Pada embusan udara dengan suhu yang menurun drastis dari siang tadi, nyaris buat bibir Jian bergemertak dan tubuh menggigil hebat. Tetapi di sampingnya, Ahn Hyunki melepas mantel tebalnya untuk menyelimuti Jian dalam kegelapan. Di hadapan layar besar dan reaksi beberapa orang terhadap adegan berciuman yang cukup lama.
Jian tidak mengira Ahn Hyunki bakal mengajaknya menonton film romansa. Ia tak mengira lelaki denga raut serius ini tak keberatan dengan salah satu film kesukaan Jian bergenre romansa. Yang Jian tahu, tontonan Ahn Hyunki tak jauh dari thriller, sci-fi, action, horor, crime, mystery, suspense dan apa saja yang seperti itu pokoknya.
Jian sudah mengajaknya menonton film bergenre horor di jam midnight, tetapi Hyunki malah menyahut, "Nanti kamu bisa pulang kemalaman, dan kalau kamu penakut aku cemas kamu akan bermimpi buruk." Ah, sesungguhnya mengenal Hyunki juga termasuk mimpi buruk yang menjadi nyata. Jian tak pernah menyangka kalau Hyunki hadir dalam hidupnya.
Yang datang tiba-tiba tak semudah itu untuk disuruh kembali. Jadi Jian tak mampu secara keras dan terus terang untuk menolaknya. Ibunya mengajarkan dia untuk menghargai lelaki dan tidak bersikap kasar. Apa lagi jika lelaki itu baik dan kita melukai harga dirinya. Jadi itu alasan mengapa Jian tak menolak dan menjalankannya.
Tak banyak percakapan, mereka cuma menonton bahkan pemikiran Jian melenceng, ia kira Hyunki akan menggengam tangannya di beberapa kesempatan. Tetapi tidak, lelaki itu benar-benar sopan dan tak sembarangan. Berbeda dengan Woobin saat mencoba mendekatinya.
Di perjalanan pulang, dia bahkan sudah menerima beberapa panggilan tak terjawab dari Choi Woobin dan manajernya. Meski Hyunki sempat melirik dan menyuruh Jian untuk mengangkatnya, Jian tetap bersikeras tidak mengangkat bahkan mematikan ponselnya. "Barangkali itu penting, Ji. Kalau kamu tidak mau aku mendengar obrolannya, aku bisa menepikan mobil dan keluar sebentar," katanya. Tetapi Jian benar-benar kekeuh dengan pendiriannya dan berkata lembut, "Ada beberapa lelaki yang berusaha menggodaku di kantor, jadi ini panggilan dari mereka."
Hyunki cuma mengangguk dan tersenyum singkat. Seolah ia tahu bahwa hal itu cuma alasan yang dibuat-buat. "Aku harus cepat menikahimu supaya mereka tidak mengganggu lagi, ya?"
Jian mendadak terdiam. Perasaan bersalah selalu mengelilinginya dan itu sama sekali tak membuat hidupnya tenang. Jian harus menghentikan ini semua, tetapi tidak bisa karena semakin ia mengenal Hyunki, semakin ia tahu bahwa lelaki itu memang berbeda, Hyunku baik. Sangat baik.
Maka ketika mobil telah masuk ke halaman rumahnya, Hyunki mematikan mesin mobilnya. Dia tak membukakan pintu mobil untuk Jian, tak masalah, Jian juga tak mau kalau Hyunki bersikap berlebihan. Jadi di sini Hyunki benar-benar bersikap netral dan tak terlalu membual. Jian mengerti Hyunki soal itu. Berbicara kalau memang sedang serius saja, meski terkadang lelaki itu menyahut seadanya.
"Kamu tidak masuk dulu, Hyun?" ujar Jian setelah ia keluar dari mobil. "Barangkali ingin kubatkan teh? Atau menyapa Ayah, Mama, atau Vian?"
"Terima kasih, Ji. Kamu harus istirahat karena besok harus beragkat pagi, kan?"
"Aku masih punya cukup banyak energi. Kita tidaj melakukan apapun tadi—" Jian mendadak menghentikan ucapannya dan salah tingkah. "Eum, maksudku karena kita cuma menonton, eh tapi jangan salah paham atas ucapanku. Maksudku, karena itu aku masih punya banyak tenaga untuk membuatkanmu makan malam dan pulang ke rumah dengan kenyang."
"Ah, iya, maaf karena kita tidak makan malam lebih dulu dan langsung pulang setelah menonton—"
"Itu tidak masalah, tadinya aku berniat mengajakmu makam malam di rumah." Jian buru-buru menyela sebelum Hyunki berpikir yang tidak-tida karena pergi tanpa makan malam terlebih dahulu. "Sekadar teh lemon, mau, ya? Aku yang buatkan."
Hyunki terdiam sejenak sebelum menyahut. "Sebenarnya ada sesuatu yang harus aku urus sepanjang hari. Tetapi karena kamu bilang malam ini punya waktu luang, aku mengesampingkan pekerjaanku dan menemui kamu. Karena aku pikir kamu juga sedang sibuk, ya? Jadi aku tidak mau menunda kencan kedua ini."
Jian memahaminya. Ia mengangguk mengerti dan tersenyum. "Jadi malam ini kamu akan melanjutkan pekerjaanmu?"
"Iya, aku harus cepat mengurus pergantian jabatan dan menyelesaikan semuanya sebelum aku pensiun dari agensi," ujar Hyunki.
Harus cepat, ya? Itu artinya pernikahan mereka akan segera terlaksana. "Ya sudah, sana kembali. Kamu tidak akan pergi kalau aku mengajamu bicara terus."
"Sebenarnya tidak apa-apa, kalau kamu masih mau berbicara denganku, aku bisa melakukan pekerjaan dengan menelepon kamu—"
"Bawa saja Jian, Hyunki Hyung." Vian tiba-tiba muncul dari belakang mobil Hyunki membawa bungkusan bergambar chicken fried. Karena tahu Jian menatapnya sarat kuriositas, jadi Vian segera mengangkat apa yang ia bawa dan memamerkannya pada Jian. "Ah, ini aku delivery ayam goreng pedas, karena kurirnya tersasar, jadi aku jalan kaki untuk menjemputnya."
Jian tak peduli, ia kembali pada Hyunki untuk segera kembali. Tetapi Vian menampakkan diri di depan Hyunki dan merangkul adiknya. "Jian agak tidak berguna di rumah, dia tidak bisa diperintah untuk sekadar membuatkan teh atau memasakkan ramen instan. Jadi, kupikir kau bisa menyuruhnya untuk menyapu, mengepel, mencuci pakaianmu, membuatkan teh lemon atau memasak."
"Aku bukan pembantumu, ya!" Jian menyikut bawah ketiak Vian dan menariknya untuk kembali ke rumah setelah melambai kecil pada Hyunki.
Vian menutup pintu gerbang dan buru-buru menyusul adiknya ke dalam rumah. "Aku berani bersumpah, Ji. Kalau kamu menikah, kamu akan melakukan segalanya yang tidak pernah kamu lakukan."
"Aku bukan pembantu, Vian!" pekik Jian lantas melangkah cepat menaiki anak tangga. Sementara Kim Yieun, ibunya yang sedang menikmati acara televisi menatap kedua anaknya dengan pasrah.
Yieun menyuruh Vian duduk di sampingnya. Lelaki itu pun menurut dan mendaratkan bokongnya di sofa. Meletakkan bingkisannya di atas meja, yang mana ia memang berniat memakannya dengan Yieun.
"Jangan begitu, Vian. Jangan menakut-nakuti adikmu dengan pernikahan. Biarkan dia menjalaninya dan memilih untuk masa depannya."
"Dia pasti memilih Woobin dan Ayah akan mengamuk atau bahkan mengancam Jian keluar dari rumah." Vian mendadak berubah menjadi bijak, bukan seperti seorang kakak yang gemar mengganggu adiknya lagi. Percayalah, ini adalah Vian yang sesungguhnya. "Aku sudah menyiapkan tabungan dan membuat rekening baru yang mana ayah tidak bisa menjangkaunya. Barangkali Jian akan menolak dan aku akan memberikan tabunganku untuknya."
Yieun kembali menatap televisi begitu sesi iklan telah selesai. "Simpan tabunganmu untuk menikah, Vi. Kalau adikmu menikah nanti, memangnya kamu tidak ingin? Jian akan ikut bersama suaminya dan kamu tidak bisa mengganggu Jian lagi."
"Apa Mama yakin Jian akan menerima Ahn Hyunki?"
"Kalau Jiian tidak mau, dia pasti akan menentang ayahnya dan tak akan menemui Hyunki untuk kencannya."
"Mama yang bilang pada Jian untuk menghargai semua lelaki dan jangan menolaknya dengan kasar. Jadi mungkin itu sebabnya Jian menemui Hyunki. Ma, Jian masih mencintai Woobin."
"Mama yakin Jian sangat mencintai Woobin, pun dengan Hyunki yang memperjuangkannya mati-matian. Kalau kamu jadi Jian, kamu memilih siapa?"
"Hyunki Hyung."