Mengingat arti dari Kaisar, sepertinya aku ini pangeran dari sebuah kekaisaran. Kenapa aku bisa menjadi seorang Pangeran di Kekaisaran ini. Wanita yang sepertinya ibuku ini dari tadi hanya memegangi tangan ku dengan wajah khawatir, sebenarnya berapa lama anak ini tidak bangun sampai seheboh ini.
Aku juga bingung kenapa dokter itu terus memeriksa keadaanku "Permisi.. kalian siapa, aku dimana ya?" Aku memberanikan diri melontarkan sebuah pertanyaan, tapi itu membuat mereka sangat terkejut.
"Patt, apa maksudnya itu, mengapa Alex bicara seperti itu?" teriak histeris kaisar hingga telingaku seperti tertusuk, dan Ibuku mengeluarkan air mata tanpa henti.
Aku juga bingung kena dokter itu terus memeriksa keadaanku "Permisi.. kalian siapa, aku dimana ya?" Aku memberanikan diri melontarkan sebuah pertanyaan, tapi itu membuat mereka sangat terkejut.
"Patt, apa maksudnya itu, mengapa Alex bicara seperti itu?" teriak histeris kaisar hingga telingaku seperti tertusuk, dan Ibuku mengeluarkan air mata tanpa henti.
Dokter yang dipanggil Patt itu sepertinya dia tertekan. "Mohon maaf Yang mulia, sepertinya pangeran kehilangan ingatannya sebagai efek samping penyakitnya." jelas Dokter Patt dengan sedih.
Sebenarnya akupun tidak tau harus bagaimana bersikap, aku tidak tau tempat ini. Agar tidak terlihat mencurigakan aku bermaksud kehilangan ingatan, agar bisa mengolah dengan baik apa yang terjadi pada ku.
Terlahir kembali seperti ini sungguh merepotkan.
Kaisar berusaha mengendallikkan emosinya. "Huft, baiklah melihat Alex sudah bisa membuka mata saja, aku sudah sangat bersyukur, lagi pula ingatan bisa kita buat kembali." Jelas Kaisar itu.
"Baiklah Evan, sekarang kita hanya perlu mencari dan menghancurkan dalang dari semua ini agar perbuatan mereka tidak lebih parah dari ini.!" Kesal Kaisar itu.
"Baik Ayah, walaupun kita sudah tau Faksi anti Kekaisaran yang melakukannya, mereka semua sudah menghilangkan diri tanpa jejak, sepertinya kita akan agak kesusahan" Putra Mahkota dengan tatapan yang agak menyeramkan, melihat mereka berdua seperti ayah dan anak sungguhan.
Tunggu.
'Evan!, Faksi anti kekaisaran?!, Alex?!' Aku refleks memegangi kepalaku karena terasa sangat pening.
"Alex kamu tidak apa apa?" Tanya Ibu ku itu, lalu sedikit tersenyum.
"Aku tidak apa apa, aku ingin tidur sebentar!" Pinta ku kepada mereka.
Mereka terlihat khawatir namun pada akhirnya mereka keluar dari kamar ini. Dan apa ini?, Bukannya aku sekarang berada dalam novel.
Baiklah tenang dulu, tubuhku saat ini sangat rentan bisa bisa nanti aku pingsan. Evan, Evan William Charles seorang tokoh utama Dalam novel 'White Shadow' novel yang dipenuhi pertumpahan darah.
Dan Aku adalah Alexia William Charles yang mati saat usia menjelang lima tahun akibat Kutukan yang di berikan dari faksi anti kekaisaran. Kalau aku di lahirkan kembali disini sama saja aku disuruh mati untuk kedua kalInya.
Baiklah aku tidur dulu saja sebentar siapa tau aja aku sedang bermimpi karena koma akibat tertusuk.
***
Setelah bangun dari tidur dan masih berada didalam kamar tidur yang sama, sepertinya yang bisa kulakukan hanya pasrah dengan yang terjadi padaku.
Bukan pasrah lalu mati lagi, aku pangeran bukan. Aku bangun dari tempat tidurku lalu aku melihat beberapa pelayan di sekitar kamarku "Tanggal berapa sekarang, dan sekarang umur ku berapa?" Tanya ku pada mereka.
Mereka saling memandang satu sama lain "Sekarang tanggal 21 Juli tahun 1024 menurut kalender kekaisaran, dan Umur yang mulia sekarang lima tahun lebih yang mulia, bulan Oktober yang mulia akan genap enam tahun." Jelas salah satu pelayan padaku.
Aku duduk di kursi yang ada di kamarku, menopang dagu, baiklah sekarang aku mengerti. Saat ini Faksi anti Kekaisaran memberhentikan serangan mereka untuk di siapkan pada serangan selanjutnya.
Aku tidak tau bagaimana caranya aku bisa berada disini tapi jika sesuai novel sebenarnya cerita dimulai saat aku mati bukan, karena dilimuti kesedihan dan rasa bersalah kakak ku itu belajar mati matian untuk menangkap semua yang membunuhku, bahkan ia sangat pandai berpedang dan berpolitik.
Buruknya aku tidak menamatkan cerita itu, aku tidak tau bagaimana endingnya, tapi aku tau bagian bagian awalnya. Serangan kedua akan dimulai sekitar lima tahun lagi, disaat mereka sedang lengah akibat tak kunjung nya serangan lanjutan dan para pemberontak itu tak kunjung tertangkap.
Jika dihitung saat itu umurku sepuluh tahun, aku bisa mengasah kemampuan ku ini bukan, dia kan pangeran pasti punya kemampuan, sebenarnya Alex ini kan anak yang bisa dibilang setara dengan Putra Mahkota, karena ia mati di usia yang muda, tak ada yang tau kemampuannya.
Aku kasihan pada Alex ini, padahal wajahnya saja sudah kelihatan tampan saat umur segini, kalau dia hidup mungkin akan sempurna, karena dia punya uang.
"Aku ingin menghirup udara keluar!, Apa ada baju yang bisa di pakai untuk keluar dari kamar?" Tanya ku kepada para pelayan..
"Baik yang mulia saya akan siapkan!, Apa yang mulia ingin mandi terlebih dahulu saya akan siapkan air hangat". Jelas salah satu Pelayan.
"Iya aku akan mandi!"
Setelah mandi dan berpakaian aku mencoba keluar dari kamar untuk mengelilingi bangunan utama ini, tapi sepertinya aku menyesal atas ide itu, karena ini sangat luas. Mungkin karena tubuh ini masih kecil dan baru saja sembuh dari penyakitnya, aku masih terasa lemas.
Sekarang aku sepertinya berada di pinggir tempat latihan, aku melihat beberapa prajurit sedang berlatih dengan keras, saat aku menoleh ke arah berlawanan, aku melihat Putra Mahkota sedang berbicara dengan seorang pria dewasa yang membawa pedang, tapi dia memiliki rambut yang sama dengan Evan dan Kaisar.
Rambut yang sama, rambut perak yang mengkilap seperti itu jika di novel hanya darah asli keluarga Kaisar yang memilikinya, Rambut perak dengan bola mata berwarna merah itulah ciri khas keturunan kaisar.
Tapi aku berambut hitam yang sama dengan ibu dengan mata berwarna merah dan Putra Mahkota sangat mirip dengan kaisar, dari rambut hingga mata sama persis.
Aku menghampiri Putra Mahkota karena penasaran apa yang sedang dia lakukan "Kak" panggil ku.
Kak Evan pun menoleh bersamaan dengan paman itu "Alex!, Kenapa kamu ada disini bukannya kamu sedang istirahat." .
Wajah yang asing bagiku, dia terlihat khawatir, padahal semenjak hidup aku tidak pernah dikhawatirkan orang lain."Ah, aku sudah istirahat, aku hanya sedang keliling istana. " Jawab ku dengan senyum lalu aku menoleh ke paman itu.
"Alex ini paman mu!, Kiant Charles ia adalah Sword Master terhebat di Kekaisaran, beri salam!" Jelas kak Evan lalu menyuruhku memberi salam. "Salam tuan Kiant, saya Alexia William Charles!" Salam ku lalu dia memandangku diam.
Setelah itu dia mengusap kepala ku "Jadi kamu sih pangeran yang sudah terbangun dari tidur panjang nya?, Maaf paman belum menjenguk karena Ayah kamu itu bersih keras harus cepat cepat membersihkan para tikus itu!" Jawabnya.
Aku tau sedikit tentang Pangeran Kiant, prestasinya yang sangat besar dalam militer membuat dia menjadi Sword master dan Panglima Utama Kekaisaran."Apa karena itu paman mendapat luka di pipi!, Dan apa kalian akan latihan?" Tanya ku dengan tersenyum.
Paman Kiant menatap ku "Ini luka yang di sebabkan beberapa tikus yang tertangkap, tapi sudah paman bereskan jadi kamu tidak perlu khawatir, apa kamu mau lihat latihan kami!". Ajaknya sambil menggoyangkan pedang yang iya bawa.
Dibereskan ya, kira kira mati dengan cara apa mereka itu. Memikirkannya saja membuat ku merinding.
"Paman.., Alex baru siuman!" Jelas Kak Evan khawatir.
Paman Kiant menatap Kak Evan "Hoho, kamu sangat mengkhawatirkannya ya?, Tenang saja Alex anak yang kuat, paman jamin itu!" Jawab paman Kiat dengan percaya diri dan setelah itu tersenyum pada diriku.
Setelah Pangeran Kiant membuat kekhawatiran Evan berkurang aku baru bisa melihat latihan mereka, ini mah lebih tepatnya Kak Evan yang berlatih sedangkan Paman hanya bersantai melipat kaki di sampingku.
Aku memandang Pangeran Kiant dari sisi mana pun dia sangat mirip dengan Kaisar, hanya model rambut dan sifat yang berbeda, benar benar terlihat saudara.
"Apa kamu ingin ikut berlatih pedang?" Tanya paman.
Aku merasa sangat antusias tentang ini, apa karena dulu sering sekali melihat pemeran di manga memegang pedang dengan handal, terasa mimpi jika aku bisa memegang pedang seperti itu.
"Tentu saja ingin, apa aku bisa memulai nya besok?!" Tanya ku dengan sangat semangat.
"Kamu terlihat bersemangat tentang ini ya!!" Serunya
"Tentu bukannya itu sangat keren paman, jadi besok aku bisa ikut kan!?"
"Tidak, bagaimana dua Minggu lagi?"
Sebentar, kukira aku tidak akan diperbolehkan, secara umurku ini baru lima tahun dan tentu saja baru sembuh dari penyakit yang hamper merenggut nyawa.
"Kenapa diundur sangat jauh?" Tanyaku murung.
"Tentu saja karena kamu baru saja sembuh, paman tidak ingin diomeli ayahmu!" Jawabnya dengan wajah dengan sedikit ketakutan. Sebenarnya apa yang Kaisar lakukan saat menghukum adiknya.
"Tiga hari" tawarku
"Dua Minggu"
"Lima"
"Dua Minggu."
"Seminggu."
"Baiklah, keras kepala sekali."
Aku melihat bagaiman pelatihan Putra Mahkota saat ini, namun tidak menonjol seperti yang dideskripsikan dinovel, mungkin karena kematian adiknya salah satu cara membangkirkan kekuatan dan membuatnya lebih menonjol.
Kemampuan Pangeran Kiantjuga sangat hebat, tapi sayangnya dia gugur dalam misinya saat memberantas paraFaksi anti Kekaisaran, yang membuat Putra Mahkota merasa sangat kesal karea ia bahkan tidak bisa memakamkan pamannya karena tak menemukan jasadnya.