"Ngerti?"
El mengangguk dengan cemas, tatapannya menyedihkan. Sebuah kilas balik samar menabrak benak
Elian, secepat kilat: pandangan serupa, rasa ngeri yang sama, hanya saja kali ini ketakutan itu nyata. Dia tidak sedang berpura-pura kikuk, dia sedang...ambruk.
24 jam sebelumnya. Kenyamanan mewah yang dingin menyelimuti ruangan. Elian Maheswara duduk tegak di atas sofa kulit hitam legam buatan Italia di ruang praktik Dokter Risa, kakinya sejajar, dasinya mencekik leher.
Kontras antara kemewahan material sofa dan penderitaan kasat mata yang menyiksanya begitu ekstrem hingga terasa menyakitkan.
Dia berusaha mengatur napas, namun jantungnya terus memompa seolah ia baru saja berlari maraton 40 kilometer. Suara napasnya yang serak terdengar nyaring di ruangan kedap suara itu. Dokter Risa, seorang wanita paruh baya dengan sorot mata yang hangat namun tajam, mengenakan blazer krem yang sangat terawat, menatap Elian tanpa kedipan, mencatat sesuatu di ttablet ergonomisnya.
"Detak jantungmu saat istirahat 110 per menit," ucap Dokter Risa tanpa mengangkat pandangan,
suaranya pelan dan mengancam, memecah keheningan yang panjang.
"Tuan Elian, kita sudah
membicarakan ini. Ini bukan stres biasa lagi. Kau berada di titik di mana stres kronis ini bisa
menyebabkan henti jantung."
"Aku tahu, Dok," sahut Elian, suaranya bergetar meskipun ia mati-matian berusaha mengendalikan otot
tenggorokannya.
Dia mengepalkan tangannya di lututnya. Itu gerakan tanpa sadar; selalu berusaha memegang kendali.
"Apa yang membuatmu menganggap hari ini lebih parah dari hari-hari lainnya?" tanya Dokter Risa, kini menaruh tabletnya di meja kristal dan bersandar santai, meskipun posisinya tetap waspada.
Elian menyeka keringat dingin di pelipisnya dengan punggung tangan, berusaha terlihat santai. Padahal, otot lehernya menegang sedemikian rupa hingga terasa sakit.
"Rapat besok, Dok. Pembaharuan kontrak Ascension Group. Ini krusial bagi Maheswara Consulting. Kerugiannya kalau aku gak tampil prima bisa—bisa miliaran."
"Kerugian finansial," ulang Dokter Risa pelan, "lebih besar daripada kerugian fisik yang kau alami sekarang?"
"Itu tugasku!" Elian meledak tiba-tiba, amarahnya menumpahkan semua kegelisahan.
"Seluruh hidup aku ini didedikasikan untuk memastikan kerugian gak pernah terjadi. Aku gak boleh gagal!”
Dia terdiam, malu pada letupan emosi yang tak terduga itu. Dokter Risa tidak tampak terkejut, melainkan mengangguk perlahan, seperti seorang profesor yang baru saja membuktikan teorinya di depan murid yang bodoh.
"Itu inti masalahmu, Tuan Maheswara. Kau berpikir failure is not an option. Tapi kegagalan bukan opsi, melainkan kebutuhan biologismu. Otak dan tubuhmu membutuhkan kegagalan seperti mereka membutuhkan air. Tapi kau sudah kecanduan pada kesuksesan yang beracun."
Dokter Risa menjulurkan sebuah map yang sudah usang di atas meja, yang terlihat konyol di antara kemewahan minimalis di ruangan itu. Di bagian depan map itu tertulis dengan huruf tebal, tebal, seolah ditarik paksa:
RESEP: KEGAGALAN MUTLAK.
Elian menatap map itu dengan mata memicing, seolah benda itu adalah virus berbahaya.
"Apa maksudmu dengan Kegagalan Mutlak?"
"Persis seperti kedengarannya," ujar Dokter Risa sambil tersenyum misterius.
"Kau harus keluar dari kulit ini, Tuan Maheswara. Keluar dari lingkungan korporat, tinggalkan seluruh akses, uang, dan prestisemu untuk sementara. Kau harus menjadi orang yang berhak gagal."
Dokter Risa memberi jeda, memastikan kata-katanya tenggelam di benak Elian.
"Buatlah alter ego, Elian. Pikirkan dia sebagai perisai, atau boneka. Beri dia nama yang gampang, kayak ... El. El boleh tidak tahu apa-apa soal negosiasi global. El boleh bangun kesiangan. El boleh membuat sereal meledak
di langit-langit."
Wajah Elian pucat pasi. Gagasan itu terasa menjijikkan, hampir seperti tindakan pelecehan terhadap
semua yang ia perjuangkan sejak kecil.
"Dan kenapa, Dok, aku harus melakukan tindakan konyol seperti ini?" tanya Elian dengan nada mencemooh yang biasa ia gunakan pada staf yang kinerjanya buruk.
Dokter Risa bersandar ke depan, intensitas di matanya membuatnya Elian refleks menahan napas.
"Karena Elian, kau akan mati sebelum usiamu mencapai empat puluh jika kau melanjutkan pola ini. Kau butuh zona aman, area debriefing, di mana tak seorang pun, tidak satu pun rekan kerjamu, manajer proyekmu, atau keluargamu, tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Sebuah tempat perlindungan yang dibuat oleh kelemahan. Semacam bunker anti-stres, jika kau mau."
"Tapi di mana?" desah Elian, membiarkan pertahanan kecilnya runtuh.
"Aku gak bisa sekadar cek hotel, lalu berpura-pura bodoh. Kalau ketahuan, Dewan akan memakanku hidup-hidup, dan Ibu Maheswara..."
"Tepat sekali. Itu gak bisa pura-pura, Tuan Elian. Kau harus menderita kegagalan yang meyakinkan secara visual," potong Dokter Risa cepat.
"Itulah resepnya yang spesifik: Cari tempat yang paling buruk, paling tertekan, paling rentan. Tempat yang jauh dari kekayaanmu, dari standar tinggi hidupmu."
Dokter Risa tersenyum penuh makna. "Kau perlu berinteraksi dengan orang-orang yang menjalani
kesulitan hidup nyata, Elian. Biarkan orang lain memperlakukannya dengan remeh, hinaan itu akan
menjadi antiseptik bagi jiwamu yang terlampau pongah. Kau perlu diremehkan untuk hidup, Nak.”
Elian memproses kata-kata itu. Diremehkan. Dibenci. Dipandang sebagai pecundang. Sesuatu yang ganjil dan memabukkan menggelitiknya. Itu terasa seperti rasa takut, sekaligus rasa penasaran. Kehidupan tanpa taruhan keberhasilan.
“Dan bagaimana aku harus memulainya?” tanya Elian. Ini bukan lagi cemoohan. Ini adalah negosiasi.
Tanda ia menerima terapi itu.
"Langkah pertama. Hentikan seluruh layananmu," perintah Dokter Risa.
"Hilangkan kartu-kartu yang bisa menghubungkanmu. Tinggalkan penthouse. Hidup dengan standar sewa serendah mungkin, di daerah yang paling… ordinary. Orang yang terdesak mencari uang biasanya gak peduli latar belakang penyewanya. Mereka hanya butuh bayaran cepat."
Sesi itu berlangsung dua jam, yang bagi Elian terasa seperti sepuluh menit neraka. Dokter Risa mengatur setiap detail, mulai dari baju 'El' yang harus terlihat lusuh, gaya rambut, hingga bahkan sikap bicaranya yang harus lemah dan ragu-ragu.
"Latihlah kegagalan kecil setiap hari. Dan yang paling penting: jangan pernah tunjukkan kemampuan finansialmu," pungkas Dokter Risa saat Elian berdiri di depan pintu.
"Aku mengerti, Dok. Terima kasih," ujar Elian.
Kata terima kasih ini terasa asing dan hambar di lidahnya, seperti ia mengucapkan salam pada saingannya di akhir rapat. Elian meninggalkan klinik, jaket Bespoke mahalnya terasa mencekik. Dia langsung meminta sopirnya mengantarnya ke sebuah kafe kelas menengah di luar area finansial utama Jakarta, lalu memerintahkan
sopirnya kembali dan meninggalkannya. Dia sendirian untuk pertama kalinya dalam tahunan.
Duduk di kursi plastik yang kaku, yang membuat pinggangnya sakit (rasa sakit fisik, bukan mental, sungguh melegakan), ia membuka laptop bekas yang sengaja ia beli beberapa jam sebelumnya laptop
itu sudah terhapus jejak keberadaannya sebagai CEO. Tidak ada firewall canggih. Tidak ada notifikasi saham. Hanya internet lambat dari koneksi Wi-Fi kafe yang tidak memuaskan.
Dia membuka situs iklan sewa kamar yang terburuk. Scroll terus ke bawah, mencari daerah yang terdengar paling sulit diakses dan paling menyedihkan.
Ia berhenti pada sebuah iklan kecil yang buram, menampilkan foto sebuah kamar berukuran kotak sepatu. Dindingnya dicat hijau kusam, kasurnya terlihat tipis dan bergulir. Iklan itu menawarkan sewa
per bulan yang jauh lebih rendah daripada biaya makannya di satu kali jamuan bisnis.
'SEWA KAMAR KOSONG. AREA KETERDESAKAN. MINAT, CEPAT HUBUNGI RANA.'
Dan di bawahnya, ada nomor telepon, beserta catatan kecil yang ditambahkan dengan pena hitam.
'SAYA GAK PERLU BANYAK NANYA. TINGGAL BAYAR CEPAT, UDAH DAH.'
Ada sesuatu yang menarik dalam keserampangan iklan itu, seolah Rana ini tidak punya waktu untuk hal-hal rumit. Persis yang ia butuhkan.
Elian merogoh saku, mengambil kartu SIM baru yang tidak terdaftar atas nama siapa pun. Dia mendial nomor itu, jantungnya mulai berdebar kencang lagi. Tapi kali ini, ia tahu mengapa. Ia sedang
menciptakan neraka, dan dia harus terlihat siap untuk dipanggang di sana.
Napasnya bergetar; bukan karena stres kerja, tapi karena upaya disengaja. Elian mengambil postur tubuhnya sebagai seorang yang merasa kalah bahkan sebelum bertarung. Ini bukan lagi dia; ini El, pria tanpa arah, takut pada komitmen, terintimidasi oleh uang sewa. Panggilan tersambung.
"Halo…," terdengar suara perempuan di seberang sana, lelah dan defensif.
Elian membersihkan tenggorokannya, lalu mengubah timbre suaranya dari bariton mendominasi menjadi nada melankolis dan tinggi. Dia harus menyembunyikan kekuatan alaminya.
"Uh… halo, Mba Rana?" tanya Elian, terdengar seolah ia sudah kehilangan harapan pada saat mengucapkan sapaan.
"Ya, saya Rana. Soal iklan kamar? Cepat, saya lagi di bus. Kalo cuma nanya-nanya gak jelas, gak usah, ya." Suara Rana di telepon terdengar buru-buru, bahkan cenderung kasar. Sempurna.
Elian menarik napas dalam-dalam. Waktunya bermain peran. Waktunya menyingkirkan Elian Maheswara yang kejam.
"I-iya, Mba. Itu… aku liat iklannya," kata Elian, membuat suaranya terdengar mencicit dan sedikit takut-takut, seolah kata sewa itu akan menghancurkan kehidupannya yang menyedihkan.
"Kamarnya…harganya segitu ya? Aku sebenernya agak takut kemahalan… ta-tapi aku udah bayar, ya. Gak pake
tawar lagi deh. Besok sore aku ke sana, ya, Mba?"
"Lah? Gak mau lihat dulu kamarnya? Kok tiba-tiba bayar?" tanya Rana, suaranya mengandung nada keheranan.
"G-gak perlu, Mba. Kayaknya udah cocok banget," kata Elian. Ia berharap Rana berpikir bahwa 'El' adalah orang paling putus asa di dunia. Dia harus menindaklanjuti kegagalan kecil, melepaskan uang sewa itu dengan kengerian buatan. Dia bahkan menambahkan rintihan palsu di akhir kalimat.
"Asal… tolong. Tolong jangan suruh aku bayar dengan susah. K-aku butuh banget kamar ini. Aku…"
"Iya, iya, aman. Aku catat aja nama kamu ya. Siapa namanya?" potong Rana, terdengar lega dengan transaksi instan ini. Namun ia tetap terburu-buru dan tidak sabar.
"E-el," bisik Elian, menekankan setiap kerentanan. El.
"Namaku El, Mba. Cuma El saja."
Tiba-tiba, di tengah upayanya untuk terdengar lemah, ia merasakan sentuhan teror sejati. Bagaimana jika permainan ini gagal? Bagaimana jika dia tidak bisa menjadi Elian lagi?
"Oke, El," jawab Rana. "Besok sore kamu bawa barang, ya. Udah dulu ya, aku harus buru-buru naik bus!"
Tepat sebelum Elian bisa menambahkan kata konyol lain untuk memperkuat persona 'El' yang rentan itu, Rana memutuskan panggilan secara sepihak.
Sambungan telepon terputus, meninggalkannya sendirian di tengah kafe, masih memegang ponselnya
erat-erat, detak jantungnya kembali meroket ke angka 110, kali ini bukan karena tekanan perusahaan,
melainkan karena kepura-puraan yang baru ia ciptakan.
Permainannya telah dimulai. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Elian Maheswara tidak tahu cara memenangkan pertarungan ini bahkan, dia harus berjuang keras untuk memastikan dirinya kalah. Ia adalah CEO
yang terperangkap dalam kulit pecundangnya.