Kemenangan membuat Laras lengah pada kebenaran paling tua dalam kedokteran: tidak semua bisa diselamatkan.
Lelaki itu bernama Daeng Mansur, tujuh puluh tiga tahun, salah satu tetua nelayan yang paling dihormati di Sebaru. Ia datang—lebih tepatnya dibawa—pada sore yang mendung, dengan keluhan yang langsung membuat dada Laras dingin: nyeri dada hebat yang menjalar ke lengan kiri dan rahang, keringat dingin, sesak, mual. Wajahnya kelabu. Setiap tanda yang ia pelajari berteriak satu hal: serangan jantung. Otot jantung yang mati karena pembuluhnya tersumbat.
Di kota, ini berarti pacuan melawan waktu yang ia tahu cara memenangkannya—rekam jantung, obat pengencer dan pemecah sumbatan, kateterisasi jantung untuk membuka pembuluh yang tersumbat, semuanya dalam hitungan menit emas pertama. Setiap menit otot jantung yang diselamatkan adalah nyawa yang diperpanjang.
Di sini, ia tidak punya rekam jantung. Ia tidak punya obat pemecah sumbatan. Ia tidak punya kateterisasi. Ia hanya punya diagnosis di kepalanya dan ketidakberdayaan di tangannya.
Ia melakukan semua yang bisa. Oksigen. Aspirin yang ia kunyahkan. Obat untuk nyeri dan untuk meringankan kerja jantung, sekenanya, sesuai yang ada. Ia memantau, mengukur, berusaha menstabilkan. Dan ia tahu, dengan kepastian yang menyiksa, bahwa satu-satunya harapan nyata Daeng Mansur adalah rumah sakit kabupaten dengan alat yang bisa membuka pembuluhnya.
Ia berlari ke radio medik. "Pak Jamal!" teriaknya pada Andi. "Panggil Pak Jamal, sekarang, kita harus rujuk!"
Tapi Andi yang baru kembali dari dermaga menggeleng, wajahnya muram. "Dok, lautnya. Angin barat mulai masuk lebih cepat tahun ini. Ombak di luar sudah tinggi sekali. Pak Jamal—dia bilang—" Andi menelan ludah, "—dia bilang malam ini bunuh diri, Dok. Perahu sekecil itu tidak akan sampai. Akan terbalik sebelum keluar dari teluk."
Laras berlari sendiri ke dermaga untuk membuktikan, untuk menolak percaya. Tapi laut tidak bisa dibantah. Ombak menggulung tinggi, putih membuih, menghantam dermaga dengan kemarahan yang membuat papan-papannya berderak. Angin menderu. Langit hitam pekat. Ini bukan laut yang bisa dirundingkan. Ini laut yang akan menelan siapa pun yang nekat, dan membawa serta pasien yang ingin diselamatkan.
Ia kembali ke puskesmas dengan baju basah oleh percikan ombak dan air matanya sendiri yang ia tolak akui. Daeng Mansur masih hidup, tapi makin lemah. Anak-anak dan cucu-cucunya berkumpul, memenuhi ruangan, berdoa, menangis. Wak Daeng datang, membacakan, dan kali ini Laras tidak menghalanginya—karena ia tahu, untuk pertama kalinya dengan getir, bahwa apa yang bisa ia tawarkan dan apa yang bisa Wak Daeng tawarkan kini sama-sama tak cukup.
Ia duduk di sisi ranjang sepanjang malam, memegang pergelangan tangan tua itu, merasakan nadi yang melemah di bawah jarinya. Ia memberikan semua obat yang ia punya, mengatur setiap dosis, melakukan setiap hal kecil yang masih mungkin. Tapi obat-obat itu hanya bisa meringankan, tidak bisa membuka pembuluh yang tersumbat. Hanya alat di kota yang bisa, dan kota terhalang badai sejauh enam jam yang malam ini sama mustahilnya dengan enam ribu kilometer.
Menjelang dini hari, napas Daeng Mansur memberat. Nyeri yang tadi membakar kini mereda—bukan karena membaik, Laras tahu, melainkan karena tubuh yang menyerah. Nadinya makin pelan, makin halus. Keluarganya menangis tertahan. Cucu perempuannya menggenggam tangan kakeknya yang lain.
Laras ingin melakukan sesuatu. Apa saja. Seluruh hidupnya dilatih untuk melakukan sesuatu, untuk melawan, untuk tidak menyerah pada kematian. Tapi di sini, dengan tangan kosong, satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah hadir. Tetap di sana. Tidak meninggalkan.
Daeng Mansur menghembuskan napas terakhirnya tepat saat langit di timur mulai menipis. Tenang. Dikelilingi keluarganya. Tangan Laras masih di pergelangannya ketika nadi itu berhenti.
Ia tidak menangis di depan keluarga. Ia menutup mata tua itu dengan lembut, mengucapkan belasungkawa dengan suara yang ia jaga tetap mantap, membiarkan keluarga itu memeluk jenazah dan menangis. Lalu ia berjalan keluar, ke belakang puskesmas, ke tempat ombak masih mengamuk di kegelapan yang mulai memucat, dan di sanalah ia hancur.
Ia menangis dengan cara yang tidak pernah ia izinkan dirinya sejak malam pasien itu meninggal di meja operasi dua tahun lalu. Karena ini terasa sama. Persis sama. Sesuatu yang seharusnya bisa diselamatkan, hilang—bukan karena ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi karena ia tidak bisa melakukannya. Dulu karena ia diam. Sekarang karena laut. Dua jenis ketidakberdayaan, tapi rasa bersalahnya satu rupa: ia tidak cukup. Ia tidak pernah cukup.
Suara langkah di belakangnya. Bu Surti. Bidan itu tidak berkata apa-apa pada awalnya. Ia hanya berdiri di samping Laras, menatap laut yang sama, membiarkan tangis dokter muda itu mengalir tanpa diburu untuk berhenti.
"Saya tahu serangan jantungnya," kata Laras akhirnya, suaranya pecah. "Saya tahu persis apa yang dia butuhkan. Saya tahu cara menyelamatkannya, Bu. Tapi saya tidak bisa. Saya cuma duduk dan—dan menontonnya mati."
Bu Surti diam sejenak. Laras menunggu kata-kata penghiburan, kata-kata bijak tentang menerima keterbatasan, tentang melepas, tentang arti cukup—kata-kata yang mungkin dulu akan diberikan bidan itu. Tapi malam ini, di tepi laut yang mengamuk, dengan jenazah tetua yang baru saja dingin di dalam, Bu Surti tidak memberikan penghiburan.
"Ya," katanya pelan. "Dokter menontonnya mati."
Kata-kata itu menghantam Laras seperti tamparan. Tidak ada pemanis. Tidak ada pembenaran. Hanya kebenaran yang telanjang.
"Itu yang paling berat di pulau ini, Dok," lanjut Bu Surti, dan suaranya sendiri bergetar sedikit. "Bukan yang tidak kita tahu cara selamatkan. Tapi yang kita tahu, dan tetap tidak bisa." Ia menatap laut. "Saya tidak akan bilang ini bukan salah Dokter. Karena memang bukan. Tapi saya juga tidak akan bilang ini akan terasa baik-baik saja. Tidak. Tidak akan pernah terasa baik."
Laras menatapnya, terkejut oleh kejujuran yang tidak berusaha menyembuhkan apa pun.
Bu Surti menarik napas. "Sebentar lagi angin barat datang penuh. Pulau akan terkunci. Dan Dokter—" ia menatap Laras dengan mata yang tua dan lelah, "—Dokter belum selesai diuji. Daeng Mansur baru permulaan. Jadi simpan air mata itu. Bukan karena tidak boleh menangis. Tapi karena pulau ini belum selesai meminta dari Dokter."
Ia berbalik dan kembali ke dalam, meninggalkan Laras sendiri dengan laut, dengan rasa bersalah yang tidak terobati, dan dengan firasat dingin bahwa yang terburuk belum datang. Tidak ada pelukan. Tidak ada perdamaian. Hanya luka yang dibiarkan terbuka, dan laut yang mulai menggeram lebih keras dari sebelumnya.