Drama Tara hilang dalam sehari—Sasha tidak melihat dia lagi setelah itu, dan Aldric instruksikan Mbak Mira di lobi untuk tidak izinkan dia naik tanpa janji formal lewat email. Tapi pertanyaan yang Tara bawa—tentang akuisisi Vegasta—tetap ada.
Sasha tahu Aldric sedang dalam negosiasi serius dengan perusahaan AS bernama EduCorp. Bukan dia yang inisiatif—EduCorp datang dengan tawaran. Tujuh ratus juta dolar untuk Vegasta. Pemegang saham terbesar (Aldric, dengan empat puluh persen) akan dapat dua ratus delapan puluh juta dolar—atau sekitar empat triliun rupiah, kalau kurs dollar bertahan.
Akan jadi salah satu akuisisi tech terbesar di Indonesia 2026.
Tapi ada syarat yang Sasha tahu dari draft kontrak yang dia bantu print untuk Aldric: Aldric harus tetap CEO selama tiga tahun setelah akuisisi untuk transition period. Selama tiga tahun itu, dia harus tinggal sebagian besar waktu di kantor pusat EduCorp di San Francisco. Diestimasi delapan puluh persen waktu di sana, dua puluh persen di Indonesia.
Sasha tahu ini malam itu, di apartemen Aldric, saat Aldric—yang biasanya tidak banyak bicara tentang kerjaan di luar kantor karena dia bilang "saya sudah cukup sehari penuh dengan kerjaan"—akhirnya cerita penuh.
"Sasha. Saya... saya harus pikirkan ini."
"Aldric. Empat triliun rupiah. Anda gila kalau ini Anda pikir-pikir."
"Sasha, saya tidak peduli uang. Saya peduli... saya peduli Anda. Saya peduli kita."
Sasha duduk di sofa Aldric. Aldric duduk di sebelahnya. Mereka tidak makan malam—Sasha tidak lapar setelah Aldric cerita, Aldric juga tidak.
"Aldric. Tiga tahun di San Francisco."
"Iya."
"Saya... saya tidak bisa pindah ke San Francisco. Saya punya ibu yang sudah tua di Magelang. Adik saya—saya belum pernah cerita karena dia tinggal di Bandung, dia hampir tidak pernah ke Jakarta—masih kuliah, butuh saya kirim bulanan. Visa kerja Amerika juga... rumit. Saya tidak punya degree US, gaji saya bukan H-1B level."
"Saya tahu."
"Aldric, kontrak kita... setahun. Lima bulan lagi selesai. Setelah itu—"
"Sasha. Saya akan menolak akuisisi-nya."
Sasha menatap Aldric. Ekspresinya kelihatan berubah dari bingung ke tegang.
"Aldric. Empat triliun. Anda gila."
"Sasha. Saya bisa bangun perusahaan lain. Saya tidak bisa bangun apa yang ada antara kita lagi."
"Aldric—"
"Saya tahu kedengarannya gila. Saya tahu setiap MBA di dunia akan bilang saya bodoh. Tapi saya... saya empat tahun bangun Vegasta untuk lupa Mama, lupa Papa, lupa diri saya sendiri. Sekarang saya punya alasan lain untuk hidup. Saya tidak akan menukar."
Sasha tidak tahu harus jawab apa. Otak dia ingin bilang "Aldric jangan, ini hidup Anda, jangan korbankan untuk saya". Hatinya ingin bilang "iya, jangan pergi". Dua suara yang dia tahu tidak bisa digabung.
Aldric memegang tangan Sasha. "Sasha. Saya cuma minta satu hal."
"Apa?"
"Bantu saya buat keputusan ini secara objektif. Bukan karena saya cinta Anda—itu emosional. Bukan karena Anda tidak bisa pindah—itu salah satu input. Karena Vegasta. Karena empat ratus karyawan saya yang gajinya tergantung perusahaan ini. Pikir bareng saya. Jangan biar saya keputusan ini sendiri di kepala saya yang bias."
Sasha menatap pria di sebelahnya. Pria yang sebulan setengah lalu adalah CEO yang dingin yang Sasha kira tidak punya emosi.
"OK, Aldric."
Mereka diskusi sampai jam dua pagi. Sasha—yang mungkin belum siap untuk ini, yang jurusan komunikasi bukan business—mengeluarkan setiap argumen objektif yang dia bisa dari pengalamannya di E-Logiq dan bacaan TechCrunch.
Pro akuisisi: dana yang luar biasa, akses ke pasar internasional EduCorp di tiga puluh negara, keamanan finansial yang tidak akan goyah untuk empat ratus karyawan Vegasta selama tiga tahun pertama, brand validation yang akan membuat Vegasta jadi perusahaan global.
Kontra: Aldric harus tinggalkan Indonesia delapan puluh persen waktu, kontrol perusahaan akan hilang setelah tiga tahun (EduCorp akan memiliki seratus persen, Aldric akan jadi karyawan), kemungkinan EduCorp ubah arah produk yang Aldric tidak setujui karena mereka punya KPI sendiri, integrasi tim yang biasanya buruk di akuisisi besar (Sasha baca artikel tentang ini di Harvard Business Review yang dia tidak ingat penulis-nya).
Pukul dua pagi, Sasha bilang:
"Aldric. Apakah ada cara... ketiga? Saya tidak ahli M&A, tapi—"
"Ketiga?"
"Tolak akuisisi tapi tetap dapat investasi besar. Kerja sama internasional tapi Anda tetap CEO independen. Saya pernah baca tentang strategic investment yang bukan akuisisi penuh."
Aldric menatap Sasha. Mata coklat tua yang kelelahan dari tiga jam diskusi.
"Sasha. Saya... tidak terpikir itu. Saya selama ini berpikir biner—iya akuisisi penuh, atau tidak sama sekali. EduCorp datang dengan paket akuisisi, saya cuma respond ke paket itu."
"Aldric. Saya bukan ahli. Tapi sepertinya... ada banyak skema lain selain akuisisi penuh. Joint venture. Strategic investment. Partnership dengan equity exchange. Itu istilah-istilah yang saya tahu, walaupun saya tidak tahu detilnya."
Aldric berdiri. Mengambil laptopnya dari meja kerja di kamar. Mulai mencari di Google. Dia buka tab demi tab—Investopedia, McKinsey insights, beberapa case study dari Bloomberg.
Pukul empat pagi, Aldric menatap Sasha dengan mata yang berbinar walaupun mata itu juga merah dari kelelahan.
"Sasha."
"Iya."
"Saya temukan struktur. Joint venture dengan minority equity exchange. Mereka invest tiga ratus juta dolar untuk sepertiga ekuitas. Saya tetap CEO. Vegasta tetap independen secara operasional. Saya bahkan boleh tetap di Jakarta, dengan komitmen ke San Francisco cuma kuartalan—seminggu sekali per kuartal, untuk board meeting. Kita bermitra strategis tapi tidak akuisisi penuh."
"Akan EduCorp menerima?"
"Saya akan negosiasi besok. Saya butuh tunjukkan nilai yang membuat mereka pilih ini ketimbang akuisisi penuh. Tapi saya pikir—kalau saya tunjukkan saya tidak akan tanda tangan akuisisi penuh, joint venture jadi opsi terbaik kedua mereka. Mereka tidak mau kehilangan deal."
Sasha tersenyum.
"Aldric. Tidur dulu. Empat pagi. Anda butuh otak yang segar untuk negosiasi besok."
Aldric menutup laptop. Memeluk Sasha di sofa.
"Sasha. Saya akan negosiasi besok. Saya akan ambil yang terbaik. Untuk Vegasta. Untuk saya. Untuk kita."
Sasha memejamkan mata di pelukan Aldric. Lelah tapi tidak bisa tidur.
"Aldric."
"Iya."
"Setelah Anda dapat kesepakatan ini—kalau Anda dapat—kita... kita boleh akhiri kontrak setahun lebih awal."
Aldric menarik napas. Tidak panik. Cuma tegang sedikit.
"Akhiri?"
"Iya. Kita resmikan. Saya sudah pikir-pikir sejak Tara datang. Saya tahu ini saya. Saya tidak butuh menunggu lima bulan lagi untuk konfirmasi."
Aldric menatap Sasha. Lalu mencium kening Sasha.
"Sasha. Iya. Saya sudah lama tahu jawaban saya. Saya cuma menunggu Anda."