Kabar tentang Udin yang pulang dengan lengan terpasang pen dan sembuh menyebar di pulau lebih cepat daripada kapal mana pun. Tiba-tiba antrean di puskesmas memanjang. Orang-orang yang dulu lebih percaya Wak Daeng kini datang lebih dulu pada dokter—tidak semua, tapi cukup untuk membuat Bu Surti tersenyum kecil dan berkata, "Pulau mulai menerima Dokter."
Tapi penerimaan itu datang bersama beban baru. Dan beban itu muncul dalam bentuk anak-anak.
Dalam satu pagi, lima anak datang dengan keluhan yang sama: diare hebat, muntah, lemas. Dua di antaranya sudah dehidrasi berat—mata cekung, kulit yang ketika dicubit lambat kembali, bibir kering, dan yang paling kecil, balita berusia dua tahun, sudah lemas tak bertenaga, nadinya cepat dan halus. Laras langsung memasang infus, mengganti cairan yang hilang, sementara Bu Surti dan Andi menangani yang lain dengan cairan oralit.
"Lima dalam satu pagi," gumam Laras, sambil mengatur tetesan infus balita itu. "Ini bukan kebetulan. Mereka dari mana saja?"
Bu Surti menanyai para ibu. "Tiga dari dusun yang sama—Dusun Hilir, dekat muara. Dua dari dusun sebelahnya."
Laras berhenti. Otaknya yang terlatih melihat pola yang sama seperti melihat gejala pada pasien: bukan lima penyakit, melainkan satu sumber dengan lima korban. Diare massal, terpusat di area tertentu, menyerang anak-anak terlebih dulu karena tubuh kecil mereka paling cepat terdampak. Ini bukan penyakit yang harus ia obati di balik meja. Ini wabah, dan sumbernya ada di luar puskesmas.
"Saya harus ke sana," katanya. "Ke Dusun Hilir. Sumber airnya."
Bu Surti tampak ragu. "Dok, kepala desa kita—Pak Lurah Salim—dia orangnya, hmm. Mudah tersinggung. Kalau Dokter datang bilang air kampungnya kotor—"
"Lalu saya harus diam dan menunggu anak-anak ini datang satu per satu sampai ada yang tidak tertolong?" Laras menggeleng. "Tidak, Bu. Bukan kali ini."
Siang itu ia berjalan ke Dusun Hilir bersama Andi, meninggalkan Bu Surti menjaga pasien. Untuk pertama kalinya ia keluar dari puskesmas untuk urusan medis—kedokteran yang bukan menunggu pasien datang, melainkan mendatangi penyakit di sarangnya. Dusun Hilir adalah perkampungan nelayan yang lebih miskin, rumah-rumah panggung yang lebih rapat, dekat muara sungai kecil yang bermuara ke laut. Laras menelusuri sumber air mereka: sebuah sumur galian yang dipakai bersama beberapa keluarga, dan—di sinilah ia berhenti—letaknya tak jauh dari deretan jamban yang dibangun di atas tanah, dengan saluran pembuangan yang tampak meresap ke tanah yang sama.
Ia berlutut di tepi sumur, menatap air di dalamnya. Ia tidak punya alat untuk menguji air. Tapi ia tidak butuh alat untuk melihat letak jamban yang terlalu dekat, tanah yang basah merembes, dan musim yang—menurut Andi—baru saja melewati hujan deras yang membuat air permukaan meluap dan bercampur. Logikanya sejelas anatomi: kotoran meresap ke tanah, mencemari sumur, air diminum, anak-anak sakit.
"Andi, kumpulkan info. Keluarga mana saja yang pakai sumur ini. Anak-anak yang sakit, semua dari keluarga pengguna sumur ini?"
Andi mengangguk dan mulai mendata. Sementara itu, kabar kedatangan dokter ke dusun sudah sampai ke telinga yang salah. Pak Lurah Salim datang dengan langkah lebar, wajahnya merah.
"Dokter ngapain di sini?" suaranya keras. "Bikin gaduh kampung saya, bilang-bilang airnya kotor? Sudah ratusan tahun orang sini minum air sumur itu, tidak pernah kenapa-kenapa. Sekarang baru ada dokter kota, langsung kampung saya disebut kotor!"
Laras berdiri menghadapinya. Beberapa bulan lalu, ia mungkin akan membalas dengan ketus, dengan fakta-fakta yang ia lemparkan seperti pisau. Tapi pulau ini sudah mengajarinya sesuatu—pelajaran dari Wak Daeng, dari Pak Hamid, dari Bu Surti. Bahwa kebenaran yang dilemparkan dengan kasar akan dipantulkan, dan yang terluka justru orang-orang yang ingin ia tolong.
"Pak Lurah," katanya, suaranya tenang tapi tegas. "Saya tidak bilang kampung ini kotor. Kampung Bapak baik. Orang-orangnya baik. Tapi ada lima anak sakit pagi ini, Pak. Lima. Dua hampir tidak tertolong. Dan saya butuh bantuan Bapak—bukan untuk menyalahkan, tapi untuk melindungi anak-anak Bapak sendiri." Ia menunjuk sumur dan jamban dengan gerakan yang menjelaskan, bukan menuduh. "Lihat, Pak. Hujan kemarin membuat air kotor merembes ke sumur. Itu bukan salah siapa-siapa. Itu cuma jarak yang terlalu dekat. Kita bisa perbaiki bersama, dan anak-anak akan sehat lagi."
Lurah Salim diam, masih tegang, tapi amarahnya mulai mereda di hadapan nada yang tidak melawan. Andi datang membawa data: benar, semua anak yang sakit berasal dari keluarga pengguna sumur itu. Bukti yang tak terbantahkan, disampaikan dengan cara yang tak mempermalukan.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya lurah itu akhirnya, suaranya melunak.
"Pertama, umumkan ke warga: jangan minum air sumur ini dulu sampai aman. Rebus dulu semua air minum, sampai mendidih betul. Kedua, kita atur jamban dipindah lebih jauh dari sumur, atau buat sumur baru di tempat yang lebih tinggi dan jauh. Saya bantu hitung jaraknya. Ketiga, anak yang sakit, bawa ke puskesmas, jangan ditunda. Diare pada anak kecil bisa cepat sekali memburuk."
Lurah Salim mengangguk, dan untuk pertama kalinya menatap Laras bukan sebagai ancaman, melainkan sekutu. "Baik, Dok. Saya umumkan sore ini."
Tapi ketika Laras kembali ke puskesmas, masalah lain sudah menunggu. Bu Surti menyambutnya dengan wajah cemas. "Dok, cairan infus kita tinggal sedikit. Anak yang dehidrasi berat butuh banyak. Kalau besok ada lagi yang datang—" Ia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya.
Laras menghitung di kepalanya. Stok cairan infus yang menipis. Lima anak sekarang, mungkin lebih besok jika wabah belum mereda. Dan kapal logistik—"Kapal logistik kapan?"
"Tiga hari lagi. Itu pun kalau cuaca baik."
Tiga hari. Laras menatap stok cairan yang tersisa di lemari, lalu menatap balita yang masih lemas di ranjang dengan infus menetes pelan. Ia harus menghemat. Mengutamakan oralit untuk yang masih bisa minum, menyimpan infus hanya untuk yang paling kritis. Membuat oralit sendiri jika perlu—gula, garam, air matang, takaran yang ia hafal. Mengubah dapur puskesmas menjadi pabrik cairan darurat.
Malam itu ia dan Bu Surti bekerja berdampingan meracik larutan oralit dalam panci-panci besar, sementara Andi berkeliling dusun memastikan pesan lurah sampai. Tangan Laras yang dilatih untuk memegang skalpel kini mengaduk gula dan garam dalam air. Dan anehnya, ia tidak merasa itu di bawah martabatnya. Untuk kali ini, mengaduk panci adalah tindakan menyelamatkan nyawa yang sama nyata dengan operasi mana pun.
Wabah itu mereda dalam empat hari. Tidak ada yang meninggal. Air direbus, sumur dijauhkan, dan anak-anak pulih satu per satu. Sebuah kemenangan—kecil, sunyi, tanpa drama. Tapi Laras menuliskannya di buku catatannya dengan tangan yang lelah dan puas: Kadang menyelamatkan delapan ribu nyawa dimulai dari memindahkan satu jamban. Lalu ia mencoret angka delapan ribu dan menggantinya: tiga ribu. Lalu ia mencoret itu juga, dan menulis: dimulai dari satu anak.