Malam itu ketika Jian sudah tertidur di kamarnya dan Hyunki sedang melihat-lihat dokumen baru, alih-alih mengalihkan pikirannya soal hubungan Jian dan Woobin, kepala Hyunki serupa menerima pukulan mentah bertubi-tubi. Telinganya berdenging dan rasa sakit di kepalanya jadi luar biasa terasa pilu dan nyeri.
Hyunki menarik laci dan mencari botol obatnya. Ia membuka tutup botol tersebut dan mengeluarkan pil pereda sakitnya yang ternyata telah habis.
"Sial, aku lupa mendatangi Hyoji," rintihnya seraya memegangi kepala yang terasa semakin sakit. Hyunki ingin minum. Jadi ia bangkit dari kursinya dan berusaha mencapai gelas berisikan air di atas meja kerjanya. Hyunki bangkit dari lemari dan menyimpan beberapa dokumennya lagi lalu menuju meja untuk meraih air minumnya.
Hyunki mengerti jika rasa sakit ini akan bertahan lama jika ia tak segera meminum obatnya. Bisa jadi kepalanya masih akan terasa pusing sampai pagi. Hyunki melirik jam di ponselnya. Pukul 9:26 PM. Ia masih bisa menelepon Hyoji dan membuat janji temu.
Tak lama, Hyoji mengangkatnya dan segera menebak apa yang terjadi. "Kenapa? obatmu sudah habis?"
Hyunki memegangi kepalanya dan menjawab. "Ya, bisakah aku menemuimu besok?"
"Tentu saja. Karena obatmu sudah habis, datanglah setelah sarapan."
"Baik. Terima kasih." Hyunki lantas menutup teleponnya dan merebahkan diri di atas sofa. Yang perlu ia lakukan hanya tidur untuk melupakan rasa sakit kepalanya. Alih-alih ketika matanya terpejam ia malah memikirkan tentang Jian dan mantan kekasihnya, Choi Woobin. Hyunki bisa rasakan bunyi kepalanya yang berdenging nyaring dan membuatnya bangkit dari sofa serta memegangi kepalanya yang terasa sedang dibelah menggunakan silet.
“AARGH!"
Hyunki memekik kala ia mencoba bangkit dan rasa nyeri di kepalanya semakin membuatnya merasa lemas dan terjatuh lagi.
"Ahn Hyunki!"
Suara Jian masuk ke dalam indra pendengarannya serta derap langkah kakinya mendekat dan duduk di samping Hyunki yang masih memegangi kepalanya. Hyunki tak memggubris keberadaan Jian karena rasa sakit kepalanya yang terasa sangat menyiksa.
"Kamu kenapa?"
Jian memberanikan diri untuk menyentuh bahu Hyunki dengan pendar mata yanh dipenuhi rasa cemas. Namun Hyunki malah merintih lirih dan menikmatinya sendiri.
"Kamu harus minum obat, eum … atau, ayo kita ke rumah sakit," ujar Jian dengan nada bergetar. Ia merasaa takut. Jantungnya ikut berdetak sengsara kala Hyunki seolah tengah meremat kepalanya sendiri.
"Hyun—" karena takut bila Hyunki terus menekan kepalanya dan rasa sakitya semakin sakit, Jian menarik bahu Hyunki dan meletakkan kepala suaminya di pundaknya. Hyunki berkeringat, deru napasnya terdengar sangat cepat dan Jian sendiri merasa seolah peluhnya ikut bercucuran dengan d**a yang menghentak-hentak kencang.
Jian memeluk Hyunki. Mengusap punggung lelaki itu dan sesekali menepuk-nepuknya. Dan, kau tahu? darah seolah tengah berdesir cepat saat Hyunki tangkap seraut cemas dan suara istrinya yang bergetar saat berbisik, "Kamu kenapa, Hyun? Kamu … membuatku takut."
Lalu sebelah tangan Hyunki yang masih memegangi kepalanya ia lepaskan guna merengkuh pinggang Jian. "Tidak apa-apa, Ji. Aku baik-baik saja." Hyunki masih menggelaparkan kepalanya di pundak Jian.
Jian yang setenga dongkol mendengarnya pun berdecak dan kembali menjawab, "Apanya yang tidak apa-apa? apanya yang menurutmu baik-baik saja? Kamu jelas sedang kesakitan."
Lalu Hyunki mendongakkan kepalanya yang sudah terasa agak ringan, meski sebenarnya ia masih merasakan rasa sakit itu menggerogoti kepalanya. Hyunki mencoba tersenyum dan berkata, "Aku serius. Itu cuma sakit kepala biasa, tidak ada yang perlu kamu cemaskan, Jian."
'Itu jelas bukan sakit kepala biasa,' Jian membatin. Namun menemukan mata sabit lelakinya seolah memaksa agar Jian tak perlu banyak mencemaskan apapun dan Jian jadi merasa barangkali percuma saja ia menanyakan hal ini sekarang pada Hyunki. Lelaki itu jelad menyembunyikan sesuatu padanya.
Lantas setelah keheningan merayap, Jian dengan ragu meraih tangan Hyunki. "Kamu haris beristirahat, Hyun. Ayo ke kamar dan tidur."
"Tapi, Jian, aku perlu—"
"Hyunki!" Jian menyela, ia menatap meja kerja Hyunki dengan laptop yang masih menyala. "Aku mohon, istirahat lah di kamar dan sudahi pekerjaanmu. Lagi pula jika kamu tidak menyelesaikannya sekarang, dunia tidak akan berakhir saat itu juga."
Hyunki mendenguskan tawa. Ia mengangguk dan tersenyum kembali pada Jian. "Baiklah, tetapi biarkan aku mematikan laptopnya sebentar." Hyunki bangkit, namun tersentak saat menyadari tangan Jian masih menggenggamnya.
"Jian?"
Jian yang menyadarinya pun segera berdiri tanpa melepaskan genggaman tangannya. Membuat Hyunki berhenti di sana dan menatap kedua mata Jian dengan teduh, dengan penuh arti dan segenap harapan.
"Ayo, katanya mau mematikan laptop?" Jian memutus tatapan Hyunki.
Lantas lelaki itu menggenggam erat tangan Jian dan membawanya ke meja kerja. Hyunki mematikan laptopnya dan setelah itu mereka tetap berjalan ke kamar dengan bergandengan tangan.
x x x x x x
Langkah kaki milik Ahn Hyunki berderap di koridor rumah sakit. Seolah sudah mengenali langkah kaki yang terasa dingin tersebut, maka ketika Hyunki hendak mengetuk pintu, Dokter Hyoji sudah lebih dulu bersuara, "Masuk saja, suara ketukan pintu malah membuatku terkadang terkejut," ujarnya dari dalam.
Jadi Hyunki segera masuk dan duduk di hadapan si gadis. "Maaf, baru bisa mengunjungimu."
Hyoji tertewa, sementara matanya masih melekat pada buku laporan di atas mejanya. "Seolah di sini aku yang sangat membutuhkanmu, ya?" ia menutup buku tersebut dan menaruhnya di antara file lain yang tersusun rapi di rak buku tepat di sampingnya. "Kenapa kemarin tidak datang menemuiku?"
"Ada rapat dadakan," jawab Hyunki.
"Di hari yang seharusnya kamu berada di rumah dengan istrimu tetapi kamu malah bekerja? Suami macam apa!"
Hyunki berdesis. "Tidak usah mengomentari kehidupanku jika kamu juga pernah demikian. Lagi pula Jian masih lumayan dibanding denganmu yang bahkan mungkin akan lari di hari pertama."
Hyoji cuma menggeleng-geleng pasrah. "Jangan banyak omong. Sebelum aku memberimu obat, aku perlu memeriksa kondisimu lebih dulu." Hyoji bangkit, menyentuh pundak Hyunki dan menyuruhnya berdiri. "Kamu sudah memberitahu istrimu soal ini?"
Hyunki mengikuti Hyoji ke sebuah ruang untuk memeriksa kondisi kepalanya. "Dia tidak perlu tahu, Hyo."
"Aku rasa perlu. Bagaimana pun, istrimu harus tahu kondisimu saat ini agar dia bersiap untuk sebuah—"
"Untuk sebuah kehilangan?" Hyunki memotong. membuat Hyoji menyetop kaki dan membalikkan badan menatap lelaki di hadapannya. Sementara lagi-lagi Hyunki cuma menunjukkan ekspesi datar. "Dia tidak akan kehilanganku."
"Apa maksudmu?"
"Dia tidak akan merasa begitu, Hyo. Ketika aku tahu bahwa aku menikahi seorang gadis yang ternyata masih memiliki hubungan erat dengan seseorang, aku merasa bahagia untuk itu. Setidaknya dia tidak akan pernah merasa kehilanganku."
Hyoji mendekat, mendongak dan menatap lelaki di hadapannya ini dengan sarat arti. "Aku rasa kamu sudah gila, Ahn. Untuk apa kamu menikahinya jika kamu bahkan tak bisa merasakan sebuah kebahagiaan karena menikah dengannya?"
"Hyoji, sejak awal aku sadar, ini adalah risiko yang sudah aku pikirkan sebelum menikahinya. Aku menginginkan dia, sekarang aku mendapatkannya. Itu sudah cukup. Aku tidak ingin membuatnya bersedih hanya karena harus mencintaiku dan melupakan kekasihnya."
Hyoji mendengus muak. "Dasar manusia aneh! Benar-benar manusia aneh!"