangis hanya karena melihatmu. Aku tidak ingin kamu menghancurkanku untuk ke depannya. Aku juga—"
Woobin menarik tengkuk Jian. Menempelkan bibirnya untuk menghentikan segala perkataan Jian.
Breaking up is not the end of everything.