Ketika Hyunki tiba di ruang meeting, Jey dan Yeonji sudah berada di sana ditambah juga dengan kehadiran Woobin. Hyunki bergabung dengan mereka sebagaimana seorang direktur yang pernah menjadi pusat perhatian para koleganya. Namun di sini Hyunki hanya perlu bersikap santai seolah keputusan yang akan terbentuk bukan lah apa-apa dan ia tak perlu lagi peduli dengan hal itu.
Hyunki sejak awal menyadari jika Woobin dan Jian jelas bukan sekadar teman biasa. Mereka jelas masih ingin mempertahankan satu sama lain. Jadi ketika Woobin ingin bergabung dengan agensi keluarga mereka, Woobin telah mendeklarkan bendera peperangan. Hyunki merasa ingin tertawa dengan keputusan yang agak ceroboh ini. Woobin sedang mengambil langkah panjang sekaligus agar mampu kembali mencapai Jian setidaknya sekali lagi dalam hidup. Hyunki mengerti.
Hyunki juga mengerti jika Yeonji menyadari ada yang bergalat dengan Woobin. Hyunki memahami adiknya yang selalu peka dengan problematika manusia di sekitarnya terlebih Yeonji juga memiliki foto ketika tangan Jian digenggam oleh Woobin di hari pernikahannya. Jian pikir cuma Vian yang memiliki foto itu, kan? Tidak, Yeonji juga memilikinya. Bahkan Yeonji mmemiliki video panjang mengenai Jian yang terkejut dan nyaris pingsan di tempat saat Woobin datang.
Hyunki mengerti. Yeonji tak pernah menyembunyikan sesuatu untuk seseorang yang memang seharusnya tahu. Bahkan Yeonji mengirimi foto dan videonya tepat ketika Hyunki baru saja pulang dari gedung pernikahan. Itu sebabnya Hyunki tidur di ruang kerja dan membohongi Jian. Hyunki hanya tak mau membuat gadisnya tertekan jika ia tidur di sampingnya. Hyunki hanya ingin membuat Jian nyaman dan tak merasa terbebani dengan pernikahan itu. Sebab Hyunki juga menyadari jika ia lah yang egois di sini. Hyunki ingin merasakan hidup sebagai seorang suami di sisa usianya yang entah akan sampai kapan.
Hyunki memilih Jian karena sebuah alasan. Hyunki memiliki Jian karena hatinya bergerak lebih cepat dari dugaannya. Hyunki memilih Jian karena ia percaya gadis itu akan menyimpan Hyunki sebagai kenangan yang tak akan pernah gadis itu lupakan. Jadi di sisa waktu yang entah sampai kapan, Hyunki mengorbankan segalanya agar dirinya tak mudah dilupakan begitu saja.
“Jika kalian setuju, Woobin akan pindah setelah comeback dan untuk manajer, aku mempersilakan jika Jey berkenan untuk memberikan manajernya ikut dengan Woobin," ujar Yeonji yang dibalas anggukan oleh Jey. Ia menatap Hyunki meminta persetujuan.
"Ya, terserah kamu saja. Juga setelah ini, aku berharap kamu tak menghubungiku lagi untuk ikut campur masalah agensi."
Yeonji tertawa. "Ya, ya, aku mengerti. Kamu benar-benar menjadi menantu idaman, ya? Baiklah, aku hanya perlu pendapatmu untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi. Juga, tampaknya kamu dan Jian akan menjadi pasangan yang sibuk bekerja, ya?"
Yeonji menarik satu sudut bibirnga ketika melihat pipi sang kakak memerah dan tersipu malu. Hyunki merespons, "Tidak akan seperti itu, aku tidak akan bekerja sekeras ketika aku masih di sini. Aku perlu lebih memperhatikan Jian dari pada SWANOWSKY."
Sementara itu, Woobin cuma diam dan menatap Hyunki dengan perasaan sakit.
Meeting hari itu disetujui. Ketika mereka keluar dari ruangan, Yeonji memberikan sebuah undungan untuk Woobin. “Untuk acara besok malam, jika kau tidak keberatan dan memiliki waktu luang, kau bisa datang bersama manajermu, Woobin."
Woobin menerimanya dan tersenyum. "Aku akan meluangkan waktu sebisaku."
Sementara itu ketika Woobin melanjutkan perjalanannya dengan Jey, Hyunki menarik lengan adiknya dan berbisik, "Hei, kamu bahkan tidak meminta pendapatku untuk memberinya undangan itu."
Yeonji mengendikkan bahu. "Aku berharap kamu datang dengang Jian."
"Jian memang akan datang," desis Hyunki hingga pada akhirnya berjalan mendahului Yeonji. "Dan, Yeonji, Jian sekarang adalah kakakmu juga."
x x x x x
Jian telah berada di depan lobi utama gedung Blue Ent. namun seorang satpam menghentikan Jian dan menanyakan siapa dirinya. Sialnya, Jian tak membawa kartu identitas dan ia belum pernah bekerja sama dengan salah satu artis Blue Ent. Jian memerlukan orang dalam untuk masuk ke sana dan Jian cuma memiliki nomor Hyunki dan Yeonji.
“Nona? Apa Anda orang penting? Anda memiliki kepentingan di sini?”
Benar, di sini Jian memiliki kepentingan apa? Dia hanya ingin memastikan jika perkataan Hyunki benar, soal Woobin yang akan pindah agensi dan jika benar, Jian ingin menanuakan soal kalung yang saat ini Jian kenakan secara tidak langsung. Jian seperti orang bodoh, kan? Dia bahkan tak menyebutkan bahwa dia adalah istri Ahn Hyunki.
"Tidak, aku hanya menunggu seseorang. Boleh kah aku menunggu di sini?"
Satpam tersebut mengangguk. "Kalau begitu silakan duduk di ruang tunggu, Nona." Satpam itu menunjuk deretan kursi di samping lobi sambil berpikir sekiranya di mana ia pernah melihat Kim Jian.
Ketika Jian bergerak kembali untuk duduk, seseorang memanggilanya.
"Jian?"
Jian beserta satpam itu menoleh ke arah Jey. Jey yang mengerti situasi itu mendekati mereka dan menatap satpam. "Pak satpam, ini Kim Jian, direktur Zabine sekaligus istrinya Pak Ahn Hyunki. Tampaknya kau tidak mengenalinya makanya tak membiarkanya masuk?"
Satpam tersebut membuka mulutnya lebar dan tercengang. Ia menunduk untuk menghormati Jian dan meminta maaf karena membiarkannya masuk. "Jadi Anda mencari Direktur Ahn? Dia memang tadi berada di sini. Maaf, sepertinya aku kurang update."
Namun, tatapan Jian justru terpaku pada lelaki di samping Jey. Choi Woobin. Jey bahkan hampir melupakan bahwa Woobin pernah menjadi brand ambassodor Zabine dan beberapa outfit stage serta comeback yang dikenakan Woobin juga dari Zabine. Jadi Jey pikir bukan hal tabu jika mereka saling mengenal. Hanya saja, mengapa tatapan Jian seperti baru saja melihat orang yang sekarat?
"Jian?"
Jey menoleh. Itu Hyunki. Ketika Hyunki datang, satpam undur diri. Hyunki tersenyum ketika melihat Jian telah memakai kalung itu. Namun senyum Hyunki pudar ketika Woobin berkata, "Kalungmu bagus, Direktur Kim."
Jian tampak menemukan rasa lega di sana kala menatap Woobin. Sementara Jey yang berada di situasi aneh itu segera menepuk bahu Hyunki. "Aku pergi duluan, Hyun. Entah mengapa rasanya gedungmu saat ini terasa akan rubuh."
Hyunki menatap Jey dengan serius, meski ia tahu sahabatnya itu hanya bergurau. Namun ia mengangguk dan setelahnya kembali menatap Jian yang telah memfokuskan iris untuknya. "Kenapa di sini?" tanya Hyunki.
"Aku hanya—"
Jian tampak melirik Woobin, jadi Hyunki juga ikut melirik Woobin yang sedang tersenyum ke arah Jian. "Aku hanya ingin—" Jian menggigut bibirnya karena tak menemukan alasan yang tepat. Sial, ini bukan dirinya. Jian tak perna merasa setidak berdaya ini.
Hyunki yang mengerti hanya tersenyum singkat dan berkata, "Kalau begitu simpan jawabanmu, aku ada urusan lain dan harus segera pergi." Lalu ia melewati Jian dan keluar dari gedung Blue Ent.
Semendadak itu? Padahal Hyunki cuma bilang akan rapat dadakan sebentar di Blue Ent dan kembali ke rumah. Namun kini Hyunki jelas sedang mencari alasan untuk pergi dari situasi ini. Jian yang merasa bersalah dan merasa jadi manusia terbodoh pun akhirnya terpaksa berlari mengejar Hyunki dan ikut ke dalam mobilnya tanpa mengatakan apapun lagi.
Hyunki cuma berdecak pasrah ketika Jian justru malah duduk di belakang. "Kamu pikir aku sopir taksi?" tanyanya dengan santai. "Kenapa duduk di belakang? kamu seharusnya di sampingku, Jian."
"Huh?" Jian menatap Hyunki. Ya, Jian mengerti. Dia hajya sedang tidak percaua diri. Hyunki yang tak lagi merespons kebingingan Jian pun akhirnya melesatkan mobil mereka pada jalanan Seoul yang sibuk.
Dalam perjalanan pulang, keduanya jelas tak melakukan konversasi apapun. Hyunki yang terlihat santai dan fokus menyetir di pandangan Jian, meski sebenarnya lelaki itu sedang memikirkan sesuatu. Dan Jian yang sibuk bergelut dengan perasaannya sendiri karena ingatan masa lalunya. Namun menyadari bahkan Hyunki telah memberhentikan mobilnya di garasi rumahnya, Jian bertanya, "Hyunki, bukankah tadi kamu bilang ada urusan lain dan harus segera pergi? Kenapa malah kembali ke rumah?"
Hyunki yang sedang melepas sabuk pengamannya menjawab, "Eum, karena kamu berada di mobilku jadi aku rasa perlu mengatarmu lebih dulu. Toh, tidak mungkin aku membawamu ke tempat tujuanku."
'Memangnya tempat apa yang ingin ka tuju sampai aku tidak semestinya ikut serta?' batin Jian.
Jian hanya mengangguk memahami dan berniat melepas sabuk pengamannya. Namun Hyunki juga tampak melepas sabuk pengamannya. "Melihat bahwa kamu sangat sibuk, aku rasa kamu harus segera pergi untuk uurusan itu, lalu kenapa kamu melepas sabuk pengamannya?"
Hyunki berbalik buat menatap Jian. "Mengantar sampai ke dalam, memangnya tidak boleh?" responsnya datar.
"Tidak, maksudku—" Perkataan Jian terhenti sebab Hyunki sudah turun dari mobil dan masuk meninggalkan Jian. "Apa dia merajuk?"
Jian cuma melengos dan turun dari mobil. Ia mencari Hyunki dan menemukan lelaki itu sedang berada di kamar mandi sedang mencuci muka dan tampak lelaki itu akan berganti pakaiam santai. Jian yang melihat itu pun bergumam lirih, "Katanya cuma ingin mengantar, tetapi malah agaknya setelah ini dia akan tidur."
Sementara Hyunki yang mengerti raut Jian pun berkata, "Jangan bertanya lagi, aku tidak jadi pergi dan ingin beristirahat."
Jian yang mulanya duduk di sofa kamar, berdiri dan meraih jemari Hyunki yang hendak meraih knop pintu.
"Ahn Hyunki!"
"Ya?"
"Maaf."
"Soal?"
"Soal tadi."
"Apa tadi kamu membuat kesalahan?"
Jian terdiam. Hyunki juga tak bergeming dan menaikkan satu alisnya guna menunggu respons dari istrinya. Meski Hyunki mengerti apa yang sedang Jian pikirkan. Lantas Hyunki menarik jemarinya yang tengah digenggam Jian dan menyentuh liontin bintang laut yang tersemat di lehernya. "Kamu menyukainya?"
"Iya, aku menyukainya."
Hyunki tersenyum sekilas yang mana malah terlihat hambar di mata Jian. "Mengingatkanmu pada masa lalu?"
"Bagaimana kamu—" Jian tercekat, namun ia berusaha memendam kembali suaranya dan ia cuma mengangguk.
"Apa masa lalu itu sangat berarti bagimu, Jian?"
"Kenangan, tepatnya. Itu jelas sangat berarti. Namun itu hanya sebatas kenangan, bukan?" Jian menatap Hyunki, seolah ingin meminta lelaki itu sedikit pengertian.
"Aku mengerti, kenangan itu memang berarti, seperti ketika kamu menemukan sebuah permata di tempat yang langka. Namun, Jian, jika itu berhubungan dengan ingatan masa lalu, maka ingatan itu seperti puzzle yang mengecoh keyakinanmu. Kamu bisa meletakkan sekotak puzzle di mana pun, namun bukan berarti itu sudah terrangkai dengan baik." Hyunki membuka pintu, dan ia kembali menatap Jian dengan intens. "Ah, iya, Jian. Kamu tidak perlu meminta maaf hanya karena ingin menemui sahabat dekatmu. Itu wajar, kamu pasti merasa kesal dan butuh penjelasan mengapa sahabat dekatmu itu tidak memberitahu soal kepindahannya. Namun, Jian, jika kamu mengharapkan kelancaran, bisakah untuk mengendalikan ekspresimu di depan orang lain?"