Angin barat datang seperti yang dijanjikan—bukan sebagai badai tunggal yang menggebrak lalu pergi, melainkan sebagai penjajah yang menetap. Pada hari pertama, laut mengamuk. Pada hari kedua, ia mengamuk lebih hebat. Pada hari ketiga, kapal logistik yang seharusnya datang membawa cairan infus, obat, oksigen, dan solar tidak muncul, dan radio kabupaten yang berderak memberi kabar singkat sebelum gangguan menelannya: cuaca buruk meluas, tidak ada pelayaran sampai angin reda, entah kapan.
Pulau Sebaru terputus dari dunia.
Laras berdiri di dermaga pada hari keempat, memandang laut yang kelabu dan ganas membentang tak berujung, dan untuk pertama kalinya ia memahami sepenuhnya arti kata terpencil. Bukan jauh. Terpencil. Terpotong. Sendirian. Tidak ada perahu yang masuk. Tidak ada perahu yang keluar. Jika ada yang sakit parah malam ini, tidak ada rujukan. Tidak ada kabupaten. Tidak ada bantuan. Hanya dia, Bu Surti, Andi, dan apa pun yang tersisa di lemari obat.
Dan yang tersisa di lemari obat tidak banyak.
Ia menghitungnya bersama Bu Surti dengan teliti, seperti tentara menghitung peluru sebelum pengepungan. Cairan infus: tersisa belasan kantong setelah wabah diare. Oksigen: satu tabung, terisi kurang dari separuh, sisa dari yang dipakai Daeng Mansur. Antibiotik suntik: menipis. Solar untuk generator: cukup untuk seminggu, mungkin, jika dijatah ketat. Magnesium sulfat: dua ampul. Oksitosin: beberapa. Darah: tidak ada, tidak pernah ada.
"Kita harus berhemat dari sekarang," kata Laras. "Generator hanya untuk keadaan darurat, bukan lagi dari magrib sampai tengah malam. Oksigen hanya untuk yang benar-benar mengancam nyawa. Infus hanya untuk yang tidak bisa minum."
Bu Surti mengangguk. Ia sudah pernah melewati musim angin barat dua puluh kali, dan Laras melihat di wajahnya bukan ketakutan, melainkan kesiagaan tenang dari orang yang tahu apa yang akan datang. "Musim ini selalu bawa pasien, Dok," katanya. "Orang stres terkurung, kurang makan ikan karena tidak bisa melaut, anak-anak rewel. Dan—" ia berhenti, "—bayi tidak peduli badai. Bayi lahir kapan dia mau lahir."
Kata-kata itu menggantung di udara seperti pertanda.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme pengepungan. Puskesmas tetap melayani—batuk, demam, luka kecil—tapi setiap kali Laras menulis resep, ia menghitung apa yang ia kurangi dari cadangan yang tak bisa diisi ulang. Setiap keputusan kini punya bobot ganda: bukan hanya benar secara medis, tapi juga hemat secara logistik. Ia belajar memberi obat dalam dosis minimum efektif, memilih yang murah dan ada ketimbang yang ideal tapi langka, mengembalikan kedokteran ke akarnya yang paling dasar—akal sehat, tangan, dan pengamatan.
Malam-malam terasa lebih panjang. Tanpa generator yang menyala, pulau tenggelam dalam gelap total begitu matahari turun, dan satu-satunya cahaya adalah lampu badai dan senter yang dijatah baterainya. Laras sering duduk di teras puskesmas dalam gelap, mendengar angin meraung dan ombak menghantam, dan memikirkan Daeng Mansur yang tak bisa ia selamatkan, pasien koas yang mati di mejanya dua tahun lalu, dan hantu-hantu lain yang kini punya banyak waktu untuk mengunjunginya dalam kegelapan.
Bu Surti, yang malam itu di tepi laut tidak memberinya penghiburan, kini juga tidak menariknya kembali ke pertemanan hangat yang nyaman. Mereka bekerja berdampingan, profesional, saling menghormati—tapi luka yang dibiarkan terbuka di malam kematian Daeng Mansur masih terbuka. Laras menyadari bidan itu sengaja tidak menyembuhkannya. Seakan Bu Surti tahu bahwa Laras belum boleh sembuh, belum boleh berdamai, karena ujian sesungguhnya belum tiba dan ia akan membutuhkan luka itu tetap terbuka—tetap tajam—untuk apa pun yang akan datang.
Pada malam ketujuh badai, ujian itu datang.
Ia datang dengan suara teriakan di tengah hujan yang menderas, suara beberapa orang yang menggotong sesuatu, menggedor pintu puskesmas yang sudah terkunci untuk malam. Andi yang berjaga membuka pintu, dan angin menyerbu masuk bersama hujan dan sekelompok orang yang basah kuyup, membawa seorang perempuan muda yang mengerang kesakitan di atas tandu darurat.
Laras dan Bu Surti terbangun dan berlari ke ruang tindakan. Perempuan itu—muda, hamil besar, wajahnya berkeringat dan meringis dalam siklus nyeri yang teratur. Ibunya, yang mengikuti di belakang, berbicara cepat dan panik dalam bahasa daerah.
"Namanya Wati," terjemah Bu Surti, tangannya sudah meraba perut perempuan itu. "Hamil pertama. Mules sejak siang tadi. Mereka tahan di rumah, kira sebentar lagi lahir, tapi—" wajah bidan itu berubah saat tangannya bekerja, "—Dok, sudah lebih dari dua belas jam dia mules kuat. Pembukaan sudah lama lengkap menurut ibunya. Tapi bayinya tidak turun-turun."
Laras merasakan dingin merayap di tengkuknya. Persalinan yang macet. Dua belas jam lebih dengan pembukaan lengkap tapi bayi tak juga lahir. Ia mengenakan sarung tangan dan memeriksa sendiri, dan apa yang ia temukan membenarkan ketakutannya: kepala bayi tidak turun sebagaimana mestinya, tersangkut, dengan tanda-tanda yang ia kenali dari buku dan dari pengamatannya di kota. Persalinan macet. Ibu yang sudah kelelahan setelah belasan jam mengejan. Dan—Laras menempelkan alat dengar ke perut Wati, mencari detak jantung bayi—detak itu ada, tapi melambat saat kontraksi datang, tanda bayi mulai kekurangan oksigen, mulai dalam bahaya.
Ia berdiri tegak, dan kenyataan menampar dirinya sekaligus: persalinan macet, bayi gawat, ibu kelelahan. Di kota, ini adalah indikasi operasi caesar darurat. Sekarang juga. Tanpa tunda. Kamar operasi, anestesi, dokter kandungan, dokter bayi, semuanya berhamburan ke tempatnya dalam hitungan menit.
Di sini, di pulau yang terkunci badai, dalam gelap dengan satu tabung oksigen separuh dan dua ampul magnesium sulfat, ia tidak punya satu pun dari itu.
"Bu," suaranya pelan, hampir tak terdengar di balik raung angin. "Dia butuh operasi. Caesar."
Bu Surti menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak Laras tiba, ia melihat ketakutan murni di mata bidan tua yang sudah dua puluh tahun di pulau itu. "Tidak ada perahu, Dok," bisik Bu Surti. "Tidak ada kabupaten. Tidak ada siapa-siapa. Cuma kita."
Di luar, badai meraung lebih keras, seakan tahu pulau ini sedang dipojokkan ke sudut tergelapnya. Laras menatap Wati yang mengerang, menatap perut yang berisi nyawa yang mulai meredup, menatap tangannya sendiri—tangan yang dilatih membedah, tangan yang gagal diakui kota, tangan yang malam ini mungkin adalah satu-satunya yang berdiri antara dua nyawa dan kematian.
Dan ia tahu, dengan kepastian yang membuat lututnya lemas, bahwa malam ini ia tidak boleh diam. Malam ini, untuk apa pun yang akan terjadi, tidak ada senior yang bisa ia diami. Tidak ada laut yang bisa membawa pasiennya pergi dari keputusannya. Hanya dia, dan apa yang harus ia putuskan.