Jian kira Ahn Hyunki sepantar dengan ayahnya, bersurai cepak dengan perut buncit. Atau kalau tidak, mirip seperti om-om yang sering menabraknya lalu marah-marah sendiri dan meminta kompensasi tak masuk akal. Nyatanya Ahn Hyunki terlihat seperti pemuda menawan lainnya. Well, ternyata usianya 32 tahun. Hanya saja, wajah Hyunki terkesan dingin dengan tatapan setegas tentara militer. Ini yang Jian tidak suka, menghadapi lelaki dingin.
"Kau bisa pulang kalau memang enggan bertemu denganku. Kita bisa menunda kencan. Akhir bulan aku akan menemuimu di tempat yang kau mau." Hyunki mengerti Jian tengah mengamati dan menilainya dalam diam.
Lantas si gadis buru-buru meraih cangkir teh lemon dan menyeruputnya pelan. Meletakkan kembali minumannya lalu berdeham dan menyilangkan kakinya. "Sesungguhnya aku ingin pulang seandainya lelaki yang di hadapanku tak beda jauh dengan Ayah."
Alisnya menunggal, sekon berikut kepalanya baru bisa mencerna dengan baik. "Oh, well, setidaknya paras dan penampilanku tidak begitu buruk, kan?" Hyunki menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Padahal aku tidak merasa memiliki fitur wajah menarik."
"Kau memilikinya, kok—" Jian buru-buru tersadar. "Eh, iya, memang seperti apa yang kau pikirkan. Tetapi kita di sini untuk apa?"
"Kenapa kau mau bertemu denganku?" Suaranya serak mendatar, bikin telinga Jian gatal entah karena apa.
"Karena permintaan Ayah," jawabnya lugas tanpa menatap si lawan bicara. "Karena paksaan, agaknya," ia mengimbuh.
Anehnya Hyunki tak bereaksi apapun. Lelaki itu terlihat netral bahkan Jian kira Ahn Hyunki tak memiliki emosi. Mengangguk dan mengerti, Hyunki cuma mengambil satu tarikan napas dan tetap memusatkan netranya untuk Jian. "Kau seorang desainer pakaian, Ji?"
"Apa tidak ada pertanyaan lain selain pertantaan retorik?" Jian menundukkan pandang, memainkan piring kecil di bawah cangkirnya. "Tanyakan apa saja yang ingin kau ketahui, jangan menanyakan hal yang kau sendiri sudah tahu jawabannya."
"Jadi kau sudah punya kekasih?"
Jian nyaris tersedak liurnya sendiri. Bola mata bergerak bimbang dan rasanya seperti ada yang mencelus menembus jantungnya. "Kekasih, ya? Apa jika kubilang ada, kau akan membatalkan perjodohan ini?"
Hyunki tak segera menyahut. Dengan gerakan pelan ia meminum kopinya seolah tenggorokannya baru saja tercekat sesuatu yang getir. Sementara Jian agaknya masih menunggu si lelaki menjawab. "Tergantung. Siapa dulu kekasihmu."
Jelas Jian bungkam. Jika ia menjawab, jelas akan ditertawakan atau bahkan memang … Jian sendiri merasa ia tak yakin kekasihnya benar ada atau tidak. "Tidak ada. Aku tidak punya kekasih."
"Teman akrab lelaki?"
"Bisa dibilang begitu." Jian mengangguk. "Ya, mari anggap demikian."
Hyunki menunduk sejenak dan tersenyum samar. Kembali memaku netra pada si gadis. Banyak yang mengalaminya. "Setidaknya dia membalas perasaanmu meski hubungan itu agak skeptis, sebab terkadang status kekasih juga tak memiliki perasaan setimpal. Kau tahu, zaman sekarang status dibentuk bukan hanya didasari cinta saja."
"Seperti kau dan aku?" Cepolsnya. Tetapi Hyunki tak merasa tersinggung, sebab memang adanya begitu. Jian lantas kembali melanjutkan pertanyaannya. "Lalu selain didasari cinta, alasan apa yang kau punya untuk meyakinkanku menerima perjodohan ini?"
Hyunki tak segera menyahut dan air muka mendadak berkabut, dan rasanya ada banyak sekali hal yang tak bisa dikatakan secara gamblang. Tetapi si lelaki membenarkan cara duduk dan tersenyum tenang.
"Apa kalau aku tidak mengatakan alasan, kau akan curiga?"
"Apa kalau aku merasa begitu, kau akan tersinggung?"
"Lantas fakta tentang aku yang meninggalkan profesiku demi menikahimu, apa hal demikian tidak cukup untukmu?" Jian terenyak, sempat tergagap untul menjawab, tetapi Hyunki keburu melajutkan. "Apa kau akan menyangkalnya? Kau mengira aku tidak menginginkanmu?"
"Apa?" Jian kehabisan kata. "Eum, maksudku… aku tidak merasa pernah bertemu denganmu sebelumnya, tetapi kau billang menginginkanku?"
"Lalu aku harus bagaimana, ya? Aku tidak pandai memberimu bualan hiperbola. Atau bisakah aku bilang kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama?"
"Apa yang kau lihat dariku?"
"Sesuatu seperti … ketika aku melihatmu aku merasa bahagia."
Jian berhenti sampai di sana. Ia memang masih bimbang atas apa yang Hyunki katakan. Tetapi mereka memutuskan untuk menyudahi menggali perasaan masing-masing dan bertanya tentang cinta pertama, pengalaman putus cinta, sampai kesukaan dan hal-hal yang tidak disukainya. Bagi Hyunki, tak ada alasan untuk Jian menolak. Pun bagi Jian, ia tak punya alasan untuk tetap bertahan pada cinta yang sulit diperjuangkan.
Selama ini cinta Jian memang menyulitkannya, (well, meski ia menyukainya) tetapi terkadang membuat batin tersiksa dan Jian merasa seperti tengah berjalan sendiri. Ia tahu risiko ini, tetapi ia tak pernah berniat meninggalkannya. Mencintai Woobin artinya, ia perlu mengerti segala kesibukannya, lelahnya, dan marahnya yang terpendam karena tak ingin membuat Jian tersinggung. Juga yang paling tak bisa dihindari, kejutan kecil yang Woobin berikan secara mendadak.
Mereka menghabiskan waktu beberapa jam untuk mengobrol dan lebih tahu. Tetapi Jian harus berhenti di sini, ada banyak aktifitas yang tak bisa ditinggalkan. Begitu juga Hyunki yang harus kembali ke agensi untuk pemilihan jabatan yang akan menggantikannya.
Hyunki berjalan di samping Jian mengikutinya kelaur restoran. Ia juga sempat menghentikan taksi dan menunggu Jian masuk. "Kau bisa menghubungiku untuk pertemuan selanjutnya, Ji," katanya saat Jian menurunkan jendela taksi.
Jian mengangguk, untuk beberapa saat Jian merasa senang berbicara dengannya, seolah apa yang Jian inginkan Hyunki bisa membaca maunya. "Aku akan menghubungimu untuk kencan selanjutnya."
Ah, iya, benar. Kencan, ya? Hyunki mendadak tersenyum dan merasa ada yang menyentuh hatinya. "Kabari aku juga kalau sudah sampai." Lalu Hyunki melambaikan tangannya saat Jian menyetujui dan taksi melaju perlahan.
Jian memandangi Hyunki yang semakin terlihat jauh. Ia baru menyadari kalau sosoknya begitu lembut meski terkadang terlihat dingin. Well, katakan saja pendiam. Jian merasakan bimbang bukan karena Woobin, tetapi karena perasaan aneh yang agak mengganggu detak jantungnya saat membayangkan ia bersanding di pelaminan dengan Hyunki.