"Aku mencintaimu, Jian. Sangat mencintaimu."
Cinta dikatakan karena seseorang benar memiliki perasaan sama atau sebuah kebohongan yang ditutupi dengan kalimat yang meyakinkan? Kiranya kapan terakhir kali ia merasakan cinta sebesar ini? Well, nyaris baru kali ini semasa hidupnya berada dalam dekapan Woobin.
Sejak dulu sekali, Woobin selalu mampu membuatnya terbuai dengan segala hal yang ia lakukan untuknya. Padahal Jian telah mewanti-wanti diri supaya tak jatuh terlalu dalam. Nyatanya ia kalah. Sekali menatap rasanya ingin melekat.
Pagi ini tatkala ia berada di dapur untuk membuatkan Woobin sarapan, tiba-tiba saja lengan Woobin telah melingkari tubuhnya dari belakang. Mengendus aroma tubuh Jian banyak sekali seolah ia tak akan dapatkan aroma lavender lagi. Kendati demikian Jian tetap membiarkan lelakinya dan merasakan kupu-kupu menari di atas perutnya.
"Kenapa diam saja, Ji?" Suara Woobin masih serak, bahkan ia menenggelamkan wajahnya di bahu si gadis.
"Memangnya aku harus bagaimana?" Jian menyingkirkan tangan Woobin yang melingkar di perutnya sebab ia sedang memasak dan tak ingin diganggu.
"Selamat pagi, Sayang," ujar Woobin yang masih berada di tempat memandangi Jian mengoseng-oseng bumbu.
"Iya, pagi. Aku sedang agak repot jadi bisa tidak mengganggunya nanti saja?"
"Aku mau membantu."
"Tidak perlu, kamu mandi saja dan tunggu aku di meja makan."
"Ji—"
"Menurut sekali ini saja, Sayang. Ku mohon."
Jian bahkan telah mengecilkan api dan memasukkan bahan masakannya ke dalam wajan. Ia membalikkan tubuh guna menyaksikan presensi sang pacar. "Ayolah, kamu bisa memelukku sepuasnya kalau semua ini sudah beres."
"Baiklah, Choi Jian." Setelah memberi kecupan singkat di kening dan rasa bersalah, Woobin keluar dan meninggalkannya sendiri.
Choi Jian. Kenapa lelaki itu mudah sekali mengganti marganya dengan marga sendiri? Mendadak ia merasakan nyeri dalam batinnya.
Lantas setelah merapikan dapur dan membawa sarapannya ke meja makan, mereka makan bersama seperti biasanya. Well, Jian tidak datang setiap hari atau setiap pekan, ia datang bila Woobin sekiranya sedang memiliki waktu senggang, yang mana kencan mereka cuma terjadi beberapa kali dalam sebulan. Terkadang sampai tiga bulan ia tidak bertemu. Jadi setiap ada kesempatan Jian yang datang ke rumah Woobin dan menghabiskan hari hingga larut malam bersama.
Kencan mereka tentu tidak seperti kencan pada umumnya. Hanya di dalam rumah dan sesekali terlibat kerjasama bersama, pun tidak bisa leluasa karena banyak yang memperhatikan mereka. Sesungguhnya bukan cuma Sejin yang menentang, presdir agensinya juga sempat menentang, tetapi Joon, manajernya Woobin selalu menutupi kencan mereka dan beberapa peoduser lain juga terkadang ikut menutupi. "Aku bisa menutupinya kalau kau berkencan dengan artis satu agensimu, tetapi kalau dengan Kim Jian, kumohon hentikan bila memang kau ingin berjalan aman," kata Presdir Byeol waktu itu.
Woobin memotong apel untuk Jian selepas sarapan mereka. Tak ada yang berbeda mulanya, tetapi keterdiaman Jian membuat Woobin berprasangka buruk.
"Aku ada salah?"
Jian buru-buru menggeleng. "Tidak, kenapa bertanya begitu?" Jian menerima suapan apel dari Woobin.
"Kamu agak berbeda, Ji. Apa sedang tidak enak badan?" Mata Woobin bergerak gelisah. "Aku sudah bilang seharusnya kamu tidak perlu memasak, biar aku saja."
"Memangnya kamu bisa memasak?" Jian menaikkan satu alis. "Terakhir kali kamu membuat perutku sakit karena membuat s**u tetapi tidak pakai air matang."
Ah, iya. Dia baru tahu betapa beruntungnya memiliki Jian yang serba bisa ini. "Itu… karena kamu begitu menginginkannya jadi aku buru-buru dan tidak tahu kalau airnya belum matang."
Jian mendengus. "Dan aku jadi harus menginap di sini karena kamu yang tak membiarkanku pulang dalam keadaan begitu.
"Ya, kan, setidaknya kamu jadi lebih lama denganku. Itu mau kamu, kan?" Woobin tersenyum, menyuapkan kembali sepotong apel untuk Jian dan memakan sisanya. "Serius, Ji. Untung saja kakak kamu baik, jadi aku tak ragu berbicara dengan Vian walaupun dua jam sekali harus menerima video call darinya karena si kakak yang terlalu protektif dengan sang adik," urainya dengan sedikit nada sindiran.
Jian mendadak tertawa pelan. Well, ia ingat jelas saat itu Vian sempat menolak dan karena Woobin yang pandai merayu, ia berakhir menginap di rumah Woobin dengan syarat mereka harus melakukan video call beberapa jam sekali untuk memastikan Woobin tak berbuat macam-macam.
"Apa Jian tidur? Kau sudah menyelimutinya? Jian tidak tahan dengan dingin jadi tolong biarkan tetap hangat eum… maksudku nyalakam penghangat ruangan bila terlalu dingin." Woobin berusaha menirukan cara bicara Vian saat itu. Jian terbahak, apalagi saat Woobin menjiwit pipinya dan berkata, "Uh, Adikku tersayang, sangkin sayangnya sampai ingin aku tendang sampai ke Texas." Seperti yang biasa Vian lakukan padanya bila Jian tak sengaja melakukan kesalahan.
Woobin juga ikut tertawa. Well, ia pernah melihat Vian melakukan itu saat Vian datang menjemput Jian di sini. Woobin sempat syok, Vian bertubuh tinggi dengan wajah simetris yang siapa pun gadis pasti akan lupa berkedip bila menatapnya.
"Kakakmu cocok jadi aktor, Ji."
Dan ia mendadak teringat pada ayahnya. Vian pernah beberapa kali ditawari agensi besar, tetapi ayah selalu menolak dengan tegas. Jadilah Vian fokus pada perusahaan otomotifnya.
Memahami raut Jian, Woobin segera meraih jemarinya untuk digengam. "Jangan dipikirkan. Kita bisa melewati ini bersama." Woobin tahu, entah mengapa ayahnya Jian tak suka dengan dunia entertainment. Ia tak pernah bertanya sebab memang Jian pun tak tahu.
"Kamu mencintaiku, Bin?"
"Sangat," jawabnya lugas serta genggamannya semakin erat. "Sampai rasanya takut kehilangan kamu."
Dadanya menghentak kencang, perasaan bersalah kembali merayap semakin cepat. Mata lelakinya tak berbohong, Jian saksikan sebesar apa inginnya untuk tetap tinggal. Jian mengulum bibirnya, mengecup punggung tangan Woobin dan mencoba menutupi semuanya. Semua perasaan yang saling berkecamuk tak pernah damai. Pilihannya begitu sulit. Teramat sulit.
"Ji, aku di sini untukmu. Sembari menjalani hubungan ini, aku juga selalu berpikir bagaimana caranya agar kita bersatu suatu saat."
Jian bungkam. Tak kuasa menyahut karena pendar mata Woobin benar-benar menusuk matanya. Jian tak sanggup membayangkan perpisahan. Jian tak ingin berpisah dengan lelaki ini. "Nikahi aku, Woobin. Kalau kamu memang benar mencintaiku."
"Akan kulakukan jika ayahmu setuju dengan aku yang tetap pada profesiku."
Jian menyadari, ia tak bisa mengubur mimpi seseorang cuma untuk membuktikan cintanya.