Pekan kedua, Laras menyadari musuh terbesarnya di pulau ini bukan kegelapan, bukan laut, bukan bahkan Wak Daeng. Musuhnya adalah ketidaktahuan—jurang antara apa yang ia curigai dan apa yang bisa ia buktikan.
Lelaki itu bernama Pak Hamid, lima puluh dua tahun, nelayan. Ia datang dipapah anaknya, mengeluh nyeri perut yang sudah dua hari, di kanan bawah, makin lama makin hebat. Laras memeriksanya dengan teliti: nyeri tekan di titik klasik, nyeri lepas yang membuat lelaki itu meringis, demam ringan. Di kota, ini adalah usus buntu sampai terbukti sebaliknya, dan ia akan memesan darah lengkap untuk melihat angka sel darah putih, mungkin USG untuk memastikan. Lalu operasi.
Di sini, ia tidak punya angka. Tidak punya USG. Ia hanya punya jemarinya yang menekan perut Pak Hamid dan firasat yang terlatih.
"Saya curiga usus buntunya meradang, Pak," kata Laras. "Ini harus dioperasi. Tapi tidak bisa di sini. Bapak harus dirujuk ke kabupaten."
Wajah Pak Hamid dan anaknya berubah. "Ke kabupaten, Dok? Naik perahu? Saya tidak punya biaya, Dok. Perahu carter mahal. Belum nanti di rumah sakit—"
"Ada jaminan kesehatan, Pak. Saya bantu uruskan rujukannya. Tapi yang penting Bapak harus berangkat hari ini juga, selama lautnya masih—"
"Tidak, Dok." Lelaki itu menggeleng keras kepala, persis seperti Laras sendiri ketika keras kepala. "Cuma sakit perut. Nanti juga sembuh. Saya tidak mau naik perahu jauh-jauh cuma karena sakit perut. Kasih obat saja, Dok."
Laras merasakan frustrasi yang akrab. Di kota, ia bisa menuliskan vonis dan pasien akan menurut karena angka di kertas tidak bisa dibantah. Di sini, ia hanya punya kata-kata, dan kata-kata bisa ditolak. Ia memandang Bu Surti, mencari dukungan.
Bidan itu duduk di sisi Pak Hamid dan berbicara dengan tenang dalam bahasa daerah, panjang lebar, sesekali tertawa kecil, menepuk lengan lelaki itu seperti pada saudara sendiri. Setelah beberapa menit, Pak Hamid mengangguk ragu.
"Dia mau berangkat besok pagi," kata Bu Surti pada Laras. "Kalau diberi obat anti nyeri dan tetap sakit. Itu yang paling jauh bisa saya tawar, Dok. Orang sini tidak bisa dipaksa. Harus dibiarkan merasa ini keputusan mereka sendiri."
"Besok pagi bisa terlambat," kata Laras tajam. "Kalau usus buntunya pecah malam ini—"
"Saya tahu," potong Bu Surti, dan untuk pertama kalinya ada ketegasan dingin dalam suaranya. "Saya tahu betul, Dok. Saya sudah dua puluh tahun di sini menyaksikan orang mati karena terlambat. Tapi saya juga sudah dua puluh tahun belajar bahwa kalau kita dorong terlalu keras, mereka lari, dan kita kehilangan mereka untuk selamanya, bukan cuma malam ini."
Keduanya saling tatap. Bukan pertengkaran soal siapa yang lebih peduli—keduanya peduli. Ini pertengkaran soal dua dunia: dunia di mana kebenaran medis adalah perintah, dan dunia di mana kebenaran medis hanyalah tawaran yang harus dirundingkan dengan kepercayaan, kemiskinan, dan ketakutan orang akan laut.
Malam itu Laras tidak bisa tidur. Ia menjaga sendiri di puskesmas, kembali ke ranjang Pak Hamid berkali-kali, menekan perutnya, mengukur suhunya, mencatat. Pukul dua dini hari, demam lelaki itu naik, nyerinya menyebar ke seluruh perut, dan perut itu mengeras seperti papan. Usus buntunya pecah. Peritonitis. Hal yang persis ia takutkan.
"Bu Surti!" Ia menggedor pintu rumah dinas bidan yang bersebelahan. "Bu, dia memburuk. Kita harus rujuk sekarang juga."
Bu Surti muncul dengan kerudung yang dipasang asal. Ia memeriksa Pak Hamid sekilas dan wajahnya berubah. "Saya panggilkan Pak Jamal. Tukang perahu. Dia satu-satunya yang berani melaut malam."
Mereka membangunkan kampung. Anak Pak Hamid menangis menyesali keputusan ayahnya. Pak Jamal, lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal, datang sambil mengaitkan tali pinggangnya, dan setelah memandang langit malam sebentar ia berkata, "Anginnya tidak terlalu jelek malam ini. Bisa. Tapi tetap enam jam, Dok. Lebih."
Laras memberikan antibiotik suntik dosis tinggi—dua jenis yang ia punya, ia gabungkan—memasang infus kedua, menulis surat rujukan tangan dengan segala yang ia tahu, dan mengontak rumah sakit kabupaten lewat radio medik yang berderak penuh gangguan. Suara di seberang nyaris tak terdengar di balik desis statis, tapi ia berhasil menyampaikan: pasien peritonitis, dugaan usus buntu pecah, dirujuk lewat laut, perkiraan tiba pagi. Tolong siapkan kamar operasi.
Ia mengantar Pak Hamid ke dermaga dalam gelap, ikut menggotongnya ke perahu yang bergoyang. Sebelum perahu lepas, lelaki yang sudah lemah itu menggenggam tangannya. "Maaf, Dok," bisiknya. "Saya keras kepala."
Laras menggenggam balik. "Bertahan, Pak. Sampai sana."
Perahu itu menghilang ke dalam kegelapan laut, lampunya menjadi titik kuning yang makin kecil, lalu lenyap ditelan ombak. Laras berdiri di dermaga bersama Bu Surti, angin malam menggigit, dan untuk pertama kalinya ia merasakan sepenuhnya beratnya jarak ini. Pasiennya kini berada di tangan laut, dan tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menunggu kabar yang mungkin baru datang sehari kemudian, atau tidak datang sama sekali.
"Apa dia akan selamat?" tanya Laras, lebih pada dirinya sendiri.
Bu Surti menatap titik gelap di laut yang menelan perahu itu. "Itu pertanyaan yang harus Dokter belajar berhenti menanyakan," jawabnya pelan. "Di sini, kita kerjakan yang bisa kita kerjakan, lalu kita lepas. Sisanya bukan milik kita."
Laras tidak menjawab. Ia tidak bisa menerima itu—belum. Sepanjang hidupnya ia diajari bahwa hasil adalah tanggung jawab, bahwa pasien yang lepas dari tangan adalah pasien yang gagal diselamatkan. Melepas, baginya, terdengar seperti menyerah. Ia berbalik kembali ke puskesmas, dan dalam buku catatannya yang kecil, di bawah daftar protokol yang mulai ia susun, ia menulis satu baris yang tidak ia mengerti sepenuhnya: Kadang merujuk lebih sulit daripada mengoperasi. Kadang yang terberat bukan tindakannya, tapi menunggunya.
Dua hari kemudian, radio berderak membawa kabar dari kabupaten. Pak Hamid selamat sampai meja operasi. Ususnya memang sudah pecah, nanahnya banyak, tapi ia hidup. Laras membaca catatan itu di buku jaganya dan merasakan sesuatu yang aneh: bukan kemenangan, melainkan lega yang lelah. Ia menatap tangannya sendiri—tangan yang terlatih membedah, yang malam itu sama sekali tidak boleh membedah, yang hanya boleh menstabilkan dan melepas. Untuk pertama kalinya ia bertanya-tanya apakah keterampilannya yang paling ia banggakan justru yang paling sering harus ia kekang di pulau ini.