Pak Jamal menjadi orang pertama di pulau yang memperlakukan Laras bukan sebagai dokter, melainkan sebagai manusia.
Itu dimulai dari kebiasaannya mampir ke puskesmas tiap pagi, sepulang melaut, membawa ikan segar yang ia tinggalkan di dapur belakang tanpa banyak bicara. "Buat Dokter sama Bu Surti," katanya singkat. Pada awalnya Laras menolak, merasa tidak pantas menerima, tapi Bu Surti menariknya. "Terima saja, Dok. Di sini, orang berterima kasih pakai ikan, bukan amplop. Menolak ikan sama dengan menolak hatinya."
Maka Laras belajar menerima. Dan perlahan, lewat ikan-ikan itu dan obrolan singkat di pagi hari, ia mengenal lelaki kekar berkumis tebal itu—satu-satunya orang di Sebaru yang berani melaut malam menembus gelap, yang perahunya menjadi satu-satunya tali penyelamat antara pulau dan dunia luar saat darurat datang. Pak Jamal punya tujuh anak. Yang bungsu, lelaki kecil bernama Udin, berusia sembilan tahun, lincah seperti monyet dan—menurut ayahnya sambil tertawa—pemanjat pohon kelapa terbaik di kampung.
Keahlian itulah yang membawanya ke ranjang puskesmas suatu sore.
Udin jatuh dari pohon kelapa di belakang rumahnya. Tidak terlalu tinggi—sekitar empat meter, kata saksi mata—tapi ia mendarat dengan lengan kiri menahan tubuh. Ketika kakaknya membawanya berlari ke puskesmas, Laras langsung tahu dari cara anak itu menahan lengannya, dari sudut yang tidak wajar di lengan bawah, bahwa tulangnya patah. Dan ketika ia menyingkap lengan baju kecil itu, ia melihat yang paling ditakutinya: ujung tulang mencuat menembus kulit, darah merembes, luka terbuka yang langsung berhubungan dengan dunia luar dan segala kumannya.
Patah tulang terbuka. Pada anak. Tanpa rontgen.
"Pak Jamal," panggil Bu Surti, dan tak lama lelaki kekar itu datang berlari, wajahnya yang biasa tenang kini pucat melihat anak bungsunya menangis kesakitan di ranjang.
Laras menarik napas dan masuk ke mode yang ia kenal—mode di mana panik orang lain harus ia ubah menjadi ketenangan, di mana tangannya harus berbicara lebih keras daripada ketakutannya sendiri. "Pak Jamal, dengar saya. Udin akan baik-baik saja, tapi saya butuh Bapak tenang dan bantu saya. Bisa?"
Lelaki itu mengangguk kaku.
"Andi, siapkan obat nyeri, dan bersihkan sekitar lukanya dengan cairan steril, banyak-banyak. Bu Surti, antibiotik suntik, sekarang. Luka terbuka begini paling berbahaya bukan patahnya, tapi infeksinya."
Ia bekerja cepat. Membersihkan luka, menutupnya dengan kasa steril, memberi anak itu obat pereda nyeri sampai tangisnya mereda menjadi isakan. Lalu ia menghadapi keputusan yang sebenarnya. Di kota, patah tulang terbuka pada anak berarti operasi—membersihkan luka di kamar bedah, memasang pen atau gips dengan panduan rontgen, dirawat dengan antibiotik intravena berhari-hari. Standar ideal yang ia pelajari. Di sini, ia tidak punya kamar bedah, tidak punya rontgen, tidak punya cara memasang pen.
Ia punya dua pilihan, dan keduanya buruk. Pertama: stabilkan lengan itu di sini, beri antibiotik, dan tahan Udin sambil berharap infeksi tidak masuk. Risikonya: tulang yang patah dan terbuka tanpa penanganan bedah bersih bisa terinfeksi sampai ke tulang, dan infeksi tulang pada anak bisa merusak pertumbuhannya, bahkan mengancam nyawa. Kedua: rujuk ke kabupaten, enam jam di laut, dengan anak kesakitan dan luka terbuka yang terguncang ombak sepanjang jalan. Risikonya: guncangan bisa memperparah, laut bisa berubah ganas, dan biaya carter perahu yang—ia menoleh pada Pak Jamal dan teringat lelaki itu tukang perahu, ironisnya orang yang biasa mengantar rujukan kini punya anak yang butuh dirujuk.
"Saya antar sendiri," kata Pak Jamal, seakan membaca pikirannya. "Perahu saya. Saya antar Udin ke kabupaten malam ini juga. Tidak usah pikir biaya."
Laras menatapnya, lalu menatap Udin, lalu menatap langit sore yang mulai bergulung dengan awan kelabu di ufuk barat. Ia teringat sesuatu yang Bu Surti katakan beberapa hari lalu tentang cuaca yang berubah cepat di laut ini. "Pak Jamal, lautnya bagaimana nanti malam?"
Lelaki itu mengikuti pandangan Laras ke ufuk barat. Wajahnya berubah. "Awan itu—" gumamnya. "Ada angin datang. Belum besar. Tapi kalau saya berangkat sekarang, sebelum gelap, mungkin bisa lewat sebelum dia datang."
Di sinilah Laras harus memutuskan. Bukan keputusan medis murni—keputusan medisnya jelas, anak ini idealnya dirujuk untuk penanganan bedah. Tapi keputusan ini berkelindan dengan laut, dengan cuaca, dengan nyawa seorang ayah yang bersedia mempertaruhkan perahunya. Jika ia menyuruh berangkat dan badai menangkap mereka di tengah laut, ia bisa kehilangan dua nyawa alih-alih menyelamatkan satu lengan. Jika ia menahan dan infeksi merebak, ia bisa kehilangan satu anak yang seharusnya bisa diselamatkan.
Ia memejamkan mata sekejap. Lalu ia membuka mata dan, untuk pertama kalinya di pulau ini, ia tidak diam.
"Kita stabilkan dulu di sini, semaksimal mungkin," katanya tegas. "Saya bersihkan lukanya sebaik yang saya bisa—bukan operasi, tapi cukup untuk menahan infeksi. Saya pasang bidai. Antibiotik dosis penuh. Lalu Pak Jamal berangkat besok pagi buta, bukan malam ini. Bukan karena infeksinya tidak mendesak—mendesak. Tapi karena membawa anak ini ke tengah laut malam-malam saat ada angin datang justru memperbesar bahayanya. Kita pakai malam ini untuk menjinakkan infeksinya dengan antibiotik kuat, dan kita berangkat saat cahaya dan laut paling aman."
Ia berbicara cepat, menjelaskan alasannya pada Pak Jamal sampai lelaki itu mengerti—bukan menahan rujukan, tapi mengatur waktunya melawan cuaca. Bukan diam, tapi memilih, dengan suara lantang, dengan alasan yang bisa ia pertanggungjawabkan jika ada yang bertanya.
Malam itu ia tidak tidur. Ia mengganti kasa Udin tiap beberapa jam, memantau lengan itu, mengukur suhu anak itu berulang kali mencari tanda infeksi yang merebak. Pak Jamal duduk di sisi anaknya sepanjang malam, dan menjelang dini hari, ketika Udin tertidur lelap dan suhunya tetap stabil, lelaki kekar itu menatap Laras dengan mata yang basah.
"Dulu anak saya yang ketiga," katanya pelan, "juga patah. Belasan tahun lalu. Dokter waktu itu cuma kasih obat, tidak mau repot. Kaki anak saya bengkok sampai sekarang." Ia menelan ludah. "Dokter Laras tidak begitu. Dokter mikirin lautnya, mikirin saya, mikirin Udin. Saya lihat."
Pagi buta, laut tenang seperti yang Pak Jamal harapkan. Mereka membawa Udin ke perahu, lengan terbidai rapi, demam terkendali. Laras menyerahkan surat rujukan dan obat untuk perjalanan. Sebelum perahu lepas, Pak Jamal menggenggam tangannya, kuat, kasar, hangat. "Terima kasih, Dok," katanya. "Pulau ini beruntung."
Laras berdiri di dermaga menatap perahu itu mengecil di kejauhan, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Sebaru, ia merasa—samar, ragu, tapi nyata—bahwa mungkin ia tidak sepenuhnya terbuang di sini. Mungkin ia justru ditemukan.