Seraya melihat-lihat dres yang menempel di manekin, Jian sesekali melirik arloji kecilnya. Ia menarik napas dan membuangnya, terlihat pasrah dan agak berat. Ia tengah memilih pakaian formal untuk acara nanti malam. Bukankah ia seharusnya pergi mencari pakaian dengan Hyunki? setidaknya agar pilihan mereka cocok di acara nanti. Namun Hyunki pergi pagi sekali dan dia bilang, "Ji, aku tidak membeli setelan jas lagi, tetapi kamu sepertinya perlu, aku ada urusan pagi ini dan harus ke kantor untuk memulai pekerjaan. Kamu bisa membeli pakaianmu sendiri, kan? Kamu mengingat password ATM-ku, kan?" Begitulah yang Hyunki katakan sebelum ia pergi. Meski sebenarnya Jian merasa lelaki itu tidak seharusnya bekerja jika masih merasa sakit. Ah, Jian agak mencemaskan lelaki itu.
"Nona?" pelayan wanita tersebut mengagetkan Jian. "Anda jadi akan mencoba dress ini?"
"Ah, iya, aku akan mencobanya" Jian mengangguk, si gadis diantar ke ruang fitting dan mencobaya.
Sebuah gaun berwarna biru laut dengan motir permata di area pinggang dan desain yang elegan berlengan seperempat. Jian membayangkan akn menggeleombangkan rambut bagia bawahnya dan membiarkannya tergerai. Lalu heels berwarna hitam dan tas kecil untuk menyempurnakan penampilannya. Jian tersenyum di depan cermin. "Meski terlihat cocok, aku tentu saja butuh pendapat orang lain. Haruskah aku menelepon Vian? atau Iren, mungkin? Ah, entahlah. Aku akan bertanya pada konsultannya saja."
Jian pun keluar seraya memandangi dres yang ia pakai. Wanita yang tadi sedang berdiri tegap dan tersenyum pada Jian. "Sangat cocok untukmu, Nona. Rasanya semua yang Anda pakai memang cantik di tumbuh Anda, tetapi yang kali ini berbeda, warna biru laut itu memancarkan aura yang luar biasa," pujinya tak tanggung-tanggung. Jian yang merasa senang pun tersenyum, mendadak ia ingin bertanya siapa desainernya dan barangkali Jian akan mengajaknya untuk membangun sebuah kolega dan bekerja sama. Astaga, Jian!
Jian pernah bertemu dengan bos brand dres yang ia kenakan ini, namun untuk yang merancangnya, Jian tidak tahu. Munginkah Jian perlu mendatangi kantor brand ini?
"Benarkah? aku pikir aku seharusnya memakai dress berwarna merah atau biru tua, atau mungkin hitam? Ya meski sebenarnya itu sudah terlalu biasa, kan?"
"Kamu cocok memakainya, Jian."
Jian tersentak. Ia menoleh ke arah sumber suara yang ternyaa sudah berada di depan pintu tak jauh darinya. Hyunki berjalan mendekat dan memindai Jian sekali lagi. "Cantik, Ji. Aku menyukai warnanya yang seperti dirimu."
Jian berdiri kikuk dan menelan salivanya yang terasa berat. Namun tak lama ia menatap wanita itu dan memutuskan untuk membeli yang ini. Jian kembali ke dalam untuk berganti pakaian, sementara Hyunki sedang melakukan pembayaram untuk Jian.
"Hyunki?"
"Hm?" Hyunki menoleh, lantas segera memberikan paper bagnya pada Jian. "Kamu membutuhkan yang lain?"
Jian menggeleng. "Tidak, kok. Apa kamu baik-baik saja?"
Hyunki tak segera merespons, namun ia dapat menatap segaris rasa cemas yang terpatri di kedua mata Jian. "Ya, aku baik-baik saja."
"Tetapi semalam kamu—"
"Itu hanya migrain biasa, Jian. Aku sudah biasa begitu dan akan sembuh setelah minum obat," ujar Hyunki mencoba agar Jian tak terlalu mencemaskannya.
"Sudah biasa?" Jian masih merasa tak memahami dengan kalimat itu.
Hyunki cuma tersenyum dan tak ingin membahasnya lagi. Jadi dia meraih tangan Jian dan mereka keluar dari toko tersebut. "Kamu sudah makan?"
"Belum, aku mendadak ingin makan-makanan Jepang."
"Kalau begitu, haruskah kita ke Jepang?"
Jian meloloskan satu tawa kecil. "Ahn Hyunki, Seoul ada restaurant Jepang, kok. Dulu aku sering makan di sana dengan sahabatku."
Hyunki menarik tangan agar semakin rapat dengannya. "Oke, kalau begitu ayo makan di sana."
x x x x x
Hyunkit ak segera turun dari mobilnya. Ia menatap bangunan tinggi tepat di deoan restaurant yang ternyata adalah gedung J&V milik Kim Sejin, ayah mertuanya. Sejenak Hyunki menertawai dirinya sendiri. Well, tentu saja Jian sering makan di sini dengan sahabatnya. Karena sebelum Swanowsky menjadi brand yang berdiri sendiri, ia adalah anak perusahaan J&V, yang artinya dulu Jian juga bekerja di sini.
"Kenapa?"
Hyunki menggeleng. "Tidak." Lantas ia segera turun dari mobil dan masuk ke dalam restaurant itu. Mereka memilih meja di tengah.
"Aku dulu lebih sering duduk di sini."
"Dan dulu juga pacarmu duduk di sini?" Hyunki menepuk area mejanya. Ia mengamati perubahan raut muka Jian yang mendadak padam. "Kamu sedang ingin bernostalgia, bukan? Aku dengar dulu kamu tidak suka makanan Jepang, tetapi karena pacarmu selalu mengajak makan di sini, jadi kamu terbiasa dengan makan-makanan Jepang, kan?"
Jian mengkerut. Bibirnya mencebik. Ia menatap Hyunki dengan malas. "Haruskah kita membicarakan itu?"
Sementara Hyunki tertawa melihat Jian yang merajuk. "Aku cuma ingin mengonfirmasi saja kok, Ji. Siapa tahu yang aku dengar itu salah. Jadi ternyata benar, ya?" Hyunki mengangguk-angguk.
"Bukan begitu ceritanya, Hyung!"
Kali ini sudah jelas Jian mendesahkan napas berat ketika seseorang menarik kursi di sampingnya dan duduk dengan percaya diri untuk memulai aksinya. "Hwang Yejun tidak pernah mengajak Jian makan di sini. Tetapi karena Yejun selalu makan di sini, jadi Jian juga sering datang ke sini. Mulanya Jian selalu berada di sudut, tetapi lama-kelamaan dia memberanikan diri duduk di hadapan Yejun. Sejak itulah Jian jadi suka makanan Jepang."
Jian menatap kakaknya tersebut dengan mata yang seolah sedang menyerukan peperangan. Tentu saja, tentu saja Hyunki mengerti cerita itu, sudah pasti itu Vian. Jadi seharusnya memang Jian tak perlu terkejut lagi bila Hyunki mengetahui segalanya.
"Ah, begitu, jadi dulu itu Jian yang— hm, bagaimana mengatakannya, ya?"
"Iya, Jian yang mengejar Hwang Yejun." Vian memperbaiki duduknya. "Dia memang tampan, sih. Terlihat seperti lelaki bad boy, tetapi sesungguhnya dia ini sangat baik dan menarik. Kau tahu, Hyung? Padahal usia Hwang Yejun lebih muda tiga tahun dari Jian. Lucu sekali, ya?"
Kali ini Jian menendang kaki Vian. Namum Vian cuma merintih sebentar dan bergosip lagi. "Aw, tetapi sayang sekali Yejun itu sudah punya pacar."
Hyunki mengangguk-angguk. "Hei, tentu saja. Lelaki seperti Yejun pastilah sudah memiliki pacar." Hyunki menunjuk seseorang yang baru saja datang dengan seorang bayi berusia satu tahun di gendongannya. "Dia juga pasti sudah memiliki anak yang imut."
Jian dan Vian sontak menatap ke arah seorang lelaki tinggi dengan mata mempesona yang sedang tersenyum ke arahnya. Jian merasakan jantungnya berdegup kencang sekali. Lelaki itu dengan kemeja biru lautnya terlihat jadi lebih tampan, dengan lengan kemeja yang di kelinting sebatas siku, Jian bisa melihat otot-otot lengannya yang menggendong seorang bayi. Namun, Jian tahu jika itu adalah keponakan Hwang Yejun. Tentu saja, benar begitu kan? kalau Yejun sudah memiliki anak, pasti dia datang dengan istrinya juga, bukan?
"Hoi, Hwang Yejun!" Vian bangkit dan segera menjabat lengan Yejun. Biar aku katakan, jika Vian ini sangat menyukai bayi. Jadi dia mencoba untuk mengambil alih bayi mungil itu dari tangan Yejun. "Anak siapa ini?"
"Tentu saja anakku, Hyung," jawab Yejun dan segera menatap Jian yang masih terperanjak di tempat duduknya. Seolah sama-sama sedang memutar kenangan mereka di masa silam.