Laras menghabiskan satu malam penuh menyusun daftar.
Ia duduk di meja kerjanya di bawah cahaya senter kepala yang temaram, generator sudah lama mati, dan menuliskan semua yang dibutuhkan puskesmas dengan tulisan tangannya yang rapi dan tegas. Tabung oksigen cadangan, minimal dua. Reagen malaria yang belum kedaluwarsa. Obat-obatan dasar dalam jumlah memadai—antibiotik, cairan infus, magnesium sulfat, oksitosin. Set jahit yang layak. Pemeriksaan hemoglobin yang bisa diandalkan. Solar yang cukup agar generator bisa menyala lebih lama. Dan, dengan tinta yang ia tekan kuat-kuat, di paling bawah: alat USG portabel.
Ia tahu permintaan terakhir itu mungkin mustahil. Tapi ia teringat Pak Hamid, teringat malam ia harus menebak usus buntu hanya dengan jemari, dan ia menulis permintaan itu tetap, karena ia tidak akan menebak nyawa orang seumur hidupnya jika ia bisa menolak.
Keesokan paginya ia menyerahkan daftar itu pada petugas administrasi puskesmas, seorang lelaki paruh baya bernama Pak Yusuf yang merangkap segala urusan kertas, dan bertanya kapan bisa dikirim ke Dinas Kesehatan.
"Kapal logistik berikutnya, Dok," jawab Pak Yusuf. "Surat ikut kapal. Sampai kabupaten, masuk ke dinas, naik ke meja kepala bidang, diproses, dianggarkan. Kalau lancar—" ia menghitung dengan jari, "—dua, tiga bulan. Kalau tidak lancar, setahun. Kalau anggarannya habis, tahun depan."
Laras menatapnya, menunggu kelakar yang tak kunjung datang. "Bapak serius?"
"Dok, USG yang Dokter minta itu—" Pak Yusuf tersenyum getir, "—puskesmas sebelum Dokter sudah minta tiga tahun lalu. Belum datang sampai sekarang. Yang datang malah meja periksa baru yang tidak ada yang minta."
Laras merasakan sesuatu mengeras di dalam dadanya. Sepanjang hidupnya ia percaya pada sistem—pada gagasan bahwa jika kau bekerja keras, jika kau pintar, jika kau benar, sistem akan memberimu apa yang kau butuhkan. Sistem itu yang mengangkatnya dari keluarga sederhana ke bangku kedokteran. Sistem itu pula yang, ia ingat dengan pahit, menolaknya masuk spesialis bedah. Dan kini sistem yang sama membentangkan jarak laut dan birokrasi antara dirinya dan sebatang tabung oksigen.
Malam itu, sendirian di ruang jaga, frustrasi membawanya ke tempat yang biasa ia hindari. Ia membuka laci, mengeluarkan amplop coklat yang ia bawa dari kota dan belum pernah ia sentuh sejak tiba. Di dalamnya: salinan pengumuman hasil seleksi PPDS bedah. Namanya, dengan jelas, di bawah garis kelulusan. Tidak diterima.
Ia menatap kertas itu lama. Dan ingatan yang ia kubur naik dengan sendirinya, tak diundang.
Kamar operasi rumah sakit pendidikan, dua tahun lalu, saat ia masih koas. Seorang pasien lelaki, muda, kecelakaan motor, perdarahan dalam. Operasi berjalan lama. Ia, sebagai koas, hanya membantu—memegang retraktor, menyedot darah, menjahit kulit di akhir. Bukan tugasnya mengambil keputusan. Tapi ada satu momen—satu momen yang ia putar ribuan kali—ketika ia melihat sesuatu, samar, bayangan di sudut lapang operasi yang menurutnya tidak beres, dan ia ragu. Ia hanya koas. Ia tidak ingin terlihat lancang, tidak ingin menyela dokter senior yang sedang bekerja cepat. Maka ia diam. Operasi selesai. Dan dua jam kemudian pasien itu memburuk, dibawa kembali, dan ada perdarahan kedua yang terlewat—di tempat yang persis ia ragukan.
Pasien itu meninggal di meja yang sama. Dini hari.
Tidak ada yang menyalahkannya. Secara teknis, ia tidak bersalah—ia hanya koas, keputusan bukan di tangannya, tidak ada catatan yang mencantumkan namanya sebagai pengambil keputusan. Tapi ia tahu. Ia tahu ia melihat sesuatu dan ia diam. Dan ketika seleksi PPDS bedah tiba—wawancara, penilaian, rekam jejak—ia merasa, meski tak ada yang mengatakannya terang-terangan, bahwa keraguan itu tercium. Bahwa ada cacat dalam dirinya yang membuat panitia menolaknya. Bahwa seseorang yang diam ketika ia melihat sesuatu yang salah tidak pantas memegang pisau bedah seumur hidup.
Laras melipat kertas itu kembali, memasukkannya ke amplop, ke laci. Tangannya gemetar sedikit—bukan tangan operasi yang gemetar, tapi tangan perempuan yang lelah membenci dirinya sendiri.
Di pulau ini, ia tidak bisa lari dari hantu itu. Justru sebaliknya. Setiap hari ia berhadapan dengan keputusan yang harus ia ambil sendirian, tanpa senior di belakang yang bisa ia salahkan atau ia diami. Di kota, ia bisa bersembunyi di balik hierarki—aku hanya koas, keputusan bukan di tanganku. Di sini, tidak ada hierarki. Setiap nyawa di pulau ini melewati tangannya, dan jika ia diam, jika ia ragu, tidak ada senior yang akan menutupi diamnya. Pulau ini menelanjanginya.
Ia keluar dari ruang jaga, berdiri di teras puskesmas. Langit malam di Sebaru luar biasa luas, penuh bintang yang tak pernah ia lihat sebanyak ini di kota dengan polusi cahayanya. Ombak berdebur jauh. Di kejauhan, lampu-lampu kecil perahu nelayan yang melaut malam mengambang seperti bintang yang jatuh ke laut.
Bu Surti muncul di sampingnya, membawa dua gelas kopi. Ia menyodorkan satu tanpa berkata-kata, lalu duduk di kursi kayu di teras.
"Dokter belum tidur," katanya. Bukan pertanyaan.
"Tidak bisa." Laras menerima kopinya. "Memikirkan daftar permintaan yang mungkin tidak akan pernah datang."
Bu Surti tertawa kecil, lelah. "Dua puluh tahun, Dok. Saya sudah dua puluh tahun mengirim daftar. Sebagian datang. Banyak yang tidak. Tapi pulau ini tidak menunggu daftar untuk melahirkan, untuk sakit, untuk mati." Ia menyeruput kopinya. "Jadi kita kerja dengan yang ada. Bukan karena itu benar, tapi karena tidak ada pilihan lain."
Laras menatap bidan di sampingnya. Perempuan ini, yang awalnya ia kira sederhana, ternyata menyimpan jenis kebijaksanaan yang tidak diajarkan di fakultas mana pun—kebijaksanaan orang yang sudah lama berdamai dengan keterbatasan tanpa pernah menyerah padanya.
"Bu Surti pernah ingin pergi dari sini?" tanya Laras.
Bidan itu diam sejenak, menatap lampu-lampu perahu di laut. "Setiap hari, dua puluh tahun pertama," jawabnya, lalu tersenyum. "Sekarang sudah tidak. Bukan karena pulau ini jadi lebih mudah. Tapi karena saya sadar, kalau saya pergi, siapa yang menyambut bayi-bayi itu." Ia menoleh pada Laras. "Dokter akan paham nanti. Atau Dokter akan pergi. Dua-duanya tidak apa-apa. Pulau ini sudah biasa ditinggal."
Laras tidak menjawab. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang bergeser—pelan, hampir tak terasa, seperti pasir yang berpindah di dasar laut.