Atmosfer siang itu mendadak dingin tatkala tungkai terhenti di depan daksa ramping. Yang bernyawa ramai mengantre pamer eksistensi dengan alibi—mohon maaf bila ada kesalahan yang disengaja pun sebaliknya—dibalut suara lembut dan rengkuhan jemari yang direspons agak sangsi. Sebab mata itu berbicara, dan matanya membaca. Sorot menilai yang meragu, tak pantas dilakukan hari itu. Lengannya turun, menjamah intens bahan yang membalut tubuh penuh dosa. Betapa aku ingin menjawab bila ia bertanya, "Berapa harganya?"
"Manusia begitu, cuma ingin tahu dan diam-diam mencela dalam kalbu." Jian merengkuh pundak Leea dengan usap menenangkan. Kalau ingin, Jian bisa melucuti kebukuran Boram di depan para karyawan lain. Tetapi Jian tidak demikian, ia memilih untuk tak saling melempar kotoran dan membuat lingkungannya tercemar kebusukan.
Bayangkan jika tak ada lagi manusia waras di bumi. Kehidupan bukan lagi tentang pamer bodi aduhai, harta, kedudukan, atau bahkan memanipulasi koreng sendiri dengan uang, melainkan daratan sesak dengan sampah mayat dan lautan kebanjiran darah di mana-mana.
"Setelah menerima uang gajian, mungkinkah aku perlu membeli setelan yang agak bermerk?" Leea memaku tatapannya pada Jian. Kafetaria itu lengang, volume langkah seseorang tak jadi keributan.
"Apa yang salah dari setelan murah? Padahal harga diri bukan dinilai dari seberapa mahal yang melekat pada tubuhnya, tetapi dari cara ia bersikap dan berpikir." Jian menyeruput s**u pisang yang baru saja dibelikan Vian. (Well, jangan tanya keberadaan abangnya saat ini, Vian sudah menghilang setelah mencatat nomor gadis lucu dan mendapat tatapan menewaskan dari Iren) "Jangan menyulitkan diri sendiri, ya, Lee. Fokua bekerja dan jangan pedulikan Boram."
"Tetapi aku tidak bisa menulikan telinga, membisukan hatiku. Kamu tahu Boram terkadang—"
Merundungnya. Dan Jian selalu jadi yang terdepan untuk menangani gadis keras kepala itu. Ayahnya ta begitu peduli, sebab Boram memang unggul dalam pekerjaannya. "Sikap begitu banya ditemui di mana-mana, kemampuan bekerja yang luar biasa jarang sekali. Jangan mengeluarkan Boram cuma untuk kedamaian anak magang," kata Sejin waktu itu.
Sedikit benar, sedikit salah. Jadi Jian tak pernah menggunakan nama ayahnya untuk mengancam para karyawan, biasanya dia akan memanggil Vian untuk mengurus karyawan yang sikapnya sudah kelewatan.
"Selalu ada orang merugikanmu di mana pun kamu berada. Sekarang yang terpenting bukan bagimana caranya kami melawan mereka, sebab biasanya mereka akan semakin genjar menjahati yang lain. Tugasmu adalah bagaimana kamu bisa bersikap masa bodoh dan selalu pikirkan ketidakuntungan dari terpengaruh perkataan buruk orang lain." Jian tersenyum. "Karena kamu akan kelelahan mengendalikan sikap orang lain, maka kendalikan diri sendiri saja supaya jadi lebih kuat."
Dan akan selalu ada orang baik seperti Jian di mana pun Leea berada. Lantas kini ia tersenyum dan kembali menikmati jam istirahat itu.
"Bagaimana kencannya kemarin?"
Jian tersentak. Abangnya tiba-tiba telah duduk di sampingnya dengan raut muka membercandai. Padahal lelaki itu tadi sudah hilang entah kemana seperti di telan bumi. Kini tiba-tiba ia telah duduk manis dengan coca cola di hadapannya.
"Bisa tidak jangan tiba-tiba datang dan bertanya gamblang begitu? Kamu bukan wartawan yang kerjanya mengejutkan orang dengan kedatangan yang mendadak dan pertanyaan yang blak-blakan," omel Jian. Sepanjag itu Vian cuma menutup telinga dan mengangguk-angguk. "Ish, tidak ada gunanya berbicara dengan orang kolot sepertimu!"
"Dilarang menyumpahi abang sendiri tau, nanti kualat jatuh cinta dengan dia, lho…"
Jian membungkam mulut Vian dengan macaron yang masih tersisa di atas piringnya. Leea cuma bisa tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu. Well meski terkadang jantungnya berdetak di luar batas normal karena senyuman menawan milik Vian.
Sayangnya jam istirahat telah berakhir, ia mengundurkan diri lebih dulu menuju ruangnya. "Aku ke ruangan dulu ya, Kak," katanya untuk Jian. Lalu menatap Vian ragu-ragu. "Permisi."
"Mau aku antar, Leea? Wah hari ini kamu terlihat begitu ceria, ya. Senyumnya manis sekali sampai aku— aw! Jian!" Vian mengusap lengannya cepat dan Leea buru-buru pergi dari sana. Ia merengut menatap adiknya. "Kamu kenapa sih, Ji? Selalu begitu kalau aku menggoda Leea."
"Siapa pun terserah, asal jangan Leea. Kamu tidak tahu kalau baru saja dia bersedih?"
"Makanya aku menghibur, bagus dong?"
"Berbeda untuk Leea, itu bukan hiburan, Vi. Jangan bercanda pada gadis yang memiliki perasaan untukmu, nanti dia jadi berharap padahal kamu sudah punya pacar."
Vian mengernyit. "Jian, apa tadi? Kamu bilang apa?" Vian menelengkan kepalanya, menatap Jian lebih lekat. "Leea memiliki perasaan untukku?"
"Tidak, tetapi untuk buaya."
"Perasaan seperti apa?"
"Perasaan yang teramat besar sebesar aku ingin memukulimu di sini dan menunjukkan pesanmu dengan Hana pada Iren," kata Jian cepat dan meringis kemudian.
Vian menangkup pipi Jian, menghela napas, menggoyang-goyangkannya dan memulai kebiasaannya. "Uhh Adikku tersayang, sangkin sayangnya sampai aku ingin menarik kakimu biar sepanjang sungai Nil," katanya dengan logat memendam kesal dam berakhir menjiwit pipi Jian.
"Aw! Aw! Kurang ajar! Kuadukan pada Kak Iren, ya?!" Jian berusaha untuk melepaskan jemari ramping Vian.
"Kamu tuh, yaaaa, bisa tidak mulutnya agak di rem sedikit biar tidak menabrak pembatas jalan? Kamu mau bibirnya jadi memanjang sampai menyapu lantai?"
Jian menjiwit p****g Vian dan lelaki itu segera menarik tangannya. Setidaknya Jian tahu kelemahan Kim Vian. Abangnya ini sangat sensitif di bagian itu.
"Wah, Jian ini agak… bagaimana ya menjelaskannya?"
Jian tersentak. Pemilik suara serak mendatar itu tiba-tiba telah berada di sampingnya. "Ahn Hyunki?"